Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Fish Bait


__ADS_3

Langit menuju sekolah, saat ini sudah pukul 2 lebih sedikit, seharusnya setelah ini Petra akan pulang.


"Halo?"


"Langit, kamu di mana? Aku di kelasmu tapi kata teman-teman kamu menghilang sepagian."


"Aku di gerbang depan, kemarilah."


"Baiklah."


Langit menutup panggilan dari Petra dan memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Moodnya sangat bagus hari ini, memang, ini karena dia memiliki waktu lebih bersama adiknya dan bahkan mendapat mobil baru yang sangat bagus, setelah ini sesudah dia menghubungi kontraktor untuk renovasi apartemen, dia bisa tinggal menunggu waktu hingga semuanya berjalan dengan sempurna.


"Kak Petra." Panggil Samudra dari dalam mobil, "Sini."


"Wah, mobil siapa ini?"


"Punya kak Langit, dia baru dapat barusan."


"Hei, masuklah!" Kata Langit dengan suara yang cukup keras dari kursi supir.


"E-eh, iya."


Petra masuk ke dalam mobil, dia duduk di kursi belakang.


"Bagaimana di sekolah, kak?" Tanya Samudra sementara kakaknya mulai menyetir.


"Wah, asik, aku dapet teman baru, gurunya baik, tapi, kalian kenapa gak pakai seragam sekolah?"


"Hehehe, kami pergi main."


"Eh? Emang boleh?"


"Hihihi." Samudra tertawa kecil sambil menutupi giginya yang rapi, "Kakakku itu orang spesial di sekolah, dia peringkat 1 pararel sejak kelas 1, bahkan waktu dulu, dia pernah gak masuk sekolah sama sekali loh."


"Lalu?"


"Lalu dia juara 1 kompetisi karya tulis ilmiah tingkat nasional, hahaha."


"Wah, hebat banget. Dia ini jenius?"


"Hahaha, tapi kakakku kalau masak suka gosong loh."


"Eh? Terus sarapan tadi siapa yang masak?"


"Aku, hehehe."


"Wah, enak banget loh sarapan tadi."


"Hei diamlah, waktunya turun."


"Eh? Sudah sampai?" Petra kaget karena baginya, perjalanan ini terasa sangat cepat.


Langit langsung keluar, dia melihat penghuni kamar nomor 12 sedang berbicara dengan agen pindah rumah. Dia tidak mempedulikannya dan segera naik ke apartemennya.


"Petra, masuk ke apartemen ini." Kata Langit sambil membuka pintu di kamar dekat lift, jaraknya hanya satu kamar dari milik Langit, "Dan tunggu aku di dalam."


"Iya."


Langit dan Samudra berjalan menuju kamar mereka.


"Kakak mau melakukannya lagi?"


"Aku harus buat dia betah di sini." Kata Langit sambil mengambil sebuah gulungan tali dan pentungan bisbol.


"Dia punya kelainan?"


"Ya." Jawab Langit, "Masokis berat."


"Kakak tidak apa-apa?"


Langit terdiam, sebenarnya dia tidak ingin menyakiti seseorang hanya karena orang itu suka disakiti secara fisik, lagipula, memukuli seseorang tanpa tujuan itu bisa merusak kondisi mental seseorang, termasuk Langit.


"Tidak akan berdampak serius."


"Kalau begitu aku akan masak."


Langit mengangguk lalu keluar dari apartemen sambil membawa gulungan tali, kabel, dan pemukul bisbol, dia juga membawa beberapa barang di dalam tasnya.


Langit membuka pintu, Petra yang berdiri melihat keluar jendela menoleh, "Langit, kamu da- apa itu?"


Pemukul bisbol Langit menghantam perut Petra, matanya membelalak lalu terduduk sambil memegangi perutnya yang kesakitan, Petra sudah menunggu saat-saat seperti ini.


