Posessive Husband

Posessive Husband
PH-5


__ADS_3

Dia, aku masih memiliki rasa takut dan sakit terhadapnya. Masa lalu yang bahkan tidak ingin aku ingat lagi. Masa lalu yang membuatku merasa gagal dalam penantian. Masa lalu mimipi burukku tiga tahun lalu.


“Ranielle aku tau kamu denger kan?” dia berucap lagi, entah untuk alasan apa tanganku lagi-lagi bergetar. Aku menurukan ponselku dari telinga, tanpa ragu memencet tanda merah yang berarti akhiri panggilan pada layar.


 


Jantungku berdetak tak karuan, keringat dingin terasa membasahi kulitku tiba-tiba. Sudah tiga tahun lamanya aku tidak pernah mengingat kenangan buruk itu lagi, bahkan aku tidak pernah mengira dia akan muncul lagi. Aku pikir Julian sudah benar-benar pergi dari kehidupanku sepenuhnya. Bahkan aku tidak pernah berpikir bahwa kenyataan akan membuatnya kembali hadir, atau tepatnya aku tidak pernah berpikir bahwa kenyataan itu memang ada.


Seketika aku langsung berpikir kalau Julian akan datang dan melakukan hal itu lagi. Aku merasa takut sejadi-jadinya. Tidak. Julian tidak boleh menemuiku.


Dengan buru-buru aku melangkah keluar dapur menuju ayunan dekat kolam. Sudah tidak ada lagi rasa lapar yang menuntutku. Langkahku bisa dibilang cukup cepat terkesan tak terarah dan pandanganku tidak fokus sampai akhirnya kakiku terpeleset dan aku jatuh ke kolam renang. Gila, memang gila. Aku tidak bisa bahkan tidak suka berenang walaupun aku menyukai suasan tepi kolam yang damai.


Aku pasrah, berteriak untuk minta tolong juga tidak ada gunanya. Tidak seorangpun akan menolongku. Pandanganku kabur dan mataku terasa berat yang dibarengi suara tubuh seseorang yang turun ke kolam untuk menyelematkanku.


“wow!” seru Satria sambil menggiring tubuhku yang limbung ke tepi kolam. Satria menaikkan satu alisnya seolah bertanya-tanya ada apa.


“udah tau gabisa renang masih aja mau nyebur. Gabut ya?” ucapnya dengan nada mengejek sambil memegangi kedua lenganku, menatapku meminta penjelasan.


“ma-maaf” ujarku. Oh yaampun aku gemetar sejadi-jadinya membuat ucapanaku teputus. 


“kamu kenapa?” tanya Satria sambil menautkan satu alisnya meminta penjelasan. Aku melepaskan diri dari pegangannya, nafasku yang tadinya memburu tak beraturan sekarang perlahan mulai teratur.


“nggak aku nggak papa” jawabku singkat. Tapi sepertinya Satria kurang puas dengan jawabanku.


“oh jadi bener ya kamu lagi gabut makanya nyebur”


Hah? aku merasa binggung untuk menjawab pertanyaan konyolnya. Gabut? lagi gabut, iya aku lagi gabut makanya aku pengen nyebur diri ke kolam renang biar ada kerjaan. Masa bodoh. Yang aku tahu bahwa Julian tidak boleh menemuiku, menemukan aku disini tidak boleh. Tapi bukankan Julian hanya tahu bahwa aku tinggal dirumah orang tuaku bukan, dan juga dia tidak tahu bahwa aku sudah menikah. Berarti aku aman bukan?


“Meis—” ucapan Satria terputus.


“kamu baru pulang?” tanyaku berusaha mengalihkan perhatiannya. Satria kembali menautkan satu alisnya, dan mengangkan tubuhnya.


“kamu liat aku disini barusan kan?” jawabnya santau, setelah itu berjalan masuk kedalam rumah dan meninggalkan aku sendirian di tepi kolam dengan keadaan gemetar karena kedinginan. 


Aku merutuki Satria yang lagi-lagi tidak bisa berperikemanusiaan kepadaku yang mempunyai gelar ‘istri-sahnya’. Dan bodohnya aku juga merutuki diriku sendiri karena berharap Satria akan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh pasangan sewajarnya. Tapi itu tadi kan hanya basa-basi, harusnya dia mengerti kan.

__ADS_1


Aku berdiri, berbalik dan menuju kamar untuk mengambil handuk dan membersihkan diri sekalian. Dan lagi-lagi aku dibuat kesal oleh Satria yang mengejekku saat aku dalam keadaan basah kuyup seperti ini. Ah sungguh menyebalkan.


“makanya kalo gabut itu baca buku aja jangan nyebur-nyebur gak jelas gitu”


Aku menoleh kearah Satria dan memberinya tatapan tajam mengisyaratkannya untuk diam, dan ia memilih diam lalu melewatiku keluar. Dan lagi-lagi dia tertawa mengejekku. Selalu membuatku kesal. 


Kejadian tadi pagi telah berlalu sejak aku mendapatkan panggilan dari Julian, aku memutuskan untuk tidak mengingatnya dan untungnya Julian juga tidak menghubungiku lagi. Aku berusaha merasa aman dan tidak memikirkan resiko apapun yang akan aku dapatkan.


