Posessive Husband

Posessive Husband
PH-8


__ADS_3

Satria POV


Mataku sepenuhnya tertuju pada Meisha yang tengah terlelap disampingku. Aku menyukai seluruhnya. Parasanya yang indah dipandang, alis tebal, manic hazel, dengan hidung sedikit mancung juga bibir mungil. Dia cantik, aku tidak ingin munafik untuk tidak berbohong tentang hal itu padadiriku sendiri.


Aku merubah posisiku menyamping, menopang kepalaku dengan tangan dan memupukkan sikuku pada bantal. Saat ini aku dapat memperhatikan Meisha lebih jelas dari posisi ini. Meisha tampak begitu nyeyak dalam tidurnya, mau tidak mau aku tersenyum kecil saat mengingat hubunganku dengan Meisha akhir-akhir ini jadi lebih baik setelah drama singkat kami di tangga waktu itu.


Satu tanganku terulur, menyingkirkan helaian rambut panjang saskia yang menutupi wajahnya. Terkadang, selintas pikiran untuk menyenthnya lewat dikepalaku. Karena bagaiamanapun aku lelaki normal, terlebih lagi Meisha adalah istriku yang sah dalam hukum maupun agama. Yang mampu membuatku menahan diri hanyalah kontrak konyol tentang perjodohan pernikahan kami. Sama sekali tidak aku inginkan.


Meisha tiba-tiba bergerak tidak nyaman, dia berbalik menghadapku dan dahinya mengernyit. Apa dia bermimpi? apa yang ada dalam mimpinya? Aku kembali mengusap kepalanya lembut, walaupun aku tidak tau hal ini bepengaruh atau tidak tapi aku harap hal ini dapat memberinya ketenangan dalam tidurnya.


Saat aku mengelus lembut kepalanya, tiba-tiba kau teringat bagaiamana saat pertama kali aku bertemu dengan Meisha. Gadis yang tengah berdebat hebat dengan ayahnya sendiri, kalau saat itu aku tidak memutuskan untuk bersuara mungkin perdebatan itu akan terus berlanjut lebih hebat.


Waktu itu aku merasa lucu dengan kata-katanya yang menyuruhku untuk belajar menerima semua ini, karena aku dan dia akan menjadi suami istri. Padahal pada kenyataannya, sampai waktu yang ditentukan Meisha saja masih belum bisa menerima soal perjodohan ini.


Papa tidak memberiku pilihan untuk hal ini, aku diharuskan menerima. Padahal aku selalu memiliki kesempatan untuk memilih dalam banyak hal. Aku tidak keberatan, jujur saja ini bukanlah hal berat yang harus menjadi beban serius. Ini hanya pernikahan kontrak yang akan berakhir pada waktu yang ditentukan. Tapi ternyata aku keliru, semua itu hanya pemikiran awalku dan seiring berjalannya waktu, aku tidak tahu pemikiran itu akan beralih menjadi mengikat seluruh duniaku dengan  Meisha.


Sebenarnya aku tidak memiliki hubungan apapun dengan mantan kekasihku Queen, aku hanya tidak ingin seorang wanita yang rela kehilangan nyawanya demi diriku. Aku benar-benar merasa tidak ada bedanya dengan laki-laki brengsek yang berpacaran dibelakang istri-sah dan diberikan izin pula.


Tapi, aku merasakan kalau Meisha juga dekat dengan beberapa lelaki. Sebenarnya ingin sekali aku memarahi Meisha saat tau kalau dia diantarkan oleh seorang pria dengan membawa mobil sport. Dan aku bisa memastikan itu bukanlah pria yang sama pada saat mengantarnya dengan motor. Sebenarnya berapa laki-laki yang Meisha miliki? Apakah dia benar-benar wanita muda dengan pria? Sungguh menyebalkan kalau bayanganku itu terjadi.


“nggak…”

__ADS_1


Aku tiba-tiba tersentak kaget dari lamunanku saat suara lirih Meisha terdengar. Aku mengernyit. Apa Meisha Meisha mimpi buruk? aku kembali mengelus telapak tanganku secara lembut pada kepalanya.


