
Sesampai mereka di markas besar, tanpa basa-basi apapun, mereka melewati resepsionis dan langsung menuju ruang arsip yang ada di lantai 3. Tadi beberapa orang berusaha mencegah Langit untuk masuk, namun mereka ditahan untuk melakukannya oleh orang-orang yang mengenal Langit.
Keluar dari lift, Langit langsung menuju ruang arsip yang berada di sebelah kiri koridor. Saat masuk, dia mendapati beberapa orang sedang sibuk membaca beberapa buku.
"Siapa kau?" Tanya seorang petugas dengan rok pendek dan kacamata.
"Anggota tim khusus batalion tempur 092, kewenanganku adalah kewenangan Prinses."
"Baiklah, lalu ini?"
"Pedangku." Samudra mengangguk saat kakaknya memperkenalkan dirinya sebagai sebuah pedang, "Ambilkan semua nama korban si perawan sejauh ini."
"Kau pikir kau sia-"
Plak, tamparan keras mendarat di pelipis petugas itu hingga tersungkur di lantai, kacamatanya terlepas dan pipinya langsung lebam.
"Hei! Ada apa ini?!"
Langit menunjukkan tanda pengenalnya, "Aku adalah bawahan langsung Prinses, kode Archer, dan aku independen dalam sistem komando."
Langit menunjuk dahi orang itu dengan telunjuknya.
"Sebaiknya kau menurut karena aku punya kewenangan melubangi kepalamu."
Semua orang gemetar, karena kesal dan marah, meski begitu mereka juga merasa takut dengan Langit yang tidak main-main.
"Kalian juga sama, carikan aku semua nama korban si perawan sejauh ini. Lalu kau." Langit berjongkok, dia memelototi petugas wanita yang masih belum bangun dari tempatnya tersungkur, "Aku bukan pria yang kasihan pada orang yang berbeda kelamin seperti feminis sialan di luar sana."
Langit berdiri, dia berjalan menuju meja yang penuh dengan buku-buku yang belum dibereskan, "Bersihkan meja ini."
Samudra yang mendengarnya langsung menutup semua buku dan meletakkannya di pojok meja dalam beberapa tumpukan rapi. Sambil menunggu, Langit memperhatikan Samudra yang juga ikut mencari korban dari kasus si perawan bersama para petugas yang ada di sana.
"Ini dari kota Petanggung." Kata petugas pria yang mengenakan kemeja putih, Samudra yang sangat mengenali kakaknya langsung membuka semua tumpukan dokumen dan menyusunnya hingga memenuhi meja.
"Itu, itu, dan ini." Kata Samudra sambil menunjuk beberapa dokumen, sementara Samudra membereskan semua dokumen yang lain.
"Ini dari Katseban." Kata wanita yang tadi ditampar Langit, seperti tadi, Samudra langsung menyusun dokumen.
"Dia, dan ini." Kata Langit, lalu Samudra membereskan sisanya dan menumpuk mereka bersama tumpukan yang lain.
"Ini yang kota Petalang, Maden, dan Senda." Kata petugas pria dengan kacamata tebal sambil meletakkan tumpukan dokumen.
Samudra menyusun semua dokumen yang bisa disusun, Langit menunjuk satu, lalu dia mengulangi semua kegiatan menyusun dan memilah ini hingga semua dokumen habis.
"Apa yang mau kau lakukan dengan semua ini?" Tanya pria berkacamata tebal.
Langit tidak menjawab, dia sedang memikirkan sesuatu hingga kedua alisnya nyaris bertautan. Dia diam begitu lama, sangat lama hingga matahari telah menghilang dari langit dan masih belum diganti oleh bulan karena dia belum menampakkan dirinya saat ini.
Beberapa petugas melirik pada Samudra karena sepertinya dia adalah orang yang diandalkan oleh Langit, namun Samudra meletakkan jarinya di bibir, sebagai isyarat untuk diam dan jangan bersuara. Semua orang menurut dan tidak mengeluarkan suara apapun kecuali desahan nafas.
Langit menghela nafas, alisnya kembali normal seperti semula.
"Target berikutnya, orang tua mereka." Semua orang kaget, mereka meneriaki Langit dan membantah Langit karena perkataannya tidak memiliki dasar sama sekali.
"Kau gila?!"
"Jangan sembarangan!"
