Posessive Husband

Posessive Husband
PH-21


__ADS_3

Satria sudah duduk di tepi ranjang dengan piyamanya dan terlihat segar, begitu aku keluar dari kamar mandi, setelah memakai piyama dengan handuk yang masih membungkus kepalaku. Mungkin Satria mandi di kamar mandi bawah.


Aku berjalan santai, berniat menuju meja rias dan berencana mengabaikan Satria, sebelum akhirnya lengan Satria menarikku. Menyantap tubuhku sampai terduduk di atas pangkuannya.


"Apa sih?" Kataku ketus, berusaha bangkit dari posisi yang baru pertama kali untukku ini. Uh-oh, aku butuh di atas pangkuan Satria, dan itu bukan hal yang baik untuk pertahananku saat wangi Satria, tercium tajam hidungku.


"Kamu kenapas sih? Dimobil diem, sampe rumah sewot, di dalam kamar nyolot. Kenapa, ada yang salah?" Tanya Satria. Tangannya melingkari pinggangku erat.


aku mendengus, dan memilih berhenti memberontak. Karena itu hanya kegiatan sia-sia yang membuang tenaga.


"Everything's wrong!" Kataku. "Sumbernya ada pada Queen. Oh, maksudku pacar kamu, selingkuhan, simpenan ah atau apalah label perempuan itu." Lanjutku.


Aku tidak berusaha sedikitpun untuk menutupi ketidaksukaan dan kesinisan dalam nada bicaraku. Satria harus tahu, kalau aku beneran pengen lempar itu perempuan ke air terjun Niagara.


Satria berdehem, dan melepaskan lingkaran tangannya dari pinggangku. ah, lagi-lagi ada seberkas kekecewaan menghampiriku.

__ADS_1


"Ada api cemburu disini." Ucap Satria santai, bahkan seperti ada nada senang dalam ucapannya. Huh.


"Cemburu? Ha! Ini namanya harga diri tau! Mana ada istri yang harga dirinya gak terluka gara-gara suaminya punya perempuan lain?" Errrr.... Oke, disini aku ngeles. Plis ya Tuhan, masa iya aku terang-terangan mengaku? Bisa belagu nanti Satria.


"Harga diri ya?" Ada nada geli dalam suaranya.


"Maksudnya harga diri kamu terlalu tinggi buat ngakuin kalau kamu cemburu? Iya?" Lanjut Satria. Aku merasakan tangannya mulai mengusap rambutku dengan handuk yang tadi membungkus kepalaku.


"Enak aja!" Harga diri, Mei. Harga diri, Cuy!


Sekarang Satria malah terkekeh. Duh, kenapa malah jadi begini? Padahal aku sudah berpikir bakalan terjadi adegan teriak-teriakan Antara aku dan Satria. Tapi memang satria setenang air.


"Oke demi harga diri kamu, apa yang menurut kamu salah aku disini?"


aku beringsut sedikit dari pangkuan Satria, tapi buru-buru ditahan oleh Satria dan kembali pada posisi semula.

__ADS_1


"Queen itu pacar kamu." Aku melontarkan pernyataan setelah menghela napas. " Apa dia tetep pacar kamu setelah kita jadi seperti sekarang? Maksud aku, setelah hubungan kita lebih baik dari pada awal." Kataku.


Satria berhenti lalu mengecup pucuk kepalaku, dan kembali melingkarkan lengannya ke perutku. Dan kali ini, dia juga meletakkan dagunya pada pundakku. Astaga, nafasnya menggangguku. Dalam artian yang uh-oh-yeah, mengerti kan?


"Nggak. Aku nggak menganggap dia kekasih setelah kita menikah, aku hanya menganggap kalau dia orang yang harus ku cegah buat bunuh diri. Apa yang dirasain buat aku, mungkin apa yang orang sebut dengan; obsesi. Dia kurang waras menurutku." Aku merasa Satria mengangkat bahunya santai.


"Jadi, you are the only one for me, wife." Ucap Satria pelan, sebelum ia mendaratkan kecupan pada leherku.


Selalu ada dua setelah satu. Dan akan selalu ada angka-angka lainnya setelah dua. dan begitu seterusnya sama dengan kecupan Satria pada leherku yang dimaksud dengan kecupan yang lainnya.


Satu erangan tertahan, lolos dari bibirku. Hal ini membuat Satria semakin menjadi dalam menciumi leher ku. Sekarang tubuhku sudah setengah menghadap damar, dengan mata yang terpejam, aku mengalungkan tanganku pada Satria.


"Can we?" Tanya Satria serak, matanya menatapku dalam.


Aku tersenyum, mengeratkan rangkulanku pada leher Satria. Menjawab tanpa kata, menyetujui melalui tatapan. Terima kasih pada sinyal yang sedang sangat bagus, karena tanpa bertanya lagi Satria mengerti jawabanku.

__ADS_1


Ia memulai, dan tidak menahan diri lagi. Aku, hanya tertelan dalam sensasi yang Satria berikan melalui sentuhannya pada setiap jengkal kulitku.


__ADS_2