Posessive Husband

Posessive Husband
PH-27


__ADS_3

"kamu nggak marah, Wife?"


Aku mengernyit mendengar pertanyaan Satria, "marah kenapa?" Tanyaku balik.


"Karena kedatangan Queen?" Tanya Satria tidak yakin. "Apa dia ngomong yang aneh-aneh sama kamu?" Tanya Satria lagi.


"Dia emang ngomong aneh-aneh, tapi aku sama sekali nggak marah cuman kesel aja." jawabku, dan menghempaskan diri pada sofa di belakangku membuat rangkulan Satria terlepas dariku.


"Dia ngomong apa?" Huh, Satria berubah profesi jadi wartawan ya?


aku terkesiap refleks saat tiba-tiba Satria mengangkat tubuhku agar dia bisa duduk di sofa yang ku duduki dan mendudukkanku di atas pangkuannya. Seketika wajahku memanas karena posisi kami. Aku sedikit malu sebenarnya.


"Jadi Queen ngomong apa ke kamu?" Satria masih belum melupakan pertanyaannya. oh astaga, fokusku agak mengabur karena hembusan nafas hangat Satria menyentuh leherku dia terlalu dekat.


"Kamu masih cinta dia?" Jawabku.


Satria menautkan kedua alisnya, mengeratkan lengannya yang melingkari perutku. "kamu percaya?"

__ADS_1


"Percaya apa? Kamu masih cinta dia?


"Bukan"


"Terus?"


"Percaya kalo kamu itu sekarang pusat duniaku. Kamu satu-satunya untukku. Hidup aku sekarang ya bersama kamu." Ucap Satria, suaranya terdengar meyakinkan.


Aku tidak perlu mengatakan apapun, aku tidak bisa mengatakan apapun. Karena semuanya sudah jelas, kalau aku adalah satu-satunya untuk Satria. Jika aku satu-satunya untuk Satria, maka Satria adalah maksud dari kata, 'hanya kamu selamanya' buatku.


Satria POV


"Sayang?" Ini kesekian kalinya aku memanggil istriku, sejak tiga puluh menit yang lalu atau tepatnya sejak kami masuk ke dalam mobil untuk menuju rumah mertuaku-- orang tua Meisha.


Aku mendengus gusar, karena Meisha tidak juga menyahuti panggilan ku. Oke, mungkin saja dia marah merajuk atau semacamnya. Tapi astaga, Aku hanya ingin pergi ke rumah orangtuanya dan kenyataannya Hal itulah yang membuatnya bungkam seperti ini.


Bukan karena dia tidak senang harus pergi ke rumah orangtuanya, hanya saja dia agak sedikit tidak suka kalau harus bertemu dengan papanya disana. Karena seperti yang sama-sama kita tahu hubungan Meisya dengan papanya tidak bisa dikategorikan 'baik'.

__ADS_1


"Sayang, dia papa kamu loh. kamu ng---"


"Salah! Dia diktator kamu harus inget itu!" Ujar Misha menyela ucapanku. Dia masih enggan menghadapkan wajahnya padaku.


Dia masih terus menengok keluar jendela mobil dan menyaksikan hiruk-pikuk kemacetan kota ini.


"Kamu anaknya, kam--"


" Oh ya? Bahkan aku sendiri ragu. Aku ini anaknya apa bukan." Ucapnya sarkastik, sama seperti satu tahun yang lalu memang kita ada yang berubah dari dirinya. Keras kepala.


Aku menyerah, kugelengkan kepalaku pelan. sepertinya usahaku untuk bicara agar bisa melihat menasehatinya diselah kurasa cukup.


Sisa perjalanan Hanya tinggal lima belas menit lagi kamialui dengan keheningan. Tidak ada yang bicara sama sekali, tidak ada sepatah katapun diantara kami berdua. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing ditemani bunyi klakson dan kendaraan lain yang soalnya menjadi musik penggiring keheningan ini.


Entah kenapa perjalanan lima belas menit ini terasa sangat lama, karena sudah lama tidak terbiasa dengan suasana canggung seperti ini dengan Meisha.


Jadi begini, aku dan Meisha pergi kerumah orang tuanya hanya untuk sekedar berkunjung. Tetapi Meisha tetaplah Meisha yang keras kepala.

__ADS_1


__ADS_2