"Buka bajumu." Perintah Langit yang langsung dituruti Petra, dia melepaskan pakaian yang melekat di badannya termasuk bra dan celana dalam.


"L-Lang, Langit, shh." Dia berusaha mengucapkan sesuatu, "Melembutlah sedikit."


Langit seakan tidak mendengar permintaan Petra, langsung memegang kepala Petra dan menghantamkan lututnya ke perutnya.


"Heehhk!"


Tidak sampai di situ, dia memukulkan pemukulnya ke punggung Petra hingga dia jatuh tersungkur.


"Ahk! Hk! Gegh!"


Langit memutar tubuh Petra, hingga dia menunjukkan perutnya yang rata dan kulitnya yang mulai lebam. Langit lalu mengeluarkan lilin dari dalam tasnya dan menyalakan lilin itu, lalu meneteskannya di tubuh Petra.


"Ahh, ahh, hiih, hnnk!"


Petra merasa kepanasan dari lilin yang diteteskan Langit, namun tidak berhenti sampai di situ, Langit menginjak perutnya sekeras mungkin.


"Haahkk!"


Wajah Petra memerah, bukan karena ingin menangis, dia merona.


"Duduk." Kata Langit sambil menujuk kursi dengan pemukulnya.


"Hah-hahh, i-iya." Jawab Petra sambil perlahan meraih kursi itu lalu duduk.


Langit mengikatkan tali ke leher Petra, menyambungkannya ke lubang di sisi kursi, mengikatkannya lagi ke perut hingga kakinya. Setelah itu dia mengambil tali lagi dan mengikat kedua tangan Petra agar tidak memberontak.


Setelah itu, dia mengambil kabel dari dalam tas nya dan mengikatkannya ke tubuh Petra sama seperti dia mengikatya menggunakan tali.


Setelah itu, Langit mengeluarkan pengatur tegangan yang dipasang ke stop kontak, lalu menyambungkannya dengan kabel. Tubuh manusia tahan setidaknya hingga 100 watt di 2 ampere tegangan listrik, maka dari itu, Langit mengatur tegangannya hanya 20 watt di 0.2 ampere.


"L-Langit, ah, ahpa itu?"


Tanpa menjawab, Langit memukul perut Petra.


"Ahhg!"


Setelah itu, Langit menyalakan mesin yang disiapkannya tadi.


"Hrraaagghhh!!" Tubuh Petra bergetar hebat, seluruh bagian tubuhnya dialiri listrik oleh Langit.


"Hggmmpph! Hmmpph!" Langit menutup mulutnya menggunakan kain.


Masih disengat listrik, Langit menambahkannya dengan meneteskan lilin di tubuh Petra, sambil meneriakkan teriakan yang tertahan, Petra mendapatkan pukulan di kedua pahanya berkali-kali.


Hal ini berlangsung selama satu jam non-stop hingga Petra pingsan, saat Langit mengecek jam tangannya, sudah pukul 4 sore lebih sedikit. Langit melepaskan ikatan yang melilit tubuh Petra, lalu membereskan semuanya seperti semula dan membawa tubuh Petra yang penuh dengan luka lebam dan luka bakar ringan ke kasur yang ada di kamar tersebut.


"Benar kata Samudra." Langit berbicara sendiri, "Kalau begini terus, aku bisa gila."


Langit meninggalkan Petra di apartemen itu sendirian sementara di menuju apartemennya untuk makan bersama Samudra.


"Bagaimana?"


"Dia." Langit berhenti sebentar, dia mengunyah makanannya lalu menelannya, "Dia menikmatinya."


Samudra memakan kentangnya, "Aku masih bingung sama pola pikir orang masokis. Kenapa mereka suka sekali disakiti?"


"Jangan tanya aku." Jawab Langit.


Setelah selesai makan, Langit langsung merebahkan dirinya di kasur yang terasa sangat nyaman, dalam sekejap, dia langsung terlelap. Sementara Samudra tetap terbangun karena masih ingin mengerjakan tugas mata pelajaran yang diberitahu oleh temannya di sekolah.


