Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Curiga.


__ADS_3

Suara gemericik air berjatuhan dari arah kamar mandi yang tidak tertutup sempurna.


Perlahan Kenari berjalan mendekat guna menutup rapat pintunya.


Tentu saja Kenari tidak ingin orang lain salah sangka padanya dengan menganggap dia wanita mesum.


Saat tangan Kenari menyentuh tuas pintu ia justru terpaku dengan mata terbuka sempurna dan mulut membuka lebar.


"Astaga!" ucap Kenari lalu menarik tuas pintu dengan kasar hingga mengeluarkan suara keras dari pintu yang turtutup.


"Elap, elap, elap," gumam Kenari, ia mengusab-usab kedua mata.


"Aku tidak ingin kedua mataku bintitan." sambungnya lagi.


Tubuh Kenari tersentak saat terdengar suara pintu terbuka.


Benar saja, Garuda berdiri di ambang Pintu dengan menatap datar pada Kenari.


Sialnya lagi Garuda justru terlihat semakin tampan dengan sisahan air yang membasahi rambutnya.


"Ak—ku, aku...." seketika Kenari menjadi gugub, ia menyelisik penampilan Garuda yang hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


Lantas Kenari menarik nafas, ia mencoba menguasai diri, bukan saatnya untuk gugup dan takut, harga dirinya sedang dipertaruhkan saat ini.


"Aku tidak sengaja melihatnya dan tidak berniat mengintip. Mana mungkin wanita mengintip pria yang sedang mandi, dari jaman Rosalinda sampai chabelita selalu wanita yang jadi korbannya." ya setidaknya dengan argumen itu membuat Kenari sedikit tenang dan merasa tidak berdosa.


"Aku bawakan sarapan," Kenari berjalan ke arah nakas, ia hanya sedang menghindari tatapan tajam Garuda.


"Aku akan kembali lagi nanti." pamit Kenari seraya beranjak.


Lantas secepat kilat Kenari menghilang di balik pintu kayu itu.


***


"Dasar bodoh, apa urat malunya sudah putus, bisa-bisanya mandi tidak menutup pintu, lalu dengan pede-nya dia memamerkan otot di depanku." gerutu Kenari, seraya berjalan menyusuri koridor, entahlah bahkan saat ini dia tidak memiliki tujuan, dia asal bicara dan berjalan saja.


"Menyebalkan, hanya karena dia pasien bukan berarti dia bisa menjebakku begitu saja, dia pikir dirinya itu Salman Khan." Kenari terus saja berjalan, hingga ia berpapasan dengan Reza.


Mereka saling menyapa dan tersenyum.


***


Semilir angin menyapu ranting-ranting daun pohon akasia.


Reza menarik nafas menghirup udara segar di pagi hari, dengan berdiri tegab serta kedua tangan ia masukan pada jas dokter yang menjadi seragam kerjanya.

__ADS_1


Mata yang sipit terbungkus kaca mata bening serta hidung layaknya perosotan TK, bibirnya yang tipis berwarna peach serta bentuk wajah yang nampak begitu teduh, sungguh mencerminkan kepribadian santun, penyayang dan berhati lembut.


Kenari mendecih memperhatikan wajah serta tubuh tinggi berotot milik pria di sampingnya itu.


"Kenapa?" tanya Reza setelah ia menoleh, sontak Kenari membuang pandangan agar tidak ketahuan bahwa ia memperhatikan dokter muda itu.


"Kenapa melihatku terus? Apa ada yang aneh di wajahku?"


"Apa? E— itu, itu." entahlah jawaban apa yang akan Kenari berikan.


Reza tersenyum.


"Aku becanda."


Jawaban yang membuat Kenari semakin kikuk.


"Apa Garuda membuatmu kesulitan?" sambung Reza.


Lagi-lagi pertanyaan itu menggiring Kenari mengingat ciumannya dengan Garuda.


"E—tidak, Dokter. Semua berjalan dengan lancar, Pasien juga mudah diarahkan, hanya saja—" Kenari merasa ragu untuk bicara.


"Hanya saja?" tanya Reza.


"Em—terkadang dia terlihat aneh, tapi terkadang terlihat seperti orang normal. Seperti bukan pasien kejiwaan."


"Tapi—" Kenari menjedah kalimatnya.


"Tapi?"


Reza menangkap keraguan pada raut wajah Kenari.


"Bicaralah," Pinta Reza.


"Soal Dokter Rani."


Reza menunggu Kenari melanjutkan ucapannya, dengan serius.


"E tidak, kalo begitu saya akan kembali bekerja, permisi dokter, terima kasih untuk kopinya." pamit Kenari lalu meninggalkan taman.


"Tap—" Reza mengurungkan niatnya untuk bicara, karena Kenari sudah beranjak dan mulai menjauh.


***


Garuda sedang fokus dengan alat praga, ia begitu tenang memberikan warna pada lukisannya.

__ADS_1


Kenari ragu untuk mendekatinya, ia masih ingat pendekatan pertamanya dengan Garuda disaat Garuda sedang melukis dan itu berhasil membuat Kenari nyaris mati.


"Jika aku takut, lalu siapa yang akan memberinya obat?" gumam Kenari dengan baki berisi segelas air mineral.


Kenari melangkah masuk lalu meletakan baki di atas nakas, setelah itu ia menarik laci kecil di sana dan mengambil botol kecil berisikan obat milik Garuda.


Meskipun ragu Kenari tetap berjalan mendekati Garuda dengan obat dan air putih di kedua tangannya.


"In—ini, obatmu," Kenari mengulurkan dua butir obat pada Garuda.


Seketika membuat Garuda menghentikan tarikan kuasnya.


Kenari mundur dua langkah, sungguh ia merasa takut jika Garuda kembali menyerangnya.


Kenari menelan kasar salivanya, menatap intens raut wajah Garuda.


"Stop! Jangan mendekat!" pekik Kenari saat Garuda beranjak guna menghampirinya. Kenari terus mundur dan Garuda maju mendekat.


"Aku akan menggigitmu!" sambung Kenari, seketika membuat Garuda menghentikan langkahnya.


Kenari terkejut saat Garuda tiba-tiba berhenti.


"Siapa sangka ancamanku manjur untuknya." gumam Kenari.


"Diam saja, jangan bergerak!" pekik Kenari seraya mengacungkan jari telunjuknya.


"Ais... Kalo saja aku tahu dari awal, gertakan bisa membuatnya diam aku tidak perlu ketakutan seperti kemarin." gumam Kenari pelan nyaris tidak terdengar.


Tatapan datar Garuda kini mengarah pada pintu yang berada di belakang Kenari menampakan Rani yang baru saja datang.


"Berhenti!" pinta Kenari saat Garuda mulai melangkah maju.


"Berhenti disitu." Kenari mulai cemas, karena Garuda tidak mau mendengarkan dirinya.


Jarak mereka semakin terkikis sedangkan tubuh Kenari sudah tersudut pada tembok.


"Jang—" ucapan Kenari terputus karena saat ini Garuda menguasai bibirnya. Perlahan dan teratur ciuman Garuda membuat Kenari menutup mata.


Kesal dan marah tergambar pada raut wajah Rani, hingga ia tidak bisa lagi menahan diri.


Rani masuk dan mendorong tubuh Garuda.


Tentu saja perbuatan Rani memutuskan tautan bibir Kenari dan Garuda.


Kenari terlalu terkejut dengan hal yang Rani lakukan.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2