Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Guerillan All-out Warfare


__ADS_3


Sri Sudarsih 'Prinses' Kusumaning Putri (art by Samudra)


Langit berada di markas tempat Putri dan yang lainnya diperintahkan untuk datang. Panda terlihat sangat sibuk dengan laptopnya, begitu juga dengan anggota lain yang sedang sibuk melakukan sesuatu seperti mengisi amunisi di dalam magasin, atau menambahkan peredam suara di ujung senapan mereka.


"Halo?" Tanya Langit yang sedang menelpon Samudra menggunakan mic di telinganya.


"Kakak? Ada apa?"


"Aku akan pulang agak malam hari ini, bisakah kau tidak menungguku dan langsung tidur?"


Langit berjalan mengambil busur silang miliknya dan mengambil anak panah yang dia potong kemarin, dia juga sudah menambahkan beberapa fitur baru di busur miliknya, seperti gas beracun dan gas peledak.


"Kakak mau pergi? Akan lama?"


Langit menyuruh Miru mengambilkan kotak yang ada di sebelahnya untuk ditaruh di meja depan menggunakan isyarat tangan, Miru mengangguk.


"Tidak lama, kakak hanya akan bermain bersama teman-teman."


"Teman?" Samudra terdengar meninggikan suaranya seperti tidak percaya perkataan kakaknya, "Kakak punya teman?"


Langit menghela nafas, "Tentu saja kakak punya, paling tidak ada beberapa."


"Syukurlah, hehe. Kakak menginap juga gak apa-apa kalau sama teman."


"Okay, terimakasih." Jawab Langit sambil menoleh pada Putri, "Aku tutup telponnya ya?"


"Okay, selamat bersenang-senang."


Samudra meletakkan ponselnya di meja komputer di kamar kakaknya, "Dasar bodoh."


Setelah itu, Samudra keluar dari kamar kakaknya. Dari tadi sore dia sudah menunggu kakaknya tanpa pakaian satupun, alias telanjang bulat.


'Haah~ pada akhirnya juga gak bakalan bisa.' Gumam Samudra dalam hati sambil mengenakan celana dalam dan celana panjang tanpa kaos, atau baju apapun.


Ini adalah pakaian standar dalam rumah menurut Samudra.


Sementara itu Langit di markas, dia menghampiri kotak yang tadi dibawa Miru ke meja depan, dia membuka kotak tersebut dan mengecek isinya.


"Apa itu?" Tanya Panda.


"Oh, aku sudah meminta ini dari Prinses, dia memberikan kotak suplai padaku."


"Aku tahu itu, aku bertanya isinya."


"Oh, lihat ini." Langit mengeluarkan kabel yang terhubung di beberapa perekat dan salah satu perekat itu memiliki tombol.


"Apa itu?"


"Alat rahasiaku." Jawab Langit sambil menggulungnya rapi di sebuah tongkat dan memasukannya ke dalam tas, "Aku akan menggunakannya saat dibutuhkan."


Langit berjalan menuju meja depan dan melipat tangannya di depan dada, Putri menghampiri Langit diikuti oleh Panda dan sisa anggota tim.


"Jadi kita akan menyergap semua kota, aku sudah mengetahui pola tempat penyerangan si perawan."


Langit menayangkan peta Republik Asia Timur dan menandai bagaimana pola penyerangan di kota terpusat seperti Pertanjang dan Tanpel.


"Tapi aku berani bertaruh kalau mereka sebal dan akhirnya memilih untuk mengambil di sembarang tempat dengan waktu acak."


Miru mengangkat tangan setinggi helmnya, Langit menghentikan kalimatnya.


"Bagaimana kalau mereka mengambil secara berkala setiap beberapa waktu di seluruh kota?"


Langit mengangguk, dia menayangkan seluruh titik penerjunan polisi dan unit khusus di setiap kota.


"Karena itulah, aku menyebarkan semua unit di seluruh kota besar tempat keluarga 'bangsawan' tinggal. Kalau ada gerak-gerik mencurigakan, mereka akan menyergap masuk. Daripada disebut penangkapan serentak, ini lebih bisa disebut menunggu serentak." Kata Langit menjelaskan sambil memainkan kedua jarinya saat mengatakan kata 'bangsawan' untuk menunjukkan bahwa yang dia katakan tidak sesuai dengan arti yang sebenarnya.


"Khusus untuk kota Pertanjang, Tanpel, dan Petanggung, aku percayakan pada kalian. Meski kita kekurangan orang, aku yakin kalian akan mudah menangkap mereka."


Langit menayangkan titik terjun mereka.


"Kediaman Zamrud, Deneve, dan Ator akan menjadi sasaran yang aku yakin sedang diincar oleh si perawan. Amankan mereka dan kembalilah hidup-hidup."


"Kalian dengar dia! Tim Tanpel dan Petanggung, berangkatlah sekarang. Mulai siaga di titik penerjunan hingga perintah lebih lanjut!" Perintah Putri.


Suara hentakan kaki terdengar di seluruh ruangan, mereka memberikan hormat kepada Putri, yang diberi hormat membalas hormat lalu menurunkan tangannya.


"Semoga beruntung."


***


Samudra menonton televisi di ruang tengah sambil melakukan push-up ringan, dadanya bergerak ke sana kemari karena dia tidak pakai bra atau baju sama sekali, dan itu bukan masalah baginya.


Dia melakukan ini setiap bangun tidur, dan saat tidak ada kakaknya di rumah. Terkadang dia bermain bersama teman-teman cowoknya di pusat kebugaran dekat kampus untuk memainkan treadmill dengan taruhan roti rasa coklat keju di kantin.


"-berita selanjutnya datang dari kota Patembayan, di mana seorang pelajar tertangkap saat membela diri dari serangan perampok yang terbunuh saat melancarkan aksinya."


