
Satria POV
Aku mengelus tengkuk leherku dengan kasar, masih memikirkan apa yang telah aku ucapkan pada Meisha tadi. Sungguh aku masih ingin tertawa lalu mengejeknya dengan imajinasi lainnya.
“lucu juga ternyata ya” aku bergumam sambil membayangkan wajah marahnya disertai senyuman sinis khas miliknya.
Aku memasuki kamarku kulihat dia masih dengan muka yang ditekuk, disitu aku ingin sekali lagi mengejeknya sampai dia minta ampun padaku.
“kau pemarah juga ternyata” kataku sambil mulai menempatkan diriku pada ranjang bersiap tidur.
“siapa yang marah”
“kau saja terlalu perasa” balasnya datar.
“iya-iya aku minta maaf” kataku sambil sedikit kuejek. Dibalas dengan deheman saja, aku cukup memakluminya karena memang sifat ayahnya yang menurun pada anaknya. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
“oh ya, jika aku boleh mengatakan. Jangan kamu ulangi lagi membawa pacarmu kerumah ini”
Meisha seketika menoleh padaku dan menatap lekat mataku penuh kemarahan. Aku sungguh memancing ikan yang sudah siap dibakar.
“maksudku bukan begitu. Aku takut jika saat kamu bawa pacarmu nanti papa bisa melihat cctv depan rumah. Itu gak baik untuk perusahaan ayahmu bukan” lanjutku.
“makasih”
“udah perhatian sama perusahaan ayah” Meisha memberikan senyuman tipisnya padaku dan tatapan yang berubah menjadi sendu. Sungguh membuat aku bertanya-tanya apa maksud dari manic hazel miliknya itu.
Ting.
Ting. Aku segera mengangkat ponselku yang berdering
“jangan gitu oke. Sekarang kamu denger aku kan”
“aku jalan sekarang. Tunggu aku”
Aku menghela nafas kasar, segera meraih kunci mobil dan dompet.
“aku keluar” kataku pada Meisha
“kemana” balasnya
__ADS_1
“keluar ya keluar” balasku dengan nada sedikit membentak. Aku sungguh buru-buru sampai tak sadar aku membentak Meisha yang mulai bicara padaku. Aku berlalu tak memperdulikannya. Pikiranku hanya tertuju pada Queen, mantan kekasihku.
Aku khawatir dengan Queen, dia adalah satu-satunya mantan kekasihku. Sudah aku putuskan lama semenjak aku tahu akan dijodohkan dengan anak kolega bisnis papa. Tapi dia wanita yang sungguh gila, bagaimana tidak? dia mengancam akan bunuh diri jika aku tetap bersihkeras untuk memutuskannya secara sepihak. Aku bukan pria brengsek yang akan membiarkan nyawa seorang melayang sia-sia untukku, jadi sampai sekarang aku masih harus mengurusinya. Perasaanku pada Queen tidak lagi ada, tapi aku harus tetap berada disamingnya untuk menghindari sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sungguh, aku merasa terjebak pada situasi yang sangat sulit. Aku bukan tipe pria yang tega menyakiti hati wanita, walaupun dimata sebagian orang sosokku adalah misterius, kaku, dan sedikit angkuh. Tapi pada dasarnya itu hanya aku tunjukkan pada jiwa bisnisku saja. Aku pria yang setia, walaupun aku telah bertanya secara terang-terangan apakah Meisha memberikan aku izin untuk memiliki pacar. Tak lain itu hanya sebagai antisipasi bila suatu saat Queen merengek mengancam bunuh diri aku bisa langsung keluar dengan alasan menemui pacarku. Aku benci kerumitan, maka dari itu aku berusaha menutupi semua kesulitanku dengan menjadi seorang yang dingin.
***
Hari demi hari aku jalani bersama Meisha, hingga suatu ketika aku mulai merasa bahwa aku bisa menjadi seorang Satria yang sesungguhnya yang bisa tertawa dengan bebas, ada kebahagiaan yang aku rasakan saat berada dirumahku bersama Meisha. Entah karena hanya kebiasaan dengan seluruh tingkah lakunya yang sinis dan cuek itu aku jadi semakin sering memikirkan istriku itu.
Setelah menikah denganku, Meisha tidak mempunya kegiatan apapun selain belajar, membaca, dan melamun di ayunan tepi kolam itu. Entah seperti apa sebenarnya dia itu? aku masih tidak mengerti dengan sifatnya. Seorang yang sinis, pemarah, bahkan perasa. Atau seorang yang ceria, baik, dan sabar. Aku terus bertanya-tanya tentang bagaimana sifat asli dari Meisha, pasalnya sudah satu bulan menikah dia tidak pernah menunjukkan sifat aslinya didepanku. Aku sebagai seorang suami tentu berhak mengetahui apapun tentang istriku, meskipun pernikahan ini hanya sementara saja.
“hari ini gak ngampus?” tanyaku pada Meisha yang sedang membaca buku di ayunan tepi kolam
“lagi kosong” jawabnya tanpa menoleh padaku
“kenapa gak hang-out sama kekasihmu nona?” tanyaku sedikit menggoda. Sungguh sejak kejadian hari lalu aku sangat suka menggoda Meisha, entah dia sedikit memperlihatkan kebebasannya saat marah.
“udah putus” jawabnya singkat
“hah?” sontak membuatku kaget dan tercengang dengan jawabannya yang santai itu. Perempuan seperti apa sebenarnya Meisha itu? baru saja kemarin mengakui ingin dibawa kabur oleh kekasihnya, tapi sekarang dengan mudahnya menjawab putus.
