
PH-15
Meisha POV
Tidak pernah terpikir olehku, bahwa pertengkaran hebat kami tadi akan terselesaikan begitu saja. Begitu mudah, tanpa pembahasan sama sekali.
Saat Satria memelukku, yang kurasakan hanyalah perasaan lega. Lega mengetahui bahwa Satria bukanlah tipe orang yang akan marah berkelanjutan. Lega mengetahaui bahwa dia tetap peduli padaku. Biarpun, bisa dikatakan jika kelakukanku yang menyebabkan pertengkaran tadi tercipta dan melukai ego nya sebagai seorang pria. Dan lega mengetahui, bahwa diaadalah suamiku. Priaku, yang menungguku terbangun saat embun terbias cahaya matahari.
Yang aku lakukan pada saat Satria berusaha memelukku tadi adalah berbalik dan membalasa pelukannya, menenggelamkan wajahku pada dada bidangnya dan menghirup kuat-kuat aroma tubuhnya. Mengingatnya dengan jelas dalam gulungan memoriku.
Dan sekarang disniliah kami berdua berada, di pantry pada jam tengah malam. Saaat aku mengatakan lapar dan mengahncurkan momen yang romantic dan cukup langka bagi kami. Satria sangat sabar, dia tidak protes namun hanya tertawa dan melepaskanku dari pelukannya kemudia bangkit dari ranjang.
Aku tersenyum geli, memandang kearah Satria yang memunggungiku. Dia tampak fokus dengan mie instant yang tengah dimasaknya, untuk kami berdua.
__ADS_1
“Mei, tolong ambilin mangkuk dong” seru Satria. Aku bergumam mengiyakan, kemudian bangkit dari sofa dan berjalan menuju kitchen set untuk mengambil dua buah mangkuk.
“yang punyaku terlalu mateng kali Sat. Tuker ah”
“punyaku lebih mateng dari kamu. Mau?” balasnya. Aku melirik mangkuk Satria, kemudia mendesah kecewa. Benar kata Satria, mie instant punya dia lebih matang dari punyaku. Please, apa rasanya mie yang sudah terlewat lembek?
“ini ah, buat kamu”
“nggak suka, bukan pilih-pilih” kataku sambil menaruh kuning telur kedalam mangkuk mie Satria.
Perlahan aku mulai memakan mie milikku, sambil sesekali melirik Satria yang tengah duduk dihadapanku. Satria juga tengah menikmati late dinner ini, haha.
__ADS_1
Aku menaruh garpuku dan menopang dagu dengan satu tangan. Keadaan seperti ini membuatku mengingat apa yang menjadi alasan kami menikah. Sebuah perjanjian konyol yang sama sekali tidak ada untungnya bagi kami berdua.
Ah, sepertinya aku harus meralat ucapanku. Perjanjian konyol itulah yang secara tidak langsung membuat kami berdua bisa bertemu dan bersatu. Nanti, jika waktu perjanjian pernikahan kami sudah sampai batas waktu dan Ayah berhasil melunasi hutang perusahaan pada papa mertuaku, apa keadaan seperti ini bisa terulang? Keadaan saat aku makan berhadapan dengan Satria, dirumah kami. Apa masih akan bisa tercipta? Apa masih ada kedua, ketiga, dan kesekian kalinya?
Dan, apabila suatu hari nanti saat kontrak itu telah habis. Akankah kami tetap bersama…?
Cup.
Deg.
Aku tersentak, sontak memundurkan kepalaku dan mentap heran Satria dengan pandangan yang bisa dibilang shock. Sedangkan Satria, dia malah tersenyum dan kembali menarik diri setelah…
______________
Alo-alooooo semuanya, author say sorry ya sama semuanya karena mulai chapter 7 author update ulang. Kenapa? karena author tidak sengaja menghapus dua episode yang ada huhu…. Jadi harap maklum yaaa. Jangan lupa selalu berikan like supaya aku makin semangat buat update ceritanyaa, semakin banyak like semakin banyak juga favorit yaaaa
__ADS_1