Samudra mengakhiri kegiatan push-upnya dan mematikan TV.


'Menonton berita buruk di malam hari itu gak baik kata kakakku.' Pikirnya.


Karena tidak ada orang lain di rumah, Samudra bebas melakukan apapun di rumah. Maka dari itu, dia melepas celana dan celana dalamnya hingga telanjang bulat lalu pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


"Oh, wow. Meski dadaku tidak seberapa, tapi pinggangku boleh juga." Katanya berbicara sendiri sambil mengamati dirinya di cermin tepat sebelum dapur.


Setelah meminum air putih dan tidak lagi merasa kegerahan, Samudra berjalan menuju kamar mandi dan menyalakan shower.


Wajah Samudra jelas menunjukkan rasa nyaman saat mandi setelah sedikit berkeringat.


Setelah mandi, Samudra mengeringkan badannya dan langsung masuk ke kamar Langit.


"Komputer kakak tidak pernah mati. Mungkin dia melakukan sesuatu." Samudra menggumam sendiri sambil mengutak-atik komputer kakaknya.


"Apa ini? Rencana penyerangan?" Samudra heran kenapa kakaknya memiliki sesuatu seperti ini di komputernya, "Tanggal, hari ini. Jam sembilan malam hingga pagi?"


"Hahaha, yaampun, kakak. Kau gak perlu berbohong kalau mau menangkap penjahat, hahaha."


Samudra meraih ponselnya yang ada di meja dekat keyboard. Dia menelpon kakaknya.


"Halo?"


"Kakak, bagaimana di sana?"


"Semuanya sedang asik sendiri, aku sedang berusaha mencari celah agar kabur."


"Hahaha, kalau begitu, semoga beruntung ya, kak. Jangan gugur."


"..."


"Iya."


Di sisi lain, Langit kaget dengan kalimat terakhir yang dia dengar dari adiknya.


'Bagaimana dia bisa tahu? Mungkin dia membaca berkas di komputerku?' Pikirnya.


"Bisa kamu hentikan menyentuh komputer dan segera tidur? Memangnya tugasmu sudah selesai?"


"Belum, hehe. Kalau gitu aku tutup telponnya."


Langit mengangguk kepada Putri sebagai isyarat bahwa dia sudah selesai.


"Prinses, aku akan keluar. Kau ambil alih dengan semua komando."


"Tapi aku gak ada pengalaman komando unit tempur sebanyak ini."


Langit diam sejenak, dia terlihat berpikir sambil memegangi dagunya.


"Aku akan mengamati progress kerjanya sambil jalan, jika ada yang diperlukan, aku akan segera beritahu."


"Kalau gitu, gak apa-apa. Kau mau kemana?"


"Memastikan sesuatu." Balas Langit singkat sambil mengambil tasnya yang sudah disiapkan tadi.


"Aku pinjam motormu." Kata Langit sambil mengambil kunci motor di saku Putri di dada sebelah kanan.


"Oke, cepat kembali, Archer." Jawab Putri yang biasa saja saat tangan Langit masuk ke saku dadanya.


Langit pergi keluar sambil memakai kacamata holo, kacamata ini tersambung dengan perangkat di markas, sehingga Langit bisa tahu kondisi terkini pertempuran di setiap kota.


Elion Misken menciptakan teknologi yang bisa menerjemahkan gelombang otak menjadi komando tertentu pada sebuah perangkat, dan militer mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bisa digunakan dengan sangat efektif.


Seperti menghitung jarak dari tempat penggunanya berada menuju titik yang ditunjuk, menghitung arah angin dan kecepatannya, sangat berguna untuk penembak runduk seperti Loki atau Garuda.


Dalam kasus Langit, dia menggunakannya sebagai ­link informasi untuk memberikan komando, bersama dengan in-ear yang terpasang di telinganya, microphone dapat digunakan sesukanya untuk berkomunikasi dengan Putri.


"Beritahu setiap penembak runduk untuk bersiaga dengan teropong thermal dan electro saat jam 9 tepat." Perintah Langit sambil mengendarai motor.


"Serius, Archer. Aku gak paham sama sekali yang ada di pikiranmu. Kalau malam ini kita gagal, kita akan dianggap aib bagi kemiliteran."


"Peduli setan dengan aib."


Langit mendengar Putri menghela nafas di saluran in-ear, mungkin dia ragu.


Setelah memarkir motor di depan apartemen, Langit yang sudah menyiapkan pistol dan busur silang di balik jaketnya berjalan masuk tanpa peduli dengan omongan orang yang sedang berbisik dengan pacarnya di pintu masuk.


Langit menggunakan lift menuju lantai tempat apartemen Senja berada, dia ingin memastikan sesuatu tentang Senja. Lift terhenti di tengah jalan, beberapa pemuda masuk dan membuat suasana menjadi sedikit ribut.


"Hei, kukira aku bisa ngelawan dia tadi, wahahaha."


"Gak mungkin lah, dia kan gak ****** kayak kamu, haha."


"Udahlah, kalah ya kalah aja."


Langit mulai muak, apalagi saat salah satunya menyalakan rokok dan mengembuskan asap rokoknya ke tengkuk Langit yang langsung berbalik badan dan berhadapan dengan perokok yang ribut ini.


"Apa kau lihat-lihat? Gak suka asap rokok ya pergi aja kau." Katanya sambil menghisap dan mengembuskannya ke wajah Langit.


Ditamparnya wajah pria itu hingga dia terjatuh, rokoknya yang masih menyala diambil oleh Langit.


"Hei, apaan kau?!"


Langit menyingkap jaketnya dengan berkacak pinggang, memperlihatkan dua pistol dan beberapa pisau.


"Ah, m-maafkan aku."