"Kau bahkan bukan detektif paling jenius!"
Langit keluar dari ruang arsip tanpa memberikan sepatah kata pun. Sudah jam 18:13, dan sudah saatnya menemui komandan bersama para petinggi militer dan kepolisian lainnya.
Langit menggunakan lift untuk naik ke lantai 8, ruang rapat berada di sana.
"Kau terlambat." Kata komandan Januri saat Langit sudah sampai di ruangan.
"Jadi ini Archer? Dengan siapa dia bersama?" Tanya orang dengan rambut yang sebagian besar beruban.
"Selamat malam, para petinggi. Langit Safir, kode Archer, membawa laporan penting." Kata Archer sambil melirik Samudra, "Ini adalah adikku, Samudra Safir, saya merekomendasikannya sebagai bawahan langsung saya."
Putri mengernyitkan dahi, Langit sama sekali tidak memiliki wewenang untuk merekrut siapapun dalam operasi kali ini, namun dia bisa merekomendasikannya kepada Putri dia bisa merekomendasikannya pada komandan Januri agar ditetapkan sebagai anggota pasukan.
"Archer, aku tidak merasa pernah memberimu wewenang untuk merekrut anggota." Kata Putri membantah Langit.
"Aku sedang berbicara pada komandan Januri."
"Hahahahaha!" Komandan Januri tertawa lepas, dia seperti sedang mendapatkan lawakan yang cukup menggelikan, "Memangnya dia bisa apa?"
"Kau pasti mengenal jejak rekamku dengan baik, komandan."
"Lalu?"
"Adikku adalah duplikasi dari diriku dalam logika, pemikiran dan kecerdasan. Kau bisa memiliki dua 'Archer' di dalam pasukan." Kata Langit sambil menepuk pundak Samudra, "Apalagi, dia sangat ramah dan mampu beradaptasi, tidak sepertiku."
Semua komandan, kapten, menatap seorang pria tua dengan tanda pangkat yang sangat banyak di pundaknya, meminta persetujuan darinya.
"Apa kau yakin dia tak akan gugur dalam misi?" Tanya pria yang dari tadi ditatap oleh petinggi lain.
"Kematian takut padaku." Kata Langit dengan suara yang agak serak, dia belum minum sama sekali, "Begitu pula kepada adikku."
Pria itu diam sejenak, lalu mengangguk.
"Jadi, setelah keluar dari ruangan ini, dia bisa langsung mengurus dokumen dan mendapatkan tanda pengenal, dengan kode-"
"Ranger."
"Maaf?"
"Aku ingin kode untuk adikku, Ranger."
"Baiklah, jika kamu memaksa. Lalu, bagaimana kalau ke inti pembahasan?"
"Aku setuju."
"Hm."
Langit mengangguk, dia melihat Putri dengan tatapan seakan meminta persetujuan, Putri mengangguk pada Langit.
"Si perawan akan menargetkan orang lain. Bukan lagi para gadis perawan, tapi orang tua para gadis perawan." Langit melemparkan tumpukan dokumen yang dia bawa dari ruang arsip ke meja di depannya, "Ini daftar korban yang orang tuanya akan diincar."
Brak, seorang dengan pangkat kapten membanting tangannya ke meja, "Apa alasannya, Archer?"
"Firasat."
Pria itu mengepalkan tangannya dan memendam amarah yang sangat besar pada Langit.
Bertahun-tahun dia mengerjar si perawan dengan berbagai riset dan bermacam-macam pendekatan baik psikologi dan fisik, namun Langit, hanya memerlukan firasat untuk menemukan mereka, dan itu membuatnya marah.
"Bagaimana kau yakin, Archer?" Tanya pria dengan uban yang sangat banyak tadi.
"Penangkapan di berbagai kota itu aku yakin adalah pencapaian besar selama memburu si perawan, itu semua berdasarkan firasatku." Langit menatap komandan Januri, "Aku tegaskan lagi, aku tidak pernah salah."
"Lanjutkan."
"Amankan mereka dengan berjaga di sekitar mereka, jika si perawan menampakkan diri, tangkap dan jangan dibunuh." Kata Langit menjelaskan caranya, "Itu saja. Oh ya, komandan Januri, sudah dapat barang yang kuinginkan?"
