
Meisha POV
Berbaring di sofa dengan novel di tanganku adalah kegiatan rutin setiap hari untuk mengisi waktu ku menunggu Satria pulang dari kantor, di waktu sore begini.
Aku baru saja mulai membaca bab tiga, saat suara bel yang ditekan mengusik kenyamananku.
Aku terpaksa bangkit dari posisi nyaman saat bell kembali ditekan. Oke, mungkin aku paranoid tapi jujur saja aku memang agak takut dengan kemungkinan siapa yang berada di balik pintu rumahku.
Tidak biasanya ada seseorang yang bertamu ke rumahku dan Satria, dan seseorang yang kuingat terakhir kali bertamu adalah orang yang paling tidak ingin ketemu.
Astaga, aku memang paranoid karena takut pada kemungkinan yang mungkin saja salah. Tapi ingat, bahwa segala kemungkinan bisa terjadi. Dan kemungkinan buruk tidak bisa dikatakan jarang terjadi. Sepertinya aku terlalu banyak menonton sinetron.
Suara bel kembali terdengar saat aku tidak juga membuka pintu, kali ini terdengar lebih menuntut. Oke, oke akan kubuka.
__ADS_1
"Sebentar" kataku malas, dengan pelan berjalan menuju pintu.
Aku menghela napas dalam-dalam, anggap saja ini sebuah persiapan untuk menghadapi kemungkinan.
dan wajah tidak bersahabat itu langsung menyerbu penglihatanku saat aku membuka pintu. Uh-oh. Memang, tadi itu aku berpikir macam-macam hal yang buruk mungkin saja terjadi, dan kemungkinan bahwa yang datang adalah orang yang tidak diinginkan.
tapi tidak ada dalam pikiranku bahwa yang akan berdiri di hadapanku sekarang adalah sosok perempuan cantik yang hampir sama seperti Barbie. Perempuan yang kutemui pada pesta tidak menyenangkan beberapa minggu lalu.
"Kamu mau terus ngebiarin saya berdiri disini?" Bahkan suara menyebalkan itu terdengar begitu anggun. Aku mendecih.
Aku menaikkan alisku, tidak mau repot-repot berusaha terlihat ramah. Bukan salahku, Queen duluan yang memasang tampang tidak bersahabat.
"Memang kamu butuh masuk ke rumahku?" Tanyaku balik, dengan nada santai yang menjengkelkan. Please, ternyata menjadi menyebalkan itu menyenangkan.
__ADS_1
Aku tersenyum puas dalam hati saat mendapati Queen mendengus, sangat terlihat dia tidak senang. dan aku berhasil melongo dibuatnya saat dengan tidak sopan nya ia menabrak bahuku melewatiku dan masuk ke dalam rumahku. Rumahku! Ya ampun, sia-sia sudah senyum puasku.
"Ya ya ya, duduk aja di mana kamu suka." sindir ku saat memasuki rumah dan mendapati Queen yang telah duduk dengan nyaman di sofa tempatku bersantai tadi. Tidak punya malu.
queen sama sekali tidak terlihat terusik dengan sindiran ku, malah membalas dengan decihan meremehkan. Tuhan, perempuan ini ada otaknya tidak sih? Rumah siapa, yang mendidih meremehkan siapa.
Duh, ini perempuan aku tendang keluar sekarang juga dari sini, sah-sah saja kali ya. Muak banget ngeliat tingkahnya.
"Langsung aja deh ke inti pembicaraan." Ujar Queen tiba-tiba.
Aku melongo lagi. Yah, lawak ini perempuan. Yang mulai pembicaraan siapa? Yang punya maksud ke sini siapa? Kenapa malah jadi dia yang bilang, langsung aja ke inti pembicaraan dengan nada memerintah begitu ke aku?
"Ada apa sih pakai acara ke sini?" Kataku akhirnya. sudahlah, tidak perlu manis-manis dengan orang yang ngajak ribut begini.
__ADS_1