
Samudra menutup semua bukunya yang terbuka dan menumpuknya dengan rapi di atas meja, para petugas perpustakaan yang berjaga akan mengembalikan buku itu ke tempatnya semula agar tidak berantakan.
Saat mereka sedang dalam perjalanan ke rumah, mereka melihat beberapa truk untuk muatan barang, namun sedang ditumpangi beberapa orang menggunakan jas yang sepertinya almamater universitas tertentu. Banyak dari mereka mengarah ke pusat kota, tapi Langit sepertinya acuh pada peristiwa ini dan tetap melanjutkan perjalanan ke rumah.
"Tadi itu apa, kak?"
"Mana aku tahu?" Langit melepaskan baju luarnya dan kini hanya mengenakan kaus putih, "Aku mau kerjakan tugas, kau mau main ke manapun terserah."
"Benaran?"
"Iya, jangan pulang malam."
Langit masuk ke dalam kamar, sementara Samudra masuk ke dalam kamarnya, dia mengambil tas ransel yang sepertinya sudah dipersiapkan dari awal, lalu dia keluar dari kamar, mengambil kunci motor dan turun dari apartemen.
Ponselnya yang dari tadi bergetar karena ada panggilan masuk, kini bisa dijawabnya.
"Hey! Kau kemana saja?! Ini sudah waktunya!"
"Aaahh, iya iya, ini aku lagi jalan."
"Cepatlah! Udah mulai seru di depan gedung DPM!"
"Hahaha! Okay!"
Samudra menyalakan motor kakaknya dan pergi menuju gedung DPM. Sepertinya ada masalah yang sangat penting hingga melibatkan banyak orang seperti mahasiswa, bahkan anak SMA seperti Samudra dan teman-temannya yang sudah menunggu di sana.
Jalanan macet, namun Samudra bisa mengelit seperti belut dan sampai ke jalan tepat di depan gedung DPM. Sudah ada banyak mahasiswa, masyarakat biasa, anak SMA, dan bahkan polisi dengan tameng dan mobil dengan water-cannon.
"Sudah lama?" Tanya Samudra pada temannya yang sedang menggunakan helm proyek berwarna kuning, masker, dan rompi.
"Ya iyalah! Cepat bersiap dan segera kawal kakak kita."
"Ok."
Samudra membuka tasnya, ada helm proyek warna putih dengan gambar '+' berwarna hijau di bagian dahi, setelah itu dia menggunakan masker, sarung tangan, dan rompi.
"Marcus Callum penghianat!" Teriak seorang protestan.
"Dewan tak becus!" Teriak yang lain.
"Bawa Marcus kemari!"
Marcus Callum adalah ketua Dewan Perwakilan Masyarakat yang saat ini terjerat dalam kasus korupsi dana infrastruktur senilai 934 triliun dan bersekongkol dengan anggota dewan lainnya seperti, Sultana Keryanti, Harun Harsadi, Axela Rosephe, dan anggota lain.
Dan tugas Samudra, adalah mengawasi.
"Biarkan kami masuk!"
"Kalau gak mau keluar! Kami yang masuk!"
"Keluar! Keluar!"
"Keluar! Keluar!"
Mereka mulai berteriak untuk bernegosiasi, tapi sayangnya, menurut teman Samudra, protes ini berlangsung selama mungkin 1 jam, dan masih belum direspon sama sekali.
"Bubarkan aksi protes ini! Peringatan kedua akan dilakukan paksa!" Kata seorang polisi menggunakan pengeras suara.
"Kami gak mau bubar! Kami mau keadilan! Musnahkan koruptor dari Republik!"
"Musnahkan!"
Samudra mulai bersiap dengan kemungkinan terburuk, begitu juga teman-temannya, mereka mulai berjalan masuk ke kerumunan dan para manusia yang berkerumun itu memberikan jalan untuk para 'helm putih'.
Polisi mulai bergerak, mereka berjalan maju dan mulai memukul mundur para protestan.
