Posessive Husband

Posessive Husband
PH-22


__ADS_3

Satria POV


Pagi yang indah untuk malam yang hebat. Astaga, aku jadi merasa laki-laki mesum karena kata-kata aku sendiri. Tapi memang begitu adanya kan?


Untukku, pagi yang indah adalah ketika aku terbangun dalam pertama kali kulihat adalah wajah tenang Meisha yang terletak di sampingku. Kepala kami berada di satu bantal yang sama-sama menggunakan selimut yang sama. Selimut yang sudah kusut permukaannya.


Ini baru pukul tiga pagi, masih lama untuk menanti fajar. Untuk terakhir kalinya aku perhatikan Meisya, dan mengecup kepalanya singkat sebelum bangkit ke kamar mandi. Aku harus membersihkan tubuhku. Ah, sudah aku bilang kan ini pagi yang indah.


"Udah bangun?" tanya aku saat keluar kamar mandi dan melihat Meisha sudah duduk di atas ranjang sambil memeluk selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Masih ngantuk sih."


"Mau tidur lagi?" Meisha menggeleng mendengar pertanyaanku. Tangannya terangkat menyentuh rambut yang lebih acak-acakan dari biasanya saat bangun tidur, dan penyebabnya adalah pergulatan kami semalam. Huh.


"Jadi luar kota, Sat?" Tanya Meisha. aku melirik jam dinding yang menempel manis di dinding kamar kami, dan berjalan menuju Meisha sambil tetap menggosok kepalaku dengan handuk kecil.


"Iya, bentar lagi." mata Meisya membulat mendengar jawabanku, dengan cepat ia beringsut dari ranjang. Melupakan selimutnya begitu saja. Dan, Ugh aku harus menahan diri.


"Mei..." Ia berhenti dan menoleh padaku.


"Apa? Ntar dulu ya ngomongnya bentar lagi kamu berangkat. Aku kan harus bersih-bersih dulu."


Dia tidak sadar ya? Ya pasti sudah tidak sadar. Kalau sadar, dia pasti sudah heboh dengan ke... Uh, oke kita peroleh bahasanya menjadi kepolosan dan tubuhnya sekarang.


aku menelan ludah, usaha terlihat senang mungkin dan membawa selimut yang ada di atas ranjang menuju badan mungilnya. Tanpa mengatakan apapun, aku membelikan selimut tersebut ke tubuhnya.


"Terlalu menggoda, aku bisa nggak jadi ke luar kota. Besok aja pas aku pulang."


Satu detik.

__ADS_1


Dua detik.


Tiga--


"DASAR MESUM!"


nice respon, aku menahan tawaku titik melihat Meisha yang sudah buru-buru lari masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya kencang.


Meisha POV


Seperti matahari yang malu-malu mengintip di balik awan, begitulah cara aku melihat ke arah Satria. Tapi please, aku bukan cuma mengintip malu-malu melainkan mengintip malu bercampur kesal. Kenapa? Ha? kenapa tanda tanya kalian ingatkan insiden apa yang terjadi tadi pagi sebelum aku masuk kamar mandi?


sekali lagi aku melihat karang Satria yang sedang santai menghadap dengan secangkir kopi diatas meja makan. Iya benar dia tidak jadi berangkat keluar kota. Sekarang kami memang sedang berada di dapur. Belum beranjak ke mana pun foto sejak sarapan jam 8 tadi.


"Kamu nggak ke kantor?" Tanyaku sambil berlalu. jariku bergerak melingkar mengikuti bibir gelas coklat panasku.


"Nggak." Sudah. Itu saja cuma kata nggak untuk pertanyaan empat kataku? Tidak ada penjelasan untuk alasan, atau apa-apa? Bahkan sampai sekarang aku tidak mengerti mengapa Satria tidak jadi luar kota. Sepertinya zaman sekarang irit bicara itu perlu ya?


"Apa?" aku mengernyit, saat menurunkan kelasku dan mendapati Satria muda menatapku dengan pandangan serius. Ini orang kenapa sih hari ini?


"Denger," sekarang Satria sudah menumpuk kedua tangannya di atas meja, dan menyingkirkan laptopnya ke samping.


"Apa ngasih kita pegang kontrak nikah kita kan?"


Aku memiringkan kepalaku. Tumben ngomong soal surat kontrak nikah.


"Iya kenapa? Tumben ngomong soal itu" entah kenapa tiba-tiba perasaanku berubah menjadi kurang nyaman. Semacam....... Takut?


"Kamu yang simpenkan?" Tanya Satria. aku mengangguk, rasanya nggak perlu mengeluarkan suara untuk menjawab.

__ADS_1


"Di mana? Soalnya aku nggak bisa nemuin surat itu di rumah ini." Kata Satria. Sekarang alisnya saling bertaut. Oh....... Jadi satria sudah mencari-cari ternyata.


Tanpa menjawab aku bangkit dari dudukku, melangkah menuju kulkas. Bisa kurasakan tatapan heran Satria di punggungku, saat aku membuka kulkas dan membuka laci yang ada di bawah freezer,untuk mengambil surat kontrak nikah kami yang terbungkus plastik rapi dari dalam sana.


"nggak salah?" Tanya Satria dengan wajah heran. dia menggelengkan kepalanya tidak percaya saat aku sudah kembali ke tempat dudukku tadi dan menyerahkan surat tersebut padanya.


Aku menggeleng, kemudian meminum coklat panas ku lagi dan masih enggan untuk mengeluarkan suara. Entahlah, mood-ku sepertinya merosot.


"Dapat ide absurd dari mana buat naro surat ini di dalam kulkas?" ya ampun tidak aku tidak tahu kalau Satria punya tingkat yang parah untuk penasaran pada hal yang tidak penting.


"Ya kepikiran aja kan emang pernikahan kita awalnya dingin banget."


"Yakin gara-gara itu?"


"Ya sama kepikiran drama Korea." Akhirnya aku mengaku karena pertanyaan Satria tidak bisa kujawab dengan mudah.


Satria memutar bola matanya tengah karena akan membawa bahwa drama Korea untuk hal ini. sekedar informasi kamu minggu kemarin Satria yang menemaniku menonton drama Korea tiap malam bahkan ketika senggang.


"Oke, sekarang aku mau nanya serius ke kamu." Satria menatap surat kontrak nikah kami yang ada di tangannya lalu beralih padaku.


"Kamu mau kita gimana?"


Aku mengernyit. "Apanya yang gimana?" Tanyaku. Dasar deh, Satria kalau ngomong kebiasaan sepotong nggak jelas.


"Maksud aku, "Satria menarik nafasnya dalam.


"Kamu mau gimana? Cerai atau tetap sama aku. Ayah kamu udah lunas hutangnya dalam waktu delapanbulan ini." Jelas Satria, suaranya pelan pada kalimat terakhir.


apa? Apa apaan sih kenapa jadi ngomong jorok ini terus semalam itu apa? Satria tuh laki-laki apa sih?

__ADS_1


"Kenapa nanya aku. aku bukan tipe perempuan yang menuntut suami nya buat cerai, nanti dikira aku punya selingkuhan. Kalau kamu mau cerai in aku kenapa nggak ngomong aja. Nggak usah pakai acaranya segala. " Tidak. aku tidak berteriak, nada bicara ku tetap terkontrol biarpun rasanya dadaku mendadak panas dan rasa panas nya naik ke mataku.


Oh tuhan?


__ADS_2