
Aku memperhatikan mobil Pak Denis yang bergerak semakin menjauh dari rumahku. Aku tersenyum tidak percaya mengingat apa yang dikatakan Pak Denis padaku tadi siang, aku kembali sejenak merasa tidak enak dan mulai berpikir bagaimana seharusnya aku bersikap setelah semua ini terjadi?
Dengan santai aku menaiki satu-persatu anak tangga yang ada di teras, sejak tadi pikiranku penuh dengan Pak Denis. Tapi bukankah Pak Denis mengatakan bahwa tugasku hanyalah harus bahagia dengan pernikahan dan suamiku? Well, berarti aku tidak perlu pusing-pusing memikirkan bagaimana seharusnya aku bersikap pada Pak Denis nantinya.
Bibirku mengembangkan senyuman sinis saat otakku kembali mengingat kata harus bahagia dengan pernikahan dan suamiku. Bahagia dengan itu semua? Ynag benar saja. arti bahagia untuk pernikahanku dengan Satria entah mengapa menjadi kabur, buram, tak terlihat, tak jelas, atau entah apalah itu.
Aku tidak berani memikirkan kata bahagia bersamanya, dan jangan sampai aku terlintas membanyangkan bagaiamana aku akan bahagia nantinya.
Aku menhela nafas panjang, menututp pintu rumahku dan berbalik berjalan menuju tangga untuk pergi kekamarku. Eh, maksudku kamarku dengan kamar Satria. Satu kakiku baru saja menginjak anak tangga ketiga saat suara Satria menginterupsi langkahku.
“pacar baru nona?” tanya Satria. Aku masih belum berbalik menghadapnya yang tengah berdiri didekat pintu. Sebentar, mengapa aku tidak melihatnya saat menutup pintu tadi?
“kamu ngintip?” kataku sambil berbalik, menatapnya dengan sebelah alisku yang naik. Aku benar bukan, berarti pada saat Pak Denis mengantarku pulang Satria mengintip.
“hanya kebetulan lihat, saat aku keluar dari garasi tadi” sahut Satria
Aku mendengus, Satria pasti berbohong. Memangnya aku tidak punya mata sampai-sampai aku tidak bisa melihatnya baru keluar dari garasi tadi? oke, mungkin memang aku tidak sempat melihatnya berada didekat pintu. Tapi kalau memang tadi ia baru saja keluar dari garasi dan berjalan memasuki rumah, aku yakin pasti melihatnya.
“bohong. Aku gak ngeliat kamu keluar dari garasi tadi” ucapku tenang. Aku melipat kedua tangamku didepan dada.
Satria mengangkat bahunya dengan santai
“memang” ucapnya. Nah! kan aku benar. Satria berbohong, dan dia memang mengintip tadi.
Satria berjalan menaiki tangga, mendekat padaku dan entah mengapa aku relfeks mengambil langkah mundur. Senyuman seringai muncul dari bibir Satria terlihat menjanjikan untuk suatu hal yang tidak meneyenangkan.
“jadi dia pacar barumu nona?”
Satria kembali pada pertanyaan awalnya, dia hanya tinggal satu lagkah dariku. Dan aku, masih tetap mengambil langkah mundur dan berdoa supaya aku tidak tergelincir karena meleset menginjak anak tangga.
“kalau iya apa peduli kamu? kamu juga punya pacar jadi aku pun gak masalah” jawabku berusaha tetap terdengar netral
__ADS_1
Damar mendengus kesal, ia memperhatikanku dari atas sampai bawah. Damn! Demi Tuhan aku benci ditatap dengan cara seperti itu.
“ingat, aku suami kamu” ucap Satria penuh penekanan
“ingat? aku istri kamu” balasku tak kalah dengan penuh penekanan
Aku membalikkan kata-kata Satria, sesaat dia terkekeh pelan dan menertawakan yang dapat kupastikan samasekali tdak lucu.
Tubuhku merasa kaget seketika saat Satria mempersempit jarak antara kami, ia ikut berjalan tepat dibelakanngku menaiki anak tangga.
Sial! aku memekik kencang saat kakiku tiba-tuba meleset saat menginjak anak tangga di belakangku dan membuatku jatuh terduduk, seharushnya mungkin aku berguling-guling sampai bawah kalau saja Satria tidak menahan tubuhku.
Tanganku gemetar, nafasku memburu tak beraturan. Bagaimana kalau Satria gagal menahanku? apa yang akan terjadi selanjutnya?
“kamu istriku. Ingat” bisik Satria tepat ditelingaku. Ia membungkukkan badan kekarnya, tubuhnya nyaris tanpa jarak dengan tubuhku, ia menumpukan kedua tangannya dibelakang tubuhku.
Lagi-lagi aku merasa kehilangan orientasiku. Aku merasa kami terlalu dekat, nyaris tidak ada jarak.
Aku refleks mengangkat tanganku supaya memberi Satria ruang untuk mengangkat tubuhku dan entah mengapa aku juga hanyut dan melingkarkan kedua tanganku pada pundak Satria. Dia perlahan mengangkatku, membantuku berdiri. Tidak ada jarak antara kami berdua, baru pertama kali aku sedekat ini dengan Satria.