Petra terbangun dari mimpi indahnya disiksa oleh Langit, tubuhnya terasa nyeri dan pegal, beberapa luka lebam terlihat jelas berwarna biru kehitaman di perut, pinggang, dan pahanya, beberapa luka bakar akibat kabel listrik juga mengelilingi tubuh Petra dari leher hingga kaki, namun wajah, betis, dan telapak tangannya sama sekali tidak terluka.


Langit paham kalau Petra tidak ingin orang lain tahu bahwa dia sedang terluka, makanya dia membelikan baju lengan panjang dan rok panjang.


Petra berdiri, dia melihat dirinya di pantulan cermin di meja rias dekat kasur, punggungnya sangat parah, lebam warna merah gelap hingga biru kehitaman nyaris menutupi seluruh permukaan punggungnya.


'Ah, kalau saja dia memukul wajahku, pasti akan terasa lebih baik.' Pikir Petra sambil mengenakan kembali bra dan celana dalamnya. Setelah itu, dia berjalan ke apartemen Langit tanpa mengenakan pakaian luar, ini karena seragamnya sudah sangat kotor karena keringat dan ludahnya selama dipukuli oleh Langit tadi.


"Permisi."


"Oh, kak Petra?" Samudra menyadari Petra masuk, "Sudah bangun?"


"Iya."


"Perlu diobati?"


Petra menggeleng, "Gak usah, lebih baik begini."

__ADS_1


Samudra mengangguk lalu melanjutkan mengerjakan tugasnya. Sementara Petra pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, meski agak sakit, dia harus tetap membersihkan diri dari keringatnya sendiri yang sangat tebal dan lengket.


Saat mandi, dia memikirkan betapa sadis sekaligus peduli Langit terhadapnya, semua pukulan Langit diingat oleh badannya, dan tentu, dia menginginkan hal itu terulang kembali.


Setelah mandi, Petra mengeringkan diri dan mengeringkan rambut pendeknya yang hitam legam, lalu berpakaian dengan pakaian yang sudah disiapkannya.


Pakaian yang dibelikan Langit sudah ditata dengan rapi dengan digantung sesuai dengan pasangan atasan dan bawahan yang cocok, sehingga Petra hanya perlu mengambil satu gantungan baju agar mendapatkan satu set pakaian yang cocok.


Pakaian yang akan dipakainya selama sore hingga malam adalah pakaian yang tidak terlalu mencolok, namun terlihat seperti seorang yang boros dalam menghabiskan uang.


Atasan lengan panjang berwarna merah dengan renda di bagian dada dan tulang selangka, dan rok panjang dengan lipatan yang sangat banyak bermotif batik warna coklat gelap, dia terlihat sangat cantik tanpa memperlihatkan bekas lukanya selama disentuh Langit.


"Wow, kakak luar biasa."


"Benarkah?"


"Hm." Samudra mengangguk, "Seperti pengantin."


Deg! Jantung Petra berdegup kencang untuk sesaat.


'Menjadi pengantin Langit?! Uwaaah! Aku mau!' Pikir Petra.


Langit keluar dari kamarnya, dia terbangun agak terlambat.


"Pukul berapa ini?"


"Pukul 5 lebih sedikit." Jawab Samudra.


Langit melirik Petra dengan pakaian yang dipakainya, yang diperhatikan meundukkan kepalanya karena malu diperhatikan Langit sekaligus efek yang masih tersisa dari kalimat Samudra padanya.


Langit masuk ke dalam kamar, lalu keluar lagi sambil memberikan sesuatu pada Petra.


"Pakai ini."


"Hm?"


Petra membuka kotak hitam yang diberikan Langit, isinya begitu berkilau, ada banyak cincin yang terbuat dari emas, beberapa dari mereka terbuat dari perak, lalu ada sebuah kalung dengan diameter yang pendek.