Samudra yang sudah bersiap, didorong oleh seorang polisi hingga hampir terjatuh. Karena polisi itu sudah mendorongnya duluan, maka, sesuai aturan membela diri,
Samudra menabrakkan diri ke polisi hingga dia kehilangan keseimbangan, Samudra yang melihat kesempatan itu menjegal kakinya hingga terjatuh. Satu polisi jatuh di tangan Samudra, dia menyeret polisi itu untuk diikat oleh pengawal lain di garis belakang.
Hal yang sama juga terjadi pada teman-teman Samudra di barisan yang lain, mereka menangkap polisi dan mengikatnya di belakang menggunakan tambang dan borgol yang mereka bawa.
"Samudra! Mereka mau pakai water-cannon! Kita mundur!" Teriak salah satu teman Samudra dari barisan lain yang berada sejauh 2 yard.
"Jangan mundur! Kita tetap maju sampai bisa nego!"
Samudra berlari masuk ke barisan polisi, para polisi yang melihatnya langsung berusaha menyergap Samudra, namun digagalkan oleh teman-teman Samudra yang turut membantu.
"Maju!"
"Aiyo!"
Samudra berlari dan menjegal seorang polisi yang membawa tameng, dia memborgol polisi menggunakan borgol yang polisi itu bawa, lalu merampas tongkat pemukulnya.
"Hei! Apa-apaan kau!"
"Tangkap dia!"
Samudra menghiraukan teman-temannya yang sedang ditangani dan menangani polisi lain, sementara dia maju ke mobil dengan water-cannon dan menghajar beberapa polisi yang mencegahnya.
Saat mereka sudah diborgol oleh teman-teman Samudra yang turut membantu, dia lalu pergi ke mobil water-cannon sambil berlari dan memecahkan jendela kaca.
Mungkin biayanya semahal membeli motor baru, tapi dia tidak peduli.
"Hei! Kau biadab sialan!"
Samudra tidak peduli dengan ucapan polisi itu, dia mencengkeram tali helm yang berada di dagu polisi itu dan membuatnya tercekik.
Polisi itu tak punya pilihan lain selain pingsan.
Setelah polisi di dalam mobil itu tumbang, Samudra bisa bebas mengontrol mobil ini dan menembakkan water-cannon dari dalam.
"Apa yang kalian kerjakan?! Bodoh!"
"Sialan!"
"Komandan! Mereka menguasai satu meriam dan gerbang mulai runtuh!"
"Gunakan peluru karet! Tembak ke arah kaki dan badan mereka! Jangan kena mata!"
"Siap!"
Komandan pasukan polisi yang berusaha meredam amarah warga itu mulai menembakkan peluru karet menggunakan senapan serbu M4. Samudra yang menyadari kalau di mobil ini ada pengeras suara pun menggunakannya.
"Naomi! Serbu dan rebut senapan mereka!"
Sambil memerintahkan demikian, Samudra menembakkan air berkecepatan 50 mil per jam dan menghancurkan beberapa polisi bersenjata.
Naomi, bersama teman-temannya merebut tameng, senapan, beserta peluru cadangan yang terpasang di rompi polisi.
Perlawanan berlangsung sengit, para mahasiswa yang baru datang juga ikut menghambur ke dalam kericuhan, para wartawan tidak tersentuh sesuai aturan yang berlaku, dan Samudra yang kini sedang menembakkan air menjadi sorotan bagi para wartawan.
"Seperti yang terlihat di sini, kericuhan tidak dapat dihindari dan polisi yang berusaha meredam massa mulai berjatuhan karena seorang gadis menembakkan air menggunakan meriam air milik kepolisian dan menggunakannya untuk menjatuhkan pasukan polisi yang bertugas."
"Beberapa mahasiswa yang lain mengambil tameng, senapan, dan tongkat pemukul milik kepolisian untuk melawan balik. Para mahasiswa beserta masyarakat yang turut dalam aksi protes menginginkan agar segera diadakan negosiasi terbuka mengenai tindakan terduga korupsi oleh Marcus Callum, dan beberapa anggota dewan lain, berikut liputan langs-"
Langit mematikan tv, dia tidak mengira bahwa perintahnya untuk main-main sampai senja akan digunakan untuk 'main-main' bersama para polisi di gedung DPM. Tangannya berada di dagu, dia memikirkan sesuatu sebelum akhirnya keluar dari apartemen dan berangkat menuju gedung DPM menggunakan bis kota.
