
PH-18
Halooo readers, apakabar nih? Minta maaf banget yaa karena aku udah gak pernah update cerita ini, karena belakangan ini tugasku semakin menumpuk saja. Huh, aku akan berusaha buat up seminggu tigakali. Aku gak janji tapi bakalan berusaha. Jangan lupa selalu berikan like dan favorit kalian ya, supaya aku makin rajn update kalo ada semangat dari kalian semua.
Salam kangen dari authorrr
-------------
Meisha POV
Untuk kesekian kalinya, aku menarik nafas ku dan berdecak kesal jari-jari tanganku saling bertautan.
Aku tidak pernah menyukai pesta, pesta apapun itu. Pesta ulang tahun, pernikahan dan antek-antek pesta lainnya. menurutku, apa menyenangkannya berada di tengah-tengah kerumunan banyak orang? saling menyapa dengan senyum, hingga bb-mu rasanya sangat pegal.
Ck, itu bukan hal yang menyenangkan. Oke, katakan saja Aku wanita yang anti sosial ataupun yang kalian ingin juluki padaku. Sebenarnya masalah aku hanya satu, tidak suka berada dalam keramaian dan kerumunan.
Tapi saat ini, aku seperti terperangkap dalam jebakan ku sendiri titik Aku terperangkap di dalam rumah mewah ini dengan banyaknya orang-orang dari kalangan atas. Pasti ada saja yang menyapa Satria, setiap kali kebetulan berpapasan.
aku mulai bosan titik keramaian tidak pernah membuatku nyaman titik apalagi ruangan ini, penuh dengan senyuman senyuman para penjilat kolega-kolega bisnis yang sedang mencari muka.
Ah, sekedar informasi aku dan Satria sedang menghadiri pesta ulang tahun pernikahan kolega bisnis Satria yang tentu saja aku tidak tahu siapa namanya. Biarpun Satria memberitahuku sejak lama tapi lupa membuatku kembali tidak tahu aku tidak terlalu mengurusi hal tersebut karena ya tidak penting saja.
"Pulang yuk" ajakku pelan sambil menarik lengan jas Satria. Aku semakin erat melingkarkan tanganku pada lengan Satria.
"Kenapa?" Satria menolehkan wajah ku menatap ku dengan alis yang berkerut.
Aku meringis, dan menggigit bibirku. "Nggak nyaman. Banget" kataku.
Satria memperhatikanku dan tangannya terangkat untuk mengusap kepalaku dengan lembut lalu ia tersenyum dengan lembut.
"Oke" ucap Satria. Setelah itu, ia mengajakku berjalan menghampiri tuan rumah untuk berpamitan pulang.
Tiba-tiba langkah Satria terhenti. seketika aku mengikuti arah pandangan Satria, dan seketika itu juga aku merasa bahwa atmosfer di antara kami mulai menegang dan berubah.
Seorang perempuan yang cantik berjalan ke arah kami dengan senyuman yang menawan dan sedikit menggoda, langkahnya yang anggun seperti model di atas catwalk. Gaun merah muda di atas lutut yang perempuan itu kenakan benar-benar membuatnya seperti model. dan wajahnya yang seperti orang asing, membuatnya terlihat sempurna dengan rambut yang dicat terang dan tergerai bebas di punggungnya.
__ADS_1
Refleks aku menilik diriku, yang berbalut gaun abu-abu semata kaki dengan bahu yang sedikit terbuka. Aku biasa, jelas sangat biasa jika dibandingkan dengan perempuan yang saat ini sudah sampai di hadapan aku dan Satria.
"Sayang" sapa perempuan itu, binar senang terpancar jelas di matanya.
Sekarang, aku yang menegang. Sayang? Sebenarnya siapa yang dimaksud perempuan itu? Mungkinkah aku? Hah! Mengenalnya saja tidak.
Aku tidak perlu terlalu lama lagi menjadi orang yang bodoh, untuk mencari jawaban yang sudah ada di depan mata. saat satria perlahan melepaskan lengannya dariku Aku merasa tiba-tiba sedikit kehilangan.
"Queen" suara Satria terdengar datar. tapi saat mendengar suaranya menyebut nama perempuan itu aku ingin tertawa sekeras-kerasnya tepat ditelinga Satria.
Sebenarnya nama itu tidak asing, aku pernah mendengar Satria menyebut nama itu waktu di telepon kejadian itu terjadi pada saat di tangga waktu dulu. Sungguh miris. Tidak ada yang lebih miris dari kenyataan bahwa dirimu harus bertemu dengan perempuan yang memanggil 'sayang' pada suamimu, pada saat dirimu sedang bersamanya.
Ah, sepertinya aku salah titik pada hal lain yang lebih miris, yaitu saat perempuan tersebut mencium mesra pipi suamimu seperti yang telah ku saksikan sekarang ini. Mungkin aku akan memperjelas Queen atau siapapun perempuan itu, mencium pipi Satria dengan mesra dihadapanku. Tepat di depan mataku.
Aku mengalihkan pandanganku, mataku memanas. Aku benarkan? Berpesta memang tidak menyenangkan.
Aku melangkah mundur, terlepas dari jangkauan Satria. Tubuhku berbalik, menuju pintu geser yang terbuat dari kaca.