'A-a-a-a-a-a, apa ini?! Dia melamarku?!' Mata Petra berkunang-kunang, terkejut bukan kepalang.


"Jangan salah sangka, kamu disini memang untuk dimuliakan." Kata Langit sambil berjalan menuju sofa di depan tv.


"Terimakasih, Langit."


"Jilat kakiku."


Petra tersenyum, dia segera menghampiri Langit, berlutut di dekat kakinya, dan benar-benar menjilati kaki Langit hingga air liurnya keluar terlalu banyak.


"Jangan sampai menetes." Kata Langit sambil menyalakan tv dan menonton berita, sementara Petra berusaha keras agar tidak menjatuhkan air liurnya ke lantai, wajahnya memerah bukan karena darahnya memompa ke wajahnya yang lebih rendah daripada tubuhnya, melainkan karena dia menjadi lebih menyukai sosok Langit di hadapannya.


Sementara Samudra, dia duduk di sebelah kakaknya dan ikut nonton tv.


Mereka berada dalam posisi seperti ini selama lebih dari 30 menit, kaki Langit sudah seperti disiram oleh air satu gayung, sementara wajah Petra sudah merah padam seperti besi yang akan ditempa, saat Langit menyalakan ponsel dan melihat jam melaluinya, dia mendorong wajah Petra dengan kakinya lalu berdiri.


"Jaga rumah, Petra. Kami akan pergi sebentar lagi."


"Iya." Jawab Petra sambil mengelap bibirnya.


"Sudah waktunya?" Tanya Samudra.


"Iya, kita berangkat."


Langit memakai pakaian seperti biasanya, hanya kaus putih, celana pendek warna khaki, dan sepatu lari. Sementara Samudra hanya mengenakan kemeja tanpa lengan dan rok pendek warna hitam.


Mereka menuruni apartemen dan mengendarai mobil menuju toko komputer tempat Langit akan bertemu dengan pemburu.


"Ayo turun." Kata Langit sambil membuka pintu setelah parkir di tempat parkir dekat pertokoan.


"Iya."


"Seharusnya dia sudah ada di sini, katanya dia sedang mengikuti tupai." Kata Langit sambil menyalakan ponselnya, "Benar kataku, tuan? Atau nona?"


Langit mengetahui kalau pemburu itu berada di belakang mereka mengenakan masker dan topi.


"Tajam matamu, tuan." Katanya sambil membuka masker dan topinya lalu menjulurkan tangan bermaksud untuk memberi salam.


"Langit Safir."


"Oakrose." Jawabnya sambil bersalaman, "Nona?"


"Samudra Safir." Katanya sambil menyalami Oakrose, dia adalah wanita paruh baya dengan mata perak dan rambut hitam yang diikat.


"Kita akan berbicara di dalam mobil, tidak akan ada yang dengar bahkan seekor lalat." Kata Langit sambil berjalan menuju mobilnya.


Di dalam mobil, Langit langsung memberikan tablet dengan gambar Petra yang baru diambilnya, Oakrose yang menggeser gambar-gambar itu lalu bertanya, "Misinya?"


"Proteksi." Samudra mengeluarkan tumpukan kertas operasi yang sudah dimodifikasi oleh Langit, sehingga informasi rahasia tidak akan bocor, "Aku ingin kau menandai Petra Andersen selama semalam, jaga dia dari kemungkinan terburuk, dan kemungkinan terburuk yang aku maksud adalah ini."


"Pembunuh berantai?"


"Kurang lebih." Jawab Samudra, "Yang jelas, kakak ingin menangkap mereka."


"Aku mengerti, jaga anak ini dan bunuh semua yang mengincarnya, benar?"


"Tidak." Jawab Langit, "Kudengar akurasimu 102%, aku ingin kau melumpuhkan mereka dengan membuat mereka pincang."


"Kaki, oke."


"Misi ini akan dilaksanakan di kota ini." Kata Langit, Samudra memberikan peta kota Pertanjang, "Aku sudah menandai titik dimana kau harus bersiaga, dan aku sudah memastikan keamananmu."


