Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Rohan dan Januri


__ADS_3


Senimorangkir Januri (art by Samudra)


Suara jam berdetik adalah satu-satunya suara yang bisa didengar di kamar Putri. Ruangan ini tidak besar, ukurannya hanya cukup ditempati sebuah kasur, sebuah meja belajar, dan kamar mandi yang hanya bisa digunakan untuk buang air kecil saja.


Di meja belajarnya, selain ada banyak sekali buku-buku bertumpuk dan beberapa dari mereka masih terbuka karena sepertinya belum selesai dibaca, ada peta kota Pertanjang yang ditempeli benang merah.


Tentu saja, benang merah itu adalah semua informasi yang dibutuhkan oleh Putri kalau dia ingin balap lari dengan para kriminal seperti biasa.


Tepat jam 06:15. Putri membuka matanya perlahan-lahan. Tubuhnya seperti memiliki jam weker alami yang bisa membuatnya terbangun tepat waktu.


Putri bangun dari tidurnya, lalu menguap.


"Uaaahhhmm."


Setelah itu dia mengambil nafas dalam-dalam. Menurutnya, mengisi udara dalam paru-paru sebanyak mungkin di pagi hari sangat ampuh mengusir rasa kantuk.


Putri turun dari kasurnya lalu merapikan kasurnya, lalu dia berjalan ke meja belajar dan menyalakan radio. Ini adalah kegiatan pagi Putri, mendengarkan radio pagi-pagi sambil sikat gigi di dalam toilet yang tidak ditutup pintunya.


"-rang juga masih dalam harga yang tidak stabil dikarenakan sedikitnya stok yang berada di pasar."


'Bapak-bapak penyiar radio itu lagi, gak ada suara yang halus atau apa kek.' Pikir Putri yang meludahkan pasta giginya dan berkumur.


"Berita berikutnya datang dari kota Pertanjang, dimana baru-baru ini pihak kepolisian menangkap salah satu bandar narkoba yang sudah buron sejak tahun lalu."


'Oh, kasus baru?' Pikir Putri yang menyalakan air keran untuk membasuh tubuhnya.


"Diketahui pihak kepolisian menghajar pelaku berinisial N.P. hingga mengalami trauma mendalam."


'Oh, orang kemaren toh.' Pikir Putri sambil keluar dari toilet dengan tubuh yang sudah dikeringkan.


Putri mengambil baju sekolah yang digantung di sebelah kasurnya. Sebenarnya dia memiliki 3 set baju seragam sekolah, namun 2 lainnya sedang berada di laundry.


Setelah memakai baju dan roknya yang sepanjang mata kaki, Putri mengambil sepatunya yang ada di sebelah meja belajar.


Putri sekarang sudah siap pergi ke sekolah, namun sebelum itu, dia mematikan radionya yang masih menyala namun hanya membicarakan latar belakang Norman si bandar narkoba.


Baru saja Putri meraih tombol untuk mematikan radio, dia mendengar sesuatu yang menarik.


"-perawan lagi-lagi melancarkan aksinya. Pada hari yang sama dengan penangkapan N.P. si bandar narkoba, keluarga Suginami berduka atas tewasnya anak mereka bernama Julia Suginami. Seperti korban-korban si perawan lainnya, Julia kehilangan semua organ vitalnya dan saat ini, saya bersama dengan salah satu orang dari pihak kepolisian yang bersedia diwawancarai."


Skkkrrchhhk


Putri duduk di kasur dan mengurungkan niatnya untuk mematikan radio yang masih bersuara statis.


"Sangat disayangkan bahwa kali ini korban si perawan adalah nona Suginami. Dia ditemukan tewas pukul 1 dini hari. Kami sudah mendapatkan beberapa petunjuk yang tidak bisa kami sebutkan, namun kami sudah berhasil mengendus bau jejak kaki si perawan."


Ctek


'Mengendus bau jejak kaki, ya. Kali ini pasti tidak main-main.' Pikir Putri.


Setelah mematikan radionya, dia bergegas keluar dan pergi menuju tempat parkir 24 jam di sebelah gedung kos-kosan tempat dia tinggal.


Ketika dia keluar dari kamarnya, ibu pemilik gedung kosan mengamatinya dari kursi di depan rumahnya.


