Posessive Husband

Posessive Husband
PH-4


__ADS_3

Halo readers, aku balik lagi dengan new chapter. Maaf ya kalo tulisanku semakin jelek, bukan malah makin bagus huhu jadi harap maklum ya. Untuk setiap chapter-nya aku usahakan gak terlalu buruk dan membosankan ya.


Kalau berkenan, jangan lupa like dan jadikan favorit yaa, terima kasih. Aku bakalan tunggu saran dan kritik dari kalian semua dikolom komentar.


***


PH-4  : Bodoh


Meisha POV


Aku menaiki satu persatu anak tangga dengan tenang, ini rumahku dan Satria. Tepatnya adalah rumah kami berdua, ya setidaknya untuk satu tahun ini aku harus tahan terhadap semua yang menimpaku. Tiba tiba aku tersenyum sinis dan kembali berpikir dalam hatiku saat aku mengingat kalau pernikahan ini hanya untuk barang jaminan. Tidak selamanya bersama Satria.


Aku membuka pintu kamar yang berada disamping tangga, dan lagi aku melihat pemandangan yang sering kulihat seminggu terakhir ini. Satria yang sudah tidur dengan pulas. Iya, sudah seminggu sejak kejadian pingsan itu aku lebih memilih menjauh dari Satria dari rumahku dan dari kehidupanku dengan Satria. Aku memutuskan hal seperti itu bukan karena marah pada Satria yang telah membentakku dan memarahiku, salah besar. Aku memilih istrirahat dari seluruh kehidupanku pada Satria karena aku merasa tidak lagi dihargai sebagai seorang istri yang semestinya. Bodoh bukan? Tentu saja sangat. Untuk kedua kalinya dihari ini, aku merasa bodoh.


Aku menghela nafas, membaringkan tubuhku diatas kasur berukuran king size. Sebelah Satria, suamiku sendiri. Mataku tidak ingin tidur, aku hanya menatap kosong langi-langit kamar dan berpikir bahwa apakah yang aku lakukan ini benar? ah sungguh menyebalkan.


Baru saja aku tertidur tapi aku mendengar sayup-sayup suara Satria.

__ADS_1


“iya, oke. Tunggu disitu aku jemput kamu, ini aku mau jalan”


“jangan kemana-mana ya”


Tak lama setelah itu aku mendengar suara mobil Satria dan lagi-lagi aku merasa sedih. Aku kembali bangun menarik nafasku dan berjalan menuruni tangga. Kakiku melangkah ke pintu kaca yang memperlihatkan air kolam yang biru, aku menggeser pintu kaca itu dan menghirup sejenak aroma kaporit yang terpancar kedalam indra penciumanku.


Sudut mataku menatap tempat kesukaanku. Ayunan yang berbentuk oval dan tepat mengahadap kolam renang. Aku berjalan mendekat dan duduk perlahan dalam ayunan yang beralaskan bantalan empuk berwarna hijau.


Aku mendesah lega, menyandarkan tubuhku, ayunan ini benar-benar nyaman. Rasa kantuk kembali merayapiku secara perlahan. Wajar saja, aku baru tidur sebentar tadi.


Aku membuka mataku yang terasa berat, mengerjap mataku beberapa kali untuk menyeseuaikan mataku dengan cahaya matahari yang menyerbu retina mataku.


“dasar berhati dingin, gak berperikemanusiaan sama sekali” gumamku dalam hati


Aku melihat sekekeling rumah, tapi aku tidak menemukan Satria. Sepertinya Satria memang tidak pulang semalaman, ya mungkin saja menginap dirumah kekasihnya.


“suami gatau diri” gumamku lagi-lagi

__ADS_1


Sebenarnya ada sedikit rasa kekecewaan saat aku tidak menemukan tanda-tanda Satria pulang. Aku masih sendirian, Satria belum juga pulang.


“bodoh kamu Meisha” kataku sendiri didepan cermin kamar mandi dengan senyuman sinis penuh sindiran. Aku mengejek diriku yang terlalu bodoh karena aku masih sering berharap lebih pada suami ‘sementaraku’ itu.


Aku mengigit bibirku, mengusap wajahku pelan sebelum berjalan menuju dapur membuat sarapan untukku sendiri. Aku membuka kulkas dan aku merasa bersyukur karena kulkas masih terisi penuh bahan makanan.


Well, bahan makanan. Berarti aku harus memasak.


“ya Tuhan…” aku menggaruk kepalaku yang samasekali tidak gatal dengan kesal. Aku mengingat kembali saat aku memasak untuk Satria, untuk yang pertama dan terakhir. Untung saja aku sedang sendirian dirumah jadi bebas.


Baru saja aku mengulurkan tanganku untuk mengambil keju dan kaleng kornet, saat ponsel milikku bergetar. Aku menutup pintu kulkas dan merogoh kantung celana piyamaku. Layar ponselku menampilkan nomor tidak dikenal, sontak aku langsung mengermyitkan dahi dan berpikir.


Aku ragu sejenak sebelum akhirnya mengangkat panggilan tidak dikenal tersebut.


“Halo Ranielle?”


Deg.

__ADS_1


Aku memejamkan mataku mendengar suara familiar yang sudah sangat lama tidak ku dengar. Dan, saat itu juga aku merasa menyesal telah mengangkat panggilan tidak dikenal itu.


“Ranielle?” suara itu berulang. Aku masih diam, tak bergeming. Hanya ada satu orang yang memanggilku dengan nama tengahku, hanya satu orang yang suaranya sangat familiar tapi ada rasa takut pada saat aku mendengarnya.  


__ADS_2