
Perjodohan. Atau biasa disebut sebuah ‘Perjanjian’ antara kedua keluarga dengan pandangan ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tapi nyatanya malah akan membuat seorang anak tersiksa dan hancur. Bagaimana tidak, kehendaknya dipaksa dan menolak pun tak berhak.
Sungguh. Perjodohan menurutku bukan seperti novel romance best-seller yang pahit diawal dan manis di akhir. So, maybe semuanya hanyalah karya fiksi yang tidak benar adanya, hanya untuk menyenangkan pembaca.
Perjodohan untuk jaminan hutang? Yap, sebutan itu pantas untuk posisiku sekarang. Bagaimana tidak, aku dipaksa menikah dengan anak kolega bisnis papa demi melindungi perusahaan yang hampir pailit.
Aku mengusap kasar wajahku karena terus memikirkan perjodohan itu. Walaupun aku terus menolak, melawan, dan berontak pun tak ada gunanya. Lantas aku tak menyerah begitu saja, aku terus memikirkan cara licik untuk membatalkan perjodohan gila ini. Tapi sungguh itu tak berguna.
“Meisha” suara kalem bunda yang menyambangi telingaku. Membuatku menoleh kearah pintu dan memberi kode pada bunda untuk duduk disampingku.
“oh hai bun,sini masuk” aku sambil menepuk sisi kosong ayunanku.
“masih kepikiran ya nak?” raut wajah bunda seketika khawatir dan cemas.
“....” aku masih diam tak bergeming masih tetap setia pada lamunanku.
“Sha, kurang-kurangin hobi ngelamun gabaik.” suara lembut bunda sambil membelai lembut rambutku.
Aku hanya tersenyum tipis pada bunda, entah aku malas sekali untuk mengangkat bibirku hari ini dan sungguh aku ingin saja berteriak meluapkan luka batinku. Tapi tidak mungkin aku melakukan itu.
“kamu masih kepikiran soal itu ya sayang” kata bunda semakin lekat menatap wajahku.
Iya. Aku hampir frustasi memikirkan tentang perjodohan gila itu. Bagaimana tidak? Aku merasa seperti barang yang akan digaidakan. Aku ingin menolak lalu memberontak semua orang. Tapi nyatanya yang keluar dari mulutku adalah “nggak, bunda. Im fine” sambil kulemparkan sedikit senyum. Sungguh aku pembohong yang payah.
Bunda memandangiku, manik coklatnya menatapku dengan sorot redup penuh arti, bukan lagi sorot lembut yang penuh dengan kasih sayang seperti biasanya. Aku rela menukar apapun, demi bisa melihat manic coklat indah itu kembali seperti biasanya. Membuatku merasa aman dan damai.
“maafin bunda sayang, bunda merasa gagal menjadi seorang ibu karena tidak bisa membuat putrinya lepas dari perjanjian ini”
“bunda minta maaf ya sayang”
__ADS_1
Deg.
Satu hantaman telah mengenai batinku, meninggalkan rasa sesak yang mendalam.
Dilihat dari sudut pandang manapun bunda jelas tidak ada hubungannya dengan perjanjian ini. Apalagi sampai menyebutkan bahwa bunda telah gagal menjdi seorang ibu. Jika bunda yang sebaik itu menyebut dirinya gagal dalam membesarkan aku, maka kusebut apakah diriku saat keluargaku dalam keadaan membutuhkan peranku sebagai anak.
Tanganku terulur memeluk hangat bunda, hatiku rasanya ikut merasakan kesedihan bunda.
“bunda, ini bukan salah bunda. Dan bunda adalah ibu terbaik dalam hidup Meisha, jadi tidak ada kegagalan dalam hidup bunda. Ini semua mungkin garis takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan, jadi Meisha akan menerima semuanya”
Seketika tangan bunda lepas dan manik cokelat itu kembali menatapku dengan sorot bahagia bercampur lega. Lalu bunda kembali mengeratkan pelukannya padaku, seolah-olah sangat bahagia dengan ucapanku barusan.
“Meisha anak bunda….” ucapnya sedikit haru dan bergetar.
Ini semua kulakukan demi bunda, bukan untuk papa atau perusahaan.
****
“jadi kamu terima perjodohan ini?”
“aku gak punya pilihan untuk menolak bukan?” jawabku sedikit sinis. Papa bertanya seolah memberikanku hak untuk memilih. Yang benar saja.