Sejak kejadian Satria menyelamatkan aku dari kolam renang hari itu, hubunganku dengan Satria kembali baik-baik saja. Aku dan Satria mulai berbicara sesekali dan seperti biasa Satria selalu melemparkan ejekan-ejekan konyolnya kepadaku, huh sungguh menyebalkan. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini aku merindukan mulut konyol Satria itu. 


Aku sedang menyisir rambutku saat Satria memasuki kamar. Aku hanya diam, meliriknya dari cermin dan kembali sibuk dengan rambut panjangku yang basah.


“apa?” tanyaku saat Satria yang duduk di tepi kasur memperhatikanku dengan sorot mata dan wajah yang penasaran.


“aku masih penasaran kenapa kamu bisa hampir tenggelam tadi. Kamu tertekan dengan pernikahan kontrak ini?” tanyanya. Aku memutar tubuhku mengahadapnya, menatapnya sambil mengernyit. Apa Satria termasuk jenis spesies yang suka penasaran?


 


“nggak. Siapa juga yang tertekan. Aku….”


“kepleset? buru-buru?” balasnya lagi. Damn! bagiku Satria sudah seperti sedang mengintrogasi anak sekolah yang ketahuan pacaran oleh orang tuanya. Sungguh, aku membenci situasi seperti ini.


Aku menghela nafas panjang sebelum membalasanya.


“ya buru-buru pengen cepet duduk di ayunan” jawabku asal.


Satria mendegus kesal dengan balasanku sepertinya Satria kecewa dan tidak puas denngan jawabanku. Satria berbaring menjatuhkan tubuhnya di kasur, memejamkan matanya dan aku sangat yakin dia sedang tidak benar-benar tidur.


“gamau ngucapin makasih gitu habis ditolongin” ucap Satria dengan mata tertutup tanpa merubah posisinya.


Aku menghela nafas kasar dan berpikir sejenak apa dia benar-benar pria yang sombong. Kurutuki Satria dalam hati, sebenarnya dia ikhlas atau tidak sudah menyelematkan aku tadi.


“huh! dasar pria tua yang suka pamer” gumamku dalam hati


Tapi aku juga harusnya merasa berterimaksih terhadap Satria karena telah menyelamatkan aku dari kolam renang itu, kalau Satria tidak datang maka mana mungkin aku masih bisa disini. Entah aku mendapat bisikan darimana hingga pada akhirnya aku bisa berpikir dengan jernih bahwa akulah yang tidak tahu diri karena lupa mengucapkan rasa terima kasih pada Satria.

__ADS_1


“hm.. Iya, makasih udah nolongin aku”


“makasih aja anak kecil juga bisa” jawabnya datar.


Hah? sebenarnya apa yang diinginkan oleh Satria? tiba-tiba aku merasa bahwa yang tidak tahu diri adalah Satria, aku sedikit menyesal karena telah mengucapkan terimakasih padanya kalaupun pada akhirnya akan dibalas seperti itu.


“sabar-sabar Meisha, inget kamu udah ditolong” kataku sendiri dalam hati sambil mengelus dadaku, menahan gejolak emosi dalam diriku.


“terus aku harus kasih kamu hadiah sebagai rasa terimakasihku?” jawabku setengah mengeja dan penuh penekanan, supaya Satria lebih paham.


“yap,cerdas sekali”


“mau apa?”


“kamu”


Deg.


Apa? Satria minta aku? jangan-jangan Satria mau minta hak-nya dariku. Aku meneguk ludahku kasar mendegar ucapan Satria, pikiranku was-was dan tak karuan, sekarang aku harus bagaimana? kabur dan lari dari rumah atau. Tidak, bagaimanapun juga Satria adalah suamiku dan dia berhak mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan.


“…….” aku masih diam dan tak bergeming


“pijitin aku sekarang”


“aku minta kamu pijitin aku sekarang”


Sontak ucapan Satria membuatku melongo sekaligus kaget. Lagi-lagi aku  harus merutuki diriku sendiri yang sudah sangat percaya bahwa Satria akan meminta hak-nya sebagia seorang suami didepanku, tapi nyatanya hanya memintaku untuk memijatnya. Huh, untung saja dugaanku kali ini salah.


“yang mana?” tanyaku pada Satria


“tangan,entah mengapa tanganku sedikit capek” katanya dengan mata yang masih terpejam dan posisi tak berubah sedikitpun.


Tanpa penolakan dan basa-basi, aku langsung memijat tangan Satria. Walaupun aku tidak pernah memjiat seseorang sebelumnya, tapi apa susahnya hanya memijat saja aku juga bisa.


Dua puluh menit telah berlalu, kedua tangan Satria telah aku pijat secara rata dan pelan-pelan. Anehnya, saat aku memijat tangannya, dia tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Apa pijatanku tidak enak? sampai sampai mulutnya saja enggan untuk berkata-kata. Satria dengan posisi sama seperti tadi, tapi kali ini aku yakin dia sudah tidur sungguhan.

__ADS_1


Aku merebahkan tubuhku disisi sebelah kasur yang kosong, walaupun hanya memijat kedua tangan Satria tapi tanganku juga ikut capek juga. Aku masih enggan tidur, mataku menatap langit-langit kamar yang gelap. Aku tidak bisa menghilangkan rasa khawatirku terhadap Julian, aku takut Julian akan kembali menemukanku.


__ADS_2