Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Putri Safir


__ADS_3

"Kakaaakk!! Cepatlah! Aku udah gak tahan!" Katanya sambil menekan perutnya dengan tangan kiri sedang tangannya yang satunya lagi memukul pintu toilet dengan keras.


"Iya-iya!"


Orang yang sedang duduk santai di toilet sementara adiknya sedang berjuang untuk tidak mengompol ini bernama Langit. Dia pria aneh yang kalau berbicara, akan terus terang tanpa menginjak rem kecuali kalau memang tidak akrab.


Seperti kejadian kemarin bersama teman perempuannya di kelasnya.


"Hei, selamat pagi." Sapa seorang gadis.


"Bra mu ganti, Diana? Biasanya kan warna hita-"


Kalimat itu tidak pernah selesai karena Langit kemudian dibuat tidak pernah bisa menyinggung bra perempuan lagi selamanya. Dengan pukulan telak di perutnya, lebih tepatnya bagian bawah dari perutnya.


Saat Diana ditanyai oleh guru konseling, "Kenapa kamu pukul dia?" lalu dia menjawab,


"Dia melakukan pelecehan padaku."


Seketika itu juga dia bebas dan Langit dapat hukuman tambahan.


Kembali lagi ke masa sekarang, masa di mana adiknya Langit akhirnya pergi keluar menuju kamar sebelah.


"Kakaakk! Tolong aku!" Katanya sambil teriak-teriak nyaris menangis.


Penghuni kamar sebelah membuka pintunya, wajahnya terlihat panik karena Samudra meminta tolong sambil berteriak kencang.


"Ada apa?"


"Pinjam toilet, boleh kan? Tolong boleh deh ya! Permisi, kak!" Dia masuk saja padahal belum ada persetujuan dari empunya toilet yang sedang kebingungan.


'Memangnya ada apa sih?' Dia bicara sendiri.


Karena bingung, akhirnya dia masuk ke apartemen milik Langit dan mencari tahu apa yang membuat Samudra nyaris menangis. Oh ya, adiknya Langit itu bernama Samudra. Dia gadis yang baik, dan itu saja.


"Halo, Langit! Kamu di toilet kan? Bisa kau keluar?" Panggilnya dengan agak keras.


Tidak ada jawaban dari Langit, dia akhirnya pergi ke depan toilet, lalu mencoba mengetuk pintunya.


'Hmm, tidak ada jawaban. Eh? Tidak dikunci? Apa aku buka sekalian aja, ya? Buka gak ya? Buka deh' Dia bergulat dengan pikirannya sendiri. Setiap perempuan akan merasa cemas, khawatir, dan takut serta malu apabila mereka sedang mencoba melihat ruangan yang dipenuhi hal-hal berbau kelelakian. Apalagi, ini 'kan toilet.


"Kosong? Haah."


Setelah mengetahui toiletnya kosong, lalu menghela nafas, dia akhirnya menutup pintu toiletnya dan berjalan ke ruang tengah. Saat berjalan, dia merasakan aura aneh menerpa bagian belakangnya, aura ini memberikan perasaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, namun penjelasannya, itu seperti sedang dilihat oleh seseorang yang keberadaannya tidak bisa ditentukan. Seperti misalnya seorang gadis merasa dia dilihat oleh seorang cowok di sebuah kerumunan, karena posisi si cowok tidak bisa ditentukan, perasaan ini memberikan perasaan khawatir pada si gadis sehingga dia harus menemukan keberadaan cowok tersebut untuk mengatasi kekhawatirannya.


Karena itulah, dia mencoba berbalik dan melirik toilet.


Toiletnya terbuka sedikit. Mungkin hanya sekitar 6 sentimeter. Padahal, dia sangat yakin bahwa dia menutup pintunya dengan rapat sampai berbunyi cklek. Namun apa yang terlihat di antara jarak di pintu itu, membuatnya takut. Dia melihat dua mata sedang mengintipnya pergi ke ruang tengah. Kedua mata itu sangat dia yakini milik seseorang, namun dia tidak melihat adanya keberadaan individu dengan tingkat intelegensi setara manusia lain selain dirinya yang hanya melihat toilet seluas 2 x 3 meter tanpa adanya tanda kehidupan satupun.