Langit cuek dengan pria itu dan mengembalikan perhatiannya ke pria yang merokok tadi.


"Hei, kau suka banget merokok, kan? Nih buat kau." Langit membuka mulut pria itu dengan paksa dan memasukkan rokok yang masih menyala ke dalam mulutnya.


"Aaaahhh!!" Pria itu berontak, Langit yang sudah berdiri menendang dagu pria itu dan menginjak kepalanya berkali-kali hingga dia pingsan. Teman-temannya tidak berkutik di hadapan Langit.


Bunyi denting lift menandakan bahwa mereka sudah berada di lantai tempat tujuan pertama yang ditekan. Langit keluar dengan santai dan segera menuju apartemen tempat Senja tinggal.


"Archer, ada orang mencurigakan di kota Berun, Takayo, Yerkes, Halma, sama di Arsha."


"Deskripsikan mereka."


"Pakaian gelap, mobil van, mobil pick-up, alat las?"


Langit berada di depan pintu apartemen Senja, dia mengamati pintunya dengan seksama, "Alat elektronik?"


"Gak kelihatan."


"Thermal?"


"Jantung dan kepala mereka indicator merah."


Indikator merah menandakan tingginya suhu pada bagian tertentu manusia, normalnya, suhu manusia hanya diindikasikan dengan warna kuning hingga oranye.


Jika adrenalin dan pikiran berat berada dalam tubuh manusia, jantung akan lebih cepat memompa darah dan otak akan memanas hingga indikatornya berwarna merah.


Pernah dengar kalimat, 'Soal ujian ini membuat kepalaku menguap.'? Seperti itu kejadiannya.


"Itu mereka, fokuskan penembak runduk pada mereka dan tunggu hingga mereka menyentuh target."


"Copy."


'Nah, sekarang, kita coba cari tahu tentangmu, Senja.'


Langit mengeluarkan alat untuk membuka kunci secara paksa, hal ini disebut lock-picking, yaitu membuka kunci secara paksa tanpa merusak kunci.


Berhasil, Langit mengubah holo miliknya menjadi mode gelap, dia bisa melihat dalam gelap. Langit berjalan masuk menuju kamar Senja, dia pernah ke sini sekali saat penyergapan adiknya terjadi, jadi dia hafal seluk beluk apartemen ini.


"Tidak ada orangnya, pergi? Tapi ke mana?" Langit bergumam sendiri, dia menelusuri lemari Senja dan hanya mendapati pakaian normal anak gadis, "Meja belajar?"


Langit membuka laci di meja belajar, dia tidak menemukan sesuatu kecuali buku catatan sekolah dan buku pelajaran, "Hm? Diary?"


Langit membuka Diary dan membacanya dengan teliti, setiap halaman dipotretnya menggunakan kacamata holo untuk diteliti nanti, "Tidak ada yang aneh, hm?"


Langit melihat kalender ada jadwal tertulis di sana, "Hari ini, Bar Karang."


"Laporkan status tiap kota."


"Siaga." Jawab Putri melalui in-ear.


Langit membuka jendela dan menempelkan sticky-tap di dinding yang berfungsi untuk menahan beban hingga seratus kilogram, berat badan Langit ditambahakan beban barang bawaan dan pakaian mungkin hanya menggunakan 75% kapasitas sticky-tap.


Langit sudah memodifikasi tali yang terpasang di sticky-tap miliknya hingga menjadi sepanjang 800 meter.


Tentu tali yang digunakan tidak biasa, dia menggunakan kabel baja yang memiliki kandungan tungsten, sangat tipis namun sangat kuat.


Langit meraih tali dan melompat keluar jendela, dia terjun meluncur ke bawah dengan cepat, dan mengerem di saat terakhir.


Langit mendarat dengan sukses, dia lalu menonaktifkan fungsi sticky-tap dan membuatnya terjatuh bebas.


Langit mendorong orang yang ada di dekatnya hingga mereka marah, namun saat sticky-tap terjatuh dengan kecepatan tinggi dan hampir menghantam kepala seseorang, mereka pun terkejut dan mengatakan terimakasih karena sudah diperingati.


Setelah menggulung kabel dengan menekan tombol di sticky-tap, dia memasukkannya ke dalam tas dan pergi mengendarai sepeda motor milik Putri.


"Archer, mereka mulai memasuki gedung."


"Mulai operasi."


"Mulai operasi, dimengerti."


Langit berkendara dengan kecepatan penuh, motor milik Putri dilengkapi dengan sirine sehingga memudahkan dia untuk menerobos dan mendapatkan pengecualian aturan berkendara.

__ADS_1


"Sophfia Bozak, kuharap kau hidup."


***


Bozak sedang makan malam bersama keluarganya, dia adalah ketua di kelas Langit dan putri dari Dirmud Bozak dan istrinya Fadina Bozak, ayahnya adalah bos dari perusahaan farmasi, sementara ibunya bekerja sebagai dokter bedah di rumah sakit yang dia dirikan sendiri.


"Gimana sekolah?" Tanya ayahnya.


"Duh repot banget, dua bulan lagi ujian loh, padahal aku masih ingin main."


"Yaampun, sudah gede tapi masih mau main loh kamu ini." Kata Ibunya menanggapi.


"Aku kan anak-anak, bu."


"Yang sudah umur 18 tahun."


"Hahahaha." Dirmud tertawa sementara Sophfia berlagak kesal dan memakan dagingnya.


Setelah menyelesaikan makan malam, Sophfia masuk ke dalam kamar lalu menyalakan komputernya dan membuka buku catatan. Dia membutuhkan internet sebagai media ekspansi dari apa yang dia pelajari di sekolah.


"How to indentify complementary distribution in certain phonemes."


