
PH - 16
Aku tersentak, sontak memundurkan kepalaku dan mentap heran Satria dengan pandangan yang bisa dibilang shock. Sedangkan Satria, dia malah tersenyum dan kembali menarik diri setelah… Mencium singkat bibirku.
“heh!” aku berteriak, saat sepenuhnya pulih dari keterkejutan yang aku rasakan.
“apa?” sahut Satria yang sudah kembali memakan mie-nya dengan tenang tanpa memasang wajah bersalah. Seolah baru saja dia tidak melakukan apapun padaku.
“kamu, kamu.. Ngapain coba?” tanyaku sedikit gugup, jujur saja aku masih sedikit shock dengan apa yang dilakukan Satria barusan. Jadi, wajar saja kalau bicaraku sedikit berbeda.
“makan”
“bukan itu”
“terus apa?”
“ih, barusan”
“nyuap mie-nya ke mulut”
“bukan! Ah, tau deh kesel” kusambar sendokku dengan kesal, melanjutkan makanku yang sempat terhenti. Masa bodoh dengan Satria yang sekarang malah menertawaiku. Dia terkekeh pelan melihat ekspresi kesalku.
“marah?” tanya Satria, dan aku lebih memilih meneguk air putihku daripada menjawab pertanyaan Satria
“gitu aja ngambek. Makanya, jangan bengong aja” lanjut Satria. Dia menarik napasnya dalam, membuatku mau tidak mau harus melirik padanya saat dia menggese ke samping, mangkuknya yang masih tersisa sedikit mie.
__ADS_1
“Mei” ucap Satria. Uh, aku merasa Satria akan membicarakan sebuah hal yang serius padaku.
“kita ini apa?” tanya Satria kemudian.
Lagi, aku menghentikan makanku dan menatap Satria sambil mengernyitkan dahi yang menandakan bahwa aku merasa aneh dengan pertanyaan tersebut. Kita ini apa? Kalau tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Satria, mungkin aku akan mengatakan bahwa kita adalah seorang manusia yang sedang makan. Tapi aku tahu bukan jawaban itu yang Satria maksud.
“kita ini, dua orang yang berbeda jenis kelamin dan menikah” jawabku santai, berusaha santai untuk mencairkan suasana yang aku rasa cukup tegang.
“jawabannya vulgar gitu, Mei?”
“vulgar apanya?”
“stop it Sat! Ternyata kamu emang beneran cowok normal” kataku sambil menyipitkan mata, dan disambut Satria dengan tawa pelan. Hanya sebentar, karena pada menit berikutnya wajahnya kembali menunjukkan keseriusan awal.
Seketika aku berdehem, membenarkan posisi duduku sebelum menjawab, “kontrak”
“bukan karena cinta?”
“Satria” aku menghela nafas, menyingkirkan mangkuk mie-ku ke samping meja.
“hal itu jelas gak ada, dan bukan itu yang menjadi alasan kita untuk menikah. Pada kenyataanya, cinta dalam terjadinya pernikahan kita, bukanlah hal yang penting bukan?” jawabku.
“jawabanku benar bukan? Untuk ayah, cinta sangat tidak dibutuhkan dalam kontrak hutangnya”
Aku melihat Satria menganggungkkan kepalanya, tampak setuju dengan perkataanku.
__ADS_1
“apa yang kamu bilang bener Mei, tapi…” Satria memiringkan sedikit kepalanya ke samping sebelum menlajutkan ucapannya.
“kenapa saat cinta itu hadir dalam pernikahan kita, kamu sendiri yang menolaknya?” lanjut Satria.
Aku terdiam, lagi-lagi aku mengigit bibir bawahku. Ah, pada akhirnya kami akan tetap membahas masalah konyol yang membuat pertengkaran tadi siang terjadi.
“bukan maksudku menolak, tapi aku merasa gak pantes. Kamu yang seperti ini harus terjebak dalam pernikahan yang sama sekali bukan kemauan kamu dengan orang yang seperti aku begini. Dan lagi, kamu malah mencintau aku yang gak sempurna sebagai seorang istri. Itu gak adil buat kamu Sat”
“di luar sana cukup banyak, bahkan berlimpah. Perempuan yang lebih pantes buat kamu, daripada aku. Aku ini cuma perempuan yang kebetulan mampir, dan mengacaukan scenario hidup kamu sementara” jelasku. Jujur saja, sebenarnya aku sama sekali tidak menyukai ucapanku barusan. Terdengar sangat kejam untuk Satria.
“dari mana kamu tau kalo di luar sana ada banyak perempuan yang lebih pantes buat aku? Apa kepantasan dalm pemikiran kamu hanya sampai pada perempuan itu ‘utuh’ atau tidak? Jangan naïf Meisha. Pemikiran kaya gitu terlalu dangkal, aku bukan tipikal pria yang kolot dan mengangungkan sebuah ke’utuh’an seorang perempuan lalu menganggapnya sempurna”
“kalo kamu memang cuma perempuan yang kebetulan lewat dalam garis takdirku, gak mungkin Tuhan membiarkan aku memiliki rasa terhadap kamu bukan? Bahkan kita disatukan lewat ikatan suci. Mei, dalam hidup ini orang yang cuma kebetulan lewat gak akan pernah diingat, gak beda jauh dengan orang-orang yang kamu temui setiap hari dijalan. Kamu gak kenal mereka yang hanya sekedar melintas dihadapan kamu. Sudah terjadi sebuah ikatan suci, sebuah pernikahan di antara kita, itu artinya kita berdua adalah takdir. Cuma, memang cara kita bertemu membuat kita berpandagan sinis tentang pernikahan ini” ucap Satria dengan seluruh penjelasannya. Aku menunudkkan kepalaku, meremas jemariku.
“apapun yang kamu ucapkan, aku akan tetep kekeh kalo aku memang gak pantas buat kamu. Tapi, jika aku boleh jujur satu hal. Aku gak menyangkal adanya sebuah perasaan diantara kita, itu nyata. Dan aku juga merasakn itu Sat” kataku. Aku mendengar suara kursi yang bergeser, dan derap langkah yang memutari meja makan.
Satria berlutut disampingku, mensejajarkan diri denganku yang masih duduk diam di kursiku.
“Mei, apa kamu pernah denger kalimat aku menerima kamu apa adanya”
Deg.
Aku merasakan duniaku bagai dihantam badai yang keras, aku menundukan kepalaku semakin kebawah dan menteskan air mata. Entah mengapa setelah mendengar apa yang diucapkan Satria barusan membuat diriku bergetar merasakan perasaanku yang terus menggebu padanya, tapi aku selalu merasa bersalah dengan keadaanku yang tidak lagi utuh.
Satria memelukku, dia mengelus punggungku. Mencoba menenangkan tangisanku yang semakin menjadi. Aku membalas pelukan Satria dan menenggelamkan wajahku di dada bidang milik Satria. Aku menangis sepuasnya, hanya Satria yang bisa membuatku se-nyaman ini.
__ADS_1