Tiba-tiba pintu itu menutup dengan keras, meninggalkan horror dan teror di benaknya. Sekarang pikirannya kosong, dan dirinya hanya memiliki 2 pilihan; pergi dari apartemen ini atau pindah ke apartemen lain.


Akhirnya dia memilih meninggalkan ruangan apartemen ini daripada meninggalkan seluruh gedung.


Dia membuka pintu lalu menutupnya dari luar. Tangannya masih menggenggam knop pintu sambil gemetaran. Samudra sudah selesai menggunakan toiletnya dan saat dia keluar dari apartemennya, dia bertemu dengannya.


"Oh, kukira pergi ke mana. Makasih ya, kak. Kukira aku akan mengompol."


"E-eh?! Oh! I-iya, kamu bisa pakai toiletku kapanpun kamu mau. Atau kau mau menginap di apartemenku, aku akan membolehkanmu. A-atau kau mau sekalian pindah dari apartemen ini ke apartemenku, kalau bisa kumoho-eh tidak. Pokoknya datanglah padaku kalau ada kejadian aneh." Katanya terbata-bata sambil melepaskan tangannya dari knop apartemen milik Samudra.


"Eh? Umm, terimakasih?" Samudra yang terheran-heran berjalan menuju pintu apartemennya dan membuka pintunya.


"Um, anu, Samudra? Apa kau yakin tidak mau ke apartemenku saja?" Tanyanya lagi.


"Eh? Ngapain? Seragamku kan di sini, kak. Aku sudah harus berangkat dengan kakakku atau aku akan terlambat." Jawab Samudra kebingungan dengan sikapnya.


"Ya! Ya-ya. Kakakmu, di mana dia?" Jawabnya seperti baru saja mengingat sesuatu sambil menggenggam erat kedua pundak Samudra.


"Di dalam lah kak." Jawab Samudra masih dengan keheranannya.


"Kakak kenapa sih? Aku bingung deh." Lanjutnya lagi sambil membuka knop pintu.


"Ah! Jangan, jangan buka pin-"


Samudra membuka pintunya tanpa mendengar perkataannya.


"Oh, kukira kakak terbang ke sekolah." Kata Langit sambil merapikan kerah seragamnya.


Lho, kok dia bisa ada di sini? Tadi kan gak ada siapa-siapa, pikirnya.


"Lalu, dia siapa, Samudra?" Lanjut Langit sambil memasang dasi kupu-kupunya.


"Oh, dia kak Senimorangkir Januri, cantik kan? Padahal dia cowok loh, kak." Jawab Samudra.


Langit menoleh seperti orang kaget. Mendengar adiknya mengatakan bahwa temannya itu adalah lelaki, itu berarti ada maksud tertentu.


Dengan adanya informasi tambahan seperti itu, berarti informasi itu menegaskan sesuatu yang salah kaprah hingga menjadi kebenaran sejati.


Dalam kasus ini, informasi tambahan bahwa Senimorangkir Januri adalah seorang lelaki menandakan banyak orang salah kaprah melihat dia sebagai perempuan. Maka, tindakan selanjutnya dari Langit adalah harus memastikan sendiri bahwa yang dikatakan oleh Samudra adalah benar adanya.


Langit memandanginya dalam, dari ujung rambut menuju ujung kaki. Rambut pendek lurus seperti lelaki biasanya, namun agak panjang sedikit. Matanya besar, tidak tajam dan terlihat polos, bahunya kecil, tangannya kurus, pinggangnya ramping, kakinya kurus, dan satu hal lagi yang harus dipastikan.


"Kamu, benarkah seorang lelaki?"


"E-eh, anu, i-iya, aku cowok."


Dia menangkupkan tangan di kedua dadanya, kakinya menutup rapat membentuk huruf X, wajahnya tertunduk malu-malu, dan suaranya sangat halus.


"Oke, sepertinya aku sudah paham. Uuhh, Senimorangkir Januri?"


"A-ah! I-iya."


"Kakak! Jangan bikin kakak ini kebingungan dong."


"Kamu memanggilnya kakak?" Jawab Langit menggunakan pertanyaan.