Sophfia Bozak, umur 18 tahun, sangat pandai di pelajaran eksak dan logika serta seni, memiliki rekor lari tercepat di kelas dalam kategori 100 meter dan 200 meter, memiliki akurasi tinggi saat menembakkan bola ke dalam ring basket, mampu membanting lawan dalam 4 detik di seni bela diri Judo, namun saat ujian try out, dia mendapatkan nilai 40 di pelajaran bahasa Ingles.


"Sialan, aku bahkan gak ngerti yang dibahas orang ini." Katanya mengeluh soal video pembelajaran yang dia tonton di komputernya.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk dari luar.


"Sophie, bisa kamu keluar sebentar?"


"Ah, iya, ma."


Sophia melihat ibunya dengan wajah ketakutan, ayahnya sudah tidak sadarkan diri, dan saat ini, sebuah pistol mengacung lurus di kepala Fadina Bozak.


"N-nak, ini, ini t-teman, temanmu, datang berkunjung." Ibu Sophfia mengatakannya sambil terbata-bata karena gemetaran, "Kamu, k-kalian, bisa, bermain di luar."


"I-ibu?" Sophfia menitikkan air mata. Selama ini, dia melihat ibunya diperhatikan orang-orang yang kagum padanya.


Tapi dia tidak pernah melihat ibunya diperhatikan dengan pistol seperti ini.


"A-ayo, kita pergi." Kata Sophfia sambil menyerahkan kedua tangannya, mereka pun memborgol Sophfia dan menutup kepalanya dengan sebuah kantung hitam agar dia tidak bisa melihat.


"Shi."


Pria itu mengatakan 'Shi' yang berarti kematian dalam bahasa Asia timur kepada temannya yang memegang pistol. Yang diperintah pun mengangguk dan bersiap memasukkan potongan timah ke dalam kepala Fadina Bozak.


"Nani o kore wa??!"


Seseorang dari mereka berteriak, karena di dalam ruangan sudah dipenuhi asap berwarna hitam.


Suara ledakan dari ruang vakum lampu yang pecah pun menyebabkan ruangan menjadi gelap tanpa adanya sinar lampu.


"Aahh-hk!"


"Retouji-san! Kono yarou!" Dia menembakkan pistolnya membabi buta, namun tidak mengenai apapun karena Sophfia dan Fadina sudah tiarap sejak semua lampu pecah.


"Siapa itu Yarou?" Kata seseorang di pojok ruangan.


"Kisama!" Dia menembakkan pistol cadangannya ke arah suara itu muncul, namun tidak ada orang di sana.


"Hey, tenang dulu. Aku tidak bisa bahasa Asia timur, tapi-" Seseorang muncul di balik bayangan, dia menampakkan dirinya, namun sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, pria itu menembakkan pistolnya ke orang yang bicara bahasa Republik.


Yang ditembaki tadi kini menghilang, wujudnya berubah menjadi statis sebelum menghilang sepenuhnya.


Ternyata itu adalah proyeksi 3 dimensi yang digunakan dunia militer tempat Putri berkecimpung di dalamnya.


"Dare ka kono kisama! Kono me o mise-"


Orang itu ambruk dengan anak panah di dahinya, dia mati dengan mata sipit yang membelalak.


Langit muncul dari bayangan, dia menghampiri Sophfia dan Fadina Bozak setelah meletakkan kipas dengan filter yang cukup untuk menyaring asap hitam di ruangan ini.


"Hey, kalian hidup?"


Keduanya tidak menjawab, hanya suara sesenggukkan dan anggukkan yang mengindikasian mereka masih hidup, setidaknya di mata Langit.


"Bagus, bangun dan ikut aku. Kita ke tempat aman." Katanya yang langsung dituruti oleh Sophfia dan ibunya, dia mengangkat Diarmud dan pergi keluar ruangan.


"Halo, ya, Jalan Adiminota nomor 317. Cepatlah."


"Anda terdengar seperti teman sekelasku." Tanya Sopfhia.


"Namaku Archer."


"Apa ayahku baik-baik saja?"


"Tidak, mungkin dia mati."


"Ha-haha, kamu bercanda?"


"Aku punya banyak sisi negatif, nona Bozak." Jawabnya datar, sambil berjalan keluar dia melanjutkan kalimatnya.


"Berbohong bukan salah satunya."


Langit mendengar suara sesenggukan dari Sophfia dan ibunya, tentu saja, jika orang terdekat tersakiti, menderita, atau bahkan mati, sangat pasti jika kerabatnya merasakan sedih lalu menangis sebagai ekspresi kesedihan.


Langit terus berjalan ke luar gedung, ambulan sudah menunggu di depan, Langit melemparkan Diarmud Bozak kepada seorang paramedis yang tidak kuat menahan beban seorang pria dewasa sendirian hingga terjatuh.


"Ayah! Teganya kau!" Sophfia berteriak dan berlari, dia memukuli dada Langit, namun yang dipukuli bahkan tidak merasakan sakit.


Dia pun meraih wajah Sophfia dan memukulnya sekuat tenaga dengan kepalan tangan.


"Aahh! Ahhk-" Suaranya terhenti saat Langit menghantamkan wajahnya ke lantai.


"Sophie!" Ibunya berlari menuju anaknya yang bersimbah darah di wajah.


"Kau sebaiknya-" Kalimat itu terhenti saat Langit menembakkan pistol berisi peluru bius ke keduanya, lalu menendang wajah Fadina Bozak hingga dia tidak sadarkan diri.


"Urus semua ******** ini."


"O-okay."


Langit berjalan menuju motornya yang diparkir di depan.


"Laporkan kondisi."


"28 kota besar aman, 12 kota sedang dalam pertempuran, sisa 64 kota sedang siaga 1."


"Terus update info ini padaku, aku sudah mengamankan keluarga Bozak dan sedang menuju kediaman Ancoretia." Kata Langit sambil menyalakan motor lalu melesat ke daerah Rone.


