Posessive Husband

Posessive Husband
PH-24


__ADS_3

Lagi, aku tertawa kecil. "selama itu kamu, aku tetap terima. Mau tembelan plastik atau ember pun aku terima. Asal kan itu tetap kamu, karena kamu adalah seseorang yang bikin aku hidup." Aku tidak tahu sejak kapan aku jadi gampang mengucapkan kata-kata manis, ini terpikir spontan aja tanpa ada komando sebelumnya. Tapi aku masih jauh dari taraf untuk dapat dibilang pintar gombal. Lagi pula apa yang aku ucapkan itu bukan sekedar gombalan tidak bertanggung jawab kok. Huh.


"ngomong sih gampang, kalau muka aku beneran tempelan plastik baru kamu mikir." Gerutu Meisha. Biarpun menggerutu, tetap saja wajahnya merona. See? Dia manis, bahkan saat menggerutu sekalipun. Haha.


"Wife, liat surat kontrak nikah kita nggak? Mau aku jadiin karya seni." Kataku, memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan kami dari soal operasi plastik.


Tiba-tiba Meisha seperti teringat sesuatu. "Tadi sih aku pegang. Lagi aku baca, tapi kok.." Meisha melihat tangannya yang kosong, tidak memegang apapun.


Ha? Tadi dipegang? Berarti...


"Ya ampun! Wife!"


"Eh, jangan diambil pake tangan, itu bubur panas!"


"Aduh!"

__ADS_1


Ya ampun, aku masih menggeleng-gelengkan kepalaku tidak percaya. Pelan-pelan aku mengoleskan gel anti luka bakar pada permukaan jari Meisha yang tadi terlanjur menyentuh permukaan bubur.


"Kamu tuh ga punya ilmu kebal. Hati-hati dong." Ucapku jengkel. Untungnya jari-jarinya hanya menyentuh permukaan bubur, tidak sampai tercelup kedalamnya. Dasar Ceroboh.


"Itu refleks tau!"


"Lagian siapa suruh terlalu kreatif. Abis naruh itu surat kontrak didalem kulkas, sekarang malah nyemplungin surat kedalem bubur."


Haha, kelewat kreatif. Meisha berhasil membuat surat kontrak kami berenang dalam bubur. Ternyata yang tadi Meisha pegang sambil mengaduk bubur adalah surat kontrak kami. Dan, terlepas dari tangannya karena terkejut saat aku memanggilnya. Konyol dan tidak masuk akal sih, tapi lumayanlah saat aku masih binggung mau diapakan surat kontrak itu. Meisha malah sudah lebih dulu menjadikannya bubur kertas. Haha.


"Itu salah siapa coba ngangetin, dasar nggak mau salah!" Ujarnya jengkel, ya salahku memang. Tapi surat itu samasekali tidak berguna.


Hm... Apa Meisha pernah bilang akhir-akhir ini aku sering menemaninya menonton drama? Nah, sepertinya aku mengingat sesuatu adegan yang menarik untuk aku praktekkan saat ini, dari salah satu drama yang kutonton bersamanya.


"Mei, inget satu adegan drama yang kita tonton bareng gak?"

__ADS_1


Meisha menunrukan gelasnya, dan mengernyit binggung. "Yang mana? Adegan di drama kan banyak, juga aku nggak cuma nonton satu drama aja." Jawab Meisha.


Aku tersenyum, menyingkirkan kotak P3K kesamping, dan menjulurkan tubuhku melewati meja untuk mencapainya, dengan kedua tanganku bertumpu diatas meja.


"Yang begini, nih" kudekatkan wajahku pada wajah Meisha, dan menyentuh bibirnya dengan bibirku mencecapnya sebentar sebelum akhirnya aku menjilat noda cappucino yang tertinggal diatas bibir Meisha.


"Ingat?" Tanyaku setelah menjauhkan wajahku dari wajah Meisha, tampak terkejut. Astaga, makin gemas melihatnya.


"Secret garden"


"Tepat!" Timpalku, mengecup singkat bibir Meisha sekali lagi dan langsung mengambil langkah seribu karena melihat wajahnya yang memerah. Aku tahu bahwa kesadarannya akan segera kembali.


Brak!


"SATRIA MESUM!"

__ADS_1


Haha. Selamat aku berhasil melewati pintu dapur sedetik sebelum kotak P3K yang Meisha lempar ke arahku, meleset mengenai dinding samping pintu dapur.


Biar ku beritahu, pria adalah makhluk yang paling pintar memanfaatkan kesempatan. Haha.


__ADS_2