PINGAL

PINGAL
bab 23. Mengalah


__ADS_3

...****************...


Akhirnya obrolan harith dan Marsha memiliki titik temu. Mereka tetap bersama dengan konsekuensi Marsha harus hidup hemat saat hamil. Agar biaya hamil dan persalinan tidak membengkak. Karena harith sadar bahwa gaji nya tak sebesar dengan pendapatan Marsha saat bekerja. Jadi Marsha pun mengalah demi bayi dalam kandungan.


" Makanya sayang kamu jangan gampang emosi dulu!! Aku juga sedang mencari solusi yang terbaik untuk kita. Makanya aku akan tetap menikahi kamu. Tapi paling hanya di KUA saja dulu. Kalo sudah punya tabungan lebih kita bisa menggelar acara resepsi pernikahan" ujar harith memberitahu.


" Coba kamu dari tadi ngomong begitu. Maka aku gak akan seemosi tadi. Udah tahu kalo ibu hamil itu lebih sensitif banget. Jadi jangan sesekali memancing emosi aku" ujar Marsha memberitahu.


" Aku laper nih. Aku makan dulu. Soalnya tadi di restoran aku gak sempet makan apapun. Untung nya sudah aku bungkus semua makanan yang tadi kita pesan" ujar harith menjelaskan.


" Sama!! Aku juga sangat lapar sekali. Apalagi di restoran tak makan apapun. hanya minum es lemon tea saja. Padahal aku pengen banget makan es campur dan salad buah nya juga" ujar Marsha sambil mengelus perutnya.


" Kalo mau aku turuti keinginan kamu. Maka kamu juga ikuti keinginan aku. mulai sekarang makan apa adanya. Jangan makan sesuai keinginan bayi dalam kandungan kamu" ujar harith tegas.


" Ya maafkan aku yang sangat emosi!! sekarang kamu harus memaklumi aku yang emosinya labil ya!! Soalnya aku kan sedang hamil" ujar Marsha sambil menikmati makanan.


" Kalo kamu mau mengalah saja dari tadi. Mungkin kita sedang menikmati makan malam enak di restoran. Tapi malah kamu buat masalah " ujar harith menyindir Marsha.


" Ya maafkan aku!! Dan aku janji takkan mengulangi kesalahan aku lagi!!" ujar Marsha cemberut.


...****************...

__ADS_1


Meskipun Miya mencoba untuk tidak memikirkan harith. Namun tetap saja pikiran nya melayang tentang menanyakan kabar harith dalam benak hatinya. Seolah hari kecil nya Miya menyuruh untuk menghubungi harith agar bisa memperbaiki hubungan yang renggang. Miya pun meet up dengan putri usai putri pulang honey moon dengan suami nya.


" Hei,bestie!! Apa kabar kamu miya?! kamu terlihat kurus dan agak kusam nih?! Ada apa nih?! Jangan bilang kalo kamu dan harith dengan bertengkar?!" ujar putri sambil cium pipi kanan dan kiri nya Miya.


" Hei,juga putri!! Alhamdulillah baik. Ah masa sih?! Hanya perasaan kamu saja deh. Aku rajin skincare kok. Tapi akhir-akhir ini agak jarang. Soalnya udah capek kerja jadi males skincare" ujar Miya memberitahu.


" Jangan males skincare. Nanti kamu jadi jelek lagi. Terus kalo kamu jelek nanti harith bisa berpaling loh dari kamu. Hehehe.." ujar putri meledek Miya.


" Ah, entahlah Miya!! Aku gak memikirkan hal itu!! Sekarang aja aku dan harith sedang break!! Alias kami gak berkomunikasi maupun bertemu!! Karena ini keinginan kami berdua!!" ujar Miya menjelaskan.


" Hah?! Seriusan?! Kok bisa kalian gak berkomunikasi dan gak bertemu sih?!" ujar putri penasaran.