Putri yang masih memiliki insting seorang wanita Jawa menghampiri ibu kos dan berpamitan dengannya.


"Permisi, bu. Saya berangkat sekolah dulu." Katanya sambil mencium tangan ibu kos.


"Tidak mau sarapan dulu? Ibu dapat telur bagus kiriman putra ibu." Jawab ibu kos sambil berdiri.


Dia pemilik kos-kosan ini, seorang wanita paruh baya yang ditinggal mati suaminya beberapa tahun lalu dan meninggalkan gedung ini sebagai warisan.


Dia sudah menganggap Putri seperti anaknya sendiri selain karena kedua anaknya tidak lagi tinggal di kota ini karena pekerjaan.


Sebagai wanita keturunan Asia Timur, dia juga menyukai sikap Putri yang jarang ditemuinya di kampong halamannya dan juga, menurutnya sangat manis.


"Tidak, terimakasih. Aku akan terlambat masuk kelas soalnya."


"Tunggu sebentar." Kata ibu kos memaksa.


Putri sudah berada di atas sepedanya terpaksa turun lagi, dia menunggu ibu kos untuk keluar dari dalam rumahnya.


"Ini, setidaknya makanlah saat jam istirahat."


"Oh! Bekal! Makasih, bu."


Putri menghampiri ibu kos, lalu dia menerima bekal makan siangnya dengan senang hati tanpa melukai perasaan si pemberi.


"Makasih, bu. Nanti kumakan."


"Sama-sama, udah bururan. Mau telat katanya tadi, kan?"


"Oh iya."


Putri menggapai tangan ibu kos dan mencium punggung tangannya, dia yang dicium tangannya merasa senang.


"Aku pergi dulu."


"Hati-hati."


Dia melambai pada Putri yang mengayuh sepeda sambil melambaikan tangan padanya. Setelah itu, dia masuk rumah dan duduk di ruang makan yang bersebelahan dengan kompor untuknya memasak.


"Nah, saatnya sarapan."


Dia melihat empat piring kosong di meja makan bundar, lengkap dengan sendok dan garpu di atas piring dan gelas kosong di sebelah kanan piring.


Dia lalu menangis.


"Putri, semoga kamu hidup dengan baik tanpa perlu diganggu pembunuh itu."


Setelah makan, dia membereskan semua peralatan makan yang dia siapkan termasuk keempat piring kosong yang dia siapkan di meja makan tiap pagi.


***


Putri sudah tiba dan dia bertemu dengan Langit, Samudra, dan Senja di gerbang sekolah.


"Hai, tuan Safir."


Langit mendengus, dia lanjut berjalan menuju tempat parkir.


"Kak Putri, seharusnya kau menyapaku lebih dulu, atau kak Senja." Kata Samudra yang mengeluarkan air dari keranjang sepedanya lalu memberikannya pada Langit.


Langit menerima botol air itu dan segera menyedotnya, karena memang desain botolnya termasuk sedotan.


"Kalau begitu selamat pagi, nona Safir, nona Senja."


"Kakak formal banget deh, astaga." Kata Samudra berkomentar.


"Hm hm, jarang sekali ada yang pakai sebutan nona pada temannya." Timpal Senja dengan anggukan.


"Dan aku ini laki-laki."


Putri sedikit terkejut dengan perkataan Senja barusan, dia melihat Samudra yang mengangguk setuju dengan perkataan Senja, yang berarti perkataan Senja kalau dia itu laki-laki, adalah sebuah fakta.


"Itu karena dia mencoba terlihat pintar dan memiliki kasta lebih tinggi daripada teman sebayanya." Kata Langit menghiraukan panggilan pada Senja sambil memasukkan botol air mineral ke keranjang adiknya.


"Oh, kau mau bilang aku bodoh dan kastaku rendah? Begitu?"


Langit berhenti, dia menoleh pada Putri. Dengan tatapan tajam dia melihatnya sampai Putri malu sendiri.


"Apa yang ka-"


"Iya."


Langit kembali berjalan, Samudra cekikikan di sebelah kakaknya, Senja tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dan Putri, dia geram.


"Aaahh! Kenapa kau selalu begitu, sih?" Putri ikut berjalan di belakang mereka.


Mereka sudah sampai di ujung koridor. Langit dan Putri masuk ke kelas, Samudra menaiki tangga menuju kelasnya, sedangkan Senja lanjut berjalan ke kelas 2F.


