
...****************...
Ada hikmah ketika Miya mengalami kejadian buruk di rumah putri. Bisa berkenalan dengan baxia dan mulai melupakan harith. Meskipun hari ini harith datang menjenguk. Buat Miya,harith itu sudah mati dalam hatinya. Setelah Miya menemani baxia makan malam. Lanjut baxia mencuci piring bekas makan tadi.
" Aku gak nyangka bahwa masakan ibu kamu sangat enak. Enggak menyesal ya aku datang ke rumah kamu Miya. Kamu juga bisa masak seperti ibu kamu?!" tanya baxia penasaran.
" Jangan terlalu berharap banyak sama aku. Soalnya aku gak jago masak. Ya bisa masak tapi sebatas masak air,masak Indomie,masak telor dan masak nasi di magic com " ujar Miya memberitahu baxia.
" Kalo kamu bisa masak seperti itu lumayan lah kalo nanti kita nikah. Aku bisa makan masakan kamu " ujar baxia sambil tertawa terbahak-bahak.
" Kok malah tertawa?! Emang ada hal yang lucu ya?! Perasaan aku gak sedang melawak deh" ujar Miya terlihat sangat kesal dengan sikap baxia.
" Eh enggak. Maaf bukannya aku mau menyinggung perasaan kamu. Hanya saja aku merasa lucu dengan diriku sendiri. Dulu waktu kuliah juga aku seringkali makan Indomie,telor dan hal yang menurut aku luar biasa. Tapi buat anak kuliahan sangat membantu di kala menunggu kiriman uang dari orangtuanya.Kalo di rumah aku gak di perbolehkan makan Indomie ataupun telur. Takutnya badan aku jadi tambah gemuk kata ibuku" ujar baxia bercerita.
" Segitu nya yah orangtua kamu mendidik kamu. Sampai makanan aja di atur. Yah kalo kamu menikah sama aku mah bakalan banyak makan Indomie dan telor dong. Apalagi aku sibuk kerja" ujar Miya meledek baxia.
" Tidak apa-apa. Tidak masalah. Selagi kamu yang masakin mah aku terima. Apalagi kalo kamu masakin aku pake cinta. hahahaha.." ujar baxia cengar-cengir.
" Hah?! Seriusan?! Bukannya biasanya kebanyakan pria itu selalu menuntut wanita harus jago masak dan jago beberes ya?!" ujar Miya menyindir.
" Mayoritas begitu?! Tapi tidak buat aku?! Yang terpenting buat aku kebahagiaan istri. Kalo istri capek bisa pesan makan lewat aplikasi online. Karena aku cari kerja juga buat istri. Kalo jatah orangtua dan mertua itu ada budget nya nanti di musyawarah kan bersama" ujar baxia menjelaskan.
__ADS_1
" Owh iya bener. Andai kebanyakan suami berpikiran seperti kamu ya. Gak akan mungkin banyak perceraian di luar sana " ujar Miya menghela nafasnya.
...****************...
Obrolan Miya dan Baxia makin akrab. Seperti sudah muncul benih-benih cinta di antara baxia dan miya. Namun Miya terlalu gengsi untuk menerima kenyataan bahwa Miya juga menyukai baxia. Beda hal nya baxia yang sudah mulai terang terangan dengan perasaan nya terhadap Miya.
" Kalo malam Minggu besok aku main ke rumah kamu lagi boleh kan?!" tanya baxia dengan tatapan penuh cinta kepada Miya.
" Hemmmmm,,boleh kok. Enggak ada yang larang. Asalkan kamu pulang main di rumah aku jam sepuluh ya. Kalo lewat dari itu bisa di usir sama ayah dan ibuku. Soalnya disini batas berkunjung main hanya jam sepuluh malam" ujar Miya memberitahu.
" Oke siap ,Miya!! Aku akan datang tepat waktu malam Minggu!!" ujar baxia sambil tersenyum.
" Jangan bawain banyak kue dan banyak buah-buahan ya?! Kasihan kamu!! Aku gak mau merepotkan kamu" ujar Miya menegur baxia.
