
Langit dan adiknya berjalan keluar menuju hangar tempat pesawat mereka disiapkan, dia tidak perlu tahu pesawat apa yang akan membawa mereka, di mana akan lepas landas, atau hal lain semacam itu, dia hanya perlu melihat adakah salah satu anggota tim khusus yang sedang berkumpul dengan yang lain.
Dan tentu saja dia menemukan mereka sedang berkumpul di dekat pesawat kargo militer ukuran sedang Rayet 980.
"Archer, sudah selesai?" Tanya Panda.
"Seharusnya sudah, ayo berangkat." Jawab Langit sambil naik ke dalam pesawat.
"Baiklah, ayo masuk."
Pesawat Rayet yang ditumpangi Langit bersama anggota timnya sudah lepas landas, terbang lurus menuju Kyuto untuk penyelidikan lebih lanjut. Setelah pesawat Rayet yang ditumpangi Langit menghilang di garis cakrawala, Elish menutup atap pesawat tempur dengan dia di dalamnya menggunakan perlengkapan untuk pertempuran.
"Krrsscht-di sini pusat kontrol, mengijinkan skuad Norden untuk lepas landas, semoga beruntung."
Suara dari radio yang terpasang di helm Elish berhenti.
"Di sini kapten skuad Norden, memulai operasi pengusiran."
Empat pesawat Rattlesnake lepas landas menuju daerah laut kritis, yaitu perbatasan Laut Indiana.
Perbatasan Laut Indiana menjadi daerah rawan konflik karena negara Perserikatan Eropa Timur sedang berusaha mengklaim bahwa Laut India adalah milik mereka sesuai dengan rekam jejak sejarah, namun pihak Republik Asia Serikat tidak memberikannya begitu saja karena mereka memenangkan lautan ini dalam perang dunia ketiga.
"Di sini Elish, memisahkan diri dari skuad, memulai prosedur tahap 1."
"Di sini Ferret, kau diijinkan memulai tahap 1, semoga berhasil."
Elish bukanlah seorang pimpinan skuad, dia hanya seorang tentara angkatan udara yang memulai karirnya sejak 2 tahun lalu, dan memiliki rekam jejak yang istimewa. Dia berhasil menuntaskan misi patroli, mencegat pesawat angkatan udara negara lain yang masuk ke teritori Republik tanpa ijin, dan lain-lain.
Pelatihannya pun selesai hanya dalam 1 tahun, dan dia adalah seorang jenius seperti Langit.
"Dikonfirmasi satu armada kapal ikan dengan bendera Eropa Timur." Kata Elish di radio.
"Diijinkan untuk memusnahkan mereka."
"Diterima."
Elish langsung menukik dari ketinggian 3400 kaki di atas laut, dia menembakkan senapan mesin kaliber 50 milimeter tipe high-explosive yang berarti akan meledak begitu mengenai target, sangat cocok untuk melelehkan lempeng logam kapal dan membuatnya tenggelam dengan korban minimal.
Tidak cukup dengan satu tukikan, Elish kembali ke langit dan menukik, menembak dan menenggelamkan semua kapal ikan illegal sesuai dengan peraturan undang-undang yang ditetapkan pemerintahan.
"Di sini Elish, pemusnahan kapal ikan illegal selesai."
"Diterima Elish. Igris, lakukan kontak ke pasukan katak untuk mengamankan mereka."
"Di sini Igris, dimengerti."
Elish meninggikan pesawatnya setara dengan anggota skuadnya yang lain, 3400 kaki adalah ketinggian standar bagi seorang tentara angkatan udara.
'Hm? Apa ini?' Tanya Elish dalam hati saat melihat sesuatu yang mendekat dengan kecepatan tinggi menuju skuadnya melalui radar Doppler 3 dimensi.
"Dikonfirmasi 6 pesawat tak dikenal melalui radar Doppler, kecepatan 1720 mil per jam."
"Pusat kontrol, di sini skuad Norden, mendeteksi 6 pesawat tak dikena-"
Pesawat Ferret yang menjadi pemimpin skuad kali ini ditembak jatuh oleh pesawat lawan yang baru saja terlihat di radar.
"Ferret!" Elish berteriak di radio.
Elish melihat dengan mata kepala sendiri pesawat yang ditumpangi Ferret menukik ke lautan setelah mesinnya meledak. Pesawat-pesawat tempur tak dikenal itu meninggikan ketinggan dan menghilang di atas awan.
