Posessive Husband

Posessive Husband
PH-6


__ADS_3

Aku memutuskan untuk pergi kekampus dan bertemu dengan dosen, tapi pada kenyataannya aku diberi harapan palsu, memang sungguh menyebalkan menjadi seorang mahasiswi yang hanya bisa pasrah terhadap kenyataan.


“huh, kebiasaan emang” gumamku sambil melangkah menyusuri koridor kampus


“Meisha!” aku menghentikan langkahku, berbalik saat mendengar suara yang cukup familiar. Sudut bibirku tertarik keatas melihat sesorang yaitu Pak Denis yang tengah berjalan mengahampiriku


“darimana Mei? buru-buru banget kayaknya” ucap Pak Denis saat sudah dihadapanku. Kami mulai berjalan beriringan.


“abis di-php sama dosen lagi pak huh” aku mendengus kesal.


Hanya dibalas dengan suara tertawa oleh Pak Denis.


“mau pulang Meisha? buru-buru banget, baru juga jam dua belas siang”


“abis mau ngapain lagi pak, saya sudah gak ada kelas lagi pak” ucapku. Pak Denis adalah salah satu dosen muda yang sebenarnya umurnya terpaut tak terlalu jauh dariku, maka dari itu Pak Denis sering membantuku jika aku kesulitan mengenai mata kuliahku. Jadi aku dengan Pak Denis sudah akrab sebagai teman, tapi aku tetap menghormatinya dengan memanggilnya ‘Pak Denis’ walaupun awalnya menolak tapi aku memaksa.


Pak Denis adalah pria yang baik menurutku, dia memperlakukanku dengan baik. Dia bilang, wanita harus dihormati dan apa yang diucapkan itu memang benar kan perkataannya?


“yah malah ngelamun lagi Meisha hei—”


Aku mengerjap, menaikkan satu alisku sambil menatap Pak denis yang sekarang beralih dihadapanku.


“apa pak?”


Pak Denis terkekeh mendegar pertanyaan sealigus jawabanku.


“makan siang bareng, direstaurant depan kampus. Mau gak?” Pak Denis bertanya dengan tidak sabar. Aku melirik jam yang melingkar ditanganku, setengah satu. Belum terlalu siang, Satria juga tidak mungkin pulang dari kantor kan jam segini. Jadi sepertinya tidak ada salahnya kalau aku makan siang sebentar dengan Pak Denis.


“oke” jawabku, aku mengangkat bahuku santai. Pak Denis menepuk tangannya, lalu bergerak pindah disampingku dan meraih tanganku untuk digandengnya.


Jangan salah paham, kami murni hanya teman atau lebih tepatnya hubungan antara dosen dan mahasiswinya. Dan juga gandengan seperti ini terkadang sudah biasa kami lakukan, karena aku tau kalau Pak Denis juga pasti merasakan hal yang biasa padaku.


“Mei, ngomong-ngomong… selamat ya atas pernikahan kamu” ucap Pak Denis saat kami sudah berada diresaturant depan kampus. Aku terkekeh pelan, apa yang seharusnya diberi ucapan selamat?


“iya makasih pak” balasku.

__ADS_1


“kenapa gak datang ke acara pernikahan aku?” ucapku bertanya saat ingat kalau aku tidak melihat Pak Denis sama sekali pada saat acara pernikahanku, padahal aku menyuruhnya untuk datang. Wajib. Bagaimana tidak? bagiku Pak Denis adalah sosok dosen yang baik sekaligus sahabatku kedua dan terakhir setelah Irsyad.


“ah itu, waktu itu ada urusan yang mendadak. Aku minta maaf ya?” Pak Denis mengaruk alisnya canggung. Aku berdecih, meninju lengannya pelan.


Tidak ada yang bicara lagi diantara kami setelah itu, kami berdua hanya melanjutkan makan masing-masing. Entah kenapa aku merasa Pak Denis lebih diam dari biasanya, atau hanya perasaanku saja. Pak Denis adalah tipe orang yang tidak pernah lelah berbicara, biasanya dia selalu menceritakan banyak hal kepadaku. Tentang pekerjaannya, tentang penelitiannya, dan tentang apa saja maka dari itu aku sangat suka mendegarkan apa yang dibicarakan Pak Denis karena akan menambah ilmuku. Tapi kali ini, Pak Denis lebih diam mengapa?


“habis makan siang santai bentar yuk di coffeshop sebelah” ajak Pak Denis


“boleh yuk” tanpa pikir panjang aku mengiyakan permintaan Pak Denis, lagi pula sudah lama aku tidak bersantai dengannya.


Pak Denis menyuruhku duduk disalah satu bangku coffeshop yang masih kosong., bangku itu tepat berada dipojok dengan dua kursi yang saling berhadapan yang dekat dengan kaca.


“kamu tunggu disini bentar, aku pesen dulu. Oke?” aku hanya mengancungkan ibu jariku untuk menjawab perkataan Pak Denis. Dia berlalu setelah aku mendelik kesal padanya karena ia kembali mengacak rambutku pelan, kebiasaan lama yang tidak pernah hilang sampai sekarang.


