
Satria POV
Aku menyaksikan hal buruk yang tidak pernah terpikirkan olehku, bahkan dalam pikiran ekstrim sekalipun.
Aku melihatnya, bagaimana Queen mendorong tubuh Meisha sekuat tenaga ke dalam kolam renang. Sesaat tubuhku mematung seketika dan senyum puas tercetak jelas di wajah Queen.
Aku berjalan cepat kearah Meisha, setelah kemampuanku untuk bergerak kembali sepenuhnya. Queen yang tidak menduga kedatanganku, langsung berakting layaknya artis profesional. tapi sayangnya, Aku bukan orang bodoh yang mudah ditipu dengan akting yang terlambat bagiku itu cukup menjijikan.
"Ya ampun Meisha" Queen menjerit tertahan. Aku jadi merasa sangat jijik ketika mendengar suaranya. Tanpa menghiraukannya, aku melepas jasku dan melemparkannya kepada Queen.
Saat ini pikiranku hanya tertuju pada istriku. Tidak ada waktu untuk menonton akting yang murahan itu.
"Sat.."
Entah apa lagi yang diucapkan Queen, Aku tidak mendengarnya titik karena aku sudah menyeburkan diri kedalam kolam renang.
Dia di sana, terlihat begitu lemah dan tidak berdaya. Aku jadi teringat kejadian peristiwa yang menimpa dia dulu ketika dia dihampiri oleh psychopath gila itu.
Dan ini untuk kedua kalinya, aku melihat Meisha dalam keadaan tidak berdaya. Dan itu disebabkan oleh dua orang yang berbeda tetapi dengan sifat yang sama buruknya.
persediaan oksigen seakan-akan diangkut paksa saat melihat mata Meisha perlahan menutup dan membuatku mempercepat renang untuk menggapainya.
Aku sudah menyelamatkannya, istriku sudah aman.
__ADS_1
Jantungku sungguh tidak bisa berdetak dengan normal selama aku berusaha membawa istriku ke tepian kolam renang. Kolam renang yang tidak begitu besar tetapi entah kenapa kolam renang ini memiliki kedalaman yang cukup menegangkan hampir seperti lautan bagiku.
Pinggir kolam sudah ramai seketika aku berhasil membawa Meisha ke atas. Cepat-cepat aku segera naik, setelah dua orang membantu mengangkat tubuh Meisha.
dan Queen ada di sana, berdiri dengan tenang sambil memegang jasku dengan wajahnya yang sedikit cemburu bercampur dengan cemas. Mencemaskan siapa? Aku? Aku sudah jelas bisa berenang. apa dia mencemaskan bisa? Takut-takut Meisha tidak berhasil mati seperti harapannya?
Aku tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Queen titik belum pernah aku merasa semua ini pada perempuan. Dulu, aku sempat memiliki rasa kasihan padaku in tetapi rasa itu seketika hilang dan lenyap entah kemana.
"Sat, kamu gak apa apa kan?"
Aku diam, tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Queen yang sekarang berada di sampingku.
Saat Meisha belum juga menunjukkan respon, Aku berusaha menekan dadanya beberapa kali.
Satu,
Dua,
Masih tidak ada respon yang ditunjukkan oleh Meisha. Jantungku berdetak menggila, rasa takut mulai menghampiriku, aku tidak ingin kehilangan. Terlebih jika itu istriku dan aku mulai mencintainya.
Satu,
Dua,
__ADS_1
Tiga,
"Sat, udah-udah"
Oh shit, aku mengumpat sejadi-jadinya! Queen kembali bersuara titik membuat aku semakin muak padanya, di balik suaranya yang berusaha terdengar simpati pasti ada senyum puas yang tercipta dalam hatinya.
aku merasakan orang-orang yang memperhatikanku juga ikut menegang menantikan kepastian, tapi yang jelas aku lebih tegang dari pada siapapun.
Ini usaha terakhirku, untuk penyelamatan yang aku tahu.
Aku mendekatkan wajahku pada wajah Meisha. bibirnya terlihat mulai membiru, kulitnya yang dingin. Kelopak mata itu tidak juga terbuka.
"Aku aja yang kasih nafas buatan, Sat"
Ck, aku mendongak, menepis kasar tangan Queen yang hampir menyentuh wajah Meisha.
"jangan berani-beraninya kamu sentuh dia lagi titik kalau sesuatu yang buruk terjadi sama istriku, udah pasti kamu orang pertama yang bakal aku tuntut." seketika Queen memucat, lebih pucat dari warna kulit aslinya. Dia tidak mengatakan apapun lagi.
aku kembali berfokus pada Meisya, memberinya nafas buatan secara berulang dan bergantian menekan dadanya. Dia harus selamat titik harus atau aku akan ikut bersamanya.
"Mei.." panggilku pelan. Aku harus bagaimana lagi?
"Mei, wake up!" Geramku.
__ADS_1
Aku mendekatkan telingaku ke dadanya, untuk mengecek detak jantungnya.
Tapi..