Jaraknya mungkin hanya sekitar 12 atau 18 blok dari daerah Jumra tempat Bozak tinggal.


"Copy, Archer."


"Perlakukan keroco sesukamu, tapi jangan lukai pemimpinnya."


Motor Langit menerobos lampu merah dengan kecepatan 93 mil per jam, polisi yang melihatnya langsung mengejar Langit karena dia lupa menyalakan sirine.


"Kepada tuan atau nyonya pengendara motor plat RD 911 AR, dimohon menepi ke pinggir jalan."


Speaker itu cukup keras hingga bisa terdengar oleh Langit yang menggunakan helm rapat dan melaju nyaris secepat 100 mil per jam.


Setelah menepi, Langit menghampiri dua polisi yang juga menghampirinya.


"Ada apa?"


"Ada apa?! Kau jelas menerobos lampu lalu lintas dan melebihi batas kecepatan, bodoh!"


Langit menghela nafas dan mencueki keduanya dengan melihat jam tangan sebagai isyarat.


"Hey! Tak sopan sekali kau! Ikut kami ke kantor dan jelaskan semuanya di sana!"


Langit mengeluarkan tanda pengenal satuan khusus kemiliteran, tertulis komandan di tanda pengenalnya yang berarti pangkatnya lebih tinggi dari dua polisi di depannya.


"Ah, maafkan kami. Kami tidak tahu anda sedang dalam keada-"


Plak! Plak!


Langit menampar keduanya dengan sangat keras, keduanya tidak berkutik.


Plak! Plak! Plak! Plak!


Dia menampar mereka masing-masing sebanyak tiga kali, keduanya meringis kesakitan.


"Arif Bartajo, Surya Shakti. Ikut aku."


"Siap!" Jawab keduanya serentak.


"Samakan frekuensi radiomu, 99.23 FM4."


"Baik." Jawab Bartajo yang segera menyetel radionya.


Langit kembali menyalakan motornya dan kali ini tidak melupakan sirine, dia mengendarai motornya lebih cepat dari sebelumnya dan dalam waktu 3 menit, dia sudah sampai di depan gedung tujuannya.


"Uh, pak? Untuk apa kita kemari?"


Plak!


"Maaf, pak."


Langit membaca di perpustakaan, kalau rasa sakit lebih ampuh untuk melatih binatang daripada mengedukasinya dengan makanan.


Tapi yang ada di hadapannya saat ini tentu bukan binatang, tapi sepertinya ampuh, jadi Langit menerapkannya begitu saja.


"Ganti seragam kalian berwarna hitam, tidak berbicara sepatah kata kecuali kutanya, tidak berisik dan tidak menanyakan keputusanku." Langit mengeluarkan kedua pistolnya dan mengarahkan keduanya ke masing-masing kepala polisi tersebut, "Jelas?"


"Jelas!"


Langit menurunkan pistolnya lalu mengangguk, kedua polisi itu paham dan segera membuka baju mereka sehingga mereka hanya menggunakan kaus berwarna hitam. Celana mereka sudah hitam, sehingga tidak perlu ganti lagi.


"Bawa peralatan lengkap kalian, setelah ini, kalian akan naik pangkat dari polisi lalu lintas menjadi polisi standar."


"Terimaka-"


Plak!


Bartajo yang barusan ditampar Langit pun mengangguk dan segera memakai peralatan lengkap seperti rompi anti peluru, helm, pelindung siku dan lutut, serta sarung pistol dan sarung bayonet.


"Kau di atas?"


"Ya."


"Bagus, tolong bantuannya, Harpy."


"Mereka sudah di koridor, sepertinya akan melakukan breaching."


"Waktunya masuk." Jawab Langit sambil menoleh pada Bartajo dan Shakti.


Keduanya paham lalu mengikuti langit memasuki gedung apartemen. Langit menghampiri resepsionis dan menunjukkan tanda pengenalnya, begitu pula Bartajo dan Shakti.


"Kosongkan apartemen 201, 203, dan 140 hingga 149. Lakukan evakuasi setelah ledakan." Kata Langit kepada resepsionis.


"Akan saya usahakan, pak. Semoga berhasil." Jawab resepsionis sambil membungkuk.


Langit dan kedua polisi masuk ke dalam, terdengar dengan jelas kalau resepsionis tadi berteriak memanggil semua temannya untuk segera evakuasi penghuni 201, 203 dan semua yang ada di lantai di bawah apartemen nomor 202.


Langit sampai di tangga, daripada Lift, tangga akan lebih efektif jika ingin menggunakan hook.


Kediaman Ancoretia adalah seluruh bangunan apartemen ini, namun mereka hanya tinggal di satu kamar dan menyewakan sisanya.


Tidak heran mereka memiliki bisnis apartemen yang bagus dan beberapa cabang hotel berbintang mereka juga ramai dikunjungi di seluruh republik.


Langit menembakkan hook hingga ke sampai ke lantai 12, lalu menembakkan satu lagi namun di sisi yang berbeda.


Dia lalu memasangkan zip di kedua tali baja tersebut sehingga bisa digunakan sebagai alat panjat yang efisien dengan cara kerja seperti zipper untuk menutup celana.


Setelah memasang pegangan di talinya, Langit kini bisa langsung melesat ke lantai 10.


"Gunakan bergantian, aku menunggu di kamar 202."


"Siap."


Kedua polisi itu menggunakan rapple-nya sama seperti Langit menggunakannya, sehingga mereka bisa menyusul langit di lantai 10.


Langit mengepalkan tangannya, isyarat bahwa mereka harus berhenti.


Langit meletakkan kamera yang terhubung ke salah satu lensa kacamatanya, sehingga dia bisa melihat yang ada di koridor.