"Di sini pusat kontrol, kepada Ferret, mohon diulang."
"Di sini pusat kontrol, Ferret coba ulang."
"Ferret, jawab."
"Di sini Iron, Ferret ditembak jatuh, meminta ijin melawan balik." Kata anggota skuad bernama Iron yang masih selamat.
"Diterima, Iron, mohon tahan mereka selama 920 detik hingga bala bantuan datang."
'Sialan, 920 detik itu cukup buat pergi ke supermarket, beli mie instan, lalu kembali pulang.' Pikir Elish sambil bermanuver mengikuti Iron dan Phoenix yang bertolak menuju teritori Republik Asia Serikat.
"Di sini Phoenix, ada cara mengalahkan mereka?"
"Seharusnya ada, kulihat Ferret jatuh dengan proyektil non-misil, seharusnya mereka hanya punya senapan mesin." Jawab Elish.
"Naikkan ketinggian, kita akan bertarung di atas awan." Perintah Iron kepada yang lain.
"Siap."
"Dimengerti."
Elish dan lainnya menaikkan ketinggian hingga menembus awan, dia tidak melihat adanya pesawat lain di radar Doppler, namun seharusnya mereka bisa dilihat dengan mata telanjang.
Tiba-tiba indikator di radar berbunyi, mengidentifikasi benda asing di langit.
"Ditemukan pesawat asing di 60 tenggara, bersiap pertempuran." Perintah Iron, "Strategi 6, sesuai aba-aba."
"Dimengerti."
"Dimengerti."
Elish berpisah dari skuad dengan menaikkan ketinggian hingga 6340 kaki di atas laut, dia berencana untuk tidak terlihat di ketinggian dan menusuk mereka dari belakang.
Sementara Iron dan Phoenix sedang bertempur melawan 4 pesawat lain.
'Tunggu, 4 pesawat? Mana dua lainnya?' Pikir Elish.
Tiba-tiba indikator pesawat Elish mendeteksi adanya misil yang datang, ketika pesawat akan menembakkan misil, pasti membutuhkan target yang harus dikunci, dan saat sudah dikunci, misil akan mengikuti panas yang dikeluarkan mesin hingga pesawat itu kena dan hancur.
'Sial! Dua dari mereka mengejarku.'
Elish bermanuver untuk menghindari 4 misil yang mengejarnya, dan saat dia menukik sambil berputar, misil kehilangan arah untuk diikuti dan menabrak misil lain, sehingga hanya ada dua misil yang mengejarnya. Namun sial bagi Elish karena indikator misilnya berbunyi lagi, dan kali ini ada 6 misil mengejarnya.
'Kalian pikir ini lucu?'
Elish terbang dengan kecepatan tinggi, misil yang mengejarnya mengikuti bersama dengan dua pesawat yang mengejarnya.
Setelah itu Elish meluncurkan countermeasure, ini adalah alat yang mengeluarkan panas luar biasa, lebih panas daripada mesin, cocok untuk mengalihkan perhatian misil-misil tersebut.
Ctek.
Countermeasure diluncurkan mulai dari palka 1 sampai 4, tiap palka mengeluarkan sebuah countermeasure yang akan terpecah menjadi dua.
Duar duar duar boom boom duar.
Semua misil berhasil teralihkan dan kini dia aman, kecuali dari senapan mesin dua pesawat lawan yang makin mendekat.
'Sekarang!'
Elish menginjak pedal rem, menarik kemudi hingga moncong pesawatnya naik drastis dari posisi 120˚ menjadi 90˚, membuat posisi pesawatnya menjadi vertikal dan membiarkan dua pesawat lainnya maju melewati Elish, setelah itu dia menginjak pedal akselerasi dan menurunkan moncong pesawat agar kembali ke posisi horizontal untuk mengejar dua pesawat lawan.
Mengerem di atas langit, berpindah dari arah jam 12 menuju jam 6, dari dikejar menjadi mengejar.
Pugachev's Cobra, atau manuver kobra, adalah salah satu keahlian Elish DeCapel.
'Sisanya hanya perlu menembaki mereka dengan senapan mesin.' Pikir Elish sambil menekan tombol untuk menembakkan senapan mesin.
