
Dengan berat hati aku melangkah menuju Bagaskara group. Perusahaan milik om Bagas, papa dari Satria calon suamiku kelak. Mungkin memang benar, aku hanya benar-benar sebagai barang jaminan yang tak lebih berharga dari perusahaan.
Aku menghela nafas panjang dan berusaha tegar untuk apa yang akan terjadi nanti, perlahan kubuka pintu ruangan direktur itu. “selamat siang, maaf saya telat” ucapku datar yang disambut dengan senyuman penuh kebahagiaan oleh om Bagas. Sungguh menurutku itu senyuman yang tulus, sontak aku membalas dengan senyuman tipis.
“silahkan masuk Meisha” kata om Bagas dengan ramah dan senyuman khas miliknya. Aku hanya mengangguk kemudian mengambil tempat disebelah Satria. Sebenarnya aku tidak sengaja duduk di sebelahnya karena hanya kursi itu yang kosong. Mau tidak mau aku harus duduk.
“jadi apa tujuan papa nyuruh aku kesini buru-buru?” tanyaku pada papa dengan wajah datar.
“biar pengacara papa yang menjelaskannya” balas papa, sambil memberikan kode kepada pak Iko untuk menjelaskan semuanya.
“jadi begini, saya disini sebagai pihak yang bersaksi untuk perjanjian ini. Dalam perjanjian ini dikatakan pernikahan ini semata-mata hanya sebagai jaminan untuk melunasi hutang sebanyak dua puluh lima triliyun rupiah atas nama Wijaya group. Yang mempunyai waktu tempo satu tahun lima bulan. Maka, apabila Wijaya group mampu melunasinya dalam kurun waktu tersebut perceraian boleh dilaksanakan. Tetapi, apabila terjadi gugatan perceraian dalam waktu perjanjian tersbut berjalan maka pihak pengugat akan memberikan seluruh hartanya kepada pihak tergugat.” ucap pak Iko penuh penjelasan.
“jadi silahkan Meisha dan Satria menandatangani surat perjanjian ini” lanjut pak Iko, sembari memberikan kertas dan bolpoin kehadapanku.
Aku masih diam tak bergeming, mencoba mencerna penjelasan pak Iko. Sungguh ini begitu menyakitkan bagiku, walau aku selalu terlihat tak gentar dan sarkastik tapi ini sungguh tidak manusiawi. Aku lagi-lagi berpikir bahwa aku adalah hanya sebuah barang jaminan.
“Meisha, sebelum kamu tandatangani itu boleh kamu baca peraturan itu supaya lebih jelas” ucap papa penuh penekanan. Dan lagi-lagi aku merasa terpancing untuk membalasnya.
“tentu saja, aku akan membacanya dengan teliti supaya tidak dirugikan lagi” aku tersenyum sinis menatap papa. Sungguh apa yang aku katakann ini, aku sudah sangat dirugikan jadi aku tidak mau lagi rugi untuk kesekian kalinya.
“Meisha, mengapa kamu merasa dirugikan? bukankah kamu bilang akan menerima semua ini?” balas papa dengan nada setengah mengejekku seolah-olah aku kalah telak atas balasannya.
“oh ya, apa papa lupa? apa aku diberi pilihan untuk menolak? haha sungguh lucu” aku masih tersenyum sinis dan membalasnya secara sarkastik.
“sudah kamu cepat segera tanda tangani tak usah banyak bertanya” tiba-tiba Satria berkata dengan nada dinginnya. Sontak membuatku kesal dan segera melakukannya dengan cepat lalu aku segera berlalu pergi meninggalkan semua kekonyolan ini.
“saya permisi dulu semuanya, selamat siang” aku langsung keluar tanpa senyuman. Yang ada hanya wajahku yang datar, terlihat seperti baik-baik saja namun hatiku rasanya sangat bertolak belakang. Aku segera memasuki lift dan segera menekan tombolnya namun Satria tiba-tiba ikut masuk denganku satu lift. Tak ada pembicaraan apapun, sampai akhirnya Satria memulainya.