'Untung dia adikku.' Pikir Langit dalam perjalanan, 'Tapi, sejak kapan dia bisa bertarung?'
Berbagai macam pikiran aneh memasuki otak Langit dan membuatnya nyaris melewatkan tujuannya di gedung DPM. Saat turun, si supir menolak menerima uang dari Langit.
"Mau ikut protes, 'kan?! Gratis aja! Sana pergi! Habisi si ********!"
"Hah? Oh, ok."
Langit berjalan menuju kerumunan dengan langkah yang agak kurang bersemangat, dia masih keheranan dengan sikap supir barusan.
Namun kesadarannya kembali saat dia ditabrak dari belakang oleh orang yang berlari menuju kerumunan aksi protes, Langit pun berdiam diri di pinggiran kerumunan, mengawasi adiknya yang sedang berada di dalam mobil water-cannon. Siapapun yang berhasil melukai adiknya, maka Langit akan langsung turun tangan dan menghajar para polisi.
"Perintah untuk mundur!" Teriak salah satu orang yang sepertinya komandan, Langit baru datang, jadi dia tidak tahu apapun.
"Mundur!"
"Mundur!"
"Masuk!"
"Buka gerbangnya!"
Mobil yang dikendarai oleh Samudra berputar, semua orang menyingkir dari mobil yang dikendarainya, setelah itu saat posisinya pas, Samudra menginjak pedal gas di gigi satu hingga mentok dan menghancurkan gerbang masuk gedung DPM.
"Para ketua penting! Masuk mobil!" Kata Samudra berteriak.
Beberapa orang dengan warna almamater berbeda masuk ke dalam mobil, Samudra mengendarai mobil water-cannon itu dengan kecepatan pelan diiringi dengan mahasiswa lain yang membawa papan protes dan media lain. Mereka juga meneriakkan keadilan bagi rakyat dan menuntut hukuman bagi koruptor di dewan DPM.
"Hey, kau yakin?" Tanya pria dengan almamater biru gelap.
"Percayalah padaku." Jawab Samudra sambil menyalakan pengeras suara.
"Dewan Perwakilan Masyarakat! Kami menuntut penegasan undang-undang terhadap korupsi dan koruptor, juga menuntut pembatalan terhadap perubahan undang-undang yang akan diresmikan tanggal 18."
Samudra berhenti, dia menatap pria di samping dan belakangnya untuk meminta koreksi. Semuanya mengangguk, tanda bahwa tidak ada yang salah dari ucapan Samudra.
"Jika tidak ingin mobil yang mirip tank kapasitas 10 orang ini berada di lobi gedung DPM, maka siapkan meja untuk diskusi terbuka mengenai kasus ini!"
Samudra melihat jam tangan di tangan kirinya, lalu melanjutkan ultimatum.
"Kami tunggu hingga jam 15:00 dan tidak ada perpanjangan waktu! Jam 15:00!"
Samudra meletakkan mikrofon dan memainkan musik dari ponselnya.
"Hei, jangan setel musik apapun." Kata pria dengan almamater kuning.
"Iya, takutnya nanti makin kacau." Dukung si almamater merah, sementara yang lain memberikan kalimat pencegahan untuk Samudra, namun tidak didengarkan sepatah kata pun.
"Kalau gak setuju, kakak pulang aja." Jawab Samudra yang menempelkan ponsel ke mikrofon, ternyata dia memainkan lagu nasional Republik Asia Serikat.
__ADS_1
"Oh, lagu ini."
"Kukira lagu apa."
"Ok, dengarkan aku. Jika ini berhasil, kalian akan membacakan tuntutan yang sudah kalian siapkan. Aku akan berada di dalam dan mengawal kalian, wartawan juga harus masuk, kawan kalian yang ikut jurnalistik juga sebaiknya masuk."
"Eh? Masa harus segitunya? Kamu ini, dek, masih umur berapa sih?"
"Iya, nanti urusannya panjang kalau misa-"
"Ini bukan permintaan, ini perintah. Atau kalian mau kulindas?"