Pelurunya menghancurkan mesin pesawat lawan, beberapa misil yang diluncurkan juga menghantam lawan dengan baik, mungkin terlalu sulit bagi mereka untuk menghindar dari serangan Elish karena terkejut setelah melihat manuver kobra yang dilakukannya.
"Dua yang mengejarku tumbang." Kata Elish di radio.
"Kami sudah berhasil mengalahkan mereka, tapi Iron tumbang." Jawab Phoenix melalui radio.
"Maafkan aku karena terlalu lama."
"Tak apa, mereka SU-780, seri terbaru dari Eropa Timur, wajar jika kita kehilangan dua orang." Jawabnya panjang lebar, "Kita kembali ke hangar."
"Dimengerti."
Saat malam, anggota militer tidur di dalam sebuah kamar yang cukup untuk 8 orang dengan kasur bertingkat. Saat pagi, ketika pemeriksaan sudah selesai, ada kemungkinan teman sekamar yang mengompol di atas kasur dan mengenai temannya di bawah, atau yang mengorok paling kencang, tidak akan kembali dari misi.
Hal ini sudah wajar, dan Elish sudah terbiasa melihat kawannya gugur dalam menjalankan misi.
Di sisi lain, Langit yang sudah ada di dalam gereja setan menyelidiki altar yang ada di tengah gereja, sebelah lift rahasia yang dia gunakan waktu lalu.
"Ini aneh, kalau ini memang Altar Solonnel, dan mereka adalah orang-orang Baetruneya, bukankah seharusnya ada petunjuk?" Kata Putri.
"Aku sedang mencari tahu petunjuk itu, Prinses." Jawab Langit sambil berdiri dan menyentuh patung kambing kecil dengan tongkat di tangan kirinya, "Sabarlah sedikit."
__ADS_1
{[Oh, ayolah, kamu hanya perlu membaca manteranya dengan benar, manusia.]}
Langit membuka bukunya lagi, dia membawa buku yang sama dengan yang terakhir kali dia bawa ke gereja ini, tapi dia tidak memiliki intensi untuk melakukan sesuatu pada buku itu karena dia tidak memiliki firasat untuk itu.
"Sudah ketemu, Archer?" Tanya Panda yang baru datang melalui lift yang sudah dibuka sebelumnya oleh Langit.
"Belum, di sini buntu."
Panda melirik Putri, yang dilirik hanya mengangkat bahu tanda tak tahu apapun.
'Kalau ini benar Altar Solonnel yang mereka maksud, lalu mereka adalah orang-orang Baetruneya, seharusnya ada catatan, atau lukisan.' Pikir Langit sambil membaca ayat-ayat kosong.
'Tunggu, lukisan?'
Langit berdiri dan mengarahkan lampu ke langit-langit gereja, ada banyak sekali lukisan-lukisan yang tidak lazim untuk sebuah gereja.
Langit tersenyum, "Ketemu."
"Apa yang kau temukan, Archer?" Tanya Harpy penasaran, dia tidak terlalu pintar untuk urusan ini.
"Ranger, ambilkan tasku. Prinses, segera nyalakan kamera dan arahkan padaku. Dan Panda, terangi langit-langit." Perintah Langit sambil berjalan naik ke atas altar.
"Dimengerti." Jawab Putri.
"Oke." Jawab Panda dan Samudra bersamaan.
{[Hm, hm, menyadari sesuatu? Apa yang kamu coba, manusia?]}
Langit membuka bukunya, dia membolak-balik bukunya dari halaman depan, lalu belakang, kembali ke depan lagi, seakan mencari sesuatu yang tidak ada.
"Itu adalah Keratos." Kata Langit sambil menunjuk seorang malaikat yang ada di lukisan, "Dan dia sedang dipotong sayapnya karena tidak bersujud demi tanah."
"Lalu dia jatuh ke dunia tengah, membuat kelompok dari kecil hingga besar, dan menetap di dunia bawah."
Langit menunjuk barisan para malaikat dengan bola cahaya putih di lukisan di langit-langit itu.
"Dan dia dibunuh oleh para malaikat, tubuhnya membusuk di penjara langit, dan rohnya hanya tersisa serpihan."
"Apa maksudmu, Langit?"
"Setan membutuhkan korban dari pengikutnya, dan korban yang kumaksud adalah, para perawan yang diculik."
