
Meisha POV
Duniaku terasa membeku seketika, bukan karena hal buruk lagi yang menimpaku tapi hal baik yang aku rasakan. Ya, hal baik bukan, saat suamimu dengan jelas mengatakan bahwa dia mencintaimu. Itu merupakan hal baik bukan? iya, aku juga merasa demikian.
Tapi, yang aku rasakan untuk hal yang baik tersebut bukanlah sebuah kebahagiaan. Aku samasekali tidak merasa senang sedikitpun, aku mala merasa takut. Benar-benar takut sampai rasanya suara Satria terus memenuhi isi otakku membuatku merasa tidak pantas.
Aku mengigit bibirku, dengan kasar aku melepaskan pelukan Satria yang masih melingkapku. Tidak, Satria tidak seharusnya memberikan cintanya padaku. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku yang kotor ini.
“aku keliatan bodoh ya? Bodoh banget” ucapku sumbang.
“dalam situasi ini yang ngerasa gak pantes kenapa harus aku?” lanjutku. Aku terkekeh sinis dengan apa yang baru saja aku ucapkan, menatap Satria yang terlihat terkejut dengan apa yang aku lakukan.
“aku gak pantes, banyak orang pasti bakal sependapat denganku kalau mereka tau tentang aku yang gak utuh. Mereka pasti akan bilang, kalo aku ini gak seharushnya menikah sama lelaki baik seperti kamu. Ah… kenapa aku merasa kadang hidup ini tidak adil denganku ya?” ucapku dengan mengangkat satu tanganku untuk mengaruk kepalaku, menjatuhkan tas dan jas Satria kelantai yang aku pegang sedari tadi.
Hidup memang terkadang tidak adil bukan? atau hanya aku saja yang terlalu sinis dalam memandang hidup, karena banyaknya hal tidak menyennangkan terjadi padaku? Tidak, memang hidup kadang tidak adil. Bukan aku yang terlalu sinis dalam memandang hidup.
“Meisha” Satria memanggilku, dia melangkah mendekat padaku yang sudah menjauh beberapa anak tangga darinya. Dia menaiki anak tangga tanpa sedikitpun melarikan tatapannya dariku.
“aku gak tau kalo ternyata cara berpikirmu sinis kaya gitu” ucap Satria, nada bicaranya terdengar dingin. Nada bicara yang sudah lama tidak lagi pernah aku dengar darinya, sekarang kembali terdengar dengan jelas.
“aku bicara kenyataan, karena memang kenyataanya begitu. Karena—”
__ADS_1
“apa orang perlu tau?! Apa yang menikahi kamu adalah mereka?! Apa yang menjalani hidup sama kamu adalah mereka?! Apa saat ini ada banyak orang yang melihat kita berdua?! Kamu hidup buat dirimu sendiri atau buat mereka?!”
Aku terhenyak seketika, menatap nanar kearah Satria yang menantapku dengan amarah. Dadanya naik turun dengan cepat, menandakan gejolak emosi yang melanadanya. Aku mungkin mengatakan hal yang salah. Tidak, bukan mungkin lagi. Tapi aku memang mengatakan hal yang tidak sepantasnya, dan itu memang salah besar.
“apa yang aku ucapkan mungkin sebuah kesalahan yang besar menurut kamu. Aku sadae aku salah. Tapi apa kamu ngerti, aku ngomong kayak tadi karena aku mikirn kamu. Aku berpikir gimana kamu. Gak seharusnya kamu---”
“kamu ngejadiin aku alesan utnuk hal yang tidak menyenangkan yang barusan kamu ucapkan? Apa gak salah? Kalo memang kamu bener-bener mikirin aku, seharushnya kamu tau. Kalau kata-kata seperti tadi yang gak pengen aku denger dari kamu”
“kamu gak berpikir tentang aku, kamu cuma mikin orang-orang diluar sana dan cara mereka gimana mandang kamu. Memangnya kalo orang-orang tau kamu gak lagi utuh, kenapa? Lagian yang menikah sama kamu itu, aku. Bukan mereka” lanjut Satria. Setelah dia mengatakan hal-hal yang membuatku bungkam, dia berjalan melwewatiku tanpa mengatakan apapun lagi.
