
"Mei, bukan begitu maksud aku. " Sekarang Satria yang kelihatan frustasi padahal dia sendiri yang memulai topik ini.
"Aku nggak mau dan nggak akan cerai sama kamu tidak tapi aku berpikir soal kamu, gimana kalau kamu mau bebas makanya aku nanya kamu. Aku nyaman aku terbiasa dengan adanya kamu di sisi aku. Tapi gimana kalau kamu nggak begitu aku mikirnya gitu Mei." Kata-kata yang Satria ucap, entah kenapa terdengar menyebalkan, padahal kalau dipilah-pilah ada kalimat romantis di sana.
"Bebas? Apa selama ini aku terpenjara? Terbelenggu? Enggak kan? Aku nggak pernah merasa aturan kamu dalam pernikahan ini penjara buatku. Aku seorang istri di sini, bukan tawanan atau narapidana. Biarpun sudah menikah kita adalah paksaan aku nganggap kamu suami aku dan jalanin semuanya tanpa terpaksa sedikitpun" Aku menarik nafas penjang untuk jawabanku, merasa lega dengan semuanya.
"Kamu itu suami aku kalau emang aku minta cara dari kamu, padahal selama ini kamu jadi suami yang baik apa bedanya aku dengan orang gila? Kamu bilang, kalau kalau emang kamu pikirkan tentang aku kamu nggak akan nanya hal ini sama aku melainkan kamu akan berusaha untuk menjaga kemerdekaan ini sekalipun kontrak itu berakhir." Aku berhenti bicara, menghapus kasar air mata yang menetes di pipiku. Ini kenapa jadi begini sih? Drama banget.
Satria mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menarik napasnya lambat-lambat sebelum akhirnya menatapku. Aku refleks memalingkan wajah, tidak ada hal yang menyenangkan untuk menatap Satria pada saat ini.
"Maaf." Kurasakan tangan hangat Satria menyentuh tanganku menggenggam erat.
"Mei, maaf. Kita nggak akan lagi membahas masalah ini oke? Udah jelas. Nggak ada yang menginginkan perceraian di antara kita tidak jadi kontrak ini sama sekali udah enggak berguna sepakat?" Cecar Satria, suaranya lembut seperti biasa. Entah kata-katanya atau suara bariton yang memberikan efek ketenangan untukku.
__ADS_1
Tangan Satria yang lain, meraih daguku dan memaksaku untuk melihat ke arahnya. "Aku minta maaf, oke?"
Aku bergumam, mengangguk kaku. Rasanya, aku melupakan percakapan menyebalkan kami barusan saat aku melihat senyum Satria yang terlihat lega.
"Meisha, sekarang kamu itu separuh aku. Kalau kita terpisah, maka aku bukan lagi definisi dari kata utuh."
dan yang terakhir kulihat adalah sepasang mata coklat terang, sebelum bibir Satria menyentuh bibirku.
Satria POV
Dan jujur saja, aku sendiri tidak tahu tertinggal di mana otakku sampai-sampai menanyakan soal perceraian pada Meisha. Hell.
Oke, anggap saja pertanyaanku tadi pagi adalah angin lalu yang tidak akan berhembus dua kali. Sekarang semuanya sudah jelas, seperti halnya perasaan kami yang sudah ter gambar secara gamblang.
__ADS_1
Simpelnya, aku dan Meisha saling mencintai. berarti tidak ada alasan untuk kami bercerai setelah masa kontrak itu habis. Ketuk palu tiga kali.
Nah, sekarang yang harus kulakukan adalah menyimpan baik-baik surat kontrak itu. Atau kubakar saja? atau masukkan ke dalam mesin penghancur kertas saja bagaimana? Ah, di robek sehingga tidak berbentuk sepertinya cukup dramatis.
Aku mengernyit saat melihat meja makan yang bersih. Tidak ada sehelai pun kertas yang kucari, surat kontrak kami maksudku. Aku ingat jelas kalau tadi aku meninggalkannya di sini saat pergi ke kamar.
Mungkin Meisha yang membereskan, karena yang masih berada di sini adalah Meisha yang sedang memasak. Mudah-mudahan dia tidak kembali memasukkan surat kontrak itu ke dalam kulkas.
Aku memperhatikan Meisha yang berdiri menghadap kompor, dia membelakangiku. Satu tangannya sibuk mengaduk sesuatu yang berada di dalam panci sedangkan satu tangannya yang lain entah tengah memegang apa aku tidak bisa melihatnya dari sini.
"Mei?" Panggilku, sengaja aku keraskan suaraku. Aku nyengir saat mendapatinya terkejut dan menjatuhkan sesuatu yang dipegang.
"Apa? ngagetin aja kalau tahu tahu muka aku kena panci panas gimana coba?" Oceh Meisha saat ia berbalik menghadapku, wajahnya benar-benar terlihat kesal. Duh, dia jadi manis dengan wajahnya yang ngajak ribut.
__ADS_1
Aku tertawa kecil, berjalan menghampiri dan berhenti dua langkah di dekatnya. "Tinggal operasi plastik aja, beres kan." Jawabku asal.
"Dih, mau ya punya istri mukanya tembelan plastik?" balas Meiha sengit.