"Aku sudah mengirimkannya dengan paket ke apartemenmu, seharusnya resepsionis sudah mendapatkannya."
Langit mengangguk.
"Pertemuan hari ini selesai, selamat malam." Kata Langit sambil langsung berbalik dan keluar dari ruangan.
"Jenderal, kita bisa mempercayai dia?" Tanya seseorang tepat di sebelah orang yang tadi menanyai Langit banyak hal.
"Sepertinya iya, anak itu benar-benar masa depan kepolisian militer meskipun pemikirannya sangat abstrak dan sulit dipahami." Jawabnya sambil menoleh pada komandan Januri, "Aku yakin komandan Januri dan kapten Prinses agak kewalahan menangani anak itu."
Sementara para petinggi masih membicarakan Langit di ruang pertemuan, Langit menerima panggilan masuk dari Panda.
"Archer, aku menemukan gadis yang kau cari."
"Aku segera ke sana, dia ada di sana, 'kan?"
"Ya."
Langit menutup ponselnya dan segera pergi ke markas tempat Panda berada. Langit tentu saja merasakan kekhawatiran dari adiknya, karena dia bahkan tidak berbicara sama sekali sejak berada di ruang arsip.
Namun, sepertinya bukan masalah besar bagi Langit.
Sesampainya di markas, Langit disambut oleh seorang gadis yang sangat cantik.
Tubuhnya jelas tumbuh dengan baik dan dirawat secara teratur, kulitnya bersih, matanya merah rubi, rambutnya pendek dan bergelombang, menunjukkan tengkuknya yang berkilau, bibirnya tipis dengan kesan basah dari kosmetik yang dia pakai.
"Bagaimana? Sesuai yang kau minta, 'kan?"
Langit mengamati gadis di depannya ini seksama, gadis yang diamati olehnya merasa malu, "Anu, bisa masuk dulu?"
Langit berjalan masuk diikuti oleh Samudra, Panda dan gadis yang tadi.
"Berapa umurmu?" Tanya Langit.
"18 tahun." Jawab si gadis.
"Catatan prestasi?"
Panda segera menyodorkan selembar kertas berisi sejarah dan catatan prestasi gadis ini, ternyata dia cukup pintar dan diandalkan di sekolahnya sebagai jagoan kompetisi matematika.
__ADS_1
"Siapa namamu?"
"Namaku Petra Andersen."
"Orang Asia Barat? Atau koloni?"
"Aku Asia Barat."
"Panda, akan kubawa anak ini ke apartemenku."
Panda tersenyum, "Iya, hati-hati ya."
Langit membuka ponselnya dan memanggil ojek online untuk Petra. Saat ojek sudah datang dia langsung pergi ke apartemen Langit diikuti oleh Langit bersama Samudra di belakangnya.
Sesampai ketiganya di apartemen, Langit langsung masuk dan duduk di sofa bersama dengan Samudra dan Petra.
"Petra, orang tuamu?"
"Mereka berada di rumah." Jawabnya dengan suara pelan, wajahnya tertunduk, pipinya memerah, jelas sekali dia menyukai Langit yang sudah diceritakan oleh Panda saat berada di markas.
"Berikan ponselmu, aku akan memanggil mereka."
"Ini." Petra memberikan ponselnya dan Langit memanggil orang tuanya.
"Halo? Dengan keluarga Andersen?"
"Saya kepala keluarga Andersen. Ada yang bisa saya bantu?"
"Nama saya Langit Safir, putri anda, Petra, sedang bersama saya."
"Hah? Kalian kencan? Tadi dia dijemput sama teman ceweknya, sekarang kok sama cowok?"
"Hm, yah, begitulah. Dia saat ini berada di apartemen saya, dan."
"Dan?"
"Saya harap anda mengijinkan Petra untuk tinggal seatap bersama saya mulai hari ini."
"Benarkah? Apa Petra mau?"
Langit menatap Petra, dia mengangguk, lalu Langit melanjutkan panggilannya, "Dia mau."
Belum ada jawaban, hanya ada suara orang yang sibuk membicarakan sesuatu, tapi tidak begitu terdengar di ponsel.
"Eh emm, tadi kami sudah diskusi sebentar. Hasil diskusi sama ibunya Petra ternyata dia boleh tinggal seatap denganmu. Tolong jaga dengan baik ya?"