"Oh ya, tuan Safir. Aku ingin bertanya padamu tentang suatu hal, tapi kayaknya nanti saja."


Langit berjalan dan duduk di bangkunya, Putri mengikutinya dan duduk di bangkunya yang bersebelahan dengan Klaudia dan Langit.


"Bisa kau jelaskan tentang 'suatu hal' itu?"


"Oh, soal itu."


Putri menggeser bangkunya agar lebih dekat dengan Langit. Desain bangku di sekolah ini adalah bangku kampus, dengan kursi yang jadi satu dengan meja dan kursi ini bisa dilipat dengan rapi, makanya Putri bisa leluasa menggeser kursinya.


"Begini, aku ingin bertanya padamu soal si perawan, lalu-"


"Anggap saja aku sudah paham semua yang ingin kau katakan, jadi kau bisa langsung ke inti masalah."


Putri tersenyum, dia meraih tasnya dan mengeluarkan beberapa kertas.


"Ini adalah beberapa kasus pembunuhan si perawan, aku merangkum semuanya dan menuliskannya di sini."


Langit menerima lembaran kertas itu dan membacanya dengan teknik pindai.


"Sebenarnya aku berpikir hal ini mustahil kalau dikerjakan sendirian, jadi aku bert-"


"Si perawan bukan permainan satu orang." Langit memotong kalimat Putri.


"Mari asumsikan mereka bekerja dalam kelompok berisi 4 atau 6 orang."


Langit mengeluarkan pulpennya dan melakukan sesuatu di balik kertas yang diberikan Putri.


"Dalam 3 kasus terakhir. Pembunuhan terjadi di kota Tanpel, lalu dua lainnya terjadi di Pertanjang." Kata Langit sambil menggambar dua lingkaran kecil yang melambangkan kota Tanpel dan Pertanjang.


"Lalu?"


"Lalu waktu mereka melakukan pembunuhan ini sangatlah cepat. Dari kota Tanpel ke kota Pertanjang, membutuhkan waktu 10 jam dengan naik KRL, dan 8 jam dengan menaiki mobil di lalu lintas lancar." Jawab Langit sambil menuliskan estimasi waktu perjalanan.


Putri mengamati yang dilakukan Langit dengan lembaran kertasnya.


"Di rangkumanmu yang ini, pembunuhan di Tanpel terjadi sekitar pukul 11 malam dan ditemukan polisi jam 4 pagi."


Langit menggaris-bawahi jam pembunuhan di kertas milik Putri.


"Namun, pembunuhan di Pertanjang terjadi pukul 2 dini hari, dan ditemukan polisi pukul 6 pagi."


"Yang terakhir, pembunuhan terjadi di Pertanjang pukul 12 malam dan lagi-lagi ditemukan polisi pukul 5 pagi."

__ADS_1


"Lalu kesimpulanmu?" Tanya Putri.


"Ini bukan kesimpulan, tapi hipotesa." Langit melirik Putri dengan tatapan menghina.


"Oh, oke. Kesimpulan sementara, kalau begitu." Kata Putri sambil mengangguk, seperti menyetujui hinaan Langit padanya.


'Oh wow, dia memarahiku karena salah bicara, Panda aja nggak berani.' Pikir Putri.


"Mereka bukan pembunuh kelas teri. Mereka seperti mafia. Bekerja dalam kelompok dengan perencanaan matang."


"Dan saat ini, mereka berada di kota Tanpel sekaligus kota Pertanjang."


Putri melihat jam di tangannya, sudah jam 06:58 dan sebentar lagi guru-guru akan masuk.


"Wah, aku sangat terbantu. Terimakasih, tuan Safir."


Putri mengambil semua kertas yang ada di meja Langit lalu membereskannya.


"Kau tahu, Putri?"


Putri menoleh, dia melihat Langit membuka catatannya dan meletakannya di meja.


"Kalau kau meminta tolong, aku akan bahas habis seluruh laporan yang kau tulis."


Putri terkejut, saking terkejutnya sampai-sampai kakinya tersentak dan menendang kursi di depannya.


"Hei, apa masalahmu? Kita sebentar lagi ulangan, kau keberatan?"


Temannya memarahi Putri yang menendang kursi hingga tubuhnya sedikit berguncang.