"Eh, aku belum tau harus manggil apa ke kakak, jadi ya kupanggil kakak saja." Jawab Samudra sambil pergi ke kamarnya.


"E-eh, hehehe." Senimorangkir Januri tertawa sambil malu-malu, kulitnya yang putih bersih memerah di bagian wajah.


"Simorangkir Januri, ya. Hmm." Langit berbicara sendiri.


"Eh, i-iya." Yang dibicarakan mengira Langit bicara dengannya. Menyadari Langit sedang melipat tangannya dan memejamkan mata, Senimorangkir baru sadar dan menjadi tambah malu.


"Bagaimana kalau Senja? Boleh kupanggil kamu Senja?" Langit membuka kedua matanya dan melepaskan tangannya yang tadinya terlipat di dada.


"Eh, boleh. Tapi, Senja 'kan bukan namaku."


"Oh! Itu mungkin 'Sen' dari Senimorangkir dan 'Ja' dari Januri." Jawab Samudra yang baru keluar dari kamarnya dengan keadaan sudah berseragam rapi.


"Adikku memang berpikir sangat cepat. Hal ini seperti remahan roti untuknya." Respon Langit sambil memasang lensa kontak dan mengantongi dompet di saku belakang bersama sebuah pulpen yang dijepitkan di catatan kecil.


"Kau tidak bersiap? Kelasmu jam berapa? Ini sudah jam 06:49. Perjalanan memakan waktu beberapa belas menit dengan naik sepeda."


"O-oh, iya-iya. Sekolah ya. Aku mau siap-siap dulu."


"Kau sekolah di mana? Sepertinya kau orang baru." Tanya Langit sambil memasang kaus kaki.


"Iya, aku penghuni baru di apartemen sebelah. Aku baru sampai semalam, jadi aku-"


"Sekolahmu di mana?" Potong Langit


"E-eh! Ah, itu. Aku sekolah di SMA Negeri Pertanjang, aku tahun kedua."


Langit mengangguk sambil kemudian berjalan menuju rak sepatu dekat pintu luar.


"Kakak berangkat bersama kami saja. Kami naik sepeda angin." Kata Samudra yang sedang barusan selesai memasang kaus kaki.


"Eh? Nggak apa-apa?"

__ADS_1


"Kau mau aku memakaikan seragam padamu?" Jawab Langit.


"Ah, anu, tunggu sebentar." Jawab Senja sambil berlari keluar dan kembali masuk ke apartemennya.


Langit menatap Samudra yang baru saja akan memakai sepatunya. Samudra yang merasa dirinya sedang ditatap menoleh ke kakaknya.


Langit tersenyum, begitu juga Samudra.


"Dia manis." Kata Langit.


"Tapi dia cowok." Jawab Samudra.


"Karena itu, mungkin dia akan cocok denganmu."


"Maksud kakak?" Samudra menghentikan aktifitas paginya sebelum berangkat sekolah bernama memasang sepatu.


Langit memasangkan sepatu adiknya lalu sambil mengikatnya, dia melanjutkan perbincangan ringan ini.


"Kau tidak punya pacar, 'kan? Mungkin Senja cocok denganmu."


"Hmm, setelah dipikir-pikir kakak ada benernya juga yah. Dia cantik, tapi dia cowok."


"Bukannya itu cocok dengan seleramu?" Jawab Langit yang sudah mengikat tali sepatu adiknya.


"Wow, terimakasih. Nih hadiah kecil."


Mendengar kata hadiah, Langit reflex untuk menoleh dan saat dia menoleh, Samudra memberi kecupan di pipi Langit.


"Biasanya kau tidak bisa meraih apapun setinggi ini dengan bibirmu." Kata Langit sambil menunjuk pipinya yang barusan dikecup Samudra.


"Iya-iya tau aku ini pendek, dasar gardu komplek." Jawab Samudra membuka pintu dan pergi menuju lift bersama kakaknya.


Setelah menekan tombol untuk turun, mereka berdua harus menunggu beberapa saat dan dalam waktu sesaat itu, Senja muncul dari apartemennya.


"Oh! Hei! Tunggu aku!" Katanya sambil berlarian di koridor.


