
Sissy membuka pagar rumah Ilham yang terlihat sepi, ia memasuki halaman rumah Ilham yang luas, sampailah ia di depan pintu rumah Ilham.
Tok..tok!!!!
"Iya, masuk aja,"
Sissy pun mengikuti instruksi pemilik rumah untuk masuk ke dalamnya, ia melihat Ilham sedang membaca buku di atas sofa, segeralah ia mendekatinya.
"Rumah loe sepi banget, Ham," Sissy membuka obrolan sambil duduk disamping Ilham.
"Kan gue udah bilang, gue sendirian disini,"
Ilham tersenyum tipis, dalam hatinya ia senang sekali karena berhasil memasukkan Sissy dalam perangkapnya. Ia telah memberi uang saku pada bibi untuk pergi ke rumah saudaranya agar tak mengganggu rencananya mengerjai Sissy.
"Jangan liatin gue terus, cepat pijitin tangan gue, udah cenat cenut nih,"
"Iya..,"
Sissy pun menuruti perintah Ilham memijat tangannya, berharap penderitaan ini segera berakhir.
"Loe katanya sahabat gue, kok loe jadian sama Sheila gak ngasih tahu gue sih,"
Ahh.. jadi dia ngira gue sama Sheila jadian..
"Gue sama dia jadiannya kemarin, ga sempet cerita sama loe," kata Ilham, berbohong.
Terlihat ekspresi wajah Sissy yang cemberut mendengar Ilham dan Sheila jadian.
"Loe kok cemberut gitu, sih. Loe cemburu ya?,"
"Ngapain juga gue cemburu sama loe, gantengan juga cowok gue," kata Sissy sambil mengencangkan pijitannya, kesal terhadap lelaki dihadapannya.
"Aduh....,"
"Sakit ya....,"
"Udah...udah gue laper, ambilin gue makan,"
Duh... ngeselin banget sih nih anak, nyesel kemarin udah rindu sama dia..
Dengan wajah yang masam, Sissy berjalan menuju dapur mengambil sepiring nasi dan sop buntut.
"Nih... makanannya...,"
"Gue nggak bisa makan, tangan gue masih sakit,"
"Terus.....,"
"Suapin....,"
Dasar bayi gede !!!!
Dengan wajah kesal lagi-lagi Sissy menuruti permintaan Ilham untuk menyuapinya. Disendoknya makanan tersebut dan diarahkan ke mulut Ilham.
__ADS_1
Ide nakal Sissy muncul ketika ia berada di puncak kekesalannya, terfikir olehnya untuk mengerjai sahabatnya itu. Diambilnya sesendok makanan itu, ia menyuapi Ilham dengan cepat hingga membuat lelaki tersebut tersedak.
"Udah...udah loe mau bunuh gue ya," kata Ilham sambil meminum segelas air putih.
"Rasain... kesel gue sama loe,"
Sissy menaruh mangkuk berisikan makanan tersebut ke meja. Ia pun meninggalkan Ilham dengan perasaan kesal, ia berjalan ke arah kolam renang. Ilham pun mengikuti Sissy.
"Loe marah ya sama gue,"
"Ya jelaslah... loe seenaknya gitu sama gue,"
"Maaf ya... gue cuma pengen ada yang nemenin gue saat gue sakit kayak gini,"
Mendengar perkataan Ilham, hati Sissy mendadak tersentuh.
"Lagian loe kan udah punya cewek, kenapa loe nggak minta cewek loe buat nemenin loe," merendahkan sedikit intonasi bicaranya.
"Dia nggak bisa...," jawabnya singkat.
"Maaf ya, sy... sebenarnya gue udah ga sakit, gue cuma pengen loe disini nemenin gue,"
"Tuh kan, nyebelin banget sih loe. Kalau pun loe pengen gue temenin, ngomong jujur ke gue, pasti gue temenin kok, nggak usah pura-pura gini,"kata Sissy memalingkan mukanya.
"Maafin gue ya.... kalo loe mau pulang sekarang nggak papa, biar gue anter,"
"Nggak.... gue nggak ngusir... loe mau ngobrol dimana,"
"Disini aja,"
Sissy pun duduk dilantai, ia menikmati sejuknya angin yang bertiup di malam hari bersama Ilham.
"Cowok loe tahu nggak kalo loe lagi sama gue,"
"Nggak... kayaknya hari ini dia ngejauh dari gue, jadi ngapain juga gue bilang ke dia,"
"Kenapa Yoga ngejauh dari loe?,"
"Mungkin dia malu kali... gara-gara dikelas tadi gue nggak bisa jawab pertanyaan guru, seisi kelas nertawain gue,"
"Masak cuma gara-gara itu dia ngejauhi loe,"
"Loe kan tahu sendiri... Dia murid terpandai, malu kali punya pacar bodoh kayak gue,"
"Hemmmmm....,"
"Loe sendiri gimana sama Sheila...?,"
Eits... ini saatnya gue manasin loe lagi...
"Sheila orangnya baik, cantik lagi. Udah gitu dia perhatian sama gue,"
__ADS_1
Wajah Sissy terlihat kembali redup, mendengar Ilham menceritakan keistimewaan Sheila di depannya.
"Kalo dia perhatian sama loe, seharusnya sepenting apapun urusannya, harusnya ia lebih milih ngerawat loe yang sakit," kata Sissy, meninggikan nada bicaranya seakan tak terima jika Ilham terus memuji Sheila.
"Kok loe nyolot gitu,sih... loe cemburu ya," kata Ilham, menggodanya.
"Ahh.. udah deh... gue mau pulang, nanti nyokap gue marah,"
"Hehehe... iya.. gue anterin ya,"
Sissy berjalan keluar rumah Ilham, ia berdiri disamping pagar rumah Ilham, menunggu Ilham yang sedang memgambil motornya.
Terlihat Ilham yang mengendarai motor menuju Sissy dan berhenti tepat dihadapannya. Ia pun memakaikan Sissy sebuah jaket yang ia bawa.
"Loe pakai ini, udara malam nggak bagus, nanti loe sakit,"
"Hemm....,"
Ilham memakai helmnya dan segera menghidupkan motornya, mereka pun berboncengan.
"Pelan dikit napa, Ham...," Protes Sissy.
"Loe pegangan aja biar nggak jatuh,"
Ilham tak menurunkan kecepatannya, hal ini membuat Sissy menuruti kata Ilham. Ia terpaksa memeluk pinggang lelaki tersebut karena takut terjatuh. Kali ini ia merasa nyaman saat memeluk pinggang Ilham, kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya walaupun bersama Yoga, kenyamanan tersebut membuatnya tak menyadari bahwa ia telah sampai didepan rumahnya.
"Sy... udah nyampai....,"
Sissy tak mendengar perkataan Ilham, ia masih nyaman memeluk pinggang lelaki itu.
"Sissy.....," panggil Ilham, sedikit meninggikan nada bicaranya.
Sissy terkejut mendengar suara Ilham memanggilnya, segeralah ia melepaskan tangannya yang sedari tadi memeluk pinggang Ilham. Ia pun turun dari motor Ilham.
"Makasih udah nganterin gue pulang, hati\-hati ya kalo pulang, kalo bisa jangan ngebut,"
"Iya,"
"Ya udah gue masuk dulu,"
"Tunggu...!!,"
"Ada apa, Ham..,"
"Loe bahagia nggak sama Yoga ?,"
"Nggak tahu.....,"
Bersambung.......
__ADS_1