“ya, memang kamu harus menerima.” papa mengulang arti yang tersirat dalam perkataanku tadi.
“karena ini nantinya juga untuk kebaikan kamu”
Sungguh, aku hampir saja tertawa mendengar apa yang diucapkan papa barusan. Untukku? mungkin yang benar adalah ia tidak ingin perusahaan ini bangkrut dan jatuh miskin.
Aku tersenyum sinis membalas perkataan papa, “untukku? tepatnya untuk papa yang menjadikan putrinya sebagai jaminan. Aku benar bukan?”
__ADS_1
Papa sangat tersinggung dengan apa yang kukatakn barusan, wajahnya merah padam, bibirnya menekan garis. Aduh, sepertinya aku telah memacu bom untuk meledak rupanya.
“Meisha, lancing sekali kamu berkata begitu! seharusnya kamu melihat niat baik papa untuk masa depan kamu yang lebih baik” ucap papa penuh emosi.
Aku pantang merasa gentar dengan kemarahan papa, bagiku itu adalah hal biasa. Aku tidak pernah bisa berhubungan baik dengan papa, aku bukan satu dari sekian banyak anak yang beruntung memiliki sosok papa yang sempurna. Papa yang jauh dari figure seorang papa yang sempurna untukku.
“Meisha cuma bilang apa yang Meisha pikirin, dan itu emang kenyataanya bukan. Papa selalu begitu dan akan terus begitu. Selalu memaksakan kehendak siapapun demi kepentingan papa sendiri tanpa memikirkan perasaannya” balasku dengan tenang. Tetap pada posisiku yang tadi tanpa berubah sedikitpun.
Papa sepertinya semakin marah, dan lagi-lagi sepertinya bom kedua siap untuk meledak.
“Meisha!” papa membentakku sambil berdiri dari kursinya, sorot matanya yang tajam itu mampu melunakkan besi yang keras. Tapi sayangnya aku bukan besi yang mudah saja dilunakkan, aku masih terus membalas sorot tajam itu tanpa gentar.
“Meisha kamu-”
“maaf” sontak aku kaget dan menoleh kearah suara berat yang memotong pembicaraan papa. Dan aku melihatnya, sosok pria tinggi dengan pakaian kantor tengah berdiri di ujung pintu, wajahnya datar dan manik hitamnya memandangku dingin. Kedua bulu matanya sungguh tumbuh subur dan indah. Dia pria yang hampir sempurna dari sekian banyak yang selama ini aku temui.
“ Satria” papa menyebut namanya, berdehem dan berusaha mengatur eskpresinya.
“maaf harus membuatmu melihat hal yang kurang menyenangkan ini” lanjutnya kemudian papa kembali duduk di kursinya.
Satria? jadi ini pria yang akan dijodohkan denganku, Seketika rasa kesal dan amarah bercampur menghampiri hatiku karena mengingat tentang perjodohan gila itu. Kemudian aku berdiri dan menghampirinya menatap dengan penuh kebencian. Dia menatapku, mengerutkan dahinya.
“Meisha, kembali ke tempatmu” titah papa tegas. Dengan langkah berat aku kembali ke posisi dudukku kemudian diikuti Satria duduk di sebelahku.
Sorot mata papa menatapku lekat-lekat seolah memberi isyarat padaku untuk tidak melakukan hal yang kurang wajar. Aku masih tidak peduli dengan semua itu. Masa bodoh.
“Satria” ucapku dingin dengan wajah datar.
“selamat pagi dan salam kenal. Mungkin gak lama lagi kamu akan terjebak perjanjian konyol ini bersama saya. Saya harap kamu sudah berusaha menerima and see you” ucapku dengan penuh sarkastik dan tatapan wajah datar. Aku berbalik mengambil tasku lalu pergi meninggalkan ruangan papa.
__ADS_1
Aku melirik papa tanpa berucap apapun, mulai melangkahkan kakiku keluar. Walaupun aku tahu isyarat tatapan papa yang memaksaku untuk tetap duduk, tapi aku mengabaikannya. Tadi aku sempat melihat Satria sedikit seyum sinis terhadapku, dan aku mulai mengkhawatirkan sebenarnya sosok seperti apa Satria. Apa benar seperti desas-desus itu? Aku berulang kali memikirkannya, tapi persetan dengan semua itu.