Langit menoleh ke belakang dan menatap wajah Oakrose yang tertutupi bayangan kursi, "Jadi, Oakrose, kau tidak perlu sungkan. Kerahkan semua kemampuanmu."


"Wow, kalian polisi?"


"Independen, lebih tepatnya."


"Aku tidak percaya ini." Oakrose tersenyum dan menempelkan tangan di dahinya, "Aku dikontrak kepolisian independen, hahaha."


"Kau boleh mencatat ini di profilmu, tapi jangan sebut nama negara."


"Hahaha, tentu saja."


"Jadi, kita cuma nunggu sampai pukul 11 baru akan berangkat?" Tanya Samudra, "Aku lapar."


"Oakrose, apa yang kau makan sehari-hari?"


"Hm? Oh, aku menghemat pengeluaranku untuk beberapa perangkat dan senjata baru, jadi aku hanya makan, umm, mie instan dan beberapa kentang?"


"Oke, cukup, kita akan pergi ke restoran dekat sini." Kata Langit sambil menyalakan mobilnya.


"Eh, kamu serius?"


"Aku kasihan."


"Sialan, hahaha." Oakrose seperti mengenal anak ini, dia bahkan bisa bercanda dengannya, dan lagi, namanya Safir.


"Maafkan kakakku, dia memang tajam." Kata Samudra.


"Ah, nggak apa-apa, aku malah teringat kenalanku di sebrang sana."


"Benarkah? Dia mirip kakakku?" Tanya Samudra.


"Iya, dia jujur banget kalo ngomong, nggak pakai dipikir dulu bakalan nyakitin hati lawan bicara atau nggak."


"Kakakku banget deh dia itu, hahaha."


"Kalian diam, terutama mulutmu, Oakrose."


"Haha, oke, oke, aku akan diam."


Setibanya mereka di restoran, mereka langsung disambut oleh pelayan yang berseragam rapi dengan kemeja putih, rompi hitam, dan celana panjang warna sama.


"Sudah memesan meja?" Tanya resepsionis.


"Aku pesan sekarang untuk 3 orang."


"Baik, atas nama siapa?"


"Safir."


"Silakan lewat sini, tuan." Kata si pelayan yang menunjukkan meja untuk ketiganya, dia dan pelayan lain menggeserkan kursi dan mempersilakan untuk duduk.


"Ini buku menunya, panggil kami kapanpun akan memesan."


"Terimakasih, kak." Kata Samudra.


"Ini, kita benaran makan di sini? Kelihatannya mahal banget."


"Hei, miskin. Berhenti melamun dan segera pesan."


"Tch, oke, oke."

__ADS_1


"Kakak, melembutlah sedikit, ya? Lihat betapa polos kak Oakrose."


Langit menatap wajah Samudra dengan wajah yang serius ingin menelannya bulat-bulat, Samudra melihat kakaknya seperti itu merasa takut dan menundukkan kepalanya.


"Jangan diambil hati, pesan makanan sesukamu." Kata Langit sambil mengelus kepala adiknya.


"Iya, terimakasih."


Langit mengangkat tangannya, pelayan datang dan mulai mencatat pesanan.


"Menu terbaik, tiga set."


"Baik, ada lagi?"


"Es krim coklat satu."


Pelayan itu pergi setelah mencatat pesanan dari Langit, adiknya senang sekali karena kakaknya membelikan es krim coklat kesukaannya. Tidak berapa lama hingga pesanan mereka datang, ada banyak menu yang disajikan di meja Langit, salah satunya adalah sup Consomme yang sangat bening hingga tampak seperti air putih biasa, disajikan bersama irisan daging yang sangat berair.


"Wah, mirip lender, tapi wangi banget." Kata Oakrose berkomentar, "Ini dimakan?"


"Kau gila?" Tanya Langit sambil menyendok sesuap dan menelannya tanpa mengunyah.


