Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Ketika Mimpi Menjadi Nyata


__ADS_3

"Nyebelin!" pekik Kenari seraya menendang pohon besar itu.


"Akh...." keluhnya kemudian, karena justru ia yang merasakan sakit pada kakinya.


"Aduh kakiku...." Kenari duduk diatas rerumputan yang hijau dengan tubuh bersandar pada batang pohon akasia. Ia mulai membuka sepatu pantofel putih yang membukus telapak kakinya.


"Aduh... Cantenganku...." lirih Kenari seraya meniupi jempol kakinya yang membengkak dan memerah akibat cantengan.


Kenari terus mengerang sakit, ia tak henti meniupi mengibas-ngibaskan telapak tangannya berharap rasa nyeri yang seperti tertusuk-tusuk itu segera menghilang.


Tanpa Kenari sadari bahwa sosok pria yang kerab ia kagumi ketampanannya tengah memperhatikan dari koridor rumah sakit.


Dengan sebuah buku gambar dan pensil di tangannya.


"Aduh... Sakit," keluh Kenari yang masih terdengar samar di telinga Garuda.


"Ibuuuuu...." rengek Kenari bahkan terdengar tangisan kecil dari bibir tipis itu.


Sebuah rengekan yang justru menarik bagi Garuda hingga ia mulai melangkah mendekati Kenari.


Sadar jika ada sepasang sandal yang berdiri tepat di hadapannya membuat Kenari menghentikan rengekan.


Perlahan Kenari menarik pandangan dari sandal ke kaki lalu berganti separuh tubuh dan betapa terkejutnya Kenari saat ia menyadari sosok itu adalah Garuda Al-Irsyad. Pria dengan wajah tegas, dan dingin, bermata tajam berhidung lancip dan memiliki bibir yang seksi.

__ADS_1


"Bibirnya sungguh indah..." gumam Kenari pelan, ucapannya itu keluar begitu saja tanpa ia sadari. Sungguh, Kenari selalu saja mabuk ketika melihat pesona dari wajah Garuda, beruntung imajinasi liarnya itu selalu terhalang oleh setatus Garuda yang merupakan pasien gangguan mental sehingga Kenari masih bisa mengontrol diri untuk tidak centil di hadapan Garuda.


"Mas Garuda sedang apa?" tanya Kenari setelah berhasil menguasai diri.


"Sendirian?" sambungnya. Kenari kembali meringis sakit ternyata ketampanan Garuda tidak bisa menyembuhkan rasa sakit pada jempol kakinya.


"Ayo, aku antar ke kamar. Sebentar," Kenari kembali duduk dan memakai sepatu, segala gerak gerik Kenari tidak luput dari perhatian Garuda.


Meskipun sakit Kenari mencoba menahannya dan menuntun Garuda.


"Tumben, hari ini Kang Mas Garuda bersikap baik?" tanya Kenari seraya berjalan ber'iringan dengan Garuda.


"Aneh sih, tapi Kenari suka. Kalo gini terus, 'kan dunia aman, bahagia sentosa." sambung Kenari, meskipun ia tidak mendapat respon dari Garuda.


"Hoooo...." bibir Kenari membulat membentuk huruf 'O'.


Perlahan senyuman Kenari memudar disaat binar matanya terkunci pada kelopak indah milik Garuda.


Tangannya pun seolah bergerak sendiri menyentuh pipi Garuda, detik berikutnya Kenari lantas terkekeh kecil.


"Hahaha..." tawa Kenari terdengar kaku dan seolah memaksakan, ia pun menarik tangannya dan berbalik.


Sialnya Garuda justru menarik lengan Kenari hingga tubuh mungil Kenari berbalik dan menabrak tubuh tegab Garuda.

__ADS_1


Deg!


Seketika waktu seolah berhenti bersamaan ciuman yang mendarat di bibir Kenari.


Mata Kenari membulat sempurna ia sungguh terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Garuda.


Namun, bukannya menolak Kenari justru memejamkan mata disaat Garuda memberikan ******* pelan pada bibirnya yang ranum.


Namun, seketika Kenari merasakan hal aneh tubuh Garuda seolah akan roboh menimpahnya sehingga Kenari membuka mata bersamaan dengan ciuman yang terlepas, dan benar saja Garuda menutup mata bahkan tubuhnya bisa saja terjatuh jika tidak bertumpuh pada Kenari.


Karena saat ini Garuda pingsan.


"Kekenapa?" Kenari bingung dengan perubahan situasi, hingga ia tidak bisa berpikir dan membuatnya gagal menyeimbangkan tubuh, akhirnya tubuhnya terjatuh tertimpah tubuh tinggi dan tegab Garuda.


"Ehk...." suara Kenari bahkan nyaris hilang akibat menanggung beban tertimpah tubuh berat Garuda.


Sungguh ia harus membayar mahal ciuman tadi dengan beban berat terhimpit berkilo-kilo gram daging.


Beban berat membuat Kenari sulit bernafas, terlebih rasa sakit akibat terjatuh menambahnya semakin tidak berdaya. Meskipun begitu Kenari berusaha menggulingkan tubuh berat Garuda.


"Huh...." Kenari membuang nafas lega saat ia berhasil menyingkirkan tubuh Garuda. Dengan nafas terengah-engah Kenari duduk dan menepuk-nepuk pipi Garuda.


"Ayolah, bangun...." gumam Kenari. Sadar ia tidak mampu menanganinya Kenari merogo saku kemeja perawatnya, mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2