Semuanya terdiam saat Samudra mengatakannya, wajahnya terlihat santai, namun rasanya seperti sedang menjadi ayam yang menunggu untuk dipotong.
Tuk tuk, suara pintu mobil diketuk. Samudra melihat keluar dan mendapati kakaknya sedang berada di sana.
"Kakak?! Sedang apa di-"
"Buka pintunya."
Samudra segera membuka pintunya dan berpindah duduk ke kursi belakang.
"Minggir." Kata Samudra, orang yang menggunakan almamater cokelat itu berpindah ke kursi belakang.
"Ok, kulihat kau sedang benar-benar 'bermain' saat kusuruh main."
Samudra tertunduk, "Maaf."
"Yang menyalakan lilin adalah yang mematikannya. Yang punya sampah yang harus membuangnya." Langit mengubah posisi spion di tengah dan menatap Samudra melalu pantulan cermin, "Kau yang harus bereskan ini."
"Iya."
Lagu nasional yang diputar Samudra sudah diputar 2 kali, dan saat ini, saat Langit melihat jam di tangan kirinya, sudah jam 14:58, dia mengambil mikrofon dan mulai menyalakan mesin.
Gigi persnelingnya masih netral, suara mesin menderu-deru seiring dengan Langit yang menginjak pedal gas.
"Hei kau! Kau, kau, kau dan kau! Masuk ke mobil lewat pintu belakang!" Kata Langit memerintahkan semua yang membawa tameng dan senapan peluru karet.
Mereka masuk dan memenuhi bagian belakang mobil ini.
"Kalian dengar aku? Situasi terburuknya adalah saat kita menerobos gedung. Saat mobil ini berhenti, tugas kalian sudah jelas! Paham?!"
"Paham!"
"Paham!" Jawab mereka semua serentak.
"Tugasmu adalah mengawal para VIP, kau dengar?"
"Iya." Jawab Samudra sambil mengambil tongkat pemukul berbentuk 'L' dari kawan di belakang mobil.
"Sesuai ultimatum, jam 15:00, kami akan masuk dengan paksa. Dimohon segera memberikan keputusan sebelum waktu habis."
Langit mengeluarkan masker dan kacamata hitam dari sakunya, lalu menunggu jam tangannya berubah dari 14:59 menjadi 15:00.
Suara mesin menderu berkali-kali, para mahasiswa dan protestan lainnya sudah bersiap dengan memberikan jalan dan meneriaki dewan untuk keluar.
15:00
Langit mengganti gigi persneling ke gigi 1, menginjak pedal hingga mentok, para ketua BEM di kursi menundukkan kepala menghindari pecahan kaca yang mungkin akan pecah.
Namun Langit menghentikan laju mobil water-cannon secepat 60 mil per jam itu dalam waktu kurang dari 2 detik, dan membutuhkan 4 meter untuk nyaris menabrak pintu masuk gedung DPM.
Kepala para ketua BEM menabrak dasbor, yang duduk di belakang menabrak kursi depan, para pengawal bersenjata di belakang semuanya berjatuhan tumpang tindih satu sama lain.
"Ada apa ini?!"
"Berat!"
"Kepalaku!"
"Kakak?!"
"Aaah!"
Beberapa dari mereka kesakitan karena Langit mengerem mendadak sesaat sebelum menabrak pintu masuk gedung DPM.
Ini dikarenakan, para polisi membuat blockade dan membuat huruf 'O' dengan kedua tangan di atas kepala, menunjukkan kalau mereka setuju untuk melakukan diskusi terbuka bersama seluruh perwakilan yang terlibat.
"Kepada semua perwakilan protestan yang terlibat, saya ulangi kepada semua perwakilan. Kami bersedia untuk melakukan diskusi terbuka. Silakan kirimkan perwakilan ke dalam gedung."
Langit keluar dari dalam mobil, diikuti oleh para ketua, Samudra, dan pengawal bersenjata di belakang mobil.
"Sesuai rencana, dari sini para ketua BEM akan mengambil alih." Kata Langit memberikan komando, "Anak ini yang akan menjadi tempat kalian bergantung."
