PINGAL

PINGAL
bab 22. Hal Penting


__ADS_3

...****************...


Mereka menikmati makan malam bersama. Setelah Miya baru pulang liburan dari kantor nya ke Jogjakarta. Tiba-tiba Marsha mengajak harith untuk ketemu. Katanya ada hal penting yang ingin di bicarakan dengan harith.


" Ada apa tumben kamu sayang pengen ketemu di luar begini?! Biasanya ketemu di apartemen?!" tanya harith penasaran.


" Ada hal yang ingin aku sampaikan sama kamu. Ini hal penting tentang kita. Mengenai masa depan kita" Ujar Marsha dengan wajah serius.


" Ada apa sih sayang?! Jangan bikin aku jadi penasaran deh?!" ujar harith sambil menggenggam tangan nya Marsha.


" Aku hamil sayang. Sudah delapan Minggu aku hamil. Kemarin aku testpack. Ini buktinya USG dan testpack. " ujar Marsha memberikan bukti kepada harith.


" Hah?! Seriusan?! Kamu hamil?! Sama aku?! Yakin kamu hanya melakukan hubungan intim sama aku bukan dengan pria lain?!" ucap harith terkejut.


...****************...


" Prak!!" tamparan keras mengenai wajahnya harith dari tangan lembut nya Marsha.


" Kok kamu malah jadi menampar aku sih sayang?! Kan aku hanya nanya doang?! Kok kamu malah balas dengan tamparan?!" ujar harith merasa kesal.


" Kamu Berengsek banget ya harith!! Selama satu tahun kita pacaran dan seringkali berhubungan intim. Bisa bisanya kamu bilang bahwa ini bukan perbuatan kamu" ujar Marsha marah.


"Ya aku berkata begini karena aku yakin selama berhubungan intim sama kamu selalu menggunakan ******. Gak pernah enggak. Ya kalo bisa hamil berarti kamu berhubungan intim dengan pria lain di luar kota kan aku gak tahu" ujar harith berkomentar.

__ADS_1


" Enak aja kalo ngomong!! Aku bukan cewek murahan yang mengobral tubuhku untuk banyak pria!! Aku melakukan hubungan intim karena aku mencintaimu dan berharap kita bisa jadi keluarga dan sepasang suami istri" ujar Marsha menangis.


" Eh,maaf sayang!! Bukannya aku gak memikirkan tentang menikah dan keluarga!! Kan kamu tahu bahwa aku baru sedikit memiliki tabungan!! Apalagi buat jadi ayah dan mengurus bayi aku belum bisa!! Udah kita gugurin aja ya kandungan kamu!! Mumpung baru delapan Minggu " ujar harith memberitahu.


" Enak banget kamu bilang gugurin kandungan!! Kamu mau lepas dari tanggung jawab kamu ya!!" ujar Marsha berteriak.


" Ya ampun sayang !! Jangan berteriak dong!! Malu di dengar pengunjung yang lain!! Gimana kalo kita menikah usai kamu dan bayinya lahir?! Harus test DNA dulu?! Biar aku percaya seratus persen " ujar harith menjelaskan.


" Kok ucapan kamu makin lama makin ngawur!! Oke kalo kamu gak mau menikah dengan aku!! Maka aku akan ke rumah kamu!! Kasih tahu keluarga kamu tentang perbuatan kita selama ini" ujar Marsha mengancam harith.


...****************...


Terjadi pertengkaran dan perdebatan antara harith dengan Marsha di sebuah restoran. Hingga akhirnya harith menarik tangan nya Marsha untuk membawanya pergi ke apartemen nya. Niatnya mau makan malam di luar. Jadinya take away ( bungkus). Dalam perjalanan Marsha masih mengoceh soal hamil hingga harith di cakar oleh Marsha karena kesal. Sesampainya di apartemen masih melanjutkan pertengkaran kembali.


" Sekarang mana ada sih pacar yang gak marah?! Ketika ngomong hamil malah di pertanyakan hamil siapa?! Sudah jelas kita seringkali melakukan. Dan aku hanya melakukan nya hanya sama kamu doang. Masih saja di pertanyakan. Gimana gak gondok" ujar Marsha meluapkan emosi nya.


