Posessive Husband

Posessive Husband
PH-11


__ADS_3

“halo, Ranielle…..” suara itu terdengar semanis madu, mengalir lembut mengacaukan ingatanku. Bertolak belakang dengan jantungku yang mulai berdetak tidak normal, aku merasakan sesak. 


 


“ma-mau ngapain kamu kesini?” ucapku tebata, seharusnya aku histeris tapi ternyata suaraku terdengar tidak lebih dari sekedar bisikan. Aku merasa nyaliku seketika menciut dan gulungan memori kelam itu kembali menimpaku.


Dengan tangan yang sangat gemetar, aku buru-buru mencoba menutup kembali pintu dihadapanku. Supaya aku merasa aman, dan terhindar dari pria sialan ini.


“upss, santai aja kali sayang. Baru juga dibukain pintu, masa mau ditutup lagi”


“pergi!” teriakku. Aku benar-benar histeris, menciba melawan Julian yang menahan pintu. Setengah badannya berhasil masuk kedalam rumah. Tidak, aku merasa aku akan terancam apabila Julian sampai menerobos masuk rumahku.


“aku disini dan gak mau pergi” Julian menyeringai, menelusuri tubuhku dengan tatapannya dari atas sampai bawah. Seketika aku merasa mual dan keringat dingin mulai membasahi keningku.


“jangan coba sentuh! dasar brengsek!” aku berteriak saar satu tangannya mencoba menggapai pinggangku. Dia bedecak, dan mendorong pintu, membuatku ikut terdorong dan jatuh terduduk kebelakang.


“nah sekarang kendali ada padaku, kamu gak bisa kemana-mana sayang” ucap Julian dengan seringaian diwajahnya, membuat tubuhku kembali bergetar hebat.


 


Perlahan aku mencoba merangkak mundur, dengan segala hal yang tengah aku rasakan. Aku meyakinkan diriku supaya bisa bangkit dan berdiri diatas kakiku sendiri kemudian lari untuk menghindari pria brengsek ini. Aku merasa seperti kelinci yang tertangkap oleh pemangsanya.


“jangan sentuh aku! pergi! pergi! pergi!” suaraku serak dan melemah. Tenggorokanku merasa sakit karena berteriak teru menerus. Bayangan beberapa tahun lalu, berkelebat lancing dalam pikiranku dan kembali mengahntuiku sekarang.


“pergilah kumohon….” lirihku. Air mataku mulai menetess dari mata. Aku takut, aku terus memohon pada Julian yang terus mendekatiku terus mengejarku yang merangkan seperti orang lumpuh.


“aku bukan setan, jangan ngeliat aku kaya gitu” ucap Julian lembut.


Iya, kamu memang bukan setan tapi cuma iblis yang merengut hal terpenting dalam diriku. Wajah Julian tampak tidak senang, dia bergerak terlalu cepat dan membuat kepalaku semakin berat dan pusing. 

__ADS_1


Tubuhku bergetar tanpa ampun, lemas dan mengigil yang aku rasakan. Aku benar-benar merasa jijik dengan tangan yang sekarang memerangkap kedua tanganku. Julian berada begitu dekat denganku, dia menempatkan posisi diatasku yang sekarang terbaring tidak berdaya dilantai. Satu tangannya mencengkram kuat, menahannya didepan dada.


“kenapa lari sayang?” Julian berkata lembut, punggung tangannya membelai lembut wajahku.


“aku nyari kamu ke sana-sini….” lanjutnya. Aku mencoba memundurkan kepalaku, menghindar dari sentuhannya


“ja…..jangan sentuh….” suaraku terputu-putus


Aku merasa aku akan tamat.


“apa?!” Julian menggeram marah, tangannya yang tadi mencoba menyentuhku sekarang mencengkram daguku dengan kasar.


“jangan sentuh?! Kamu milik aku seorang, tau gak?!” lanjutnya. Dasar lelaki psikopat.


Perlahan Julian mulai mendekatkaj wajahnya padaku. Cengkramannya pada daguku terlalu kuat untuk membiarkan aku menghindarinya. 


Tiba-tiba aku merasa kebas, tubuhku mendingin seketika. Aku tidak merasakan apapun lagi, aku mati seperti beberapa tahun yang lali.


Saat wajah Julian benar-benar dekat dan tinggal beberapa senti lagi dari wajahku, wajah Satria melintasi pikiranku.


Apa Satria akan memaafkan aku?


Apa Satria akan jijik sama aku?


Aku merasa hina…


Aku merasa kotor…


Satria….

__ADS_1


Saat aku memikirkan Satria, aku merasa seseorang menyeruak masuk berlari kearahku dan Julian. Aku merasa bebas dan  melihat cahaya saat tubuh Julian ditarik paksa dariku, dijauhkan dari tubuhku.


Aku menoleh lemah ke arah suara muncul keributan, tiba-tiba saja semua terdengar berdenging ditelingaku. Ketenangan kembali merayapiku saat pendanganku yang kabur menangkap siluet tubuh sesorang yang kuhapal dengan baik.


“Satria.....” gumamku pelan, terlalu pelan untuk didengar orang lain. Tubuhku terkulai lemas, aku masih terbaring lemah dilantau. Suara detak jantungku terdengar menakutkan ditelingaku sendiri.


Pandangaku tertuju pada Satria yang tengah mengahajar Julian, wajahnya diliputi amarah yang sangat. Dia terlalu kuat samapi Julian tidak bisa melawannya. Aku bisa melihat darah segar mengalir dari salah satu sudut mulut Julian. Dan aku sama sekali tidak perduli..


Pikiranku hanya satu, Satria disini. Aku aman.


“Meisha…” aku mendengar Satria menyerukan manaku. Dia berjalan mendekat padaku dengan langkah yang berdebar. Dia sudah menyeret Julian keluar rumah dan mengunci pintu.


Sekarang, aku merasa benar-benar aman.


“Mei..Meisha” sekali lagi Satria memanggil namaku. Dia merengkuhku, membantuku duduk. Tulang-tulangku terasa tidak berfungsi untuk menopang tubuhku.


“Satria…”


“maaf harusnya aku gak pulang telat”


aku tersenyum lemah. Satria mendekapku, menenggelamkan wajahku di dadanya. Rasanya nyaman….


“maaf….”


“aku yang harusnya minta maaf, Mei” sahut Satria. Dia mencium puncak kepalaku.


“maaf. Aku kotor..” kataku lemah. Aku merasakan tubuh Satria menegang, aku mulai kembali menangis dan aku merasa sakit membayangkan penolakannya.


“maaf. Aku udah gak utuh…” kataku disela isak tangisku. Satria masih diam tak mengatakan apapun. Aku tahu dia pasti jijik. Tapi yang tidak aku tahu, mengapa Satria samasekali tidak melepas pelukannya padaku dan malah sebaliknya. Pelukannya mengerat padaku, mengisyaratkan melindungiku. 

__ADS_1


__ADS_2