Posessive Husband

Posessive Husband
PH-9


__ADS_3

Meisha POV


Pagi ini aku dibuat terkejut oleh kenyataan. Aku terbangun didalam pelukan Satria, seketika duniaku terasa hening. Otakku sibuk untuk mencerna semuanya.


Aku mengerjap, tidak berani melakukan hal lain selain mengerjap kelopak mataku. Ini terjadi untuk pertama kalinya selama kita sudah hampir sebulan menikah. Memang hubunganku dengan Satria akhir-akhir ini membaik, tidak sedingin diawal. Tapi tetap saja, kejadian seperti ini dipagi hari adalah hal yang langka, dan bahkan belumpernah terjadi.


“udah bangun?” suara khas bangun tidur milik Satria, tertangkap dengan jelas oleh telingaku. Mendadak aku ingin buru-buru menggali lubang untuk mengubur diriku sendiri.


“kalo yang dipikiran kamu adalah untuk mengubur dirimu sendiri, itu terlalu berlebihan. Kita tidak melakukan apapun semalam, jadi tidak usah berpikir seperti itu” lagi-lagi suara Satria yang kudengar sebelum aku sempat mengatakan apapun. Oh, apa dia seorang cenayang? yang bisa membaca pikiranku? Tidak. Orang bodoh pun tau kalau dia tidak memiliki kemampuan seperti itu.


“kamu nyaman ya dalam posisi begini? maaf, aku harus kerja” ucap Satria lagi-lagi menggodaku. Aku langsung refleks berusaha untuk lepas dari pelukan Satria saat mendengar ejekan Satria. 


Oke, Satria emang ngeselin! Tadi dia sendiri yang bilang harus kerja. Tapi, sekarang siapa coba yang malah nahan aku makin kuat dalam pelukannya?


“lepasin gak?!” ucapku ketus. Aku masih berusaha lepas dari pelukannya.


“masih pagi. Gak usah ketus-ketus sama suami” balas Satria dengan datar.


“semalem kamu mimpi buruk. Inget gak sih? Bohong banget kalo gak inget, orang kamu sempet bangun” sambungnya Satria. Aku berhenti melakukan aksi berontakku pada Satria. Dengan perlahan aku menarik nafasku dalam-dalam. Otakku selalu bekerja lebih lambat saat bangun tidur. Perlahan aku mulai ingat, kilasan tentang mimpiku semalam walau tidak sepenuhnya.


Aku merasa mimpiku semalam sama seperti mimpiku dimalam sebelumnya. Tentang masa lalu yang bersangkutan dengan pria bernama Julian yang ingin kuenyahkan dari gulungan memoriku, menenggelamkannya ke dasar tumpukan kertas tidak berguna dalam ingatanku.


“mmm.. maaf, udah ngerepotin semalem” ucapku setelah beberapa menit hening. Satria menarik nafasnya, aku bisa merasakan dadanya naik turun dengan cepat. Yang kurasakan setelahnya adalah pelukan Satria kembali mengerat padaku.


“Satria…..”


“biarpun aku suami yang menikah sama kamu karena kotrak, tetap pada kedudukannya aku adalah suami kamu. Kalo ada apa-apa cerita, kamu gak harus menyembunyikan apapun dariku. Kita memang gak berhubungan cukup baik dari awal, tapi ayo kita perbaiki mulai sekarang seiring berjalannya waktu” Satria bicara tanpa beban sedikitpun, dengan nada tenang khas miliknya.


Aku tercengang, tidak bisa memikirkan apapun selain menemukan diriku yang terkejut dengan apa yang baru saja Satria katakan.


Perbaiki dengan seiring berjalannya waktu? Apa sebenarnya maksud Satria?