Langit menutup penggilannya, dia membuka ponsel dan mengambil kartu memori beserta kartu nomor pribadi milik Petra, lalu dia melempar ponselnya ke tembok hingga hancur berkeping-keping.
"Eh? Kenapa?"
Langit masuk ke kamarnya, Samudra menoleh pada Petra, "Ikuti dia, kakakku orangnya baik."
Petra menuruti perkataan Samudra dan mengikuti Langit ke kamarnya, ternyata dia sedang membuka situs jual-beli online dan sedang memesan ponsel keluaran yang sama seperti yang dipakai Langit.
"Berdirilah di sini."
Petra menuruti Langit, baju tanpa lengan berwarna putih miliknya terlihat sangat cocok dengan celana pendek berwarna hitam. Langit membuka kancing bajunya dan menelanjangi tubuh bagian atas Petra.
"Eh! Hei!"
Petra tidak bisa menolak, dia sangat gugup dan malu, dia menutupi dadanya dengan kedua tangan, sementara Langit mengamati bentuk tubuh Petra dan kembali duduk di kursi dan membuka toko baju langganannya, dia membeli semua baju Samudra dari toko ini secara online, dan sama seperti Petra, dia menelanjangi Samudra terlebih dulu.
"Langit, ini baru hari pertama, tapi kamu sudah perlakukanku begini." Kata Petra yang sudah memakai bajunya kembali.
Langit menoleh.
"Aku mencarikan baju yang sesuai warna kulit dan bentuk tubuhmu, diamlah sebentar."
Petra diam, dia duduk di kasur Langit dan mengamati Langit memilih baju yang akan dibelinya.
Semua pilihan Langit tidak buruk, tetapi semuanya berukuran panjang dan terlihat sangat panas.
Dia memilih banyak gaun lengan panjang dan belahan dada yang tidak terlalu rendah dengan berbagai motif yang berbeda, beberapa kemeja putih polos dengan kerah yang manis, dan beberapa rok panjang berbagai motif dan warna.
Pilihan Langit adalah kebalikan dari selera berpakaian Petra yang sering berpakaian pendek dan terbuka, dia mengenakannya karena dia percaya diri dengan bentuk tubuhnya.
Langit membuka bagian pakaian dalam, Petra kaget.
"Aaaahh! Jangan!" Petra menutup matanya, dia malu karena Langit seakan sudah tahu ukuran dada, pinggang, dan ukuran lainnya dari tubuh Petra.
"Ada apa?"
"Aku malu."
Langit geleng-geleng dengan tingkah laku Petra.
Situs yang sedang dibuka oleh Langit ini adalah situs jual-beli terbaik di negaranya, tercatat ada lebih dari dua ratus ribu toko menjual barang mereka di situs ini dan tidak pernah ada kasus penipuan sama sekali.
Dan saat ini, Langit sedang bertanggung jawab atas seorang gadis yang berada di belakangnya ini.
Langit, tidak memiliki perasaan cinta dan kasih sayang pada gadis ini, namun sebaliknya bagi Petra pada pria di depannya.
"Petra, keluar dan duduklah di sofa. Panggilkan Samudra."
"Eh? Ah, iya."
Petra keluar kamar, dia tidak kembali, lalu Samudra masuk ke kamar dan langsung duduk di pangkuan Langit dan memeluknya.
"Kamu penasaran?"
Samudra mengangguk, meski tidak mendengar jawaban darinya, Langit tetap merasakan kepala Samudra sedang mengangguk di sebelah kiri pundaknya.
"Dia hanya umpan, kalau berhasil, kita akan dapat tangkapan besar."
Samudra semakin erat memeluk kakaknya.
"Kamu takut?"
Samudra mengangguk.
"Jangan khawatir, aku belum pernah mati dan tidak akan mati kecuali bunuh diri atau karena memang waktunya."
Samudra melepaskan kepalanya dari pundak Langit, dia memegang kedua rahang kakaknya dengan kedua tangan lalu sambil terisak, dia berkata, "Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi. Mengerikan"
Langit mengangguk saat melihat adiknya menatap matanya dengan mata yang meluruhkan air mata dalam satuan debit yang banyak.
Samudra tersenyum, dia mendekatkan bibirnya, hidungnya mengeluarkan nafas yang berat, wangi kue vanila tadi sore membuatnya semakin mabuk dengan situasi, lalu dalam posisi Langit memangku Samudra di atas kursinya, Samudra mencium kakaknya.