"Harpy, kau lihat?"


"Ya, mereka memasang peledak termit di dinding. Ledakan itu cukup untuk menghancurkan dinding beton."


"Kau bawa peluru bor?"


"Aku bawa 3 buah."


"Tembakkan ke arah peledak itu sesuai aba-abaku."


"Copy."


Bartajo dan Shakti saling pandang, mereka tak mengerti apa yang sedang terjadi. Karena peka dengan situasinya, Langit menjelaskan secara singkat apa yang sedang mereka hadapi.


"Kita sedang mencegah penculikan si perawan, jangan angkuh dan selesaikan secepat mungkin." Kata Langit berbisik pelan yang dijawab dengan anggukan oleh keduanya.


Langit menggunakan masker gas, sayang sekali dia hanya membawa satu. Mengajak polisi adalah keputusan di luar rencana dan kini dia harus improvisasi.


Langit menunjuk ke arah kepala dengan telunjuknya, lalu memukul kepalanya dengan kepalan tangan, Bartajo dan Shakti mengerti maksud Langit dan segera bersiap-siap.


Langit memperhatikan dengan seksama, dia sedang dalam posisi berdiri, dan sangat siap untuk merenggut nyawa orang berdosa lagi hari ini.


Dengan satu pistol dan satu busur silang.


"Mereka sudah selesai memasang peledaknya, Archer."


Langit tahu itu, dia sangat tahu apa yang sedang terjadi di balik badannya, di koridor yang hanya berjarak satu langkah ke samping.

__ADS_1


Namun, apabila peledak itu hancur sebelum detonasi, maka tidak akan menciptakan ledakan yang direncanakan Langit.


"Archer! Mereka bersiap dalam posisi! Mana komandomu!"


"Archer!"


"Archer!"


Langit melihat mereka melakukan detonasi.


"Tembak." Perintahnya dengan suara berbisik.


"Aaah!"


Harpy berteriak kencang, untungnya Langit memasang level-stabilizer pada perangkat yang dia pakai, sehingga telinganya tidak rusak.


Duar!


Langit berbalik, dia menembakkan gas beracun dari busur silangnya. Setelah itu dia menembaki mereka dengan akurasi yang jelek, sehingga semua tembakannya meleset.


Dor dor dor!


Untungnya Bartajo dan Shakti yang polisi sungguhan bisa mengatasi akurasi Langit yang jelek.


Sesuai perintah langit, tembak semuanya di kepala, namun tidak membunuh pemimpinnya.


"Archer! Tadi itu bahaya! Kau bisa membuat Ancoretia terbunuh!"


"Peledak termit butuh waktu sekitar 3 detik untuk melelehkan beton, dalam waktu 3 detik itu, ada delay dari latency jaringan komunikasi kita selama 1 detik. Butuh sepersekian detik untuk menembakkan peluru dan butuh waktu sekitar setengah detik agar bor itu menembus dinding beton. Perhitunganku tidak pernah salah dan ini buktinya." Kata Langit menjelaskan semuanya pada Harpy sambil mengecek kondisi mereka bergiliran.


"Tetap saja aku panik, Archer."


Para staf apartemen datang sesuai perintah Langit, yaitu setelah ledakan. Mereka mengevakuasi setiap kamar, berbeda dari perintah Langit sebelumnya.


"Kerja bagus, kalian bisa membedakan mana bos dan keroco."


Bartajo dan Shakti memberikan hormat sambil gemetaran dengan rasa tersanjung sekaligus takut pada kemampuan Langit.


"Halo? Aku butuh ambulan di Jalan Katapangayen, ya, ya, daerah Rone, nomor 82, ya, cepatlah."


Langit menoleh pada kedua polisi di depannya.


"Kalian urus keluarga Ancoretia di dalam kamar 202 sekaligus para ******** ini, amankan keluarga Ancoretia dan bawa pemimpinnya ke sel di mabes, melapor ke komandan Januri."


"Siap!" Jawab keduanya serentak.


"Uhhg, ahh." Langit menoleh, ternyata ada salah satu pelaku yang masih hidup.


"Sepertinya aku butuh satu keroco ini."


Langit mengambil borgol dari Bartajo dan memasangnya di tangan pelaku yang masih hidup.


"Ayo jalan." Langit menyeret pelaku yang pincang setelah ditembak itu keluar. Saat berada di lantai satu, Langit mengambil kembali hook yang masih menggantung bersama dengan zip-nya.


"Tolong, ampuni aku."


"Baik, aku akan mengampunimu, silakan jalan menuju sepeda motor itu." Jawab Langit.


"Harpy, bisa kau pindah ke daerah Ranco?"


"Aku sudah di daerah Ranco, sesuai skema yang kau berikan."


"Kerja bagus."


Langit menghampiri pelaku tersebut, dia memasangkan tali di kakinya dan memotong semua bajunya. Setelah itu dia mengeluarkan bayonet.


"Aaaaahhh!!"


Dia berteriak karena Langit memotong pergelangan tangannya, perhatian semua orang tertuju pada pusat suara lalu menghampirinya.


"Dia gila?"


"Telpon polisi."


"Psikopat?"


Beberapa orang berunding di sana sementara beberapa lainnya lari untuk menghindari masalah.


Di saat yang sama, Langit menuliskan sesuatu di depan pelaku tersebut.


Tulisan tersebut berbunyi, "Pelaku kejahatan si perawan, boleh dihakimi."


"Kau bilang kau mengampuniku! Kau bilang aku bebas!"


"Aku mengampunimu, tapi masyarakat tidak. Selamat malam."


"Jangan tinggalkan aku di sini! Tidak! Bawa aku!"


Duak!


Langit menendang wajah orang itu hingga bersimbah darah, pria tersebut mengerang kesakitan.