"Aha, iya-iya. Maafkan aku."


"Hmph." Dia berbalik dan kembali fokus belajar.


"Tapi sayang sekali, Putri."


Langit menulis sesuatu di catatannya, sedangkan Putri bertanya-tanya apa maksudnya.


Langit menutup catatanya sambil berkata, "Kau hanya bertanya, tidak meminta tolong."


Putri kaget, dia sama sekali tidak menyangka kalau perkataannya benar-benar tidak diremehkan oleh Langit sehingga dia hanya perlu menjawab sekedarnya tanpa memberitahu informasi lebih lanjut.


"Eh, kalau begitu, aku minta to-"


Kriiiiing kriiiiing


Bel masuk berbunyi, Langit tersenyum licik padanya.


Putri berdiri, kemudian menghampiri Langit, lalu saat dia akan mengatakan sesuatu, guru sejarah masuk.


"Hei, kamu. Duduklah. Pelajaran akan dimulai."


***


Tak tak tak tak tak tak


Orang-orang sibuk mengetik, ada yang berjalan terburu-buru, ada juga yang hampir tidak sengaja menumpahkan kopi di tumpukan kertas.


"Hei, berhati-hatilah."


"Maaf, pak."


Si pria yang membawa kopi itu pergi, pria yang barusan memarahi malah teralihkan dengan kawannya di sebelah.


"Hei, ini tolong dibenerin. Kamu barusan salah input data."


"Oke."


"Printernya rusak? Cepet ganti baru."


"Iya!."


Seseorang keluar dari ruangan, dia mengangkat beberapa kertas tinggi-tinggi.


"Siapa yang bikin laporan tingkat kriminalitas ini?!"


"Saya pak!"


"Masuk sini!"


"Segera, pak!"


Cklek


Seseorang dengan jaket kulit tebal dan cerutu masuk ke ruangan super sibuk ini. Dia mengamati keadaan di ruangan ini dengan harapan kalau mereka bisa sedikit santai setelah ditinggalkan olehnya, ternyata malah tambah sibuk.


"Oh! Kapten! Selamat datang." Katanya menyapa dari meja kerjanya.


"Halo, komandan kalian mana?" Tanyanya.


"Dia lagi di ruangan tuh, masuk aja, pak."


"Makasih ya."


"Ini datanya kurang! Kalau datanya kurang, divisi detektif gak akan bisa ketemu sama si perawan!"


'Wah dia lagi marah-marah.' Pikir pria yang dipanggil kapten ini.


"Oh, kapten Rohan, tepat sekali. Aku perlu bantuanmu."


Tiba-tiba moodnya berubah menjadi baik, dia lalu meletakkan lembaran kertas tadi di mejanya.


"Kembali ke mejamu, ambil data sebanyak mungkin."


"Baik, pak. Saya permisi."


Dia keluar, lalu menutup pintunya. Sesampainya di luar, keadaan masih riuh. Divisi riset data memang setiap hari seperti ini, dan bahkan hari ini termasuk hari yang tidak terlalu sibuk karena orang-orang hanya memikirkan kasus si perawan.


"Lalu, kapten Rohan?"


"Oh, komandan Januri. Saya Cuma mau menyapa sekaligus bertanya."


"Ya ya, apapun itu duduklah dulu. Kalau gak salah, gak pakai gula, kan?"


"Iya, gak pakai gula."


Kapten Rohan duduk di kursi sementara komandan Januri mengambil kopi di meja dekat pintu.


"Bagaimana kemajuan kasus ini?" Tanya kapten Rohan.


"Kemajuan? Yang ada kemunduran!" Jawab komandan Januri dengan suaranya yang keras, khas daerah Basuki Raya wilayah Sulawesi.


Kapten Rohan meminum kopinya sedikit.


"Kami ada di jalan buntu, semuanya gak nyambung. Kamu tahu kan kalau dari Tanpel ke Pertajang itu butuh paling nggak 9 jam kalau naik mobil?"


"Dia bahkan berpindah dari Tanpel ke Pertanjang kurang dari 4 jam!"


"Gila!"


Kapten Rohan tidak mengatakan apa-apa, dia menunggu kalimat selanjutnya dari komandan Januri.