Senja sampai di depan lift dengan nafas terengah-engah. Dia mengambil nafas dengan kedua tangannya memegang kedua lututnya.


"Kalian mau ninggalin aku abis ngajakin aku berangkat bareng kalian?" Kata Senja sambil menatap Langit.


"Apa maksudmu? Lift ini sangat lama. Maksudku tadi itu, kutunggu kau sambil menunggu lift." Jawab Langit mengeles.


"Ah, maafkan aku." Kata Senja sambil menundukkan kepala dan badannya sedikit.


"Kakak jangan khawatir, gak ada yang ninggalin kakak kok." Kata Samudra sambil mengangkat pundak Senja dan merapikan kerahnya yang sebenarnya tidak berantakan lalu menepuk dadanya.


"Lain kali, kakak ga perlu lari kayak gitu lagi. Kalau jatuh nanti kan repot, bikin aku khawatir juga."


Liftnya sudah sampai


***


Sesampainya mereka di sekolah, mereka memarkir sepedanya masing-masing. Senja agak kebingungan karena dia belum pernah ke sekolah ini sebelumnya.


Meski sehari sebelumnya dia sudah kemari, dia hanya datang untuk melihat-lihat tempat di mana dia akan menghabiskan sisa 2 tahun kehidupan SMA-nya, tidak termasuk tempat parkir, bahkan toilet.


"Hei, tempat parkirnya di sini." Kata Langit sambil berjalan menuntun sepedanya, dan Senja mengikutinya ke sebelah lapangan basket.


Sekolah ini sangat besar, gerbang depannya yang menghadap ke barat saja cukup untuk dilewati 2 truk batu. Ketika kau masuk dari gerbang depan, kau akan langsung melihat lapangan basket yang dirangkap menjadi lapangan futsal di sebelah kiri, lalu kau juga bisa melihat lapangan voli di sebelah kanan.


Lebih masuk ke dalam, kau akan melihat gedung utama yang memiliki 4 lantai dan terpapar sinar matahari dengan baik. Gedung kelas tiga lantai terletak di sebelah selatan gedung utama, diikuti gedung kesenian di sebelahnya, lalu kolam renang tepat di belakang gedung seni.


Di sebelah utara gedung utama, ada gedung kelas yang juga tiga lantai, bersebelahan bersama gedung sains dan terdapat lapangan tenis di belakangnya.


"Kau adalah siswi baru, Senja. Kurasa kau sebaiknya pergi ke ruang guru. Ruangannya ada di lantai pertama gedung utama, kau tidak akan melewatkannya."


"Iya, terimakasih, Langit. Kamu juga, Samudra." Jawabnya sambil membungkukkan badan.


"Oh, Senja. Kau sudah dapat guru pembimbing?" Tanya Langit lagi.


Langit menggunakan dagunya untuk menunjuk koridor yang mengarah ke gedung utama.


Seakan mengusir Senja pergi dari hadapannya.


Senja yang sakit hati langsung berbalik dengan senyum kecut, lalu pergi meninggalkan mereka.


"Apa? Kau mau mengikutiku ke kelasku?"


"Ah, nggak kok. Aku mau ke kelas 4C, 'kan sejalan sampai sana." Jawab Samudra.


Langit diam saja selama mereka berjalan, orang-orang lebih banyak melempar senyum kepada Langit daripada sebaliknya, karena mereka tidak ingin berada dalam masalah yang melibatkan Langit di dalamnya.


Namun meski begitu, para perempuan menyukai sikapnya karena menurut mereka sikap Langit itu agak misterius dan sangat menarik untuk didekati.


Klise, tapi memang begitu keadaannya. Sedangkan para lelaki, banyak yang iri padanya hingga sampai ke tahap benci. Ada juga yang biasa saja dan sisanya menaruh hormat pada Langit.


Ada kejadian saat dia pertama kali diterima di tahun pertama sebagai siswa pindahan pertengahan tahun. Dia langsung dikagumi para kakak kelas dan teman-teman kelasnya, tentu saja semuanya perempuan. Melihat hal ini, beberapa lelaki benci dan marah padanya, hingga mencegatnya di jalan Langit pulang sekolah.


"Uhh, selamat sore?"