"Kak, ada apa dengannya?" Tanya seseorang di kerumunan itu pada Langit.


"Dia pelaku si perawan, meskipun cuma keroco."


"Hah?! Jadi dia?!"


"Ya." Langit berjalan menuju motornya dan mulai menyalakan mesin, dia melihat dari kaca spion sebelah kanan, orang-orang mulai menghajar si keroco itu, Langit sudah tidak peduli padanya dan segera pergi ke daerah Ranco.


"Archer, dimana kau?"


"Aku sisa satu blok lagi di rumah keluarga Richessa."


"Cepatlah! Mereka sudah berada di beranda!"


"Okay, okay. Tenanglah."


Motor yang dikendarai Langit nyaris menabrak mobil sedan berwarna perak.


"Heh! Pake mata!"


Umpatan itu tidak terdengar di telinga Langit karena dia sudah berada jauh di depan dan berbelok ke kiri menuju kediaman Richessa. Setelah sekitar 2 mil, Langit tiba di rumah Richessa.


"Prinses, laporkan keadaan." Kata Langit sambil mengeluarkan jubbah kamuflase dari tasnya dan segera menyamarkan diri.


"103 kota sudah diamankan, kita kehilangan 6 tim pasukan tempur, 28 orang kita luka berat, 14 luka ringan, belum ada laporan korban dari VIP. Sisa kota lain masih siaga 1."


Langit mendengarkan laporan dari Putri sambil mengecek satpam yang sudah mati di pos satpam dekat gerbang, dia keracunan.


"Harpy, kau di sana?" Tanya Langit sambil berlari menuju beranda rumah Richessa.


"Aku berada di manapun kau perintahkan, jenius."


"Senapan apa yang kau pakai?"


"Hystria-04 dan Baracold-788."


Baracold seri 788 adalah senapan semi-otomatis yang bisa menembakkan proyektil tanpa harus mengokang slide terlebih dahulu.


Saat ini, Langit membutuhkan bantuan dari senapan itu daripada Hystria seri 4 yang bekerja dengan sistem bolt-action yang berarti pemakai harus mengokang slide terlebih dahulu sebelum menembak.


"Gunakan Baracold dan smart-bullet, aku akan memberikan sasarannya dengan transmisi laser."


"Diterima, Archer."


Harpy mengubah senapannya dari Hystria menjadi Baracold, lalu melepas magasin dan mengokang slide agar peluru yang ada di dalam laras tidak tercampur dengan peluru di dalam magasin, setelah itu dia mengisinya dengan magasin berisi smart-bullet.


"Aduh, aduh. Si jenius berubah menjadi si maniak."


"Diam dan tembak saja mereka, Harpy."


"Okay, 8 dari 9 orang." Harpy membidik menggunakan teleskop khusus termal.


"Tembak semuanya."


"Tembak semuanya, diterima."


Hanya membutuhkan 8 tembakan dengan waktu 3 detik untuk menghabisi semua, menggunakan amunisi smart-bullet yang bisa melesat lurus menuju titik yang dituju dengan toleransi sebanyak 50 inci, namun target harus ditandai dengan laser yang membutuhkan orang lain untuk menembakkannya dalam jarak kurang dari 1 mil, meski begitu, akurasi dan kecepatannya tetap mengerikan, inilah teknologi yang hanya dimiliki dunia kemiliteran Republik Asia Serikat.


"Kerja bagus, Harpy." Kata Langit sambil menembakkan gas beracun menggunakan busur silang miliknya.


"Halo? Ambulan, tolong ke Jalan Hadaduri di daerah Ranco, nomor 233, ya, bawa kantong mayat, ya, cepat."


Langit berjalan mendekati pria yang sudah keluar dari kepulan asap beracun dari Langit.


"Hey, kau bisa bahasa Republik?" Tanya Langit sambil membuka jubah kamuflasenya.


"Si- hah, siapa- siapa ka-hah, kau?" Orang itu mencoba berbicara dengan nafasnya yang tersengal-sengal, paru-parunya berusaha melepaskan diri dari cengkraman racun yang yang sangat pekat, namun racun yang dibuat Langit bersifat Neurotoxin, itu berarti syarafnya akan melemah dalam beberapa menit dan kematian hanya tinggal menunggu waktu.


"Aku Archer, malaikat mautmu."


"Ha-hahah, hahahaha-, mala-malaikat maut?"


"Siapa namamu kalau boleh tahu?"


"Hahah-, nama? Hah-hah, a-aku, Le-Lemorey hah, Haden."


"Lemorey Haden." Langit memanggil pria itu lalu melemparkan pistol dari dalam tasnya, "Gunakan itu untuk bunuh diri."


Haden tersungkur, semua syarafnya melemah, namun dia menggapai pistol itu sekuat tenaga yang dimilikinya.


Pandangannya berkunang-kunang, air matanya berlinang, darah mulai mengucur dari hidungnya, dia mengarahkan pistol dari Langit dan membidik Langit.


Dor!


Biasanya, saat pistol modern seperti Colt, Cobalt, dan lain-lain menembakkan timah dari selongsong peluru, slide pistol tersebut akan bergerak ke belakang akibat dorongan daya ledak dari mesiu di dalam amunisi, sehingga selongsong peluru bisa keluar dari dalam laras secara otomatis tanpa harus mengokang slide.


Namun, pistol yang diberikan Langit kepada Lemorey Haden adalah pistol khusus. Pelatuknya berada di ujung laras dan tersembunyi di dalam, jika seseorang menembakkan peluru, maka pelatuk pistol yang ada di belakang akan terbuka, slide akan bergerak ke depan, mengeluarkan peluru bukan ke depan, melainkan ke arah penggunanya sendiri.


Pistol itu dirancang untuk bunuh diri.


"Archer, bagaimana bisa?"