"Omong-omong, siapa kamu?" Tanya pria dengan almamater cokelat.
"Aku atasanmu. Sekarang pergi."
Pria dengan almamater cokelat itu geleng-geleng, dia masuk bersama para ketua lain.
Samudra yang pergi meninggalkan Langit di sebelah mobil berbalik dan memberikan hormat. Langit yang melihatnya membalas hormat Samudra dan dia kembali bersama para ketua BEM.
Di dalam gedung, di sebuah ruangan, para ketua BEM berada di satu sisi meja yang telah disiapkan. Sementara para dewan berada di sisi lain dari meja. Para jurnalis baik yang profesional, dari stasiun tv, ataupun amatir, semuanya ada di ruangan ini, meliput yang akan didiskusikan, lalu Samudra berdiri, di samping para ketua BEM dengan posisi istirahat di tempat.
"Mari kita buka diskusi ini dengan memperkenalkan diri dari para ketua BEM berbagai univ di sini." Kata wanita yang menjadi penengah diskusi, dia berada di tengah-tengah kedua meja yang saling berhadapan.
"Baik, nama saya Stepan Stoyovski, ketua BEM Liberty Conservatory." Kata pria yang mengenakan almamater biru gelap.
"Saya Dieter Urt Tarmami, ketua BEM Universitas Republik." Kata pria yang mengenakan almamater cokelat.
"Saya Yamauchi Kaede, ketua BEM Harna Ver Institat." Kata wanita dengan almamater merah.
"Saya Nugraha Disa Kirtana, ketua BEM Arte Ver Institat." Kata pria yang mengenakan almamater hitam.
"Baik, semua ketua BEM sudah memperkenalkan diri, selanjutnya dari pihak yang terlibat dan merasa perlu melakukannya." Kata wanita moderator.
"Saya Samudra Safir, tahun pertama SMA Negeri Pertanjang." Kata Samudra sambil melepaskan masker dan helmnya.
"Saya Naomi Sakuragi, tahun pertama SMA Negeri Pertanjang." Katanya sambil melepaskan masker gas untuk menghindari gas air mata.
"Saya Yulida Krisanti, mahasiswi Amstrong Ver Universitat." Katanya sambil menundukkan kepala.
Para wartawan sibuk memotret wajah-wajah yang hadir di dalam ruangan ini, apalagi Samudra yang berparas sangat cantik, dengan sisa lebam di pelipis akibat tonjokan polisi dan debu yang mengotori wajahnya.
"Baik, semua yang terlibat sudah memperkenalkan diri. Saya Nashta Jhaha sebagai moderator sekaligus penengah dalam diskusi terbuka atas protes yang dilakukan beberapa lapis masyarakat dengan mahasiswa sebagai mayoritas."
Sementara semua dewan dan perwakilan sedang melakukan diskusi, Langit di luar sedang menonton siaran langsung dari layar di depan gedung DPM yang menayangkan siaran langsung di dalam ruangan.
"Wah, karena memperkenalkan diri, jadinya gak perlu pakai topeng lagi ya?" Tanya salah seorang mahasiswa pada temannya.
"Iyalah, mereka itu semua cerdas dan punya kapasitas, makanya mereka berani maju ke sana."
"Setuju aku, apalagi anak SMA yang namanya Samudra itu." Mahasiswa itu meneguk air dari botol mineralnya, "Aku lihat pakai mataku sendiri, dia ambil alih mobil meriam air, loh."
"Wah, kalau itu semua juga udah tau. Minta sini." Temannya meminta air dan meneguknya sedikit, "Tapi benaran lihat dia ambil alih mobil dari aparat, agak, merinding, ya?"
"Wajar aja lah. Dia anak SMA loh, kelas satu. Wah, gila banget."
Langit mendengarkan pembicaraan mereka tanpa berkomentar apapun, dia tetap fokus dengan siaran yang ditayangkan sebagai bentuk demokrasi transparan dari pemerintah.