Semuanya terdiam, mereka diam karena saking terkejutnya dengan perkataan tidak masuk akal barusan, tapi jika yang berbicara adalah Langit, mereka berusaha sebisa mungkin untuk percaya.
"Kau merekam ini, Prinses?" Tanya Langit sambil mengambil sesuatu dari dalam tas yang tadi diambilkan oleh adiknya.
"Aku merekam ini."
"Harpy, Naga, taruh kursi di sini." Perintah Langit, keduanya mengangguk dan meletakkan kursi di tengah altar.
"Borgol kedua tangan dan kakiku."
"Hah?"
"Archer, kau-"
"Lakukan saja." Kata Langit memotong kalimat Panda dan Putri, setelah itu mereka memborgol kedua tangan dan kakinya masing-masing agar tidak bergerak ke segala arah.
"Ranger, ambilkan pisau dari dalam tasku."
"Pisau? Ini?" Samudra menunjukkan sebuah pisau biasa kepada Langit.
"Iya, lalu buku itu, tahan halaman itu untukku." Kata Langit.
Samudra memegangi buku dan menahan halamannya sesuai perintah kakaknya, dia juga memegang pisau di tangan lainnya.
"Archer, apa yang kau lakukan?" Tanya Panda.
"Arahkan senapan kalian ke kepalaku."
"Hah?!" Semuanya tersentak nyaris bersamaan, mereka kaget saat Langit meminta mereka mengarahkan senapan ke kepalanya.
"Tapi, kenapa?"
"Diam dan lakukan perintahku!" Perintah Langit dengan suara yang kencang, wajahnya sangat menakutkan, setidaknya bagi yang lain selain Samudra.
"Baiklah, kita arahkan ke kepalanya." Kata Putri sambil memberi isyarat untuk mengangkat pistol, yang lain menurut dan mengarahkan senapan ke kepala Langit.
Semuanya diam, tidak ada yang bergerak sedikitpun, keringat dingin keluar dari dahi mereka dan membasahi seluruh tubuh, Samudra yang melihat kakaknya ketakutan, pastilah khawatir dengan kakaknya, dia memegangi pisau dan bukunya dengan tangan gemetaran.
"Samudra, tusuk hasta tanganku."
"Hah?!"
"LAKUKAN!"
Samudra memejamkan matanya sambil menusukkan pisau ke hasta kakaknya, darah yang terciprat ke wajahnya begitu terasa, apalagi teriakan kakaknya yang begitu memekakkan telinganya.
Suara gemerincing rantai borgol begitu nyaring, hingga pergelangan tangannya memerah, semua urat lehernya keluar karena dia berteriak begitu kencang, kursi yang didudukinya juga bergoyang kesana-kemari.
"Huuuhh-huuuhh, huff, huff." Langit mencoba menenangkan dirinya.
"Forte diun inshct, ung iz mein aiz, tunjukkanlah kebenaran padaku, wahai penunjuk arah, corplei ung aistruch iz ain."
Tubuh Langit diam, tidak bergerak sedikitpun, tidak ada suara dia bergerak, ataupun bernafas.
"Kakak?"
"Archer, dia, dia kenapa?"
Langit tiba-tiba bangun dengan mata yang membelalak, air liurnya keluar sangat banyak.
"AAAAAAAAARRRHHHHH! AAAAHHHH! AAAAHH! AAARHHH!"
'Apa ini, kuil?'
Di bayangannya, Langit tidak merasakan sakit sama sekali, dia sedang berdiri di belakang sebuah bangunan yang seperti kuil ajaran tertentu, dia melihat sebuah mobil van datang dan dari pintu mobil van itu, beberapa orang pria berjubah keluar bersama dengan seorang gadis yang kepalanya ditutupi kantong hitam.
Di realitanya, Langit berteriak begitu kencang, kulitnya memerah, matanya menghitam dan mengeluarkan darah, mulutnya berbusa, dan hidungnya mimisan sangat banyak.
'Siapa gadis itu? Kenapa dia disembelih?' Tanyanya dalam hati begitu melihat gadis itu disembelih dengan belati, darahnya ditampung dalam ember dan jantungnya diambil.
"HAAAHH! HAAAHH! HAAAH! HUEEH! HUUEAAAH!"
Tubuh Langit seperti kerasukan, kulitnya yang tadi memerah kini mengeluarkan uap karena darahnya yang keluar dari mulut, hidung, dan matanya semuanya mendidih dan mongering begitu saja.