***

__ADS_1


Seperti langit mendung yang tiba-tiba berubah menjadi cerah. Seperti itulah hubunganku dengan Satria sekarang, berubah drastis. Kadang aku masih sempat berpikir tidak percaya dengan apa yang telah terjadi dalam hubungan pernikahan selama dua minggu lebih ini. Satria banyak berubah, dia menjadi lebih hangat, peduli, banyak bicara dan selalu memperhatikan apapun tentangku. Sungguh aneh rasanya, tapi otakku tidak merasakan penolakan sama sekali.


Semuanya berjalan normal, aku dan Satria layaknya sepasang suami istri yang bahagia. Aku menunggu Satria pulang dari kantor setiap hari dengan perasaan yang sungguh tidak bisa diartikan. Setiap hari dari pagi hingga sore aku menghabiskan waktu untuk mengerjakan tesis yang kumulai awal minggu kemarin. Terkadang aku belajar memasak untuk mengisi waktu luang menunggu Satria pulang. Ini terasa menyenangkan bukan? Pernikahan yang berjalan sebagaimana mestinya. Kecuali, bagaimana cara bisa terjadinya pernikahan ini.


“Meisha?”


Aku menoleh “ya?” sahutku. Buru-buru aku bangkit dari kursiku, bergegas keluar kamar dan menuruni anak tangga untuk menhampiri Satria yang baru saja memanggilku. Dia sudah pulang.


“siapa ya” ucapku dengan sebelah alis yang menaik, menggodanya karena Satria terlihat lemas.


Satria tersenyum. Senyum yang bisa aku artikan dengan perasaan lelah bercampur lega.


“suami kamu” Satria menjawab sembari mengayunkan tangannya pada kepalaku, mengacak rambutku pelan.


Tidak ada satupun diantara kami berdua yang mulai bicara, hening. Tapi anehnya, aku merasa sangat nyaman dengan keheningan yang mendominasi. Mata Satria terpejam, dia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Dari samping aku bisa melihat dengan jelas bahwa Tuhan telah memberinya ketampanan yang luar biasa. Aku tersenyum sendiri.


Dengan pelan aku mengangkat tanganku, mengendurkan simpul dasi yang terlihat mencekik lehernya. Dengan hati-hati aku melepaskan dasi tersebut, takut menganggunya. Jas yang Satria pakai sudah lebih dulu dia lepaskan dan disampirkan di lengan sofa. Aku membuka kancing lengan kemeja Satria kemudia menggulungnya sampai ke siku, mengulanginya pada lengan kemejanya yang lain.


“kamu tidur?” tanyaku kembali duduk disamping Satria. Lagi, aku menikmati pemandangan wajah Satria yang hampir sempurna.


Satria mengerjap pelan, kemudian matanya terbuka secara perlahan. “aku capek” jawabnya singkat. Mata Satria tampak merah karena lelah, aku terseyum samar.


“namanya juga kerja kan pasti capek. Aku ngerti” ucapku. Aku melipat dasinya yang ada dipangkuanku.


“mandi, terus makan. Baru habis itu kamu bisa tidur. Apa kamu udah makan?” lanjutku


Satria menggeleng pelan, kemudian menghela nafas. Matanya kembali terpejam. Kalau begini Satria benar-benar terlihat lebih tua enam tahun dari usianya, tapi herannya hal tersebut tidak mengurangi porsi tampan yang dimilikinya.


“kamu terlalu baik. Lebih tepatnya istri yang baik” tiba-tiba ucapan itu lolos dari bibir Satria, membuatku mengernyit. Ada perasaan tidak nyaman menunggu apa yang akan selanjutnya diucapkan Satria. 


“aku cuma berusaha jalanin tugasku seharushnya. Aku belajar dari gimana Bunda memperlakukan Ayah” ujarku pelan. Entah apa yang melintasi pikiran Satria, yang jelas pikiran itu membuatnya menggeleng.


“aku terlalu gak pantes, karena aku gak memperlakukan kamu dengan baik di awal” balas Satria. Segurat ekspresi muncul diwajah Satria yang sekarang menghadapku. Matanya fokus menatap padaku.