“nggak! Jangan…. Jangan pegang. Nggak!”


Aku tersentak saat Meisha mulai memberontak, dia berteriak masih dalam keadaan tetidur.


“Meisha” ucapku padanya yang masih tertidur. Aku merubah posisiku menjadi duduk, kedua tanganku sibuk menahan tangan Meisha yang memukul kepalanya sendiri secara membabi-buta.


“jangan. Aku mohon jangan!” kali ini teriakan Meisha lebih keras. Oke, beberapa hari ini dia memang selalu mimpi buruk tapi tidak sehebat malam ini.


“Meisha hei tenang!” aku mengusap lembut kepalanya dan memerangkap kedua tangannya dalam satu genggaman tanganku.


Perlahan geraka  Meisha memukul kepalanya mulai melemah, sekarang Meisha mulai menangis. Tuhan, kenapa sebenarnya Meisha? kenapa dia tidak bangun saja.


Meisha terkesiap seketika, sekarang dia terbangun dan pandangannya kosong untuk beberapa saat sampai pada akhirnya Meisha menatapku.


“Satria” panggilnya lemah. Aku memasang ekspresi sebiasa mungkin, padahal aku mengetahui semuanya sejak beberapa hari lalu.


“kamu mimpi buruk la—” kataku terputus. Meisha diam, satu tangannya terangkat menghapus sisa-sisa air mata diwajahnya.


“tadi aku.. aku mimpi… aku.. Julian”

__ADS_1


“minum dulu” aku memotong ucapan Meisha, kalimatnya kacau tak beraturan. Aku menyodorkan gelas berisi penuh air putih yang kuambil dari nakas samping ranjang.


Aku melihat tangan Meisha bergetar saat mengambil gelas dari tanganku, buru-buru kuambil kelmbali gelas itu saat Meisha menyodorkan kembali padaku. Setelah dia meminumnya hanya beberapa teguk saja.


“siapa Julian?” tanyaku penasaran. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran ini, jujur saja aku adalah tipe orang yang sangat amat peduli dengan orang yang aku sayangi.


Benar, sejak saat drama itu aku merasa aku  mulai kalah dengan diriku sendiri. Aku kalah dengan janjiku pada diriku sendiri untuk tidak mencintai Meisha pada saat pernikahan berjalan nanti. Tapi nyatanya aku mulai tertarik dengan Meisha.


Meisha menggeleng pelan, tampak ketakutan dalam dirinya. Dia menekuk lututnya, memeluknya erat daan sorot matanya kembali menatap kosong arah tak tentu.


“aku belum bisa cerita soal dia” ucapnya teredam. Aku menarik nafasku dalam, oke. Semua mungkin pasti ada waktunya masing-masing, begitupun Meisha nanti pasti akan cerita padaku.


“its okay” aku memaksanya mengangkat kepala.


“sekarang kamu tidur lagi. Ini  baru jam 2 pagi” lanjutku. Aku menginterupsi Meisha untuk merebahkan tubuhnya. Ada sorot heran dalam tatapannya padaku, tapi Meisha tidak melakukan penolakan dan berontak. Meisha mengikuti instruksiku untuk berbaring.


“tidur” kataku setelah ikut merebahkan diri dengan Meisha. Dia memejamkan matanya, tapi kelihatan sekali kalau sebenaranya Meisha sulit tidur. Mungkin rasa takut itu masih ada.


Tanpa keraguan, aku menelusupkan satu tanganku ke lehernya. Sedangkan yang satu lagi menarik pinggang Meisha untuk membuat tubuh mungilnya lebih merapat padaku.


“aku disini. Tidur, gak usah takut mimpi buruk lagi” ucapku saat aku merasakan tubuh Meisha menegang dalam pelukanku. Dan aku tersenyum lega saat sadar Meisha dengan ragu juga melingkarkan satu tangannya pada pinggangku.

__ADS_1


Aku pernah memperingati Meisha untuk menjaga hati saat pertemuan kedua kami. Sebenarnya, saat itu aku sedang memperingati diriku sendiri. Aku takut akan jatuh cinta padanya dan tidak bisa membiarkannya hidup bebas nanti.


__ADS_2