"Meskipun si perawan ini bukan satu orang pun, tetap saja. Mereka sangat cepat, tidak terdeteksi."


Komandan pun duduk, dia menundukkan kepalanya sangat dalam, sementara kapten melepaskan jaket dan meletakannya di sebelahnya.


"Kau tahu, Rohan? Kita butuh pendekatan baru."


"Pendekatan seperti apa?" Tanya kapten Rohan sambil menghirup kopinya.


"Kita perlu orang jenius."


"Kita punya yang seperti itu, kau tidak lihat Prinses?"


Komandan berdiri lalu berjalan ke mejanya dan membuka laci, setelah itu dia kembali duduk di kursi dengan membawa beberapa lembar kertas laporan.


"Baca ini."


Kapten Rohan mengambil kumpulan kertas laporan itu, dia membaca semuanya dengan teknik pindai.


Sebenarnya dia memang diharuskan untuk mengikuti misi si perawan, tetapi karena pihak atasan memberi perintah ke tempat lain, maka kapten Rohan tidak mengikuti misi ini dari awal.


"Sri Sudarsih Kusumaning Putri, alias Prinses."


"Ya, dia yang kumaksud."


Kapten membalik lembaran kertasnya, dia melihat foto-foto banyak tersangka yang diintrogasi oleh Putri.


"Dia pakai Russian Roulette?"


"Lebih dari itu, coba baca misi nomor 83."


Kapten mencari nomor misi 83, dengan nama operasi 'pesta teh'.


"Wow, dia menyiramkan teh yang mendidih ke tersangka." Katanya sambil melihat foto Putri sedang mengambil selfie saat dia menyiramkan teh mendidih kepada luka di tubuh tersangka.


"Itu karena dia mengikuti nama operasi yang dia buat sendiri."


Komandan menghela nafas, dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa.


"Apa yang mau kau katakan?"


Kapten menanyai komandan Januri, memang sesuai dengan keahlian kapten Rohan yang sering dibicarakan.


Sebelum memasuki kepolisian, kapten Rohan dulunya adalah seorang psikolog ternama yang mampu menangani ratusan pasien depresi dan menurunkan angka kematian karena bunuh diri sebesar 6%, dan itu hal yang sangat bagus hingga dia mendapatkan penghargaan.


"Meski dia sangat ahli dalam pekerjaannya, tapi dia sangat bodoh untuk menggali informasi."


Kapten Rohan meletakkan lembaran laporan di tangannya.


"Maksudku, Rohan. Dia itu butuh orang yang bisa bekerja menjadi partnernya. Karena selama ini dia hanya memiliki bawahan yang diperintah sesukanya tanpa ada partner kerja seperti yang lainnya."


"Lalu kenapa dia bahkan perlu partner, komandan? Bukannya dia polisi sempurna? Setidaknya dalam pekerjaannya."


"Yang sempurna itu cara kerja dia menangkap, bukan mencari."

__ADS_1


"Jelaskan."


Komandan Januri berdiri dan mengambil sesuatu di laci, setelah itu dia kembali lagi bersama dengan data-data yang kelihatannya penting.


"Ini orang-orang yang ada di tim Prinses."


"Benar, kapten."


Kapten Rohan membaca pindai semuanya, memastikan dia tidak melupakan sesuatu.


"Panda adalah intel paling hebat, bawahannya Koi dan Burung adalah penculik yang tangkas. Mereka punya petarung jarak dekat seperti Gajah dan Naga, juga seorang penembak jitu Garuda."


"Bukannya mereka sempurna?" Tanya kapten Rohan sambil melempar lembaran kertas itu ke meja.


"Mereka itu buta arah."


"Memangnya Panda tidak bisa memakai kompas?"


"Dia sangat cepat dalam mencari orang berdasarkan nama, tapi dia sangat lambat dalam mencari orang dengan petunjuk."


Komandan Januri diam sebentar, dia melihat kapten Rohan yang menunggu dia berbicara.


"Semua nama-nama yang diperlukan olehnya didapat dari menghancurkan seseorang dan membuatnya berbicara."


"Bukannya memang begitu cara kerjanya?" Tanya Kapten Rohan.


Brak


"Dia melanggar undang-undang hak asasi manusia!" Kata komandan Januri sambil memukul meja dengan telapak tangannya yang kini memerah.