__ADS_1


Sepertinya aku terlalu senang dengan apa yang terbentuk diantara kami selama dua minggu lebih ini, sampai lupa seperti apa kami di awal. Tapi ternyata, pikiran itu yang mengusik Satria. Aku menggeleng dan bserusaha tersenyum untuk menenangkan suasana. Tanganku terangkat untuk menyentuh kedua alis Satria dengan jari tengah dan telunjukku, menghilangkan kerutan yang terbentuk diantara alis hitam itu.


“bukan masalah pantes atau nggak. Tapi emang seharusnya istri memperlakukan suaminya seperti itu. Bukan masalah pantes atau nggak. Tapi kamu sendiri kan yang bilang untuk kita memperbaiki semua ini dengan seiring berjalannya waktu?”


“aku udah berusaha melangkah, memperbaiki kelakuanku dan berusaha melakukan yang terbaik sebagai istri. Apa yang nggak pamtes? Kamu suami aku. Aku istri kamu, udah seharusnya aku memperlakukan kamu dengan baik. Mengabdi dengan tulus sama kamu. See? Sederhana dan benar” lanjutku akhirnya.


Satria diam tak mengatakan apapun, dia malah menarik nafasnya dan menarikku dalam pelukannya. Hangat, itu yang aku rasakan setiap kali Satria memelukku dengan kedua lengannya yang kuat.


“kalo aja kamu tau sebesar apa keinginan aku buat lebih untuk menyentuh kamu…” Satria memulai ucapannya saat aku mulai melepas pelukannya.


“tapi aku harus berpikir jauh kedepan. Gimana nanti setelah kontrak pernikahan ini habis, dan aku harus ngelepas kamu. Itu berarti kamu bakal lanjutin hidup kamu yang jelas gak bakal ada aku di dalamnya. Siapa yang tau kalo nantinya kamu bakal nikah sama cowok yang kamu cintai. Dan, aku harus tetep jaga kamu tetap ‘utuh’ sampe waktu itu tiba. Biarpun, kadang aku hampir nyerah sama hasratku sendiri”


Tercengang. Jujur aku gak tau harus ngomong apa untuk menanggapi semua ucapan Satria. Konyol memang, tapi mataku memanas, antara haru dan sulit dipercaya. Satria berpikir sampai kesana? Apa Satria hanya menganggap ini sebatas pernikahan kontrak? Dan gak ada sedikitpun cinta?


Lalu aku bagaimana? Perasaan ini?


“tapi bukan berarti aku mau ngelepasin kamu untuk pria lain” ucap Satria sebelum menarik nafasnya dileherku.


Dia… menginginkanku.


“hm…” 


Tidak ada lagi yang aku katakan, jujur aku binggung harus biacara apa. Sore ini rasanya berbeda dengan sore-sore sebelumnya. Satria melepas pelukannya padaku, kemudian membaringkan tubuhnya dan menaruh kepalanya diatas pangkuanku. Satria menarik satu tanganku untuk digenggam.


“rasanya nyaman..” Satria memejamkan matanya.


“rasanya nyaman, pas pulang dan tau kamu lagi nunggu aku. Tapi, aku takut saat aku melangkahi pintu dan gak ngeliat kamu ada dibaliknya” lanjut Satria pelan, suaranya mulai serak.


Aku menunduk, “aku bakal ada setiap kamu pulang kerumah” ucapku kemudian mencium pelipisnya untuk beberapa saat. Satria mengeratkan genggamannya padaku, nafasnya perlahan teratur dan tenang saat aku mengangkat kepalaku. 


Aku mengusapkan jemariku yang bebas ke kepalanya, menyisir rambutnya lembut dan membiarkannya terlelap di pangkuanku.


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sudah dilewati Satria hari ini, apa yang sudah dihadapi Satria dan apa yang sudah dijalani Satria hari ini. Aku tidak tahu sama sekali tentang itu. Yang aku tahu, dia akan pulang padaku saat senja telah tiba.

__ADS_1


__ADS_2