"Kakaak! Kakak!" Samudra menyentuh wajah kakaknya, "Auh!"
"Ranger! Mundur!"
Samudra mundur ke belakang dan memegangi tangannya yang tadi memegang wajah kakaknya, telapak tangannya kini melepuh.
'Ketemu kalian sialan.' Pikir Langit begitu melihat salah satu dari mereka mengeluarkan buku dengan gambar bintang daud dengan simbol-simbol yang sama persis dengan yang digambar Videl, juga dengan salib yang terbalik di sisi satunya.
Di realitanya, urat leher Langit bermunculan, busa di mulutnya makin banyak, namun mongering dan menciptakan uap keluar dari dalam mulutnya, darah yang keluar juga makin banyak, membuat adiknya menangis tanpa bisa melakukan apapun di belakang Putri yang masih merekam.
"Siaga! Dia hanya mengeluarkan uap!" Perintah Putri.
"Kulitnya sudah seperti api! Kita tembak dia!" Teriak Naga.
"Tetap di tempat, sialan! Jangan tembak sebelum aku!" Teriak Putri.
Uap yang keluar dari mulut Langit semakin banyak, giginya saling bertabrakan dan menciptakan bunyi gemeletuk yang sangat keras.
"In ert duest ein verne! Kuratos bier et minekamf ein inst! Hahgul! Hahgul! Hahgul mano et virsetat verne!"
"Huaaaahh-aahhahahhah."
Langit kembali ke bentuk semula, wajah dan seluruh tubuhnya kini putih pucat seperti kapur, lensa matanya berwarna kuning kemerahan, dan dia dalam kondisi yang amat sangat buruk dengan darah kering di sekujur tubuhnya.
"Ada apa ini sebenarnya?" Tanya Putri yang masih tidak percaya apa yang barusan dilihatnya.
{[Hehehe, akhirnya kau bisa melakukannya, anak adam. Kini, akan lebih mudah mencapaimu suatu hari nanti.]}
"Panda! Panggil bala bantuan medis, cepat!" Perintah Putri begitu dia sadar.
"Siap!"
"Harpy, Naga, Ela, Judas, bantu Langit dan evakuasi dia segera!"
__ADS_1
"Siap!" Jawab semuanya serentak lalu berlari menuju Langit dan membantunya telentang.
"Belyn, Miru, bantu tangani luka Ranger." Perintah Putri.
"Ya."
"Siap."
'Tangannya sangat parah, sepanas itukah? Paling tidak luka ini masuk ke luka bakar tingkat 2.' Pikir Belyn yang pernah mengobati tentara yang terkena luka bakar di lapangan.
"Auw." Samudra mengerang.
"Maafkan aku, akan kuberi pertolongan pertama segera." Kata Belyn sambil membuka tas peralatannya, ada banyak obat yang dia bawa di sana, meskipun dia tidak mengharapkan luka bakar, paling tidak dia bawa kertas kasa khusus luka bakar.
"Ini agak sakit, tolong ditahan." Kata Belyn sambil menyuntikkan obat bius pada telapak tangan Samudra di beberapa titik.
"Engghh, hnngg." Samudra mengerang, dia memeluk erat tangan Miru di sampingnya.
'Sebenarnya tadi itu apa?' Pikir Putri sambil melirik Panda yang sedang mengecek tanda kehidupan di badan Langit.
Panda hanya mengangkat bahu tanda tak tahu apapun.
Putri menundukkan kepalanya.
***
Beberapa hari setelah kejadian di gereja setan di Kyuto, Langit terbangun di sebuah ruangan dengan injeksi infus di tangannya, bau antiseptik yang khas membuatnya yakin dia sedang ada di rumah sakit, tapi entah rumah sakit mana.
Tubuhnya terasa sakit, sangat sakit, luka yang ada di tangannya sudah sembuh, dia mendapat 6 jahitan di hasta tangannya, dan dia tidak bisa bergerak sama sekali.
"Errh, nggh!" Langit mencoba mengerang, siapa tahu ada yang dengar dan menghampirinya.
"Langit? Langit kamu sadar?" Tanya seseorang dengan wajah yang tidak jelas bentuknya di mata Langit, itu karena pandangannya kabur, mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
Beberapa orang lain datang ke kasur Langit, sepertinya dokter, jika dilihat dari ukuran jas warna putih yang dia kenakan, entahlah, mungkin hanya perawat laki-laki, Langit tidak tahu.