"Sialan, sok resmi banget sih jadi orang." Jawab salah satu siswa yang masih berseragam dan membawa pentungan bisbol.


"Kau banyak lagak emang. Makanya mau kuajarin caranya jadi anak santun." Kata satunya lagi yang membawa pedang kayu untuk latihan kendo.


"Nah, itu betul itu." Kata yang lain dengan tongkat kayu.


"Kalian cuma berlima?" Tanya Langit sambil melepaskan seragamnya dan memasukkannya ke dalam tas miliknya.


Semua yang ada di sana saling tatap, mereka heran dengan pertanyaan itu.


"Nurut aja, sialan. Kami ini berlima. Kau Cuma sendiri bisa apa?"


Bisa apa? Pertanyaan itu sangat mengusik harga diri Langit. Lalu dia berdiri diam dan menapakkan kaki kanannya sedikit ke belakang.


"Bawa dia ke sini." Perintah seorang siswa yang sepertinya pimpinan mereka.


"Kamu ya?" Tanya Langit.


"Hah apa y-"


Langit menerjang ke depan, memberikan tonjokkan keras ke tenggorokan siswa yang tadi memberi perintah.


Anak yang ditonjok tadi langsung sesak nafas, namun sebelum semua bawahannya bereaksi, Langit sudah mencengkeram kepala si ketua dengan kedua tangannya lalu menggunakan lutut untuk menghancurkan wajahnya.


Terakhir, dia menyikut kepala si ketua dari atas dengan sangat keras. Si ketua jatuh pingsan.


"Kalian juga mau?" Tanya Langit.


Semua anak ketakukan begitu tahu orang terkuat di kelompok mereka jatuh pingsan dengan mudah.


Tidak perlu menunggu jawaban mereka, Langit menerjang salah satu dari mereka, memutar lengan dan memukul siku mereka dengan sikunya dari atas hingga dia mengalami patah tulang.


"Aaaahhhh!" Teriaknya.


'Ya, tentu saja sakit.' Pikir Langit.


Anak yang lain berlarian, Langit tidak membiarkan mereka pergi. Dia mengejar dan menghajar mereka satu per satu. Ada yang sikunya patah, rusuknya retak, bahunya patah, persendian bergeser, dan banyak lagi jenis cedera yang diberikan.


[Dear owner, this phone is being called by a identified person of yours, this ringtone will be silent if yo-]


Ponselnya berdering keras dengan nada dering yang seperti pemberitahuan di bandara. Dia meraih ponselnya dan melihat nomor adiknya.


Dengan nama kontak 'Samudraku'.


"Ada apa? Oh sebentar lagi juga sampai ke jalan utama. Ya, sepedaku pindah posisi, agak bingung barusan. Oke, baiklah. Tunggu aku."


Ternyata itu tadi adiknya, dan dia sudah menunggu di rumah. Tadi sebelum pulang, Langit berkata bahwa dia harus menemui seseorang setelah jam pulang sekolah, dan itu hanyalah seorang gadis yang mencoba menyatakan cinta padanya.

__ADS_1


"A-aku, aku jatuh cinta padamu. Maukah kau jadi pacarku?" Kata gadis itu.


'Ah, anak ini perjuangannya berat. Dia sangat berani, juga sangat total dalam menggunakan make up, tubuhnya mungil, wajahnya manis, dan suaranya lembut.' Pikir Langit


'Tapi, aku bahkan tidak tahu dia hidup di sekitarku selama ini.' Pikirnya lagi.


"Kau tahu, aku tidak memiliki keinginan untuk menjadi pacar seseorang." Kata Langit membuat mata gadis itu berbinar-binar hendak menangis.


"Tapi setidaknya, kau bisa sangat akrab denganku."


"Aku ngerti kok, aku cuma ditolak kan?" Jawabnya sambil meneteskan air mata.


Langit sudah menduga hal ini, dan dia melihat jam tangan di tangan kirinya untuk memberitahu si gadis bahwa dia tidak peduli dengan segala alasannya.


"Aku ke kelas dulu, terimakasih sudah datang, Langit." Lanjut si gadis sambil berbalik lalu kemudian berlari.