"-ngenai undang-undang yang akan diganti, yaitu, poin pertama adalah menetapkan Dewan Perwakilan Masyarakat sebagai lembaga independen yang tidak boleh diakses atau diintervensi segala informasi termasuk anggaran, pemasukan, pengeluaran, dan ketetapan undang-undang lain. Hal ini bisa memicu dampak negatif yang luar biasa, mengetahui bahwa Marcus Collum telah terduga melakukan korupsi sebanyak 900 triliun." Kata Yamauchi membacakan secarik kertas.
"Baik, apakah masih belum jelas? Jika sudah jelas, silakan dijawab oleh dewan."
"Saya Marcus Collum akan menjawab. Dugaan saya telah melakukan korupsi itu masih belum dibuktikan oleh siapapun, sehingga-"
"Sehingga jika terbukti, anda tidak akan menyangkal?" Potong Samudra.
"Maaf?" Moderator menanyakan validasi dari intervensi yang dilakukan Samudra.
"Marcus Collum tidak menyangkal kalau dia melakukan korupsi, dan menantang untuk mencari buktinya. Bukannya ini semacam 'aku sudah melakukan pekerjaanku dengan rapi, silakan cari buktinya sampai ketemu', bukan begitu?"
"Begini, nona Samudra. Yang saya maksudkan adalah, kalau saya melakukan tindakan korupsi, maka apakah ada bukti valid?"
"Jika ada bukti valid, apakah anda dengan sukarela mengonfirmasi bahwa anda melakukan korupsi?"
Semua terdiam, termasuk moderator yang saat ini menatap Marcus Collum dari balik kacamatanya yang tebal. Para wartawan sibuk memotret wajah Samudra hingga cahaya blits kamera menyilaukan matanya.
"Hmmm, jika ada buktinya, saya akan sukarela mengakui."
Samudra mengangguk, dia melepaskan tas dan meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Stepan. Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan menunjukkannya pada semua yang ada di dalam ruangan.
"Ini bukan dokumen asli dari kantor anda, saya mendapatkannya dari situs resmi parlemen." Samudra mengambil pulpen yang dipegang oleh Stepan, "Anggaran untuk infrastruktur di daerah Urdine menghabiskan nyaris 1 quadriliun. Saya membaca rincian anggarannya dan kejanggalan."
"Tuan Marcus Collum, bisa anda jelaskan apa atau siapa 'kembang api' ini? Mereka menghabiskan 320 juta."
Semua mata tertuju pada Marcus Collum, dia tergagap dengan ucapan Samudra.
"Y-ya-yah, I, itu kan, untuk, untuk perayaan setelah selesai membangun."
"Benarkah?"
"I-iya. Benar."
"Tidak ada tujuan lain?"
"Ti-tidak ada."
Samudra menatap Marcus Collum dengan tatapan yang sangat merendahkan, seperti sedang melihat kotoran tikus di pojok kelas.
"Baiklah kalau begitu, sepertinya saya salah sangka."
Marcus Collum menghela nafas, dia merasa lega.
"Tapi harga ini agak mencurigakan."
Marcus kaget, harga kembang api tidak semahal itu meski membelinya dengan harga termahal.
__ADS_1
"Nona Naomi, cek harga kembang api di pasar. Carikan yang paling mahal."
"Baik."
Naomi, teman Samudra membuka ponsel dan mencari harga pasaran untuk kembang api.
"4000 per buah."
"Wow, Marcus Collum. Anda nyaris saja menghabiskan 320 juta untuk membeli 80 ribu kembang api. Bahkan festival olahraga sedunia pun hanya menghabiskan 6000 kembang api. Bisa anda jelaskan ini?"
"Eh, i-itu."
Marcus Collum kesusahan untuk menjawab, para ketua BEM yang berada di ruangan tersenyum pada Samudra dan memberikan rasa hormat sebagai orang yang dapat diandalkan.
"Sepertinya ada salah input data."
"Maaf, tapi anda bilang anda sangat yakin."
Langit berbalik, dia pergi dari depan gedung DPM menuju sebuah kafe yang tidak terlalu jauh. Pelanggannya cukup ramai, namun tetap dilayani sebaik mungkin oleh para karyawan yang bekerja di sana.