"Hmm." Samudra menikmati supnya, "Ini enak banget."


Mereka menikmati makanan mereka hingga menu utama dihidangkan dan menghabiskannya diikuti dengan makanan penutup.


Langit meminum tehnya seteguk, sementara adiknya menyendok es krim coklat. Mereka bertiga diam, tidak saling berbicara.


"Jadi, kita masih di sini?" Tanya Oakrose, "Ini sudah jam 9."


"Ya, sepertinya memang sudah waktunya bersiap, gimana kak?" Tanya Samudra sambil meletakkan sendoknya setelah es krimnya habis.


"Kita pergi."


Setelah membayar tagihan sebesar 824 dolar, mereka bertiga pergi menuju daerah Flamboyan. Langit berhenti di pinggir jalan dan Samudra memberikan tablet pada kakaknya.


"Sesuai rencana, Oakrose." Langit menutup tabletnya, "Kau akan berada di gedung Theian ini dan mengawasinya."


"Dimengerti, aku akan segera pergi. In-ear kita sudah terhubung?" Tanya Oakrose sambil mengetes sambungan in-ear.


"Jelas dan stabil." Jawab Langit hampir bersamaan dengan Samudra.


Oakrose mengambil barangnya di bagasi dan pergi masuk ke gedung Theian, sementara Langit menghubungi Petra.


"Petra?"


"Halo?"


"Belikan aku sesuatu."


"Ya? Apa itu?"


"Daftar belanjanya ketinggalan, ada di atas tv. Kamu bisa masukkan tagihan ke rekeningku yang tersambung di ponselmu."


"Ini beli dimana? Satu dosis alkaloid- batrachotoxin?"


"Setahuku, mereka menjualnya di klinik farmasi di daerah Flamboyan."


"Baiklah, aku pergi ke sana."


"Oh ya, pakai kalung anjing yang ada di kotak hitam yang kuberikan tadi sore, dan cincin di jari manismu."


"A-ah, b-baiklah."


Langit menutup panggilannya, adiknya menatap wajah kakaknya dengan tatapan seakan ingin tertawa.


"Ada apa?"


"Kalung anjing?"


"Diamlah."


"Hahahaha." Samudra tertawa lepas di dalam mobil, "Oh ya, kita belum hubungi kak Putri dan Panda."


"Panggil dia Prinses saat bertugas."


"Iya, aku lupa." Jawab Samudra sambil menghubungi Putri menggunakan ponsel kakaknya, "Halo, kak Prinses?"


"Ranger? Sudah waktunya?"


"Iya, kami sudah ada di jalan Flamboyan nomor 412. Kakak diperintahkan ke gedung yang ditunjuk Archer, dan sambungan frekuensi kita FM4 104.88."


"Dimengerti, FM4 104.88."


Samudra menutup ponselnya dan menunggu bersama kakaknya di dalam mobil.


"Kak, bukannya kita sudah harus bersiap?"


"Benar, ayo ambil peralatan."


Langi keluar dari mobil dan membuka bagasi, isinya kosong melompong karena Oakrose sudah mengambil barang bawaannya dari bagasi ini, namun ini hanyalah bagasi tipuan agar tidak diketahui orang banyak, karena Langit mengetahui fitur lain bagasi ini, yaitu bagasi dalam.


"Profesor Rizaki tahu betul yang dia butuhkan." Kata Langit saat mengetahui fungsi bagasi ini tempo waktu.


Tidak banyak senjata yang ada di dalam bagasi ini, hanya ada dua tas, sepasang pistol darurat dan beberapa kotak amunisi, sisanya hanya 2 tas berukuran sedang, tentu saja, ta situ sudah disiapkan Langit.


Langit yang hanya menggunakan kaus putih dan celana pendek menambahkan rompi anti peluru dan pelindung untuk siku serta lutut, dia tidak menggunakan helm karena sangat mengganggu pandangannya, Samudra juga melakukan hal yang sama, namun dia mengepang rambutnya dan mengenakan helm.


