
Satria POV
Aku menarik napasku, melonggarkan simpul dasiku yang melilit leher dan membuka dua kancing teratas kemeja biru yang kupakai.
Setelah menghembuskan napasku keras-keras dan mengusap wajahku kasar sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobilku. Aku berjalan pelan menuju rumah, yang tampak sepi dari luar. Tapi tidak ada yang tahu kalu siapa yang berada didalam rumah itu, orang yang membuatku merasa nyaman.
“Sat? udah pulang…” suara lembut itu selalu menyapaku saat aku memasuki rumah tanpa salam seperti biasa. Aku tersenyum simpul melihat Meisha yang sedang menuruni satu persatu anak tangga.
“aku kotor…”
“aku gak utuh…”
Tiba-tiba kata-kata itu kembali terulang dipikiranku. Kata-kata yang membuat Meisha bungkam selama seminggu ini. Dan, ini sudah tiga minggu sejak kejadian memuakkan itu. Tapi aku masih saja tidak bisa menahan kebencianku saat aku harus melihat kejadian itu dan terbayang wajah pria sialan itu.
“Satria?”
Aku mengerjap tangan hangat Meisha menyentuhku. Dia memandangiku dengan pandangan yang setengah kososng, tidak benar-benar fokus seperti dulu kala.
Aku masih diam tak bergeming saat Meisha mengelus lenganku. Tubuhnya terlihat lebih kurus, dia juga menjadi lebih pendiam dari biasanya. Bahkan jarang sekali berlaku ceria. Yang ada hanya Meisha yang sering melamun dan berdiam diri dikamar, ayunan tepi kolam juga sangat jarang dia gunakan.
Pria brengsek.
“hei! ngelamun aja. Mandi dulu sana, habis itu baru makan terus istirahat” ucap Meisha. Dia tersenyum tipis, lalu mengambil alih tas, jas, dan dasi dari tanganku.
__ADS_1
Biarpun aku tidak mengatakan apa-apa sebagai jawaban, Meisha tetap berbalik dan berjalan menaiki tangga. Dia tampak begitu rapuh dilihat dari belakang. Punggungnya terlihat lemah.
Aku melangkahkan kakiku cepat, mencoba menggapainya yang hampir sampai anak tangga pertama.
“kamu makin kurus” kataku setelah berhasil memeluknya dari belakang. Aku merasakan tubuh Meisha menegang, dia tidak mengatakan apapun.
“kamu baik-baik aja kan Mei?” tanyaku setelah diam beberapa saat. Pertanyaan bodoh sebenarnya. Dilihat dari sisi manapun, dia tidak terlihat baik-baik saja.
Lagi-lagi Meisha hanya diam, dia tidak menjawab sedikitpun. Aku tidak mengatakan apapun, ikut terdiam dengan Meisha yang memilih bungkam. Aku mengerartkan tanganku yang melingkari pingggangnya dan menenggelamkan wajahku ditegkuknya. Hari ini begitu melelahkan, dan kenyataan bahwa Meisha belum juga kembali seperti biasanya membuat rasa lelahku bertamabah berkali lipat.
“Mei?” aku tersentak dan mengangkat wajahku saat aku merasakan ada air yang membasahi lenganku.
“aku gak baik-baik aja” ucap Meisha pelan. Dia secara tiba-tiba berbalik dan memelukku yang masih mematung.
“kamu pasti ngerasa udah dijebak ya nikah sama aku. Aku minta maaf” lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan perkataanya.
Merasa dijebak katanya? Kalau begitu jika aku mengatakan sesuatu yang membahagiakan padanya akhir-akhir ini, apakah dia juga akan bilang kalau aku begitu karena aku dijebak?
“harusnya kamu pantes dapaet perempuan yang lebih dari aku ya. Bukan yang kotor kaya aku gini” lanjutnya.
“berhenti, stop Mei! Aku gak mau denger apapun lagi”
__ADS_1
Seharusnya Meisha tidak perlu mengatakan apapun lagi, aku sebenarnya sudah cukup muak untuk mendengar kata-kata yang sejenis dengan itu. Mendengar penjelasan Bunda mertuaku tadi tentang apa yang dialami Meisha dimasa lalunya, bukanlah hal yang menyenangkan bagiku.
Mengetahui Meisha sempat jadi mahluk hidup yang hampir bunuh diri waktu dulu, bukanlah hal yang pernah kubayangkan terjadi dalam hidupnya yang sekarang menjadi istriku. Ini semua gara-gara pria brengsek yang bernama Julian itu.
“maaf” ucap Meisha ringkih. Pelukannya padaku mulai mengendur, dia baru saja melepasku saat aku akan membalas pelukan tersebut.
“diluar sana kata orang kita gak perlu melihat masa lalu, karena kita gak hidup didalamnya. Melainkan kita hidup dimasa sekarang dan akan menuju masa depan” sahutku dengan nada yang tenang supaya Meisha bisa meyakinkan dirinya sendiri.
“masa lalu adalah perjalanan menuju masa depan. Terus meratapi masa lalu bukan berati akan membawa kita pada sosok kuat dimasa depan. Saat kamu memutuskan untuk melangkah menuju masa depan, kubur dan tinggalkan masa lalu yang kelam yang pernah kamu alami. Mengingat keterpurukan bukan hal yang bagus buat hidup yang sekarang” lanjutku.
“tapi hal dimasa lalu itu meninggalkan ruang kosong yang membuat aku merasa gak sempurna sebagai seorang istri, membuat aku merasa gak pantas untuk dapetin kasih sayang kamu Sat!”
Sungguh diluar dugaanku, Meisha berteriak dan mengeluarkan semua ayapa yang dirasakannya. Terlihat jelas sorot terluka dimatanya saat ia mendogak dan menatap mataku, seperti ada luka yang mendalam yang telah Meisha simpan lama namun luka itu belum sembuh.
“apa ruang kosong itu bikin kamu kehilangan kemungkinan untuk jadi seoarang ibu?” tanyaku masih dengan ekspresi setenang mungkin. Meisha diam.
“nyatanya aku disini, aku memeluk kamu tanpa sedikitpun menghina atas kekurangan yang tidak kamu inginkan. Aku disini, aku yang selalu pulang dan kembali sama kamu” lanjutku. Aku menarik nafasku, mencoba setenang mungkin dan meredam gejolak emosi dalam diriku sendiri.
“dan pada nyatanya—” aku menelah ludah sejenak untuk kembali meyakinkan apa yang aku ucapkan
“aku telah jatuh cinta sama istriku yang memiliki ruang kosong itu” ucapku selesai.
Aku mengatakannya, ya aku berhasil mengatakannya dan disaat itu juga kurasakan tubuh Meisha kembali menegang. Apa akau salah telah mencintai istriku yang seperti ini? Tidak ada manusia yang diciptakan sempurna bukan? Tuhan telah mempertemukan kami dalam garis jodoh, biarpun cara kami dipertemukan bukanlah hal yang menyenangkan, tapi apa aku salah jika aku merasakan cinta pada istriku yang telah Tuhan takdirkan untukku?
__ADS_1
Meisha pernah berjanji padaku, aku pasti akan pulang padanya saat senja tiba. Dia tidak mengingkari janjinya, dia benar. Aku memang akan selalu pulang padanya saat senja dan akan tetap disampingnya saat malam bekerja, dan terbangun menyambutnya dengan kecupan manis saat matahari muncul.