“kau seharusnya tak perlu banyak bertanya tentang penolakan” katanya dengan nada dingin.
Aku tak menghiraukan apa kata Satria, aku masih tenang memasang wajah datar menatap pintu lift didepanku. Iya, hanya kami berdua yang ada di lift ini. Pikiranku ingin pergi secepatnya dari situasi sial ini. Bagaimana tidak? aku yang baru saja ingin menolak perjanjian ini tapi tiba-tiba acara pernikahan itu akan diadakan lusa. Sungguh tidak ada waktu bagiku untuk menolaknya bukan.
“masih kuliah ya?” katanya lagi. Dan, aku masih sama tetap tenang dengan wajah datar.
“jurusan apa?” tanya Satria lagi, sungguh aku muak.
“Ekonomi bisnis” jawabku dingin tanpa menoleh padanya sedikitpun. Tatapanku masih tertuju pada pintu lift yang masih tertutup.
“sebelum lusa kau resmi jadi istriku. Perlu aku tekankan padamu satu hal, selama pernikahan berjalan sebaiknya kau menjaga hatimu.” kata satria yang sengaja membisikan tepat ditelingaku secara jelas dengan nada dingin namun penuh makna tersirat didalamnya. Aku berusaha tenang dan tak terpemgaruh apapun, sampai akhirnya Satria keluar lebih dulu daripada aku.
Jujur saja, sebenarnya aku masih terpaku dengan perkataan Satria tadi. Bagaimana tidak? secara sengaja dia melarangku untuk tidak jatuh cinta padanya. Aku mengusap kasar tengkuk leherku, dan hatiku merutuki perkataan Satria.
“jerk” gumamku kesal.
***
Hari pernikahan itu telah tiba, semuanya tampak bahagia sempurna. Lain denganku, bagiku hari ini akan adalah titik awal menuju kehancuran hidupku yang abadi. Pesta pernikahan yang didambakan papa telah terjadi dan sungguh itu sangat mewah, walaupun aku sama sekali tidak ikut andil tapi aku merasa puas untuk pesta itu. Tetap saja aku tidak bahagia.
Seluruh tamu undangan terlihat sangat menikmati keseluruhan acara yang ada, begitu juga aku. Memasang wajah bahagia supaya semua berjalan baik-baik saja. Aku ingin semua bisa berjalan dengan cepat tanpa masalah. Oh sungguh ini melelahkan, pura-pura bahagia dan selalu tersenyum. I hate this situation.
Malam setelah pesta pernikahan, aku masih tetap tinggal dirumah papa. Alasannya klasik, aku tak ingin jauh dari bunda. Aku dan Satria tidur dikamarku yang sudah didekorasi khusus untuk pengantin baru. Sungguh menggelikan.
“cih. Payah, untuk apa semua dekorasi ini” gumamku ketika memasuki kamar.
Aku duduk didepan meja rias untuk membersihkan sisa make-up yang menempel. Sungguh hari yang melelahkan, tapi aku berterimakasih pada tuhan karena semua bisa berjalan sesuai rencana.
“aduh ribet banget sih” gerutuku kesal karena tak bisa membuka gaunku. Dan sontak membuat Satria menertawaiku dari ranjang. Aku hanya menatapnya dengan sorot mata tajam, dasar brengsek. Dan aku masih terus berusaha untuk membukanya sendiri, persetan dengan Satria.
“butuh bantuan bilang, bukan ngomel-ngomel gajelas” ucap Satria saat tiba-tiba membuka kancing belakang gaunku.
“bisa baik juga ternyata. Thanks” ucapku padanya. Dan ia hanya diam lalu kembali memposisikan dirinya di ranjang. Dan aku memilih untuk masuk kamar mandi setelah itu berendam untuk waktu yang cukup lama, karena aku menyukai itu. Membuatmu melupakan apa yang telah terjadi. Relax.
****
Pagi ini adalah hari yang baru bagiku, sebagai seorang istri. Aku dan Satria sudah siap untuk sarapan bersama. Semuanya terlihat bahagia dari sorot mata yang terpancar, begitu juga bunda dan ayah. Tapi tidak dengan aku, masih dengan ekspresi yang datar. Setelah itu, aku kembali ke kamar seperti biasa.