"Aku dan seluruh pihak kepolisian harus berusaha menutup-nutupi yang dia lakuan hampir selama 4 tahun."


"Aku bisa gila, Rohan." Komandan Januri memegang dahinya, dia terlihat sangat putus asa.


"Segera perintahkan untuk merekrut anggota baru, kalau perlu tim baru."


Komandan Januri melihat kapten Rohan dengan tatapan curiga.


"Sudah banyak yang berkata seperti itu, kami-"


"Yang IQ nya 200."


"Haaahh." Komandan menghela nafas, kemudian melanjutkan kalimatnya, "Mana ada?"


Kapten Rohan berdiri dan berjalan ke pintu.


"Mana kutahu, tanyakan ke pencatatan sipil dong."


Blam


Komandan Januri mengambil rokok dari saku lalu membakarnya, dia melamun dengan nafas yang berat, seperti sedang menerima beban tambahan.


Kriiing Kriing


Ponselnya berdering, dia mengambil ponsel jadul miliknya dari saku.


"Halo, pa."


"Iya, kamu sudah pulang?"


"Anu, pa. Aku mau ijin main sama teman-teman, jadi aku pulang ke apartemen agak telat."


"Teman-teman siapa?"


"Namanya Langit, dia bareng adiknya Samudra, mereka tetangga apartemen, kok."


"Oh, hati-hati, Mora."


"Iya, pa."


Klik


***


"Aku diijinkan main sama kalian." Kata Senja sambil memasukkan ponselnya ke saku.


"Yeeaayyy!" Samudra jingkrak-jingkrak


Putri dan Langit berjalan bersebelahan menuju mall di tengah kota Pertanjang. Apa yang akan mereka lakukan di sana adalah kegiatan normal siswa remaja pada umumnya. Bermain bersama, menghabiskan uang orang tua atau menghabiskan gaji yang mereka dapatkan dari pekerjaan paruh waktu.


"Kalau dari sini, kita hanya perlu 2 stasiun hingga sampai di stasiun Katseban." Kata Samudra sambil menempelkan dompet kakaknya di pintu masuk.


"Tangkap!"


Langit menangkap dompetnya yang dilempar Samudra, lalu dia menempelkannya di pintu masuk. Setelah itu dia bisa melewati pintu ini yang dilengkapi detektor metal.


"Seperti bandara saja." Kata Putri berkomentar.


"Tentu saja." Jawab Senja sambil berjalan menuju Langit dan Samudra.


Langit berdiri diam sambil menyilangkan kedua tangannya, dia berdiri sebelahan dengan Samudra yang sedang membaca artikel di internet, Senja tidak tahu harus apa jadi dia pergi ke mesin minuman dingin dan membeli sekaleng susu stroberi.


Sedangkan Putri, dia diajak mengobrol oleh seorang pria yang tidak dikenali.


"Bisa aku berkenalan denganmu?"


Dia tampak malu-malu, wajahnya yang biasa saja memerah karena pompaan darah dari jantungnya semakin cepat dan tangannya sudah dalam posisi menunggu tangan Putri untuk menjabat tangannya.


"Oh, halo. Aku tidak bisa berbahasa Malayan, tapi akan kujabat tanganmu."


Putri berbicara dalam bahasa Mandaran dengan sangat fasih, orang itu kebingungan harus menjawab apa saat tangannya saling berjabatan dengan Putri.


Sejak semua negara di Asia bersatu dan menjadi negara serikat, bahasa resmi negara Republik Asia Serikat adalah bahasa Malayan, namun ada juga bahasa suku seperti bahasa Jawa, Sunda, dan lain lain.


"Aku harus pergi dulu, selamat siang."


Putri membungkuk, lalu berjalan menuju tempat Langit dan Samudra yang sedari tadi melihatnya.


"Siapa?" Langit bertanya pada Putri dengan bahasa Mandaran.


Putri sedikit terkejut, tapi akhirnya dia menjawab Langit.


"Oh, aku tidak mengenalnya."


Pria itu melihat Langit dengan tatapan iri.


'Bagaimana bisa dia berjalan dengan tiga gadis sekaligus sedangkan aku tidak pernah berjalan dengan seorang pun.' pikirnya.


Langit menatap orang itu dengan matanya yang tajam, khas seorang Langit dengan harga dirinya yang tinggi dan terlihat jelas pada sinar matanya.