Bibirnya lembut, air liurnya terasa manis, lalu dia melepaskan bibirnya. Mereka berdua saling bertatapan, Samudra bingung harus bilang apa, Langit menatap adiknya yang masih terisak walaupun pelan.
"Ayo, aku akan menidurkanmu."
"Hng."
Samudra mengangguk, kakaknya menggendongnya seperti tuan putri dan masuk ke kamar Samudra. Petra yang melihat mereka keluar dari kamar masih belum terbiasa dengan hubungan dua kakak beradik ini, mereka begitu mesra, dan terasa seperti sepasang kekasih, wajar saja karena dia orang baru di sini dan baru beberapa jam mengenal Langit dan adiknya.
Pintu diketuk, Petra yang saat ini adalah satu-satunya orang yang sedang tidak sibuk pun pergi dan membuka pintu apartemen, ternyata dia adalah seorang kurir yang membawa sekotak besar paket.
"Atas nama Langit Safir?"
"Ah, iya."
"Mohon tanda tangan di sini."
Petra menandatangani tanda terima yang dibawa si kurir.
"Saya akan meletakkannya di dalam, apa keberatan?"
"Tidak, tolong, ya." Kata Petra sambil tersenyum
Si kurir masuk ke dalam apartemen Langit bersama dengan sekotak besar paket kiriman, dia meletakkannya di dekat meja tamu.
"Sudah, selamat malam." Kata si kurir sambil berjalan keluar apartemen.
"Terimakasih, selamat malam." Balas Petra sambil membungkuk seperti orang Asia Timur.
Langit keluar dari kamar Samudra, dia melihat Petra sedang berdiri di dekat pintu.
"Sedang apa kamu? Sini dan lihat bajumu." Kata Langit membuka box paketnya.
"Iya."
Langit melemparkan sebuah gaun dan sebuah rok ke arah Petra, dia berhasil menangkapnya, "Ini?"
"Pergilah mandi dan pakai gaun ini."
"Oh." Petra mengangguk, "Iya."
"Kamu mau aku memandikanmu?"
"Eh?!" Petra menoleh tiba-tiba saat dia mendengar tawaran Langit untuk memandikannya, namun saat dia melihat Langit, tidak ada reaksi khusus yang tergambar pada wajahnya, "Ah, tidak. Terimakasih."
"Oke, kalau begitu, ini pakaian dalammu. Cup A kan? Pakai ini." Kata Langit sambil melemparkan bra dan celana dalam berwarna hitam polos tanpa ada motif atau renda.
Petra malu, seumur hidup dia tidak pernah diperlakukan seperti ini, apalagi saat mandi, dia selalu memikirkan betapa Langit tidak tertarik dengan tubuh atau parasnya yang bahkan bisa membuat banyak pria mengalami kecelakaan beruntun saat dia hanya sedang berjalan kaki di trotoar.
Langit adalah pria pertama yang merendahkan, melecehkan, dan memperlakukan dirinya seperti ini, jujur bagi Petra, dia sangat menyukai segala perlakuan dari langit, apalagi saat Langit menatapnya seakan-akan dia adalah seorang serangga kotor, menurutnya, dia adalah orang yang terbaik, dia ingin dinikahi oleh Langit.
Pikirannya hanya seputar Langit saat dia berendam di dalam bak mandi dengan sabun aroma bunga Kamomil, hingga dia lupa waktu dan sudah berendam selama satu jam penuh.
__ADS_1
"Hei, cepatlah." Kata Langit dari luar, kesadaran Petra kembali saat Langit mengetuk pintu berkali-kali, "Aku masuk."
Petra sangat mengantuk, bak mandi ini sangat nyaman hingga dia nyaris tertidur dalam air hangat, saat dia melihat wajah Langit yang mengangkatnya dari kamar mandi, dia seperti melihat algojo yang siap memotong lehernya kapanpun dan dia sangat terlena dengan itu.
"Aku akan membilasmu, tunggulah sebentar." Kata Langit pada Petra yang masih dalam ketidak-sadarannya.