“kita akan pindah, ayo kemasi barang-barangmu” ucap Satria tiba-tiba saat memasuki kamar.
“hah?” balasku. Sontak membuatku kaget dan tercengang.
“rumah itu hadiah pernikahan dari papa”
“papa?” aku menaikkan satu alisku, memberi kode bahwa aku tidak paham.
“papaku” balasnya pendek.
Sungguh, jika karena semua ini bukan karena bunda aku tidak akan menuruti semua kemauanmu. Aku menghela nafas kasar dan segera mengemasi seluruh barang-barangku. Bagaimanapun juga Satria adalah suamiku, apapun katanya aku harus pasrah.
Kami berdua memutuskan untuk pindah ke rumah baru itu, hadiah dari papa mertuaku. Dan lagi-lagi aku merasa bahwa hidupku semakin diambang kehancuran, jauh dari bunda adalah hal yang sungguh menyiksaku. Bagaimana tidak? aku hanya bisa bercerita sesuka hati hanya pada bunda, temanku hanya bunda, dan satu-satunya yang paling aku percayai adalah bunda. Namun kini aku harus pisah dengan bunda.
“Meisha, sering-sering main kesini ya nak” ucap bunda dengan lembut seraya memeluk aku.
“iya bun, Meisha bakalan sering-sering main kesini kok. Bunda tenang aja ya” balasku berusaha menenangkan bunda.
“Satria tolong jaga putri kesayangan bunda ya nak. Bunda percaya sama kamu” kata bunda sambil memeluk Satria.
“tentu saja bunda, Satria akan menjaga istri Satria dengan baik” balas Satria dengan senyuman.
“jaga putriku ya Satria” ucap papa tiba-tiba. Sontak membuatku kaget, apa aku tidak salah dengar? Bahkan masih bisa mengkhawatirkan aku.
“baik pa, itu tugas utama Satria” balasnya.
Kami berdua dalam perjalanan menuju rumah baru itu, butuh waktu sekitar dua jam untuk bisa sampai kesana. Aku duduk di depan dengan wajah datar dan tatapan yang membayangkan semuanya akan bagaimana kelak. Tiba-tiba mobil berhenti didepan rumah minimalis yang berlantai dua dan sederhana, sungguh ini sesuai dengan seleraku.
“ayo turun, masuk aja biar aku yang turunin semua barangnya” kata Satria sambil membuka pintu mobilnya.
“gaperlu, aku bisa bawa barangku sendiri. Bukan wanita lemah” balasku sarkastik.
Satria tak membalas, hanya menatapku sebentar lalu menghembuskan nafasnya kasar. Aku memasuki rumah dan ini diluar ekspetasiku. Dalam rumah ini sungguh sangat mewah dan elegan, aku merasa tertipu dengan tampilan luar yang sederhana namun mempunyai interior design yang sungguh menawan. Aku merasa nyaman dan damai terasa seperti apa yang aku inginkan. Walau bagaimanapun aku harus mulai terbiasa hidup dengan suamiku itu setiap hari.
__ADS_1
Aku menyusuri setiap sudut rumah, aku melihat semua fasilitasnya sudah sangat lengkap dan lagi-lagi aku dibuat terkesima dengan kehadiran ayunan tunggal didekat kolam renang yang biru itu rasanya damai. Mungkin itu akan jadi tempat kesukaanku mulai sekarang. Aku memasuki kamar yang berada di lantai atas, dengan ranjang ukuran kingsize dan balkon yang mengahadap langsung kearah kolam renang. Aku ingin kamar ini jadi kamarku.
“saya pilih kamar ini aja” kataku saat memasuki kamar dengan senang.
“oke” balasnya datar diikuti dengan memasukkan barang-barangnya kekamar.
“loh mana bisa git—” kataku penuh emosi
“udah nikah, lagian juga gak masalah berbagi kamar denganku”
“tenang aja, aku gak akan berbuat yang tidak-tidak”
Aku menghela nafas panjang dan tak menjawabnya. Karena aku tahu, dia tak memberi pilihan untukku dan apa yang dikatakannya adalah benar. Sudah menikah dan halal jadi apapun jawabanku akan salah.