" Waduh?! Kok jadi manggil orangtuaku calon mertua sih?! Kan konsep nya enggak begitu?!" ujar Miya heran.
" Ya karena masakan ibu kamu udah jadi masuk kriteria calon mertua yang pintar masak. Biasanya kalo mertua pinter masak. Anaknya juga menurun pinter masak juga" ujar baxia berkomentar.
" Hahaha.. jadi yang buat kriteria calon mertua itu ibu aku ya. Kalo aku masih belum jadi kriteria dong" ujar Miya meledek.
" Ya lihat nanti pas menjelang menikah. Aku akan meminta kamu buat masak makanan sesuai kebisaan kamu" ujar baxia sambil tersenyum.
__ADS_1
...****************...
Karena waktu sudah menunjukkan pukul jam sepuluh malam. Baxia bergegas untuk berpamitan dan pulang ke rumahnya. Sedangkan Miya lanjut untuk beristirahat di kamar tidur nya. Esok pagi harinya saat sarapan. Miya mengajukan cuti kerja karena kaki nya masih cedera. Atasan Miya memperbolehkan Miya untuk cuti kerja sampai kaki nya sembuh.
" Semalam ada yang berkunjung lagi ya?!" tanya ibunya miya penasaran.
" Iya. Temen kantor suaminya putri. Namanya baxia. Dia yang menolong aku ketika aku terpeleset dengan menggendong aku sampai mobil dan menemani juga di rumah sakit" ujar Miya memberitahu.
" Hemmmmm,, gimana ya ayah dan ibu harus ngomong sama kamu Miya?! Seharusnya kamu jadi wanita jangan kaya wanita murahan begitu dong. Apalagi kamu menanggapi harith kemarin datang dengan sikap dingin. Ayah gak pernah ngajarin kamu buat bersikap buruk kepada harith. Meskipun kalian sedang ada masalah setidaknya di musyawarah dan cari solusinya " ujar ayah menegur Miya.
" Kok ayah jadi menyalahkan aku sih?! Yang harusnya di salahkan itu harith bukan aku. Harith sendiri yang membuat keputusan untuk tidak bertemu selama satu bulan. Ya udah aku tambahin dengan gak berkomunikasi. Biar lebih sempurna " ujar Miya menjelaskan.
" Harusnya kamu juga jangan keras kepala dong Miya!! Mau gimana pun harith membuat keputusan itu buat kepentingan bersama!! Tapi ego kamu yang membuat semua nya jadi hancur berantakan. Apalagi kini kamu mempersilahkan pria lain datang ke rumah ini. Mau di taruh mana wajah ayah kalo harith tahu" ujar ayahnya Miya berkomentar.
" Ya udah nanti aku ngobrol sama baxia bisa di cafe atau minimarket. Selama belum ada cincin di jari manisku. Aku berhak dekat dengan siapapun. Karena selama dua tahun ini cukup aku di kasih harapan palsu Mulu sama harith. Apa ayah dan ibu gak ngerasa telah di permainkan hati kita sama harith?!" ujar Miya memberitahu.
" Kamu kalo di bilangin ngeyel banget ya Miya!! Harusnya kamu tahu diri lah!! Kamu dan harith sudah berpacaran sangat lama!! Keluarga kita dan keluarga harith sudah saling kenal!! Seharusnya kamu jaga perasaan dua keluarga " ujar ayahnya Miya sangat marah.
" Kenapa ayah dan ibu hanya memikirkan tentang perasaan harith?! Gak memikirkan tentang kebahagiaan aku?! Aku berhak bahagia sesuai keinginan aku" ujar Miya yang pergi meninggalkan ruangan makan menuju kamar tidur nya dan mengunci pintu kamar tidur nya.
...****************...
__ADS_1
Miya menangis tersedu-sedu usai berdebat dengan ayah dan ibunya di ruangan makan. Miya tak menyangka ayah dan ibunya lebih membela harith daripada Miya.