Langit memposisikan Petra dalam posisi duduk, dia membilas sekujur tubuhnya menggunakan shower. Untungnya Langit hanya mengenakan celana pendek dan kaus polos, tidak masalah jika basah sedikit. Setelah membilas tubuh Petra, dia sadar kalau Petra masih belum mencuci rambutnya. Dia mengambil sampo yang digunakan adiknya dan mencucikan rambut Petra hingga bersih.
Setelah selesai dengan mencuci rambut, Langit mengeringkan tubuh Petra dengan handuk tebal yang baru dibelinya lalu membawa tubuhnya keluar kamar mandi setelah kering, sesampainya di ruang tamu, dia memasangkan celana dalam yang baru dibelinya pada Petra, bersama dengan bra yang ternyata memang pas dengan ukuran Petra.
Setelah itu dia memposisikan tubuh Petra dalam posisi merebah di sofa dengan rambut terurai, Langit mengambil pengering rambut dan mengeringkannya.
Saat dalam keadaan tidak sadar, Petra merasa sangat nyaman, dia bermimpi sedang disiram air panas di kepalanya oleh Langit setelah tubuhnya digosok dengan kertas amplas dan dilecehkan sedemikian rupa.
Karena perasaan nyaman itu kini makin menjadi-jadi, Petra akhirnya terbangun dari tidurnya dan mendapati Langit sedang mengeringkan rambutnya yang sudah hampir kering.
"L-La-Langit?!" Petra terkejut dan langsung bangun dalam posisi duduk, "Apa yang kamu lakukan?"
Langit meletakkan pengering rambut, dia menggoyangkan jari telunjuk sebagai isyarat agar Petra mendekat, dia menurut dan mendekat ke Langit.
Plak!
"Auh, shh." Petra ditampar oleh Langit dan meringis setelahnya, lalu Langit menjambak rambut Petra ke arah belakang hingga Petra mendongak, menunjukkan lehernya yang bersih.
Petra yang diperlakukan seperti itu bahkan tidak melawan, dia menikmati saat-saat seperti ini yang baru dia dapatkan dari Langit seorang.
"Diam dan menurutlah." Kata Langit sambil menarik rambutnya dengan lebih kencang, "Hm?"
"I-iya, a-aku menurut."
Langit melepaskan rambut Petra, sangat disayangkan olehnya tarikan tadi harus berakhir karena dia tidak ingin Langit tahu, bahwa dia menikmati saat ditampar, atau ditarik rambutnya seperti tadi.
"Berdirilah dan angkat tanganmu."
"Hm-m."
Petra menuruti perintah Langit, dia berdiri sambil menunjukkan tubuhnya yang hanya ditutupi bra dan celana dalam, dia merasa dilecehkan, rasa malu meliputi sekujur tubuhnya yang gemetaran dan wajahnya kini merona merah padam.
Langit memakaikan gaun pada tubuh Petra, lalu dia menarik resleting gaun yang ada di punggung Petra hingga terpasang sempurna. Setelah itu dia memakaikan rok dari bawah kaki Petra hingga mencapai pinggang.
"Hm, ada yang kurang."
Langit mendorong tubuh Petra agar duduk di sofa, dia kaget, namun tidak lagi takut. Langit lalu masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah sisir dan beberapa karet kecil, setelah itu dia mengepang rambut Petra menjadi dua bagian pendek di sisi kanan dan kiri, lalu mengikat mereka menggunakan karet kecil, setelah itu dia merapikan poni Petra.
"Begini lebih baik." Langit duduk di sofa, "Mulai hari ini, kamu akan tinggal seatap denganku."
"Iya." Petra mengangguk pasrah, "Tapi aku-"
"Akan kuurus kepindahan sekolahmu ke SMA Negeri Pertanjang."
"O-oh, baiklah."
"Kamu bisa pakai alat kosmetik?"
Petra mengangguk, tangannya terlipat di atas kedua pahanya yang tertutup rapat.
"Mulai hari ini, baju yang akan kamu pakai sehari-hari adalah baju yang sudah kubelikan. Aku yakin kamu bisa mengkombinasikannya sendiri, kalau butuh aksesoris tertentu, katakan padaku, aku akan membelinya."
"A-ah, itu terlalu banyak, aku tidak bisa mene-"
"Tidak ada bantahan, Petra."
Petra diam, dia menggigit bibirnya, dia merasa sungkan dan tidak enak pada Langit yang memberinya terlalu banyak.