Yah, seperti itulah kejadiannya. Hal itu berulang bersama dengan gadis yang berbeda-beda dari kelas, status sosial, atau beda sekolah.


Namun tidak ada satupun dari mereka yang diterima oleh Langit sehingga muncul gosip bahwa Langit tidak menyukai perempuan melainkan menyukai lelaki.


Mendengar gossip menyebar seperti itu, akhirnya Langit turun tangan dengan menegaskan bahwa dia seorang lelaki normal yang sedang tidak ingin berpacaran kepada siapapun yang dia temui.


Butuh waktu beberapa minggu untuk mengatasi masalah ini tapi saat ini, semua keadaan sudah terkendali.


Kembali ke masa sekarang, saat dimana Langit dan adiknya berjalan bersama di koridor lantai satu gedung C.


Langit dan Samudra berpisah di ujung koridor, karena kelas 1C tempat Langit belajar berada di ujung, namun Samudra harus naik ke lantai dua untuk sampai ke kelasnya.


"Sampai nanti." Kata Langit.


"Iya, sayang." Jawab Samudra.


Samudra memanggil Langit dengan sebutan 'sayang', hal ini sebenarnya menimbulkan beberapa masalah namun ajaibnya, tidak ada lagi gadis yang berusaha mendekati Langit lagi.


Dan Langit berterimakasih untuk itu.


Sebelum Langit masuk ke kelasnya yang ada di ujung, dia berjalan menuju ruang loker dan mengambil laptop, juga buku catatan kecil. Setelah itu, dia melanjutkan perjalanan menuju kelasnya.


"Selamat pagi, kelasku." Kata Langit sambil berjalan masuk.


"Pagi, Langit."


"Pagi, Lang."


"Halo, Langit."


Langit melempar senyum tipis pada mereka semua lalu duduk di tempatnya di tengah dekat pintu keluar sambil meletakkan laptop dan bukunya di meja.


"Kamu ga pernah bawa tas?" Tanya temannya yang duduk di depan Langit.


"Oh, tidak. Aku meletakkan buku-buku penting di loker, dan aku hanya perlu satu buku tugas untuk semua pelajaran."


"Bukannya malah ga nyaman ya?"


"Hm? Apa maksudmu? Aku berangkat dengan bahu ringan di pagi hari tidak seperti kalian yang membawa tas seberat 5 kilogram setiap hari."


"Ah hahaha, ya sudahlah." Dia menyerah untuk berdebat melawan Langit yang terkenal bisa mematahkan argumen seorang guru dari semua pelajaran.


"Oh ya. Kamu liat tv ga?" Tanya seorang gadis ke temannya.


Langit mengira itu cuma gosip biasa jadi dia memainkan ponselnya untuk melihat beberapa meme yang baru diposting di Reddhite.


"Oh, soal pembunuhan berantai itu kan? Ih, ngeri deh." Jawab temannya yang berkacamata. Langit menutup ponselnya dan mencoba mendengarkan obrolan yang menarik ini.


"Katanya udah ada 12 korban yang udah dimutilasi, dan 11 dilaporkan hilang, terakhir ada di kota Tanpel." Lanjut si gadis.


"Eh, kota Tanpel kan deket sama Pertanjang."


"Nah itu makanya, aku takut sekarang. Apalagi katanya dibunuhnya malem-malem." Kata si gadis yang sedang makan roti isi tanpa bicara apapun sejak tadi.


"Taruhan bakalan ada pembinaan dari polisi deh, atau paling nggak dari guru-guru."


Kriiiinng kriiiinng


Dua kali bel berbunyi, tanda kalau pelajaran sudah saatnya dimulai. Peraturan untuk guru di SMA Negeri Pertanjang adalah semua guru sudah harus berangkat ke kelas di mana dia akan mengajar tepat 5 menit sebelum bel berbunyi. Sehingga, semua guru tidak akan ada yang terlambat.


Pintu terbuka, seorang guru masuk ke kelas.


"Selamat pagi, anak-anak." Sapa seorang guru yang baru saja masuk ke kelas Langit.


"Selamat pagi, Asabi-sensei." Jawab semua orang di kelas.


