Posessive Husband

Posessive Husband
PH-28


__ADS_3

Jadi begini, aku dan Meisha pergi kerumah orang tuanya hanya untuk sekedar berkunjung. Karena belum sekalipun sejak kami menikah kami main ke rumah orangtuanya. Paling dia hanya berkomunikasi dengan bunda mertuaku melalui telepon. Beberapa minggu lalu saat aku bertanya apa dia tidak rindu dengan bundanya, Meisya hanya berkata lebih baik dia rindu begini dengan bundanya daripada dia berkunjung ke rumah orang tuanya dan harus bertemu dengan diktator itu.


Sebenarnya, aku tidak habis pikir mengapa Meisha seperti itu tidak senangnya dengan papa kandungnya sendiri. Padahal menurutku, papa mertuaku adalah orang yang baik. walaupun aku sudah dua kali melihat ia bersitegang dengan Meisha sebelum aku menikah waktu itu.


Aku menghentikan mobilku setelah memasuki pekarangan rumah mertuaku, seketika diam sebentar dan menoleh kearah Meisha yang tidak juga menunjukkan gerak-gerik keluar dari mobil biarpun sudah lima menit berlalu.


"Sayang, ayo?" Ucapku lebih kepada bertanya daripada mengajaknya.


untuk pertama kalinya sejak kami meninggalkan rumah, Meisha menoleh kearahku. Ia menatapku dengan wajah datarnya. Sebenarnya aku benci sekali kalau dia sudah menunjukkan wajah datarnya. Ekspresi yang selalu digunakan untuk melindungi dirinya. Ekspresi yang membuatnya terasa begitu jauh dari jangkauan dan tidak tersentuh.


Aku balas menatap matanya, menyelami kedalaman mata bulatnya.

__ADS_1


"Ayo" sekali lagi. Kali ini terdengar mantap seperti tidak mengizinkan adanya penolakan sebagai bantahan.


Meisya berdecak kesal, "Sat, harusnya kamu ngerti kalau aku--"


"Aku ngerti. Tapi kamu nggak bisa selamanya lari dari masalah ini. Biar gimanapun, beliau itu papa kamu. Mau kamu jadi anak durhaka?" Ucapku tenang tapi pada penekanan, kali ini aku yang memotong ucapannya.


Meisya berdecak sekali lagi, satu tangannya terangkat untuk mengack poninya. Iya biasa melakukan itu saat dia merasa tidak senang atau frustasi dengan keadaan yang tengah dihadapinya.


" Ada aku, enough?" Ucapku memberi semangat dan jaminan kalau aku ada bersamanya. Aku akan menemaninya sekalipun nanti akan ada hal yang tidak menyenangkan terjadi saat ia dan papanya bertemu.


Mata Meisha bergerak-gerak gusar, ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya mengangguk pelan dan berusaha tersenyum sedikit. Ia membalas genggaman tanganku.

__ADS_1


Senyumku semakin lebar, ku acak rambutnya pelan dan akhirnya melepaskan genggaman tangan kami karena kami harus keluar dari mobil.


"Sayang," panggil bunda mertuaku yang berjalan buru-buru menghampiri kami ke depan pintu saat melihat Meisha yang datang. Di wajahnya terlihat sekali betapa rindunya dengan putri kesayangannya itu.


"Assalamualaikum bunda?" Salam Meisha begitu bunda mertuaku sampai di depan kami, beliau langsung memeluk Meisha setelah Meisha mencium tangannya.


"Waalaikumsalam, sayang. Ya ampun Meisha, bunda pikir kamu lupa jalan kerumah sampe-sampe nggak pernah lagi ke sini setelah menikah." Sindir Bunda mertuaku, sambil mengusap usap punggung Meisha yang masih berada dalam pelukannya. Sedangkan Meisha hanya terkekeh saja mendengar sindiran Bundanya.


Aku sedang memperhatikan keduanya sambil tersenyum saja, tiba-tiba sosok Papa mertuaku keluar dari dalam rumah dan menghampiri kami yang masih saja berada didepan pintu masuk.


"Papa," Sapaku dan langsung menghampiri Papa mertuaku, untuk menyalaminya. Beliau hanya bergumam, dan menepuk pundakku pelan hanya beberapa kali.

__ADS_1


"Gimana kabar kalian?" tanya Papa mertuaku, matanya menatapku dan Meisha secara bergantian. Sorot rindu saat beliau menatap Meisha sangat terlihat jelas, tidak bisa ditutupi. Sayangnya, Meisha langsung membuang pandangannya saat Papa mertuaku berusaha menatapnya.


__ADS_2