Terdengar pintu kamar yang tidak jauh dariku, ditutup dengan keras. Satria marah, dia benar-benar marah. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu, berkata dengan emosi yang terlihat nyata. Dan itu semua terjadi karena aku. Aku yang menjadi alasan mengapa Satria bisa bersikap demikian rupa.
Aku mendekap dengan erat jas milik Satria, erat sekali. Masih dalam posisi berjongkok, aku menenggelamkan wajahku pada jas Satria yang kupeluk itu. Berharap mendapat sedikit ketenangan dari aroma tubuh Satria yang tertinggal disana, karena selama ini setelah kejadian sore itu, Satria adalah orang yang selalu memelukku saat aku muali menangis mengingat segalanya.
Tapi kali ini berbeda, aku menangis sendiri. Tanpa Satria yang melingkupiku dengan segala kehangatannya. Rasanya begitu menyakitkan, menyedihkan, saat aku harus kembali menangis sendirian seperti dulu lagi. Ah, aku terlalu manja, aku terlaly bergantung pada Satria. Dulu, tanpa ada siapapun disisiku, aku mampu melewatinya dengan baik.
Padahal, baru saja hubungan kami membaik belum dalam urun waktu yang lama. Tapi, rasanya seperti kami sudah selalu bersama betahun-tahun. Saat dia mengabaikanku seperti ini, yang kurasakan adalah sesak. Aku membutuhkan Satria.
Mungkin Satria benar, aku hanya memikirkan cara orang-orang dan cara pandang mereka terhadapku. Aku hanya takut menghadapi kenyataan kalau mereka akan menghinaku yang bersanding dengan Satria.
Aku merasa, aku terlalu egois.
__ADS_1
Aku egois, entahlah.
Perlahan, aku bangkit dari posisi berjongkokku. Berdiri dengan lelah, dan mulai berjalan menuju kamar tanpa perlu repot menghapus jejak air mata yang membasahi seluruh wajahku.
Sekarang aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Padahal beberapa jam yang lalu, Satria baru saja mengatakan kalau dia mencintaiku. Tapi situasi saat ini malah sangat tidak nyaman. Dan ini semua karena semua ucapan bodoh yang keluar dari mulutku. Karena aku, yang selalu gegabah dalam menilai sesuatu.
Setelah meletakkan barang-barang Satria, aku menarik selimut dan masuk kedalamnya. Berniat untuk kembali melanjutkan tangisku mungkin.
Suara shower yang menyala membuatku yakin kalau saat ini Satria tengah berada didalam kamar mandi. Ah, Satria belum memakan apapun. Tapi, siapa yang merasa lapar setelah kejadian menyebalkan yang baru saja tercipta karena kelakuanku tadi?
Aku merutuki diriku sendiri, memaki kebodohanku. Sedikit harapn kecil, muncul dalam benakku. Harapan kalau Satria tidak akan marah lebih lanjut. Dia pasti akan bicara padaku setelah keluar dari kamar mandi, dia pasti akan berada dalm satu selimut yang sama denganku setelah memakai pakaian. Dan dia pasti akan kembali memelukku, menjagaku saat aku terlelap. Ya, pasti.
Menit-menit penantian berlalu, terasa seperti jam untukku. Aku menunggu Satria keluar dan bersikap biasa terhadapku. Tapi, sekali lagi harus aku katakana, kalau hidup memang tidak adil padaku.
Satria memang menggunakan selimut yang sama denganku, berbaring satu ranjang yang sama juga. Tapi, dia memunggungiku dan membelakangiku seolah aku tidak ada.
“maaf..” ucapku tanpa suara. Aku mengigit bibirku untuk meredam suara isakan tangisku.
Aku benci, sungguh sangat benci ketika harus melihat punggungnya. Dia terasa begitu jauh, sulit untuk kugapai, sama seperti awal kami menikah. Ini menyakitkan. Dan ini adalah harga yang harus aku bayar karena ucapan bodohku tadi.
__ADS_1