“benar-benar jiwa muda ya nona, berganti sesuka hati” balasku lebih sarkastik, supaya dia merasa sadar diri kalau tindakannya mungkin salah.
“tentu saja tuan. Terimakasih anda terlalu banyak memuji”
Skak mat!
Sialan, aku benar-benar merasa seperti seorang suami yang tidak berguna apapun dan takut terhadap istriku sendiri. Aku merasa selalu kalah telak dengan Meisha dalam hal appaun yang kami debatkan. Entah sifat yang dimiliki oleh ayahnya itu 99,99 % menurun sama persis pada putrid tunggalnya itu. Tapi aku selalu bisa memaklumi mengapa Meisha bersifat seperti itu padaku, mungkin saja dia masih tidak mau menerima pernikahan kontrak ini. Bagaiamanapun juga dia adalah wanita, pasti merasa sangat menyakitkan dengan semua ini.
“aku lapar” ucapku pada Meisha yang masih asik berkutik dengan bukunya.
Meisha menghela nafas kasar, lalu menutup bukunya dan beranjak ke arah dapur untuk memasak.
“mau makan apa” tanya Meisha saat berlalu didepanku
“terserah”
“nasi goreng ayam atau sup ayam?”
__ADS_1
“nasi goreng ayam aja” jawabku semangat. Tapi entah Meisha tau darimana jika aku sangat menyukai makanan yang berbau ayam apalagi nasi goring ayam adalah favoritku sejak kecil.
Aku melahap dan menghabiskan dengan sempurna nasi goreng buatan Meisha, sungguh enak dan sedap mirip masakan mama. Tapi tak lama setelah aku memakannya aku merasakan kepalaku berat seketika dan badanku terasa sakit tak karuan, lalu setelah itu aku tidak ingat apa yang terjadi padaku.
Aku mengerjap mataku, menarik nafasku dan melihat aku sudah berada diatas sofa ruang keluarga. Siapa yang membwaku kemari? aku bertanya-tanya apakah Meisha yang mengangkatku hingga kesini, bagaimana caranya.
“udah sadar? ini minum” tiba-tiba suara Meisha mengagetkanku. Dia membawa air perasan jeruk nipis hangat untukku dari dapur
“makasih” jawabku sambil menyeruput jeruk nipis hangat itu
“sepertinya kamu alergi parah makanya sampai pingsan”
Aku tersedak dengan minumaku “uhuk!”
“pelan-pelan makanya” balas Meisha
“tunggu dulu! tadi katanya kamu masak nasi goreng ayam kok aku alergi kayak gini?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi dan menatap mata Meisha. Aku sedang tidak bercanda untuk urusan makanan, karena aku mempunyai alergi parah terhadap udang walaupun hanya aroamanya saja aku akan tidak sadar diri dan langsung pingsan. Jujur saja aku merupakan seorang yang pemilih dalam hal makanan, maka dari itu aku jarang sekali untuk makan di Restoran bahkan bintang lima sekalipun.
“iya emang ayam” jawabnya santai
“gak mungkin kalo ayam aku kayak gini, aku itu alergi sama udang” jawabku dengan nada sedikit tinggi, karena sungguh aku sangat sensitive soal makanan yang masuk dalam tubuhku.
“tadi aku pake pakein udang sih dikit, dikit banget. Tapi mana aku tau kalo kamu alergi sama udang” jawabnya dengan sedikit ketakutan.
“sengaja emang mau bunuh aku kamu ya!” balasku dengan membentak
“aku gatau kalo kamu alergi udang! aku juga gak ada niat buat bunuh kamu! gausa bentak bisa gak sih”
“oke aku minta maaf aku salah, itupun karena aku gaktau!” jawabnya tak kalah denganku, Meisha dengan nada sedikit tinggi menjelaskan semua itu padaku. Tapi aku masih tidak terima dengan perlakuan dia padaku, sungguh aku meragukan semua ucap penyesalan dan maafnya itu.
“udah pergi sana gausa sok peduli!” balasku dengan bentakan dan sedikit mendorong Meisha supaya menjauh dariku, aku sungguh sangat emosi meledak-ledak hingga tidak sadar dengan semua tindakanku padanya.
Aku melihat Meisha pergi dan beranjak menaiki tangga kekamar, tapi aku tidak melihat sorot mata penyesalan karena semua kesalahan yang telah dia lakukan. Dan sorot kesedihan karena telah aku maki-maki dan bentak tapi sungguh mental yang luar biasa. Sorot manik hazel tersebut sudah tidak bisa merasakan apa itu kebahgiaan dan kesedihan sepertinya.
“gila! emang udah mati rasa dia” gumamku sambil memegangi kepalaku yang sedikit berat.
***
Sejak kejadian itu, aku sudah tidak pernah untuk meminta Meisha menyiapkan makanan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Aku sangat sulit untuk mempercayai Meisha lagi, dan sejak kejadian itu juga jarang terjadi komunikasi antara aku dan Meisha. Waktu untuk bertemu dengan Meisha saja sangat jarang walaupun kami tinggal satu rumah, kadang pagi-pagi sekali saat sudah bangun tidur aku sudah tidak melihat dia dirumah dan saat aku tidur dia kadang belum pulang. Tapi aku selalu bangun untuk mengecek dia sudah pulang atau belum, kalaupun dia sampai tidak pulang aku harus benar0benar menegur dia dan turun tangan. Aku mempunyai banyak pertanyaan dalam pikiranku, entah kegiatan apa yang dilakukan Meisha yang mengharuskan dia berangkat pagi-pagi sekali sampai pulang selarut itu.
__ADS_1