" Tapi maaf aku masih belum percaya bahwa kamu hamil sama aku. Soalnya kan udah dua Minggu kita enggak ketemu. Dan gak melakukan hubungan intim. Jadi wajarlah kalo aku berpikiran seperti itu" ujar harith berargumen.


" Apa?! Aku harus memaklumi pemikiran kamu?! Dengan menyuruh aku buat gugurin kandungan ini?! Enak banget ya?! Biar kamu lepas dari tanggung jawab dan tak menikahi aku ya?!" ujar Marsha makin kesal.


" Ya kita tetap menikah tapi usai kamu melahirkan anak ini. Terus test DNA. Kalo udah test DNA dan jika hasilnya aku ayah biologisnya. Baru deh kita menikah " ujar harith menjelaskan.


" Enggak mau!! Aku tetap ingin menikah sebelum aku melahirkan!! Enak aja kamu menyuruh test DNA!! Sudah jelas loh bahwa ini anak kandung kamu!! Kamu ayah bayi biologis yang aku kandung!!" ujar Marsha berkomentar.

__ADS_1


" Ya kalo kamu masih menginginkan untuk menikah!! Maaf aku gak bisa menikah dengan kamu jika belum test DNA!! Karena aku takut nya kamu berbohong!! Agar aku bisa jadi ayah dari anak yang kamu kandung. Kalo kita menikah duluan dan baru test DNA usai kamu melahirkan. Rugi di aku dong kalo hasilnya gak sesuai harapan " ujar harith menjelaskan.


" Gak sesuai harapan gimana maksudnya?! Kamu giliran untuk melakukan hubungan intim sama aku saja bersemangat dan ngoyo banget. Giliran aku bilang hamil langsung kamu menciut!! Atau kamu punya wanita lain ya?! Makanya kamu takut" ujar Marsha curiga.


...****************...


Melihat gelagat harith yang panik dan takut usai mengetahui kebenaran bahwa Marsha telah hamil delapan Minggu. Membuat pikiran harith makin kacau. Di pikir harith jika melakukan hubungan intim dengan Marsha takkan mengalami kecelakaan seperti ini. Di luar dugaan ternyata harith pun sadar waktu itu lupa pake ****** karena terlalu nafsu.


" Jawab aku sayang?! Apa ada wanita lain selain aku yang kini dekat sama kamu?!" tanya Marsha penasaran.


" Enggak ada. Hanya kamu saja yang dekat sama aku. Kamu yang jadi pacar aku satu seorang. Gak ada yang lain" ujar harith berbohong.


" Kalo memang hanya aku wanita yang dekat kamu. Tapi kenapa kamu jadi panik dan takut begitu ketika aku memberitahu kebenaran bahwa aku hamil. Seharusnya kamu senang dong. Ini semua hasil perbuatan kita. Aku rela jadi ibu rumah tangga untuk sementara waktu sampai melahirkan. Setelah melahirkan aku akan bekerja kembali" ujar marsha berkomentar.


" Kamu harus nya juga paham dan mengerti. bahwa pekerjaan aku aja hanya gaji standar. Gak bisa memenuhi kebutuhan kamu jika harus beli skincare, makeup dan jajan kamu. " ujar harith memberitahu.


" Tapi kan aku punya tabungan. Cukuplah buat biaya hamil dan sampai persalinan nanti. Kalo hamil juga aku akan jarang makeup maupun skincare " ujar Marsha menjelaskan.


" Ya kalo kamu mau hidup hemat dan prihatin. Bisa aku pertimbangkan. Tapi jika selalu ikuti keinginan kamu. Maaf aku gak bisa" ujar harith berkomentar.


...****************...


Akhirnya obrolan harith dan Marsha memiliki titik temu. Mereka tetap bersama dengan konsekuensi Marsha harus hidup hemat saat hamil. Agar biaya hamil dan persalinan tidak membengkak. Karena harith sadar bahwa gaji nya tak sebesar dengan pendapatan Marsha saat bekerja. Jadi Marsha pun mengalah demi bayi dalam kandungan.

__ADS_1


__ADS_2