"Pakai jaket ini, orang-orang mulai mencurigai kita." Kata Langit yang sudah memakai jaket untuk menutupi rompi anti pelurunya.


"Iya, mulai dingin juga." Jawab Samudra, dia hanya mengenakan kemeja tanpa lengan, sehingga sangat rawan udara dingin.


Orang-orang seakan tidak peduli pada mereka yang memakai peralatan di pinggir jalan, mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing tanpa perlu tahu apa yang sedang Langit dan Samudra lakukan.


Sebuah mobil van datang bersama sebuah motor yang dikenali oleh Langit, mereka adalah tim khusus, dengan Panda menyetir motornya.


Duk duk, Panda mengetuk kaca mobil Langit sambil tetap berada di atas motor.


"Kami akan pergi ke titik terjun, Garuda, Karin dan Loki sudah ada di titik tertinggi kota Flamboyan, yang sedang bersamaku saat ini Naga, Harpy dan Miru."


"Lanjutkan ke poin yang kutunjuk di peta, diam hingga ada gerakan fatal."


"Dimengerti, Naga, ambilkan tas yang kutunjukkan."


Naga keluar dari mobil van dan memberikan sebuah tas kepada Samudra melalui kaca jendela.


"Ini titipan dari lab."


"Bagus, mulai operasi."


Panda pergi bersama mobil van yang dikendarai Yuri, sementara Langit dan adikya masih di dalam mobil.


"Kita akan melemparkan kamera ini ke beberapa titik." Kata Langit.


"Baik."


Langit menyalakan mobilnya dan melaju dengan kecepatan pelan, dia berhenti di beberapa tempat untuk melemparkan kamera yang langsung mengirimkan tranmisi video ke tablet Samudra.


"Ini baru?"


"Aku yang desain, bagaimana menurutmu?"


"Aku lihat di lab waktu kakak kasih desain ke profesor, tapi aku gak nyangka bisa seefisien ini."


Kamera yang didesain oleh Langit dan dibuat oleh profesor Rizaki terbukti bisa menempel di semua permukaan, menggunakan kaca elektrik yang menghasilkan tegangan listrik adaptif sehingga membuatnya terikat pada suatu objek, dalam hal ini, menempel di seluruh permukaan.


"Itu yang terakhir."


"Iya, ada 24 tranmisi video, semuanya jelas, stabil."


"Bagus, kalau aku jual hak paten ini ke militer pasti bisa langsung kaya."


"Tapi kakak jual patennya ke profesor cuma seharga mobil."


"Ini masih bisa dikembangkan, aku menyembunyikan cetak biru lain di kamar."


"Heeeh."


Langit melihat jam tangannya, pukul 10 malam lebih 43 menit, seharusnya Petra sudah ada di daerah Flamboyan dan mulai belanja di toko farmasi.


Racun alkaloid- batrachotoxin adalah racun illegal yang membutuhkan surat ijin khusus untuk membelinya, dan Petra, rakyat biasa, tidak akan bisa mendapatkannya karena pihak toko farmasi akan menolak dengan mengatakan bahwa stok masih kosong dan mempersilakan untuk mencari di toko lain.


Membuatnya berkeliaran di malam hari pada pukul 10 lebih 43 menit, sementara si perawan, menurut prediksi Langit akan mengincar Petra yang data kependudukkannya sudah dipalsukan untuk dijadikan tumbal berikutnya.


Menggunakan gadis cantik, berprestasi, dan berasal dari keluarga berada sebagai umpan adalah strategi kali ini.


"Di sini Oakrose, aku lihat umpan ada di Hutamanuk 34, belum ada sesuatu mencurigakan."


"Terus awasi, kak." Kata Samudra di in-ear dengan saluran yang dibedakan dengan anggota tim.


"Diterima."

__ADS_1


 


 


__ADS_2