***
Aku menjalani aktivitasku sebagai apa yang disebut ‘istri’ dengan baik. Pagi hari aku menyiapkan sarapan, tak lupa menyiapkan baju untuk Satria. Seharusnya Satria masih cuti untuk menikmati honeymoon, tapi untuk apa menikmati pernikahan jaminan seperti ini malah akan membuang-buang waktu saja. Satria siap untuk berangkat kerja, tak lupa aku mencium telapak tangannya sebagai tanda hormat. Walaupun dengan berat hati aku melakukannya karena ini pesan bunda padaku.
“hati-hati see you” ucapku setelah mencium tangannya setelah itu menutup pintu. Aku hanya memberinya senyuman tipis untuknya dan mencium telapak tangannya. Satria tak keberatan dengan apa yang aku lakukan, dia membalas senyuman padaku lalu pergi.
Sungguh, rumah ini sangat sepi dan terlalu besar untukku yang kesepuian. Sangat membosankan. Aku memutuskan untuk pergi kekampus walaupun hari ini aku sedang tidak ada jam kuliah. Kampus adalah tempat yang cukup nyaman bagiku, walaupun aku tak memiliki banyak teman setidaknya mampu membuat aku sejenak melupakan apa yang telah terjadi.
Aku dikampus hanya memiliki beberapa teman saja, karena jika aku berada diluar seketika menjadi seorang introvert. Teman laki-laki yang aku miliki hanya satu saja, dan itu sekaligus sahabatku. Irsyad, seorang yang selalu siap mendengarkan ceritaku kapan saja. Sebenarnya aku mengenal Irsyad karena dia adalah teman Julian. Mantanku yang psikopat. Tapi, semenjak aku putus dengan Julian, Irsyad adalah orang yang masih setia mendengar keluh-kesah seorang Meisha.
“Mei, ngapain lo ke kampus tumben” tiba-tiba Irsyad mengagetkan aku.
“oh hei Syad” sapaku balik.
“ngapain lo, hari ini kan kosong”
“iya gue tau, main-main aja kesini kangen juga” jawabku ngasal disertai seringai senyuman.
“oh lagi suntuk lo pasti”
“ikut gue aja yuk kalo gitu” ucapnya dengan menarik tanganku menuju taman belakang kampus.
“eh ngapain lo tiba-tiba ajakin gue kesini?”
“biar ga suntuk, kita liatin orang alay pacaran haha” katanya desertai tawa terbahak
Memang, taman belakang kampus sebenarnya indah dan asri tapi banyak mahasiswa alay pacaran jadi menurutku gak bagus malah merusak pemandangan.
“emang hobi lo gak waras” balasku sambil tertawa
“tuhkan, lo gak suntuk lagi. Ketawa tuh sekarang”
Aku tak membalas Irsyad, aku hanya tertawa dengan kelakuan konyol sahabatku ini. Jujur saja, Irsyad memang selalu punya seribu satu cara supaya bisa bikin humor. Apalagi dia orangnya tipe-tipe goodboy humoris, tapi aku hanya menganggapnya sebagai sahabat. Gak lebih.
“oh ya Mei, congarts ya” ucapnya tiba-tiba dengan tatapan yang aku sendiri tak mengerti. Aku hanya menaikkan satu alisku, memberi tanda bahwa aku gak mengerti dengan apa yang dia maksud.
“untuk pernikahan lo” celetuknya
“seadainya gue punya kesempatan buat ngomong duluan sebelum lo nikah ya Mei” tiba-tiba ucapnya dengan nada sedikit menyesal namun terlihat sendu.
“hah? apaan si maksud lo gak ngerti gue”
“buat ungkapin perasaan gue ke lo” lanjutnya sendu
Deg.
Aku masih mencerna apa kata Irsyad, aku memutar bola mataku seakan tak percaya dengan semua ini. Aku paham apa yang dimaksud Irsyad, aku sungguh tak percaya dengan ini semua.