"Be-era-pa, la, hah, la-ma-"
"Langit, kamu tidur sudah hampir 3 hari, tak apa, tidurlah lagi, jangan paksa dirimu."
Suara itu terdengar asing di telinga Langit, dia tidak mengenali suara perempuan itu.
"Kakak! Kakak sudah sadar?" Samudra datang bersama Vianji dan Putri, mereka masuk ke kamar Langit setelah mendapat kabar bahwa Langit sudah sadar.
"Uh, DeCapel? Sedang apa di sini?" Tanya Samudra kepada perempuan tadi yang ternyata adalah Elish DeCapel.
"Oh, aku menjenguknya, kebetulan saat aku menjenguknya dia sudah sadar." Jawab Elish menjelaskan keadaannya.
"Dokter, gimana keadaannya?" Tanya Putri sambil menghampiri si dokter yang sedang menunggu hasil pemeriksaan dari perawat di sebelahnya.
"Tunggu sebentar." Jawabnya sambil menerima laporan pemeriksaan dari perawat di sebelahnya, "Tanda vitalnya bagus, tidak ada gejala gegar otak, tapi, ada kemungkinan dia mengalami kebutaan."
Semuanya terdiam, Samudra dan Putri yang paling tahu apa yang terjadi pada Langit tidak memberikan kenyataan, bahwa Langit mengeluarkan darah terlalu banyak dari matanya.
"Paling tidak dia tidak akan bisa keluar dari sini sampai seminggu ke depan."
Samudra kaget.
"Tapi, dia ada ujian akhir minggu rabu depan." Kata Vianji sambil menahan tangis, "Dia bisa tidak lulus."
"Dan sayangnya, dia bisa mati kalau tiba-tiba ikut ujian kelulusan." Jawab dokter itu sambil berjalan menuju Samudra dan menepuk pundaknya, "Ini memang berat, tapi jangan paksakan kakakmu."
Samudra tidak bisa menjawab, dia hanya bisa menyesali keputusannya menusuk tangan kakaknya dan membiarkan dia membaca mantera dari buku terkutuk itu.
"Huuu huuu, huuu." Samudra menangis sambil menahan suaranya agar tidak terlalu keras.
Putri bersimpati pada Samudra dan mencoba menenangkannya dengan memegangi tangan dan pundaknya.
"Tak apa, Ranger, tidak apa-apa, dia kakakmu, dia luar biasa, pasti dia bisa kembali." Kata Putri mencoba menenangkannya.
Elish yang melihat Samudra menangis sambil berdiri di sana merasa iba, dia tidak tahan dan pergi keluar dari kamar Langit, tapi sebelum dia memutar knop pintu, Samudra melemparkan pisau dan menancap di pintu, nyaris mengenai tangan Elish.
"Samudra?"
Samudra yang wajahnya masih basah, dengan mata yang sembab, mendekatinya lalu memukul wajah Elish dengan kepalan tangannya yang gemetaran.
Pukulannya mendarat lagi di perut Elish yang tidak melawan, Putri hanya diam menyaksikan Samudra memukuli Elish seperti sebuah samsak.
"Sudah cukup?" Tanya Elish dengan wajahnya yang lebam dan darah yang keluar dari hidungnya.
"Ka~u ber, ber~utang penje~lasan, ke, kakak." Kata Samudra dengan suara yang bergetar sengau, dia masih sedih dan masih ingin menangis, tapi dia berusaha tegar dan kuat.
Elish mengeluarkan sapu tangannya, dia membersihkan wajahnya dari darah, setelah itu dia duduk di sebuah kursi, meminum air yang ada di cangkir.
"Waktu itu, aku memang berada di mobil bersama ayah dan ibuku. Kami sebenarnya ingin pindah ke Temeria di Harphia, makanya kami lewat jalan tol. Lalu waktu kami ada di mil 32, ledakan itu terjadi. Aku lihat sendiri dengan mata kepalaku api yang menyala hebat seperti itu. Mobil ayah dan ibumu menjadi mobil pertama yang meledak, dan mobilku berhenti karena menabrak mobil ayahmu."
Elish meminum air mineralnya lagi.