Aku duduk menyandarkan punggungku pada kursi, menghela nafas lelah sambil memainkan ponselku. Sejenak aku berpikir bahwa aku akan segera mengerjakan skripsiku, itu artinya aku akan sibuk dan jarang bertemu dengan Pak Denis. Tiba-tiba aku merasakan sebuah perasaan yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu? ah mungkin kami berdua terlalu dekat, sampai aku berpikir terlalu dalam jika aku akan jarang bertemu dengan Pak Denis.


Aku memejamkan mataku sejenak, menyumpalkan kedua telingaku dengan headset dan aku merasakan suasana coffeshop yang seolah-olah seirama dengan music yang aku dengar.


Sepertinya aku terlalu hanyut dalam suasana dan hampir saja lupa untuk membuka mata. Tapi sebuah benda dingin menyentuh pipiku, membuat mataku terbelalak seketika dan kepalaku menghindar dengan refleks.


“jangan terlalu hanyut Mei, liat-liat situasi kali” ucap Pak Denis sambil tersenyum tanpa dosa.


Aku hanya diam tak menanggapinya, Pak Denis duduk didepanku dan menyodorkan Ice Coffe tadi padaku, yang kuterima masih dengan diam.


Pak Denis ikut diam, ia hanya meneguk minuman Ice Coffe-nya sambil sesekali memainkan ponselnya. Aku enggan memulai percakapan lebih dulu karena aku rasa suasana yang tenang membuat kami nyaman tanpa harus bercerita.


”Tuhan itu gak adil ya” ucap Pak Denis tiba-tiba. Aku menatapnya dengan cepat, perkataan yang dilontarkannya adalah pernyataan bukan pertanyaan. Aku kembali meneguk Ice Coffe-ku dengan cepat.


“jangan ngomong gitu pak, Tuhan itu selalu adil” jawabku. Aku kembali sibuk menikmati Ice Coffe kesukaanku.


“kalau Tuhan memang adil—” Pak Denis terlihat ragu dan memutukan ucapannya.


“kenapa Tuhan gak pernah kasih aku kesempatan buat nyatain perasaanku ke kamu sebelum pernikahan itu?”


Aku tersedak kaget mendegar apa yang telah diucapkan oleh Pak Denis. Ternyata selama ini dia mempunyai perasaan terhadapku, sama seperti perasaan Irsyad kepadaku.

__ADS_1


“Pak…”


“aku gak bercanda, aku juga gak asal ngomomg. Aku bener kan aku gak punya kesempatan, bahkan hanya untuk sekedar menyatakan” ucap Pak Denis menyela ucapanku. Dia terkekeh memegang kepalanya sambil melamun.


“udahlah lupain aja. Aku… aku cuma terlalu menyesali takdir Tuhan” ucapnya lagi. Pak Denis menoleh kepadaku, tersenyum dengan manisnya. Tangannya terangkat, dia merapikan rambutku yang berantakan. Aku masih tercengang. Pak Denis menyukaiku.


Kenyataan ini membuatku kehilangan orientasiku, aku hanya menatapnya dengan wajah polos dan bodoh. Sedangkan Pak Denis tersenyum dengan bodohnya, tapi sorot matanya tersirat perasaan sedih.


“aku suka kamu sejak pertama kali kamu sebut namamu didepanku. Ah, tapi siapa sangka kan? kamu menikah setelah dua tahun sejak hari itu. Berarti aku aja yang bodoh gak ngungkapin semuanya sejak awal” ucap Pak Denis sambil terkekeh.


“Pak, kamu pendem semuanya?” jawabku


“rambut kamu berantakan banget sih Mei” ia menarik jepit rambutku, merapikannya dengan sempurna dan kembali mnegaitkan satu sama lain dengan baik.


“Denis…” aku hanya menyebut namanya tanpa embe-embel pak. Untuk kedua kalinya, suaraku serak, mataku mengahangat menahan sesuatu yang akan jatuh dari dalam sana.


“loh kamu ngapain malah nangis gini” Pak Denis menepuk bahuku pelan.


“sstt. Udah diem gak papa. Yang patah hati siapa yang nangis siapa” ucap Pak Denis sambil tertawa rendah. Pak Denis menarikku dalam pelukannya.


Aku melingkarkan tanganku pada pinggangnya, membalas pelukannya begitu erat.


Kenapa?


Kenapa Pak Denis baru menyatakan perasaan itu sekarang. Saat aku sudah terikat?


Kenapa dia baru bilang disaat aku ragu buat meyakinkan diriku kalau hatinya hanya milikku seorang?


Kenapa baru sekarang saat Satria baru hadir?


Kepalaku penuh dengan kata kenapa.


“sekarang tugas kamu hanya satu, menjadi bahagia. Kamu harus bahagia bersama suami kamu, bersama pernikahan kamu. Mungkin kita memang ditakdirkan untuk jadi sahabat… gak lebih”


Bunda, bagaimana dengan semua ini? aku merasa kacau.

__ADS_1


__ADS_2