
Tamara dan Sissy duduk bersebelahan tanpa bicara lagi, setelah Sissy tahu bahwa ternyata Ilham mencintainya, ia teringat saat bersama Ilham, tentu ia merindukannya.
Lamunannya terhenti ketika perawat memanggil Tamara untuk ke ruang dokter.
" Nona Tamara, anda diminta untuk ke ruang dokter sekarang," pinta sang perawat.
" Baiklah sus...Sissy, saya ke ruang dokter dulu ya.... tolong kamu jagain Ilham bentar, ya," kata Tamara.
" Baik kak...," jawab Sissy.
Mereka pun beranjak dari tempat duduk mereka, Tamara berjalan menuju ruang dokter, sedangkan Sissy berjalan ke kamar rawat Ilham.
Sissy memandang Ilham cukup lama, akhirnya ada kata yang terucap dari bibir gadis itu.
" Ham... gue kangen banget sama loe, Kalo aja gue tau kalo loe suka sama gue mungkin gue ga akan jadian sama Yoga, kenapa loe ga ngomong aja ke gue... cepet sembuh ya, Ham. Gue kesepian tanpa ada loe," kata Sissy sambil memegang jemari tangan Ilham dan menyentuhkannya di pipinya.
Jemari Ilham sedikit bergerak seolah mendengar apa yang dikatakan oleh gadis yang dicintainya, namun Sissy tak menyadarinya. Ilham masih belum membuka matanya.
Terdengar suara orang membuka pintu, Sissy pun melepaskan tangan Ilham. Ia mendapati Tamara sedang menghampiri mereka.
" Gimana kak kata dokter, " tanya Sissy penasaran.
__ADS_1
" Dokter menyuruh saya agar sering mengajak Ilham berbicara untuk memberi rangsangan agar ia cepat siuman," jelas Tamara.
Mereka pun menatap Ilham tanpa berbicara hingga kumandang adzan mahrib terdengar, Sissy pun berpamitan pulang karena sudah malam.
.............................................
Malam ini Sissy membaringkan tubuhnya di kasur, memeluk jaket Ilham yang belum ia kembalikan, sesekali ia menciumnya. Tak pernah ia merindukan seseorang seperti ini bahkan dengan Yoga sekalipun.
Ia membuka dompetnya, mengeluarkan fortune koin yang di berikan oleh Ilham, teringat kenangan saat lelaki itu memberikannya sebuah fortune coin agar bisa tampil dengan pede. Begitu manisnya kenangan itu, sampai mengalir air mata di pelupuk matanya, ia pun mencurahkan isi hatinya pada diary kesayangannya
Hari ini aku mendengar kabar buruk tentang sahabatku, ia kecelakaan dan belum sadarkan diri.
Aku sangat merindukannya, seharian ini aku tak henti memikirkannya, mungkinkah aku mulai mencintainya setelah kak Tamara cerita semuanya padaku.
Tapi, bukankah aku telah mendapatkan lelaki impianku yang dulu, kenapa justru aku lebih memikirkan Ilham, padahal Yoga kekasihku. Semoga kau lekas siuman dan bisa menemani hari - hariku*.....
__ADS_1
Sissy termenung dalam kesedihan, ia teringat akan saat \- saat indah bersama Ilham. Saat mereka memenangkan lomba dan tiba \- tiba ia memeluknya, dan kebersamaan lainnya yang indah jika dikenang.
Lamunan Sissy terhenti ketika bibi mengetuk kamar Sissy, ia pun segera menyeka air matanya, dan membuka pintu kamar.
"Ada apa, bi...?," tanya Sissy masih mengusap air matanya.
" Di depan ada mas Yoga, non," kata bibi memberitahunya.
" Tolong persilahkan masuk bi, saya akan segera menemuinya.
" Baik, non...," jawab bibi sambil berjalan menuruni tangga.
Sissy pun berkaca, ia menyisir rambutnya dan sedikit memakai bedak agar tidak terlihat seperti habis menangis, setelah itu ia pun segera turun ke bawah untuk menemui Yoga.
Dari anak tangga Sissy melihat Yoga sedang duduk di sofa dan ia pun menghampirinya.
" Udah lama, ya....?," tanya Sissy sambil duduk di sofa.
" Nggak sih, eh... kamu lagi nggak enak badan, ya.. kok pucat gitu ?," tanya Yoga.
" Iya, nih lagi flu," kata Sissy berbohong.
" Oh gitu, ya.... Tadinya sih aku mau ngajak kamu Ke rumah sakit buat jenguk Ilham, tapi berhubung kamu sakit, kamu istirahat aja dirumah," kata Yoga.
" Iya, deh...," jawab Sissy.
" Yaudah, aku jenguk Ilham dulu, ya... kamu istirahat aja biar sembuh," kata Yoga.
" Iya, kamu hati \- hati ya....," kata Sissy sambil mengelus pundak Yoga.
" Iya, sayang...," kata Yoga sambil berjalan keluar.
__ADS_1
Sissy pun mengantar Yoga sampai keluar rumah, dilihatnya sang kekasih menghidupkan mesin motor dan kemudian melaju. Sissy pun masuk ke rumah dan bersiap untuk tidur.