"Ada korban di pinggir jalan, dia adalah penumpang mobil kargo yang membawa sayuran, dia duduk di atas sayuran yang dia bawa, sementara temannya menyetir. Aku melihat dia tertimpa tumpukan sayur dari mobilnya yang terbalik, aku keluar dari mobilku untuk menyelamatkannya. Saat itu, mobil kargo yang dikendarai temannya mengeluarkan bensin dari selang yang rusak karena hantaman, aku berlari untuk menyelamatkannya namun aku gagal."
"Kau terlambat?" Tanya Putri.
"Mobilnya meledak lebih cepat." Jawab Elish sambil membuka bajunya dan menunjukkan seluruh tubuhnya.
"Astaga." Kata Vianji sambil menutup mulutnya.
Samudra terdiam, sementara Putri memejamkan matanya tak sanggup melihat.
Perut Elish penuh dengan bekas luka, dan sebagian besar luka bakar permanen, setelah itu dia membuka kulit lengannya, dan ternyata dia menggunakan lengan buatan.
"Kaca mobil itu mengenai lengan kananku, sangat parah hingga harus diamputasi. Aku mendapatkan lengan cyber-kulosis ini setelah aku menghabiskan tabungan ayahku." Katanya menjelaskan, setelah itu dia menunjukkan punggungnya yang juga penuh luka bakar dan luka tusukan.
Vianji menutup matanya seperti Putri, dia tidak sanggup melihat, sementara Samudra merasa iba.
"Waktu itu, saat aku berlari kembali ke mobil ayahku, mobil itu meledak, aku refleks membalikkan punggungku, tapi pecahan kaca dan plat logam itu menusuk punggungku."
Elish mengenakan kembali kulit yang menutupi lengan buatannya, lalu mengenakan kembali pakaiannya.
"Karena itu aku masih hidup."
"Aku melihatmu di koran, katanya mayatmu ditemukan."
"Aku pingsan saat itu, orang-orang mengira aku mati karena detak jantungku berhenti karena shock berat, perawat menyelamatkanku menggunakan defibrillator, jantungku kembali dan aku dalam kondisi koma selama 2 bulan."
Samudra menghamburkan dirinya ke pelukan Elish, "Kenapa gak hubungi kami?"
Elish tersenyum, Samudra masih anak kecil seperti dulu, dia merindukan sosok duplikat dari Langit ini, "Aku terdaftar sebagai tentara angkatan udara, karena aku anak yatim piatu, aku mendapatkan sertifikasi agak lama dari yang lain."
"Karena itu kita bertemu di hangar."
"Iya, Samudra, karena itu kita bertemu di hangar."
"Hiks, hiks." Samudra menangis di pelukan Elish, dia sangat merindukan perempuan yang seperti kakaknya memperlakukan dirinya, bukan Vianji Basa, atau Sri Sudarsih Kusumaning Putri, bukan juga Senimorangkir Januri, meski dia seorang lelaki.
Dia butuh seorang ibu, dan seorang ibu yang ideal di matanya adalah Elish DeCapel.
"Oh ya." Samudra melepaskan senyumannya, "Ini Sri Sudarsih Kusumaning Putri, kode Prinses."
"Namaku Elish DeCapel, kode Pugachev, tapi tolong panggil aku Elish, aku tidak terlalu suka nama kodeku." Kata Elish sambil menjabat tangan Putri.
"Kak Elish, ini Vianji Basa, guru kami, sekaligus tunangan kakakku."
"Ya ampun, tunangan?" Jawab Elish terkejut.
"Perkenalkan, aku guru mereka di sekolah, Vianji Basa."
Setelah menjabat tangan Vianji, Elish menepuk kepala Samudra, "Akhirnya kamu punya ibu lagi."
"Hm!" Samudra tersenyum.
"Oh ya, aku sudah harus pergi. Waktu ijinku sudah habis." Kata Elish sambil memakai jaket dan menggunakan tas selempangnya, "Berikan ini pada kakakmu waktu dia sadar, ya?"
"Baiklah, hati-hati di jalan, kakak." Kata Samudra sambil meraih pipi Elish dan mencium pipinya, "Sampai jumpa."
Elish tersenyum, dia mengecup dahi Samudra, lalu melepaskan tangannya dan berjalan menuju pintu, sebelum dia menghilang di balik pintu, dia berhenti sebentar dan menoleh pada Langit.
"Sampai jumpa."
__ADS_1