Posessive Husband

Posessive Husband
PH-10


__ADS_3

PH-10



Untuk yang kesekian kalinya, aku kembali melirik jam yang menempel di dinding dekat sofa. Sudah lewat dari setengah jam dari waktu Satria pulang kantor. Dia lembur malam ini atau gimana? nggak biasanya juga Satria gak kasih kabar kayak gini. Aku khawatir dan itu jelas.



Aku mengigit bibir bawahku, ragu harus menghubungi Satria atau tidak. Setelah meninmbang-nimbang, akhirnya kuputuskan untuk menghubunginya duluan. Tapi, aku berpikir sepertinya aku over protect sekali ya? Padahal mungkin saja Satria lagi dijalan atau lagi bertemu dengan sesorang, mungkin. Pemikiran terakhir membuatku berdiam tidak nyaman.



Aku berdecak dan mendengus kesal, ya masa bodoh dengan pemikiran-pemikiran gak jelas itu. Aku cepat-cepat mencari nomor Satria untuk segera dihubungi. Setelah itu, menempelkan ponselku ke telinga untuk menunggu.



“halo, iya Mei?” suara Satria terdengar disebrang sana, setelah nada tunggu kedua.



“iya Sat…”



“ada apa, Meisha?”

__ADS_1



“…..” aku berdiam sebentar, kembali mengigit bibir bawahku. Ragu lagi, harus gak sih aku bertanya dia akan pulang jam berapa?



“Mei? Meisha…..” suara itu terdengar lembut, dengan nada yang tenang seperti biasa



“em.. gak ada apa-apa sih, itu.. Cuma mau nanya aja” ucapku terbata. Aku berpikir sejenak, ini kenapa kesannya aku seperti anak remaja?


“kamu pulang telat atau gimana? Soalnya…” lanjutku, dan kata-kataku terputus saat suara tawa rendah familier terdengar disebrang sana. Aku mengermyit kesal, apa yang sebenarnya lucu? Sudahalah aku mendadak badmood.



“tapi karena macet, jadi aku belum sampai rumah. Ini juga lagi dijalan, sepuluh menit lagi sampe” lanjut Satria.



Aku merasa lega, seenggaknya pikiran terakhirku tadi salah total. “oh oke. Yauda hati-hati ya?” ucapku



“iya, sabar ya…. Saayang”

__ADS_1



Putus. Sambungan teleponnya diputus, membuatku bertanya-tanya atas apa yang aku dengar. Kata terakhir yang Satria ucap, aku meragukan pendnegaranku. Aku salah dengar berhalusinasi atau apa?



Aku tersentak kaget, suara ketukan pintu membuatku terlonjak dari dudukku. Suara itu terdengar lagi, lebih mendesak dan terkesan tidak sabar. Aku melirik jam dinding, baru dua menit sejak Satria menutup telepon. Tidak mungkin itu Satria, terlebih lagi untuk apa Satria mengetuk pintu rumah segala.



Aku bangkit dari dudukku, tiba-tiba ada perasaan tidak nyaman dan sedikit takut yang mengusikku. Ada sesuatu yang kuat, menahanku untuk tidak tidak membuka pintu tersebut, tapi ketakutan itu semakin mengusik hingga suara ketukan tersebut semakin keras. Akhirnya aku memutuskan untuk membuang segala firasat burukku dan berjalan kearah pintu.



“siapa?” tanyaku sebelum memutar handle pintu. TIdak ada jawaban, hanya ada ketukan sekali lagi dipintu, yang menunjukkan bahwa memang ada orang dibalik sana yang menungguku untuk membukakan pintu.



Aku menghembuskan nafasku sekali lagi, memantapkan hatiku dan menenangkan diri. Meyakinkan diri kalau tidak ada yang perlu ditakutkan dibalik pintu didepanku. Dan ternyata aku benar-benar menyesal telah membuang semua firasatku dan meyakinkan hatiku untuk membuka pintu tersebut.



“halo, Ranielle…..”


__ADS_1


Deg.


__ADS_2