"Ingin memesan apa?" Tanya seorang karyawan sambil menyerahkan daftar menu pada Langit, sambil tergesa-gesa dia bersiap untuk menulis pesanan.
"Dua kopi cokelat panas, dan satu set kue vanila."
"Satu kopi cokelat, dan satu set kue vanila." Kata si karyawan mengulangi pesanan Langit sambil menulis di catatan pesanan, "Ada lagi?"
Langit mengibaskan tangannya, mengisyaratkan si karyawan untuk pergi, dan dia segera berjalan menuju dapur untuk membuat pesanan Langit. Di kafe ini, tersedia sebuah tv yang ukurannya cukup besar untuk dinikmati bersama. Dalam waktu tertentu, mereka menayangkan siaran sepak bola atau video musik, tapi kali ini mereka menanyangkan berita di gedung DPM.
Langit tidak fokus mendengarkan yang dikatakan oleh para ketua BEM yang didampingi adiknya dari tv, bahkan hingga selesai acara dan semua orang yang ada di gedung DPM bubar.
Ponsel Langit menerima panggilan masuk, pasti dari adiknya.
"Halo?"
"Kakak di mana?"
"Kafe Dostoyevski."
"Aku mau ke sana."
Langit mematikan panggilannya, pesanannya yang tidak disentuhnya dari tadi menunggu kedatangan adiknya. Langit mengangkat tangannya, dia memanggil karyawan yang tadi dari jauh, lalu dia datang menghampiri Langit.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Air putih, masukkan dalam tabung ini, dan beberapa tisu wajah."
"Baik."
Karyawan itu segera pergi dan melakukan perintah Langit, beberapa karyawan lain berbisik-bisik dan melirik sinis kepada Langit, mungkin karena mereka berpikir bahwa Langit adalah seorang pelanggan yang manja dan ingin selalu dilayani dengan baik.
Pintu terbuka, beberapa orang refleks menoleh ke arah pintu dan mendapati Samudra yang masih menggunakan pelindung siku, lutut, helm putih, dan rompi. Beberapa dari mereka merasa tidak asing dengan wajah Samudra.
"Wah, ini adik yang tadi di gedung DPM ya?" Kata salah seorang pelanggan pria, "Hebat banget, aku salut."
"Wow, lebih tinggi dari yang kelihatan di tv, haha."
Samudra tidak menghiraukan mereka dan segera melepas helm sambil terus berjalan menuju meja kakaknya.
Dari jauh, Samudra bisa dapat mengenali kakaknya melalui bentuk badan yang dimilikinya. Sangat khas, dan mudah ditemukan di antara kerumunan.
"Hei."
Langit menoleh, dia melihat adiknya penuh dengan debu dan tanah, juga mendapat beberapa goresan di lengan dan lebam di wajah.
"Duduklah."
Samudra duduk di kursi, sementara Langit berlutut di depannya dan memegang tabung berisi air bersih dan menyemprotkannya ke wajah Samudra.
Setelah dirasa cukup, Langit mengusap wajah Samudra dengan tisu wajah yang bersih.
"Aku baru tahu kau bisa bertarung."
"Eh? Hehehe." Samudra tertawa kecil, "Aku gak bisa berantem, kok. Tapi aku punya reflek yang bagus."
Langit mengangguk, "Mungkin ada bagusnya kau menonton film berantem di komputermu."
"Hehehe, sayang pesan apa?"
"Kau buta?"
"Memangnya, semua itu bisa habis sendiri?"
Samudra agak ragu saat melihat beberapa potong kue berukuran besar, meski dia suka sekali vanila, tapi kue ini terlalu banyak.
"Ini cuma ucapan selamat." Kata Langit yang sudah selesai membersihkan leher Samudra, dia lalu memotong kue dengan sebuah garpu dan memberikannya pada Samudra, "Cobalah."
Samudra membuka mulutnya, dia merasakan potongan tepung yang dipanggang dengan baik terasa begitu enak bersama dengan wangi vanila yang asli dan gula yang pas.
"Wah, enak banget."
"Menengadahlah."
Samudra menengadah, kakaknya menyemprotkan air lagi ke leher Samudra dan kali ini agak sedikit turun ke tulang selangka. Samudra yang peka melepaskan kancingnya yang paling atas dan membiarkan kakaknya memanjakan dirinya sedikit.
