Pesona Pria Depresi.

Pesona Pria Depresi.
Tuan Besar Bikin Depresi.


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Garuda setelah berdiri di depan Kenari.


"Aku butuh softek, sudah hampir satu jam dan aku nyaris tenggelam, apa Kamu tahu bagaimana perasaanku? Aku bahkan menahan pipis," ucap Kenari dengan suara yang bergetar karena menahan tangis.


Garuda semakin bingung oleh tingkah Kenari yang ia anggab aneh.


Sungguh disayangkan, disaat wanita lain begitu menjaga prifasinya, Kenari justru membuat seisi rumah heboh.


"Mimum dulu, sebentar lagi Gavin datang membawa pesananmu, para koki rumah tidak tahu cara membuatnya jadi aku meminta Gavin membelinya di luar."


"Koki?" gumam Kenari bingung. Namun, ia masih enggan berpikir jauh, lagi pula tidak mungkin Mereka tidak tahu apa itu softek sepertinya hampir seluruh penduduk bumi mengetahui pungsi benda itu.


"Apa masih lama?"


"Tunggu sebentar lagi."


Perhatian Mereka teralihkan oleh suara pintu yang terbuka.


Betapa senangnya Kenari saat Gavin muncul dari balik pintu dengan sebuah gardus besar yang ia bopong.


Rona bahagia tergambar begitu jelas hingga membuat Garuda menatapnya aneh.


"Apakah dia sesenang itu?" gumam Garuda lirih.


Gavin membungkuk hormat sebelum ia mendekati ranjang Kenari, lalu meletakan gardus itu di atas ranjang.


"Apa Kamu membawanya? kenapa tidak serahkan saja pada koki, biar Mereka yang mengurusnya."


Kali ini Gavin tidak menjawab ataupun memberikan reaksi untuk pertanyaan Garuda.


Gavin memilih membuka gardus lalu menata softek dengan aneka merek, tentu saja hal itu membuat Kenari sedikit tidak nyaman.


Namun, Kenari tetap diam menyaksikan perbuatan nyeleneh Gavin.


"Saya membawa softek dengan 20 merek terkenal, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan," Gavin berbicara dengan menghadap Garuda, seolah ia ingin memberi tahu bahwa softek bukanlah nama makanan.


"Merek apa yang paling enak dan disukai orang?" sepertinya Garuda belum faham juga.


Kenari melotot sempurna, sungguh ia telah tenggelam dalam dasar laut. Bagaimana Mereka begitu tega membahas hal seperti itu, seolah kehadiran Kenari tidak terlihat.


"Ini," Gavin mengambil satu buah merek dan menyerahkannya pada Garuda.


"Itu adalah merek yang digemari para wanita, bentuknya yang elastis, lebih panjang, serta dilengkapi dengan sayap pada bagian depan dan belakang." terang Gavin.


Hancur sudah. Jiwa Kenari seolah terbang meninggalkan raganya.


Garuda bahkan menekan-nekan bungkusan itu.


"Apa teksturnya memang seperti ini? Empuk seperti busa. Apakah rasanya enak?"


"Menurut analis, tingkat penjualan produk ini masih standart, para konsumen cukup pariatif, banyak dari Mereka memilih alternatif lain.

__ADS_1


Mereka percaya itu lebih menyehatkan."


"Apa aku bisa mencobanya?"


Sungguh pertanyaan Garuda membuat Gavin merasa malu. Kenapa memiliki Bos yang lugunya melebihi ambang kewajaran.


"Tuan, ini adalah benda yang sering wanita gunakan ketika haid, ini mampu menyerab da—"


"Cukup!" pekik Kenari. Sebelum dirinya benar-benar mati berdiri karena menahan malu.


Suara keras Kenari membuat Garuda dan Gavin terdiam layaknya patung dengan saling menatap, seolah beberapa menit lalu melupakan kehadiran Kenari.


"Berbalik!" sambung Kenari dan Mereka mengikuti arahan dengan sangat patuh.


"Ck... Hadap belakang!" pekik Kenari kesal.


Saat kedua pria konyol itu membelakanginya maka Kenari segera berlari menuju kamar mandi.


Terdengar suara pintu yang tertutup dengan keras.


"Heh!" pekik Garuda saat Gavin berjalan dengan cepet meninggalkan Garuda.


Gavin tahu, jika terus berada di samping Big Boss-nya maka keselamatan hidupnya terancam.


