Posessive Husband

Posessive Husband
PH-20


__ADS_3

"Mei, wake up!" Geramku.


Aku mendekatkan telingaku ke dadanya, untuk mengecek detak jantungnya.


Tapi sesuatu yang buruk terjadi. Aku mendengar detak jantungnya hanya saja lemah. Yang terpenting ada harapan.


Sekali lagi aku memberi nafas buatan untuk Meisha.


Dan rasanya kali ini aku ingin mengucapkan syukur kepada Tuhan, ketika melihat Meisha terbatuk dan memuntahkan air beberapa kali.


Aku mengangkat kepala Meisha dengan satu tanganku, menempelkan dahiku dengan dahinya. Aku memejamkan mata, saat melihat Meisha mengerjapkan matanya lemah.


"Kita pulang." Bisikku yang di jawab dengan anggukan lemah oleh Meisha. Aku segera mengangkat tubuhnya ke dalam gendonganku lalu merampas kasar jasku yang masih dipegang oleh Queen yang kelihatan seperti...... Tidak puas, untuk aku pakaikan kepada Meisha.


Aku bangkit dan menatap tajam pada Queen yang dengan cepat menyampaikan ekspresi tidak senangnya, dan menggantinya dengan ekspresi menyesal.


"Satria, sayang. Maaf tadi itu aku nggak sengaja. Meisha itu kedorong, bukan kudorong"

__ADS_1


Aku berdecak, Queen memang bukan perempuan cerdas. "Aku nggak butuh omong kosong. mataku lebih bisa dipercaya daripada omongan perempuan macam kamu. " Ucapku, dingin. Tidak ada perasaan sedikitpun. Memangnya siapa yang mencintai perempuan licik seperti dia?


Aku menyentak tubuh Meisha, membenarkan posisi tubuhnya dalam gendonganku. Setelah itu, aku berbalik dan berjalan meninggalkan Queen yang kembali memucat karena ucapanku di belakang.


Pelajaran untukku yang harus kuingat adalah, membiarkan Meisha sendirian adalah hal yang buruk.


Meisha POV


Aku selamat. Dua kata yang terus kuulangi dalam mobil sepanjang jalan menuju rumah. Aku tidak bisa berhenti bersyukur.


Betapa Tuhan masih menyayangiku dan masih memberiku kesempatan untuk mendapatkan nikmatnya hidup.


"Meisha?" Aku menoleh sebentar mendengar panggilan Satria, kemudian kembali melihat keluar jendela mobil yang sudah berhenti di depan rumah kami.


"Tunggu----"


"Aku bisa sendiri." Potongku cepat, saat satria mungkin ingin menyuruhku menunggu di dalam mobil, sementara dia membuka pintu mobil untukku.

__ADS_1


Satria tidak mengatakan apapun, hanya helaan nafas lelah miliknya yang kudengar saat aku mendahuluinya keluar dari dalam mobil.


Mungkin kalian tidak mengerti kenapa aku bersikap seperti ini. Dan bahkan mungkin kalian berpikir bahwa aku tidak tahu diri, karena bersikap begini setelah diselamatkan Satria tadi.


Tapi apa kalian tahu apa yang aku rasakan saat ini? Apa kalian mengerti mengapa aku begini? Ah, tentu kalian tidak tahu. atau memang hanya aku yang terlalu berlebihan dalam menanggapi hal ini.


Aku hanya merasa masalah, dengan kenyataan bahwa; Queen masih tetap kekasih Satria setelah kami menikah.


Oke, Satria memang pernah mengatakan dia berpacaran padaku. Tapi itu dulu kan? Saat kami berdua belum seperti sekarang --maksudku, saling terbuka terhadap perasaan masing-masing.


Dan aku akan benar-benar merasa bahwa ini masalah jika memang mereka tetap kekasih setelah aku dan Satria menjadi lebih dari sekedar menikah kontrak.


Aku memutar mataku, jengah dengan pikiranku yang semrawut. Hampir mati karena tenggelam, dan harus memikirkan hal menyebalkan, bukan hal yang akan membuatmu berpikir untuk selamat dari insiden dan tenggelam tadi.


Setelah mengunci pintu kamar mandi, aku melangkah dan mulai masuk ke dalam bath up yang telah ku isi dengan air hangat. Benar kata orang kalau air hangat dapat membuatmu menjadi lebih tenang. Banyak berpikir memang tidak akan membuatmu terlalu sadar dengan apa yang kamu lakukan. Seperti contohnya, aku tidak begitu sadar apa saja yang telah aku lakukan setelah memasuki rumah sampai bisa biasanya sudah berada di dalam kamar mandi ini. Ah, bukan hal penting menurutku.


Aku mulai memejamkan mata aku, menikmati sensasi ketenangan yang diberikan oleh air hangat ini. masa bodoh dengan segala pikiran ku yang seperti benang kusut. Sekarang aku hanya perlu bersantai sebelum aku berhadapan dengan Satria nanti.

__ADS_1


__ADS_2