Pria itu kelimpungan, dia sangat takut melihat orang yang menatapnya dengan tatapan membunuh. Demi kesehatan mentalnya, dia pergi menuju gerbang keluar stasiun.


Langit selesai dengan 'tatapan membunuh'nya, lalu dia kembali lagi ke posisi awal, tangan terlipat di paha dan menunggu kereta datang jam 14.


"Kau bisa bahasa Mandaran? Kukira kau hanya bisa bahasa Malaya."


"Kau mau menyebutku bodoh, bodoh?"


"Sayang, kau mau air?" Samudra dengan sigap memberikan botol air dengan sedotan di dalamnya.


"Kau menyebut bodoh dua kali, tuan Safir. Memangnya kau sepintar apa?"


"Oh oh, biar aku coba." Kata Senja antusias, "Samudra, dia pintar di bidang apa?"


"Coba saja tanyakan soal matematika atau sejarah." Jawab Samudra.


"Berapa 832 dikali 4?" Tanya Senja tiba-tiba.


"3328." Jawabnya setelah meminum air mineral.


"Dibagi 2!" Timpal Putri melanjutkan sambil membuka kalkulator di ponselnya.


"1664."


"Akarnya?" Tanya Samudra yang sudah tahu kalau kakaknya selalu bisa menjawab pertanyaan aritmatika mudah seperti ini.


"Empat puluh koma delapan ratus." Jawab Langit sambil mengembalikan botol air minum ke Samudra.


"Berapa hasilnya kak?" Samudra bertanya pada Putri yang menghitung jawabannya di kalkulator ponselnya.


"Uh, empat puluh koma tujuh ratus Sembilan puluh dua."


"Wow, Langit hebat!" Kata Senja antusias.


Orang-orang melihat senja dan berbisik-bisik tentang betapa cantiknya Senja, namun mereka lupa kalau seragam Senja tidak menggunakan rok, tetapi celana panjang.


"Kereta jurusan Petanggung-Parangasam segera sampai di peron 2, dimohon untuk segera menyingkir dari garis batas keamanan."


"Oh, itu kereta kita." Kata Samudra.


"Wah, aku baru tahu kalau mau ke Katseban harus naik Petanggung."


"Itu wajar, kak Senja. Kakak masih baru beberapa hari di sini."


Putri diam, dia masih memikirkan betapa cepat Langit menghitung semua angka numerik itu hingga ke akar dari jawaban sebelumnya.


Padahal, ranking satu di akademi kepolisian yang dia urusi hanya mampu mengerjakan soal anak kuliahan dalam waktu dua setengah jam.


Meski jumlah soalnya berjumlah 120 soal, tetapi tiap soal harus dijawab paling lambat selama 1.25 menit, dan Langit mampu melakukannya hanya dalam waktu beberapa detik.


Keretanya datang, fasilitas transportasi umum di negara Republik Asia Serikat memang sangat diutamakan. Mereka memiliki kereta tercepat di dunia dengan menggunakan magnet sebagai tumpuan, dan kereta bawah tanah menggunakan listrik. Selain kereta, juga ada bis dan kendaraan ini sangatlah nyaman karena memiliki jalur sendiri di tepi jalan dan dibandingkan angkutan umum yang sering kena macet di jalan raya, tentu saja kereta tetaplah yang terbaik.


Jessss


Pintunya terbuka, orang-orang dengan teratur keluar dari kedua sisi pintu dan berbelok dari sebelah kiri masing-masing pintu. Orang-orang yang ingin masuk, akan lewat sisi sebelah kanan dengan antrian yang sangat rapi. Hal ini meningkatkan efisiensi keluar-masuknya manusia dalam memasuki transportasi, setidaknya hal itu pernah dikatakan Langit saat dia masih SMP.


"Langit."


Putri duduk di kursi, sedangkan Langit berdiri di depannya sambil memegang pegangan tangan yang tergantung bebas di sepanjang gerbong kereta.


"Hm?"


Langit melihat anak di depannya dengan tatapan yang memberi kesan bahwa dia sebenarnya jijik dengan anak ini, namun di saat yang sama dia memberikan aura kasih sayang tulus seorang kakak.


"Sebenarnya, kau siapa?"

__ADS_1


__ADS_2