***


Pagi ini cuaca terasa lebih dingin dari biasanya, karena sejak semalam hujan mengguyur kasawan Ibu Kota, hingga pagi ini pun langit masih menumpahkan gremecik hujan.


Kenari sudah lebih baik dari sebelumnya dia bahkan memutuskan untuk berbaur dengan para penghuni rumah besar itu.


Bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah besar yang bernuansa putih dengan gaya klasik.


"Apa itu ukiran kayu buatan tangan?" gumamnya lagi saat melihat ukiran yang menghiasi lemari kayu.


"Dia sangat unik bahkan dekorasi rumahnya sangat klasik." Kenari mengedarkan pandangan pada setiap sidut rumah dengan berbagai lukisan, vas bunga dan beberapa furnitur yang unik dan nampak mahal.


"Pak!" panggil Kenari pada sopir yang baru saja keluar dari dapur dengan secangkir kopi di tangannya.


Sopir itu membungkuk hormat pada Kenari membuat Kenari mengikuti gerakan sang sopir, karena merasa tidak nyaman dengan perlakuan istimewa itu.


"Maaf Nona, saya hanya masuk sebentar saja," ucap Sang Sopir yang memiliki tag nama Pak Kang pada kemeja yang ia pakai.


"Tidak, tidak apa-apa Pak, santai saja."


"Permisi Nona," ujarnya sebelum beranjak.


"Tung—" Kenari menggantungkan ucapannya karena Pak Kang berjalan begitu cepat.


"Ada apa? Aku hanya ingin bertanya saja," gumamnya.


Kenari terus berjalan menyusuri rumah besar itu hingga sampai pada sebuah paviliun di belakang rumah.

__ADS_1


Keberadaan paviliun itu membuat Kenari penasaran dan mendekat. Namun, langkahnya terpati dengan tangan memegang handel pintu.


"Tapi, apakah ini akan berlangsung seumur hidup, apa tidak terlalu bahaya membiarkan Tuan Besar berkeliaran?" ucapan dari dalam paviliun membuat Kenari mengurungkan niat untuk membuka pintu.


"Untuk apa khawatir? Bukankah Dokter sudah mengijinkannya pulang, itu artinya Tuan Besar sudah sembuh." sahut yang lain.


"Benar," sahut lainnya.


"Tapi, apa yang menyebabkan Tuan mengalami trauma seperti ini? Pasti ada tragedi seram seperti dalam drakor, 'kan?"


"Nah, iya. Aku pernah nonton dracin seorang mengalami amnesia setiap turun hujan, apa Tuan kita juga seperti itu?"


"Tidak mungkin seperti itu,"


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan?"


Kenari terkejut saat pintu itu terbuka dan seseorang berdiri di ambang pintu.


"Nona," asisten dapur membungkuk hormat dan menyembunyikan khawatirannya.


"Ternyata di sinilah tempat berkumpulnya semua orang.


Pantas saja mereka tidak terlihat di rumah besar." gumam Kenari yang hanya mampu di dengar oleh sih pembuka pintu.


"Nona," sapa semua orang yang terdiri dari pengurus kebun, sopir, koki dan beberapa asisten yang pernah ia lihat beberapa kali membersihkan tempat tidurnya.


"Ada yang bisa Kami bantu Nona?" suara itu berasal dari balik punggungnya.


Kenari mengenali suara itu dan segera berbalik, Benar saja Gavin berdiri tegap seperti biasa memasang wajah serius yang sulit dimengerti.


Tapi ada hal yang berbeda dari penampilan pria berbadan tegab, itu.


Kenari menyipitkan kedua mata mencoba menyelisik apa yang membuat Gavin terasa berbeda dari biasanya.


"A iya!" seru Kenari setelah menyadarinya.


"Ternyata hanya kurang kemeja dan jas saja." sambung Kenari.


Kali ini Gavin mengenakan kaos hitam yang dipadukan dengan celana jeans hitam.


Gavin mengangkat satu alisnya saat mendengar celotehan Kenari.


"Siapkan sarapan untuk Nona," perintah Gavin pada koki.


"Mas, apa Nona akan sarapan di rumah besar bersama Tuan?"


"Tidak, disini saja."


"Kalo gitu ayo kita sarapan bersama," sahut Kenari dengan senang.


"Akhirnya aku punya temen makan." sambungnya

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2