" Waduh,kok jadi sebulan sekali ya?! Udah kaya orang gajian aja?! Hehehe.. Ups,maaf ya Miya. Bukannya aku meledek. Sebenarnya yang aku tangkap dari cerita kalian. Sebenarnya niat harith ada baiknya loh demi masa depan kamu dan harith rela berkorban untuk gak ketemu agar duitnya untuk menabung. Tapi kamu mungkin mikirnya harith terlalu berlebihan ya. Apalagi kalian sudah menjalani hubungan percintaan jarak jauh" ujar putri berkomentar.


" Sekarang aku tanya kalo kamu jadi aku gimana?! apa yang akan kamu lakukan?!" tanya Miya penasaran.


" Kalo aku jadi kamu Miya. Aku akan ikuti keinginan harith. Karena mengalah bukan berarti kalah. Tapi demi menyatukan komitmen untuk ke jenjang pernikahan bersama." ujar putri memberitahu.


" Jadi kamu pikir sikap aku salah sama dalam masalah ini gitu?! Yang bener sikapnya harith?!" ujar Miya dengan ketus.


...****************...

__ADS_1


Putri yang mendengar curhatan Miya pun ikutan pusing. Apalagi Miya sedikit agak menyolot dan keras kepala megenai prinsip dan egonya jika berdebat maupun curhat dengan putri.


" Waduh,makin bingung. Sebenarnya sikap kamu juga gak salah kok Miya. Hanya saja seharusnya jangan sampai gak komunikasi. Itu yang mau aku sampaikan. Kalo kejadian begini kan jadi tambah ruwet. Ingat kalo pacaran beda loh nanti dengan pernikahan. Kamu gak bisa egois dan tak bisa memikirkan prinsip kamu saja. Tapi semua kembali ke komitmen dalam pernikahan " ujar putri menasehati Miya.


" Jujur saja,ada sedikit penyesalan aku dengan keputusan break dalam hubungan percintaan dengan harith. Mungkin yang bikin aku menyesal benar ketika aku membuat keputusan untuk tidak ada komunikasi. Karena menurut aku hubungan percintaan jarak jauh saja sudah menyiksa apalagi ketambah sebulan sekali ketemu " ujar Miya berkomentar.


" Ya kembali lagi. Ini mungkin ujian kamu dan harith untuk menapaki step ke pernikahan. Kadang mau menikah juga ada ujiannya. Bukan hanya nanti menikah. Apalagi nanti menikah akan banyak masalah. Entah dari suami atau istri,ipar,mertua ataupun orangtua sendiri. Kamu harus siap mental" ujar putri berkomentar.


" Baru di uji begini aja udah bikin down. Apalagi nanti mau ke jenjang pernikahan ya. Semoga makin kuat hati aku buat melewati ujian dari Allah " ujar Miya dengan raut wajah sedih.


" Kalo aku berkata begini dan memberikan nasihat sama kamu. Bukan berarti hidup bahagia dan gak ada masalah. Tapi aku mencoba berdamai dengan keadaan. Mencoba mengalah dengan semua keinginan yang tak pernah sesuai harapan " ujar putri berargumen.


" Hemmmmm,, aku pikir hidup kamu sudah sempurna loh putri!! Apalagi kamu menikah dengan pria yang tepat. Yang bisa mengerti dan perhatian sama kamu. Beda dengan harith yang sekarang. Harith menjadi orang yang berbeda " ujar Miya berkomentar.


" Apalagi nanti sudah menikah. Suami bukan lagi pacar. Tapi kebanyakan suami akan mengeluarkan watak aslinya terhadap kita. Kadang hal romantis di saat pacaran belum tentu di dapatkan dalam pernikahan " ujar putri memberitahu.


" Ah,masa sih?! Aku pikir kalo pacaran dan menikah akan mendapatkan sikap yang sama juga. " celetuk Miya yang terlalu banyak berharap.


...****************...


Kini Miya sudah mulai memahami soal permasalahan nya dengan harith dari nasihat oleh putri. Kadang mengalah bukan berarti kalah. Tapi demi kebaikan bersama untuk menuju komitmen yang sama meskipun beda pemikiran dan beda prinsip.

__ADS_1


__ADS_2