“sebenernya dari dulu Mei, perasaan gue tumbuh tapi gue gak punya nyali buat ungakpin semuanya sama lo”
“gue takut lo bakalan makin jauh dari gue”
“gamau lo terbebani sama perasaan bodoh ini”
“gue emang pengecut ya Mei” katanya masih dengan sendu dan nada yang menyesal.
“…..” aku masih tetap diam tak bergeming, seolah tak percaya dengan semua kenyataan ini. Aku menatap lekat mata Irsyad. Sorot matanya mengambarkan sebuah kekecewaan, penyesalan, kesedihan. Dan semuanya bercampur jadi satu, aku tak tahan untuk menahan air mataku menetes dan jatuh.
“eh ngapain lo yang nangis Mei” katanya dengan senyuman sedikit mengejek
“sorry” kataku sambil menangis
“udah santai aja kali, gue cuma ngaasih tau sebenarnya perasaan gue ke lo”
“tapi gue juga turut bahagia sama pernikahan lo kemaren” sambungnya
Aku masih menangis mendengar apa yang dikatakan Irsyad, lagi-lagi sepertinya aku terlalu egois untuk mengerti semuanya. Aku menangis yang bertambah sesegukan karena perasaan bersalah gue gois makin besar dengan kata-kata Irsyad tadi.
“eh bayik lo, pake nangis sesgukan lagi haha”
“seharushnya gue kali yang nangis. Secara gue yang tersakiti ditinggal nikah” celetuknya dengan nada menggoda.
Aku mengusap air mataku dan ingin sekali kupukul mulut jahilnya itu, tapi aku terlalu lembek untuk hal-hal yang menyedihkan. Ku julurkan tanganku untuk meraih tubuh Irsyad, aku memeluknya dan menangis disana sebagai tanda bahwa aku minta maaf atas rasa egoisku selama ini.
“udah, lo jangan nangis lagi. Tujuan gue ngasih tau lo bukan buat lo sedih kaya gini”
“biar lo tau aja, tapi gue udah ga berharap lagi kok sama lo”
“bahagia ya sama suami lo, gue ikut seneng”
Aku melepaskan pelukanku, aku hanya mengangguk lalu mengusap air mataku.
“thanks Syad” balasku dengan senyuman penuh arti.
“yaudah yuk balik, udah sore juga nih”
__ADS_1
“gue anterin aja sekalian yuk” tawar Irsyad
“with pleasure” jawabku.
Setelah sampai depan rumahku, aku melepas helm dari kepalaku lalu memberikannya pada Irsyad.
“thanks syad” kataku sambil senyum
“yoi sama-sama” balasnya
“hati-hati dijalan lo jangan godain cabe-cabean lagi haha” ejekku dengan tawa
“najis gue sama cabe-cabean. Tapi kalo cantik sih boleh juga haha”
“balik dulu ya, see you” katanya sambil berlalu dengan motor sportnya.
Aku memasuki rumah yang dikejutkan suara Satria dari balik pintu.
“oh jadi itu pacar kamu” katanya dengan santai
Sontak membuatku kaget dan sedikit memancing emosiku untuk keluar.
“ngapain kamu ngintip saya” balasku dengan wajah datar dan berusaha membenarkan ekspresiku supaya tetap tenang. Aku takut Satria akan memarahaiku karena aku pulang dibonceng pria lain. Bagaimanapun aku sudah menikah, dan tindakanku adalah salah.
“gak ngintip, kebetulan aja lihat” balasnya kemudian berlalu dan duduk di sofa ruang keluarga.
“sini kamu, bisa ngomong sebentar?”
Aku menghela nafas panjang dan duduk berhadapan dengannya.
“ada apa?” tanyaku berusaha tenang.
“kamu paham kan kalo pernikahan ini hanya untuk jaminan saja kan?”
“tentu”
“apa kamu keberatan kalo aku punya pacar?”
Deg.
Aku merutuki diriku sendiri yang sudah sangat percaya bahwa Satria akan cemburu dengan Irsyad, tapi nyatanya malah lebih menyakitkan. Aku tidak mencintainya, aku juga tahu kalo semua ini hanya untuk jaminan saja. Tapi, apa dia setega itu untuk mengatakan itu secara terang-terangan didepan istri sah-nya.