"Apa-apaan sih" aku menggerutu. Aku menghapus kasar lelehan air mataku dengan punggung tangan. Mungkin, perempuan tadi itu adalah perempuan yang sempat membuat Satria bertanya bahwa apa tidak apa-apa jika ia berpacaran dengan perempuan lain ketika sudah menikah denganku.
Tapi itu dulu. Saat satria belum memintaku untuk percaya penuh padanya.
Apa setelah semua itu, Satria tetap berpacaran dengan Queen? Haha kalau begitu buat apa aku percaya padanya?
aku tidak mengacuhkan saat suara pintu kaca yang digeser terdengar olehku dan menandakan kehadiran seseorang yang lain di kolam renang ini selain diriku. Dan orang itu jelas bukan seorang pria. Karena suara ketukan langkah yang kudengar adalah suara high heels yang berbenturan dengan lantai batu tepi kolam renang ini.
"Oh jadi ini ya namanya Meisha" ucap sebuah suara yang benar-benar tidak ingin lagi kudengar setelah kata sayang Iya ucap untuk suamiku.
"Ah, dikenal oleh orang yang tidak saya kenal cukup membanggakan" kataku, dan berbalik menghadap Queen yang tersenyum licik seolah meremehkan diriku.
"Cih" Queen mendecih, wajahnya yang seperti bidadari, sekarang telah bermetamorfosis menjadi seperti iblis berkata nduk tak kasat mata yang muncul di kepalanya.
"Membanggakan apanya? apa merebut kekasih orang adalah hal yang membanggakan bagimu?"
__ADS_1
Aku tertawa, "sepertinya begitu karena aku merebutnya darimu untuk menjadi suamiku dan bukan kekasih. Aku, berada 1000 langkah di depan dan itu sangatlah jauh." Rasakan. Kali ini mulutku bisa benar-benar berbisa jika aku mau. Aku tersenyum sambil mengangkat sebelah alis, dan melipat kedua tanganku tepat di depan dada, saat melihat Queen yang sepertinya mulai dipenuhi emosi yang parah.
"asal kamu tahu, aku tetap pacarnya setelah kalian menikah!"
"itu berarti Satria tetap buat aku, biarpun kalian sudah menikah. Dan apa penting nya embel-embel selingkuhan, kalau hatinya mencintaiku, dan tidak mencintai kamu sebagai istrinya!"
Tenang Meisha! kamu harus tenang menghadapi anakonda yang tengah lapar seperti Queen ucapku dalam hati. Aku memejamkan mataku, dan menarik nafas yang sangat dalam sebelum melempar senyum menantang kepada Queen. Aku benar-benar ingin bertarung secara bebas dengannya, tidak peduli akan jadi apapun setelah ini yang penting aku merasa puas.
"Oh ya? Kayaknya kamu keliru deh, Satria sangat mencintai dan menyayangi aku. Puas?"
"Ha?!" Queen mengibaskan tangannya, "sebentar lagi pasti kamu akan dicerai" kata Queen dengan penuh keyakinan.
Ampun, nggak punya otak ini perempuan. aku yang istrinya dibilang sebentar lagi bakal dicerai prosesnya ribut kali gampangan juga mutusin pacar macam dia dasar cantik-cantik tapi bego.
"Well, seandainya aku bakal dicerai, lebih gampang untuk mutusin hubungan sama pacar deh kayaknya daripada ngurusin perceraian ribet" ujarku santai.
sungguh Aku merasa seperti anak sekolah yang sedang ribut. bukan seorang istri yang sedang bertengkar dengan selingkuhan suaminya. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri hingga membuatku tidak sadar Queen yang melangkah cepat menghampiriku.
"Mati aja sana" adalah ucapan terakhir yang kudengar dari mulut Queen sebelum dia mendorongku sekuat tenaga ke dalam kolam renang.
Aku terhempas, punggungku terasa sakit saat menyentuh air kolam dengan tajam. Untuk pertama kalinya aku menyesal selalu tidak mengikuti pelajaran renang pada saat sekolah dulu mungkin ini kesialanku karena aku tidak bisa berenang sama sekali tidak.
Satria....
Yang terlintas di kepala ku hanya Satria tidak berharap dia ada saat aku di dorong tadi tapi sepertinya itu tidak mungkin titik karena jelas hanya aku dan Queen yang ada di sini.
Serius aku akan mati, tepat saat ucapkan Queen menghantui pikiranku. Pikiranku buntu, mataku perih, tidak bisa terbuka dan aku butuh bernafas. Bernafas dengan benar menghirup oksigen. Bukan bernapas dengan memasukkan air ke dalam paru-paruku.
Mungkin, ini adalah sebuah akhir untukku.
Tidak ada harapan, aku benar-benar merasa tertelan. Kolam renang ini terlalu dalam, bukan satu atau dua meter saja. Ah, memang ini garis takdirku.
Aku pasrah, aku menyerah.
Aku merasa sesak, dadaku sakit. Mungkin paru-paruku telah penuh terisi banyak air.
Samar-samar aku mendengar suara seseorang menceburkan dirinya dalam air.
__ADS_1
Apa aku akan selamat?
Aku tidak tahu, aku sudah terlalu lemah untuk membuka mata saat merasa tangan yang kukenal, menarik paksa tubuhku.