“ringan sekali” gumam Satria. Aku mendengar gumam Satria saat tubuhku sudah berdiri dengan sempurna. Tapi, anehnya ada perasaan tidak rela saat aku melepas peganganku pada pundak Satria.
Satria belum melepaskan tangan kirinya yang melingkar pada pinggangku, alih-alih Satria malah menarikku supaya menempel pada tubuhnya saat aku menghindar supaya tercipta jarak. Satria menatap mataku, sebelah alisnya naik. Dan sekarang aku bisa melihat sempurna wajah Satria tepat didepanku.
Aku menarik nafasku saat aku sadar nafasku tertahan entah sejak beberapa detik yang lalu, dan itu terjadi karena refleks. Satria tersenyum. Tuhan, mengapa drama ini hadir padaku. Persis, seperti adegan drama pada novel yang tokohnya menjalani scene jatuh cinta.
“apa?” aku bertanya dengan suara pelan. Aku terkejut menemukan suaraku terdengar cukup tenang, padahal jantungku seperti lari marathon.
“nggak papa” jawab Satria. Aku pikir Satria akan melepaskan tangannya pada pinggangku, tapi ternyata ia malah melingkarkan satu lagi tangannya pada punggungku. Satria memelukku.
Deg!
__ADS_1
Lagi-lagi jantungku berdetak tak karuan, aku berpikir mengapa tubuhku tidak melakukan penolakan.
“biarin begini, lima menit aja” ucap Satria terdengar sayup
Jika sekarang aku berada dekat kolam, mungkin aku akan menceburkan diriku supaya aku dapat menyadarkan kepasrahanku pada Satria saat ini.
Apa yang sebenarnya terjadi? apa Satria baru saja patah hati dan putus dari kekasihnya? Lantas kenapa sikap Satria yang dingin dan cuek terhadapku seperti hilang tak berbekas. Bagiku ini sungguh aneh, entah aku harus bahagia atau sedih. Satria memelukku dan perlakuannya tadi termasuk lembut. Apa yang salah? aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang muncul dikepalaku.
“Sat—” ucapanku terputus. Aku kaget seketika saat Satria meneggelamkan wajahnya pada tulang selangka ku (Tulang yang ada pada pundak manusia). Ini sungguh aneh. Mengapa Satria bersikap seperti ini? aku terkejut dan merasa aneh.
“diem. Aku cuma punya waktu lima menit buat posisi ini” sahut Satria. Aku kehiangan kata-kataku, tubuhku seketika terbius dan membuatku menurut untuk diam saat Satria semakin mengeratkan pelukannya. Nafas Satria berhembus, terasa hangat dekat leherku.
Pikiranku menginterupsi tanganku untuk melakukan hal yang sama, tapi baru saja aku akan membalas pelukan Satria saat suara ponsel berbunyi. Suara tersebut entah seakan membuat waktu dan kenyataan kembali berputasr setelah aku merasa kalau tadi waktu sempat berhenti seketika.
Satria berdecak kesal, dengan malas dia menarik tubuhnya dariku dan satu tangannya merogoh celana jeansnya ntuk mengambil ponselnya. Aku harus mengakui kalau aku merasa tubuhku merasa tidak rela.
Entah apa yang dibicarakan Satria dengan orang yang menelponnya diseberang sana, tapi yang jelas satu tangannya masih berada dipinggangku mulai mengendur sampai akhirnya terlepas. Aku langsung berpegangan pada tangga saat merasa merasa tubuhku agak limbung. Satria melepaskanku.
Beberapa detik setelah itu, kulihat wajah Satria berubah seketika. Dahinya mengerut, ada raut kesal diwajahnya. Dan rasanya jantungku merasa terhenti seketika saat mendengar Satria menyebutkan nama seorang wanita ‘Queen’ supaya tetap menunggunya disitu.
“Queen, kamu denger? tunggu sampe aku dateng” ulang Satria. Setelah itu dia memutus sambungan dan kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
“aku pergi dulu, jangan kemana-mana. Kalo ada apa-apa langsung hubungi aku. Ngerti?” ucap Satria. Aku mengangguk mendengar perkataan Satria, meski dengan wajah yang ragu, tapi aku tetap tersenyum tipis padanya.
Satria menatapku sebentar untuk memastikan bahwa aku harus percaya pada perkataannya. Satria mengusap kepalaku lembut dan member kecupan singkat pada dahiku. Jantungku kembali menggila, mataku memanas seketika ada yang sesuatu yang akan jatuh.
Aku terkejut seketika, sebenarnya apa yang terjadi dengan Satria hari ini? dia benar-benar terlihat berbeda. Berubah menjadi kebalikan dari kebiasaannya.
Aku berpikir sejenak dan langsung menyadari satu hal, Tuhan.. apa aku telah jatuh cinta padanya? suamiku.
Jatuh cinta bukanlah hal yang rumit, setiap orang pasti merasakannya. Tapi bagaimana jika aku jatuh cinta pada seseorang yang jelas-jelas sudah memperingatiku di awal.
Dan airmataku jatuh seketika tepat saat Satria menghilang dibalik pintu yang dia tutup.
__ADS_1
Tuhan, aku harus bagaimana?