Saat sudah selesai, Langit memasangkan kancingnya lagi dan memotongkan kue lagi untuk adiknya.
"Buka mulutmu."
Samudra membuka mulutnya dan memakan kue vanila yang disuapkan kakaknya.
Lalu Langit mengelap bagian tubuh adiknya.
"Sebenarnya aku bisa aja mandi, tapi kenapa dilap kayak gini?"
"Sudah beberapa waktu aku tidak menyentuhmu."
Langit sudah selesai mengelap tangan Samudra, lalu duduk di kursi tepat di depan Samudra.
Samudra tersenyum dengan perlakuan kakaknya terhadap dirinya, darahnya memompa hingga mencapai tensi tertinggi dan menyebar di seluruh permukaan wajah dan telinganya hingga membuatnya tampak seperti menggunakan alat kosmetik hingga terlihat merona, tangannya menjentik kecil berkali-kali, kakinya tak bisa diam dan terus bergerak seperti pemain drum yang menggunakan kakinya.
"Makanlah, otakmu butuh cukup glukosa."
"Hm."
Samudra meraih garpu dan memotong kue untuk dimakannya sendiri, sementara kakaknya sibuk memikirkan sesuatu. Wajahnya mengerut, alisnya nyaris menyatu, lubang hidungnya membesar dan bibir bawahnya terlihat seperti digigit.
"Sayang? Ada apa?"
Lamunan Langit buyar, dia melihat adiknya yang terlihat cemas dengan kakaknya.
"Menurutmu, jika seseorang ingin masuk bar tapi tidak boleh karena tidak cukup umur, maka dia akan melakukan apa?"
Samudra mengambil gelas berisi cokelat hangat, tidak sepanas tadi saat Langit memesannya.
"Ah, soal pekerjaan?"
Langit mengangguk.
"Mungkin mereka akan mengganti baju, menggunakan kosmetik, lalu berangkat setelah merampas tanda pengenal orang lain?"
Langit mengangguk, "Bagaimana kalau ketahuan?"
Samudra menatap mata kakaknya dalam, "Memangnya masuk ke bar sepenting itu?"
Langit mengangguk.
"Mungkin dia bertarung sebentar dan mengganti dandanannya di toilet."
Langit berdiri, lalu berjalan diikuti oleh adiknya menuju meja kasir yang penuh dengan antrian orang yang ingin memesan untuk dibawa pulang atau membayar tagihan.
"Hey, antri dong."
"Kembali ke belakang, brengsek."
Langit tidak peduli dengan orang-orang yang menghalanginya, dia langsung menuju kasir dan melemparkan beberapa lembar uang 100 Dolar Republik.
"Ambil kembaliannya, ayo pergi."
Langit berbalik dengan seluruh tatapan sinis dari orang-orang kepadanya, sebelum
Samudra mengikuti kakaknya, dia membungkuk kepada kasir sebagai bentuk dari permintaan maaf, seperti orang Asia Timur. Setelah itu, dia berlari kecil mengikuti kakaknya yang sudah jauh di luar kafe.
"Halo?"
"Archer, ada apa?" Tanya Putri dari sebrang sana.
"Kumpulkan semua petinggi di markas besar. Kita akan bicara dengan komandan tentang si sialan."
"Baik, akan kucek kalau komandan ada dan bisa ditemui."
Samudra menyalakan motor, dia memanaskan mesin sambil menunggu kakaknya selesai dengan Putri.
"Bilang ini dari Langit, dia akan tahu betapa penting hal ini."
"Kamu yakin?"
"Jam 6 malam, tak ada penolakan."
Langit menutup panggilan, dia menaiki motor setelah Samudra berpindah ke belakang. Mereka mengendarai motor dengan sangat cepat, menuju markas besar. Tujuan pertama Langit adalah, mencari semua kasus yang terlibat dengan si perawan bersama para relasi, atau keluarga yang terikat pada mereka.
"Kakak, kita ke apartemen?"
"Kita pergi ke mabes."
__ADS_1