Namanya adalah Vianji Basa. Anak-anak di sekolah ini akrab memanggilnya Asabi-sensei karena namanya lebih mudah dibaca dari belakang dengan lidah orang Republik Asia Serikat, daerah Basuki Raya.


Vianji juga tidak keberatan, karena menurutnya panggilan itu cocok untuknya yang suka bermain bersama anak kecil. Honorifik 'sensei' juga karena wajah Vianji yang sangat cantik dengan matanya yang sipit dan kulitnya yang begitu putih halus.


Siapapun akan salah mengira bahwa dia ini adalah orang Asia Timur.


"Hari ini, kita kedatangan siswi baru." Lanjut Vianji.


Semua anak bisik-bisik. Mempertanyakan bagaimana bisa ada seorang murid pindah sekolah tepat sebulan sebelum ujian tengah semester.


"Masuklah!" Kata Vianji menyuruh murid baru untuk masuk kelas.


Tipikal murid pindahan di semua cerita berlatar kehidupan sekolah.


Yaitu wajah yang cantik, manis, dan polos. Didukung dengan rambut yang hitam legam dan lebat. Dan juga kaki jenjang, pinggang ramping, dada proporsional, dan yang terakhir kulit putih bersih tanpa ada cacat sedikitpun.


"Selamat siang semuanya, namaku Sri Sudarsih Kusumaning Putri. Meskipun mataku sipit, dan terlihat bukan orang Republik, namun aku asli dari suku Jawa. Aku pindah ke sekolah ini karena pekerjaan ayahku. Salam kenal semua." Katanya dengan lancar tanpa ada rasa gugup sedikitpun.


"Waah, cantik banget. Kalau kamu bilang kamu dari Asia Timur aku bakal percaya kok." Kata seorang murid perempuan memberi komentar, diikuti tawa teman-temannya.


"Ahahahahaha, emang dia wajahnya Asia Timur banget! Mirip kayak Asabi-sensei." Jawab murid lain selagi semuanya masih tertawa.


"Hahaha, sudah sudah." Kata Asabi-sensei memotong momen tertawa murid-muridnya. "Kamu bisa duduk di kursi kosong di tengah di belakangnya Klaudia."


Dia mengangguk sambil sedikit membungkukkan badannya, lalu dia berjalan ke kursi yang dituju.


Murid-murid cowok sibuk menyapa si anak baru. Langit tidak mengatakan 'hai' atau sejenisnya, dia hanya tersenyum ramah pada si anak baru.


Entah kenapa, saat si anak baru balik tersenyum pada Langit, dia merasakan adanya sesuatu yang aneh. Aneh seperti, sesuatu yang seharusnya tidak ada pada seorang gadis berumur 16 tahun.


Tapi Langit tidak tahu apa itu, dan memilih diam.


"Halo." Kata si anak baru menyapa teman di bangku sebelah.


"Halo, namaku Efra Yosephine. Kamu bisa panggil aku Efra atau Efin." Jawab yang sedang ditanyai.


"Kalau begitu, kamu bisa panggil aku Putri." Jawab si anak baru. "Kalau namamu siapa?"


"Ah, aku Langit Safir." Jawab Langit.


"Oh, nama yang jarang. Aku suka namamu." Timpal Putri sambil mengatupkan kedua tangannya dan tersenyum cerah.


"Oke semua. Sebelum pelajaran dimulai, ibu mau memberi himbauan kepada kalian yang ikut klub, atau kegiatan lain sepulang sekolah." Kata Vianji.


Murid-murid lain berbisik-bisik apakah hal ini ada hubungannya dengan kasus pembunuhan berantai yang ada di tv.


"Berhati-hatilah saat pulang, usahakan kalian pulang bersama teman-teman dan jangan berjalan sendirian."


"Baik, bu." Jawab para murid bersamaan.


"Karena hasil ulangan harian kalian semua kemarin sangatlah buruk, ibu akan mengulangi materi yang sepertinya kalian tidak sanggup memahaminya." Kata Asabi-sensei sambil mengeluarkan beberapa lembar hasil ulangan para murid.


"Kalian banyak yang salah di nomor 6 dan 8, kita akan membahas habis untuk permasalahan ini."


"Yaaaahhhh."

__ADS_1


__ADS_2