“hah? kau bertanya hal yang seharusnya kau tentu tahu jawabannya tuan” balasku dengan senyum sinis
“jadi?” balasnya seakan tak paham dengan maksudku
“tentu saja sangat boleh, mengapa tidak. Walaupun saya dan kamu sudah menikah tapi ini hanya sebuah jaminan untuk hutang bukan. Jadi kehidupan akan berjalan seperti saat sebelum menikah” balasku tenang dan terlihat elegan.
“oh terima kasih, kamu sungguh partner yang baik” balasnya.
Aku pergi berlalu meninggalkannya menuju kamar untuk membersihakn diri, tapi dia berniat memancing emosiku kembali.
“Meisha”
“apa lagi?” balasku tanpa menoleh
“seleramu lumayan juga untuk ukuran anak kuliah” katanya dengan nada sedikit mengejek
Apa? seleraku? tentu akau paham apa yang dimaksud oleh Satria, mungkin sampai sekarang dia berpikir bahwa Irsyad adalah kekasihku. Sungguh bodoh sekali kau haha. Aku berpikir untuk menjahilinya saja sekalian, mengapa tidak. Aku bebas bukan.
“thanks I know it” aku menoleh dengan senyuman sinis.
“oh iya satu lagi, jangan pake saya-saya tapi ganti aku-kamu bisa kan” balasnya mengalihkan topic
“gak bisa”
“why?” tanyanya dengan wajah penasaran
“kalo saya-saya ya harus diganti aku-aku, gabisa aku-kamu. Nanti kekasihku bisa marah” balasku dengan nada ejekan dan senyuman sinis padanya. Oh tidak, sepertinya aku telah mulai menghidupkan bom yang akan segera meledak.
“tapi kalo aku-kamu udah sah gimana? kekasihmu pasti cuma bisa nangis” balasnya dengan sedikit ejekan. Sungguh membuat aku jengkel, dan lagi-lagi mencoba bermain denganku.
“mungkin yang nangis itu cuma kekasihmu, karena aku udah kabur duluan sama cowokku. Ups!” balasku tak mau kalah.
“pasti skak-mat” kataku dalam hati sambil tertawa.
“gimana kalo pas kamu kabur ternyata kamu hamil anak aku? kekasihmu pasti akan membuangmu dan pada akhirnya aku yang akan memungutmu lagi” katanya sambil tertawa mengejek.
Apa? hamil? mungkin jalan pikirannya lagi buntu. Aku terpancing emosi tapi aku berusaha mengontrol semua itu supaya aku menang dalam perdebatan kali ini. Meisha gak akan menyerah dengan mudah.
“tapi gimana kalo sebelum aku tidur sama kamu, aku tidur sama pacar aku yang lainnya. Jadi itu bukan anak kamu? sia-sia dong udah dipungut aku” balasku dengan senyuman sinis.
“gimana kalo pada akhirnya kamu aku kasih tau kalo pas kamu tidur sama aku, habis itu kita gituan, terus keluar darahnya. Ya berati emang murni anak aku” balasnya dengan nada sangat sangat mengejek dan penuh arti tersirat.
Deg.
Emang beneran udah gila Satria, bisa-bisanya pikirannya menuju adengan dewasa. Membuat emosi ku semakin tak terkontrol dan aku mengaku kalah.
“dan pada akhirnya kamu tahu kalo itu cuma ada di imajinasi kamu”
“oke!” balasku dengan sinis. Aku berlalu meninggalkannya dengan menutup pintu kamar secara kasar.
Brak.
“udah gak waras itu bocah lama-lama” gerutuku dalam kamar sambil membersihkan diri
“bisa ikutan gak waras gue”
“sabar-sabar Meisha”
__ADS_1
Aku terus berbicara, bergumam, kesal. Tak terima dengan kekalahanku dengan Satria. Suatu saat aku pasti bisa bikin dia skak-mat sampe dia gak pulang.