"Aku tidak tahu, mungkin itu naluri manusia." Jawab Langit sambil memeriksa jam tangannya.


"Naluri manusia bagian mananya?"


Suara sirine terdengar dari kejauhan, sepertinya ambulan dan polisi sudah datang untuk mengamankan keluarga Ancoretia di dalam.


"Hmm, mungkin, mungkin saja, untuk menyeret lawan ke dasar neraka bersamanya?"


Di sisi lain, Harpy yang mendengar jawaban Langit merasa agak terganggu, mungkin karena memang menyebabkan rasa tidak nyaman jika berada di dekat orang yang bisa membaca, menafsirkan, dan memprediksi orang lain seperti membaca buku dongeng untuk anak-anak.


"Archer, aku akan pergi ke markas, laporan terakhir dariku adalah ambulan sudah berada di depan gerbang dan akan masuk ke dalam." Kata Harpy sambil meluncur ke bawah menggunakan kabel, "Pastikan kau mengamankan Richessa, Archer."


"Terimakasih, Harpy."


Harpy langsung membongkar senapannya begitu dia sampai di tanah, memasukkan semua komponennya dengan rapi dalam sebuah koper dengan dua bagian, sehingga bisa menampung 2 senapan runduk dalam waktu yang sama.


Setelah selesai, dia mengenakan koper yang tadi seperti tas punggung bersama dengan tas berisi peralatan dan berjalan menyusuri malam seakan tidak terjadi apapun.


"Aaaaahh!" Seorang wanita paruh baya berteriak kencang di beranda rumah, sepertinya dia nyonya Ancoretia, "Apa ini?! Kenapa banyak sekali mayat di sini?!"


"Selamat malam, tolong tetap tenang dan berkoordinasi dengan kami." Kata Langit sambil mengeluarkan tanda pengenal kepolisian yang didapatkannya dari Putri, "Saya dari kepolisian."


"Ma?! Ada apa teriak-teriak?!" Seorang pria dengan kumis tebal keluar dari dalam ruangan menuju tempat istrinya berada dengan hanya mengenakan kaus tipis dan celana pendek.


"Mama?! Mama gak apa-apa?!" Si gadis yang diincar oleh si perawan juga ikut keluar.


"Kalian pikir ini jam berapa? Kenapa belum tidur?" Tanya Langit sambil mengangkat tangannya untuk memanggil para polisi, aparat yang mengamat dari halaman depan pun bergegas menuju tempat Langit.


"Kalian akan diamankan di mabes kepolisian republik, mohon koordinasinya dan jangan melawan." Kata Langit sambil berjalan menuju halaman depan.


"Archer!"


Langit mendengar Putri berteriak sangat kencang, kalau tidak ada stabilizer, mungkin telinganya sudah mengeluarkan darah.


"Ada apa?" Jawabnya sambil menaiki motor dan bergegas menuju markas.


"Senja diculik!"


"Hah?" Langit baru saja mendengar sesuatu yang konyol dari Putri, "Tahu dari mana?"


"Karena dia disandera di alun-alun kota Jembrana."


"Kau gila?!" Langit agak sedikit berteriak karena saat ini dia menyetir dengan kecepatan tinggi menuju markas tempat Putri berada, "Jarak dari Ranco ke Jembrana itu 5 jam kereta bawah tanah!"


"Makanya cepetan ke markas! Kamu mau selamatkan dia kan?! Kau bisa naik helikopter sama Panda!"


"Panda sudah sele-ah!" Langit nyaris menabrak sebuah mobil sedan berwarna hitam, "Panda sudah selesai?!"


"Tim nya sudah selesai, kita hanya menunggu semua professional itu selesai."


Langit mendapatkan konfirmasi mengenai informasi yang baru saja tiba di kepalanya, Senja adalah teman dekat Samudra, paling tidak Langit mengenalnya sebagai pria feminim yang baik.


Karena Samudra tidak memiliki teman sejak teman terakhirnya menghilang bersama orang tuanya dan karena kecerdasan juga tingkahnya yang seperti anak kecil, memiliki teman seperti Senja adalah hal penting bagi Samudra dan Langit akan berusaha menjaga kondisi ini tetap teratur.


"Kakak?!"


"Ah!" Langit kaget karena telpon tiba-tiba masuk ke holo miliknya, "Samudra?! Kamu bangun?!"


"Siapa yang gak bangun kalo tetangganya disandera di alun-alun jam 3 buta?!" Jawab Samudra dengan suara yang terdengar kesal.


"Dengar ya, kak. Kalau sampai kakak pergi selamatkan dia, tapi kalau kakak pulangnya banyak luka," Samudra menghentikan kalimatnya sampai di situ untuk mengambil nafas.


"Kalau aku banyak luka?"


"Akan kuperburuk dengan mematahkan tanganmu dan menggigit kemaluanmu."


Ckiit! Motor Langit nyaris menabrak, lagi, dan kali ini adalah sebuah truk trailer untuk pengiriman dalam jumlah besar.


"Hei! Yang benar saja!" Teriak pemilik truk trailer kepada Langit.


Langit tidak mempedulikan kalimat itu selain karena suaranya terlalu kecil, dia masih tidak habis pikir kenapa adiknya bisa mengeluarkan kalimat seperti itu kepada kakaknya.


"Janji ya! Janji, loh! Jangan luka banyak-banyak!"

__ADS_1


Langit menghela nafas, dia menikung di dekat jembatan menuju arah selatan, lalu memasuki daerah Gerunt dan sudah bisa melihat markas tempat semuanya berkumpul dari ujung jalan. Setelah sampai, Langit memarkir motornya dan segera turun untuk mengonfirmasi kedatangannya pada Putri.


"Iya, kakak janji." Jawab Langit sambil menutup telpon dan masuk ke dalam markas.


__ADS_2