
Suara ketukan pintu membuat Kenari bangkit dari tidurnya, kamar berukuran besar dengan desien mewah layaknya hotel bintang 5 kini menjadi tempatnya beristirahat.
"Nona, Tuan Besar menunggu untuk makan siang." ucap seorang pria berpakaian koki.
"I—iya."
Pria itu lantas membungkuk hormat sebelum pergi dari hadapan Kenari.
"Apa aku sedang masuk ke dalam dunia dongeng?" gumam Kenari dengan menatapi kepergian sang koki.
Rumah besar dan mewah, fasilitas kamar terbaik, lalu dilayani dengan baik dan ramah. Sungguh semua ini membuat Kenari seperti berada dalam mimpi.
Perlahan Kenari menapaki anak tangga, dapat ia lihat bahwa Garuda sedang duduk di ruang makan dengan Gavin yang tetap setia berdiri di sampingnya tidak hanya itu beberapa pria dengan pakaian koki serba putih nampak rapih berjajar tidak jauh dari meja besar itu.
"Dia berlagak seolah dirinya Raja." dari kejauhan Kenari mengumpati Garuda.
"Dan, apa ini?" Kenari mengedarkan pandangan pada langit-langit rumah, terdapat lampu besar yang menggantung di tengah-tengah ruangan.
"Aku pikir semua ini hanya ada di tv.
Wajar saja jika Dia pelit, pasti karena takut miskin." sambungnya.
Langkahnya terhenti tepat di dekat Gavin dan Garuda.
Sigab Gavin menarik kursi agar Kenari segera duduk.
"Terima kasih" ungkap Kenari pada Gavin, tak lupa ia sematkan senyuman pada bibir indahnya.
Terdengar decakan kecil dari bibir Garuda dan hanya Gavin yang mampu mendengar.
"Mas Gavin, ayo duduk." ajak Kenari. Sontak membuat Garuda menegakan pandangan, menatap Kenari dan Gavin bergantian.
Lagi-lagi terdengar decakan kecil dari bibir Garuda.
Bahkan Garuda mengurungkan niat untuk menyendok nasi dalam piringnya dan meletakan kedua sendok dengan kasar.
__ADS_1
"Nona silahkan nikmati makan siang Anda." ujar Gavin.
Bukannya mulai menyantap makanannya Kenari justru melihat sekeliling. Rasa tidak nyaman tergambar jelas pada raut wajah Kenari.
Garuda menghela nafas panjang sehingga membuat Gavin yang berdiri di sampingnya melirik pada koki dan semua asisten dapur, memberi isyarat mata, meminta Mereka semua meninggalkan ruangan.
Ruangan besar itu hanya menyisahkan Garuda, Gavin dan Kenari.
Tapi Kenari tidak juga mengangkat sendoknya hal itu tidak lepas dari perhatian Garuda dan Gavin.
"Apa Anda ingin memakan yang lain, Nona?" pertanyaan itu tidak hanya membuat Kenari menatap Gavin. Garuda juga cukup terkejut, hingga memberi tatapan serius pada Gavin sontak Gavin menundukan pandangan.
"Jangan manja!" kalimat pertama yang Kenari dengar dari seorang Garuda. Karena sejak ia membuka mata pagi tadi, Garuda sama sekali belum bersuara.
"Aku nggak manja." rasa kesal Kenari memupuk sempurna setelah mendengar suara Garuda.
"Memang lebih baik diam." hardik Kenari dengan sangat pelan.
"Apapun yang dia katakan selalu ngeselin."
Namun baru satu kunyahan Kenari mengerutkan dahi.
"Tuan, terjadi keributan kecil di kantor." ucap Gavin setelah ia menyentuh aerphon yang terpasang di telinganya.
"Selesaikan." perintah Garuda.
"Hanya Anda yang bisa menangani ini Tuan."
Garuda berdiri tanpa menghabiskan makan siangnya dan meninggalkan Kenari begitu saja.
"Siapkan mobil." ucap Gavin melalui aerphon-nya seraya berjalan mengekori Garuda.
Prak!
suara gelas terjatuh dan pecah menghentikan langkah Garuda dan Gavin. Mereka segera berlari menghampiri Kenari yang sudah tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Nona!" Gavin memegang kedua bahu Kenari dan membuat dadanya sebagai sandaran bagi Kenari, berharab hal itu mampu membuat pernafasan Kenari membaik.
Sigab Garuda memegang tangan Kenari lalu menyibakan kemeja panjang yang menutupi lengan Kenari, memeriksa area kulit.
Tidak puas dengan itu Garuda pun menyelisik wajah Kenari, ia memegang dagu dan melihat area leher Kenari.
"Gejala alergi." ucap Garuda setelah mendapat dianoksa yang tepat.
Garuda mengambil alih tubuh Kenari lalu mengangkatnya.
"Siapkan alat medisku." pinta Garuda pada Gavin seraya berjalan dengan terburu menaiki tangga.
Gavin berlari menyusul dan mendahului Garuda guna membukan pintu kamar.
***
Gavin terus saja memperhatikan Garuda yang sibuk dengan sterolsckop memeriksa dada Kenari lalu berganti merasakan denyut nadi di pergelangan tangan Kenari dan menyuntikan sebuah cairan di lengan Kenari.
"Tidak ada manusia sebodoh dia. Apa dia tidak tahu jika alergi seperti ini bisa berakibat buruk."
"Apa Anda khawatir Tuan?"
"Apa! Si—siapa yang khawatir? Jangan membuat asumsi sesukamu!" Garuda berdiri dan melepas strolsckop yang menggantung di lehernya.
"Manusia, sama saja!" ujar Garuda sebelum meninggalkan ruangan itu.
Meninggalkan Gavin bersama wajah bingungnya.
Bukankah Garuda juga seorang Manusia?
Bagaimana bisa sesama Manusia saling mengeluh?
***
Bersambung.
__ADS_1