"Ponselmu ada di kamarku, sudah kupasang kartu nomor, data dan semuanya."
"I-iya, terimakasih."
"Sekarang sudah jam 8 malam, waktunya tidur, besok kita sekolah." Langit berdiri, "Kamu gantilah baju tidur, lalu masuklah ke kamarku."
"Ta-tapi, aku tidak punya baju tidur."
Langit menoleh, "Bra dan celana dalam kan baju tidur. Lepaskan itu semua, gantung di gantungan baju, lalu masuklah ke kamar."
"Eh? Oh, baik." Petra malu, dia sangat dilecehkan harga dirinya oleh Langit, karena itu dia akan menuruti semua perintah dan tutur katanya, bahkan jika harus makan kotoran sekalipun.
Petra berdiri, dia mencari gantungan baju yang ternyata ada di dekat kamar mandi. Dia melepas gaun dan rok, lalu menggantung mereka di gantungan, setelah itu dia berjalan menuju kamar Langit sambil melepaskan ikat rambut.
"Langit?"
Petra melihat Langit sedang mengetik sesuatu di komputernya, Petra mendekat dan mencoba melihat apa yang sedang dilakukan Langit karena penasaran.
Bugh! Langit memukul perut Petra dengan kepalan tangannya.
"A-ahk, uhh." Petra memegangi perutnya sambil gemetaran, Langit berdiri dan menggeser kursinya.
"Heehhgghh!" Petra tidak bisa bernafas, Langit mencekik leher Petra sangat erat, lalu setelah itu dia menjatuhkan tubuh Petra di depan komputer.
"Petra, kursi yang kumiliki sepertinya sudah rusak." Langit meletakkan kakinya di wajah Petra yang masih berusaha bernafas, "Berposisilah dalam posisi merangkak."
Langit mengangkat kakinya, lalu menginjak perut Petra dengan sangat keras.
"Haanng!" Petra meringis kesakitan, dia memegangi perutnya yang diinjak Langit.
"Jangan memegangi perutmu atau kamu mau kutinggal di pinggir jalan?"
"Huu, shh, i-iya."
Petra mencoba memposisikan tubuhnya dalam posisi merangkak setelah mendapatkan rasa sakit yang luar biasa di perutnya, dan Petra, jelas tidak ingin ditinggalkan di pinggir jalan karena alasan yang jelas, yaitu untuk tetap berada di sisinya dan menerima pukulan lain.
Langit duduk di punggung Petra yang sedang merangkak, tangan Petra langsung merasa terbebani.
Dengan menggunakan Petra sebagai kursi, Langit melanjutkan aktivitas mengetik di komputer selama beberapa saat, hingga Petra tidak kuat lagi dengan siksaan manis yang didapatkannya. Tubuhnya ambruk, Langit juga ikut terjatuh.
"Kau lelah?"
Petra tidak menjawab, dia hanya bisa mengambil nafas dengan terburu-buru, semua sendinya sakit, dan dia memang benar, sangat kelelahan.
"Berdirilah." Perintah langit sambil menarik pergelangan tangan Petra, "Berdiri di sini dan angkat dua tanganmu setinggi mungkin."
"Haah-haah-haah." Petra mengangguk sambil tetap terengah-engah.
"Aku sudah bilang, kalau tidak ada bantahan." Kata Langit sambil mengambil sebuah sabuk dari dalam lemari pakaian, "Tapi bahkan menjadi kursi pun kamu gagal."
Ctas!
"Hhik! Hheeghh."
"Tidak ada jeritan, tidak ada suara." Perintah Langit yang langsung mencekik leher Petra saat dia ingin menjerit, "Kamu mau membangunkan adikku dan membuatku membuangmu?"
Petra menggeleng, lalu Langit melepaskan cekikan di lehernya.
"Haah-hahh-haah-haahh, hegh."
Petra dicampuk di bagian perut dan punggung, bekas cambukannya membuat kulit Petra memerah, hingga lebam.
"Ini cukup, aku sudah lelah." Kata Langit sambil meletakkan sabuk di kursi komputer, "Kau juga tidurlah, turunkan tanganmu."
Petra menurunkan tangannya sambil gemetaran, sementara Langit naik ke atas kasur tanpa mematikan komputer diikuti oleh Petra yang merebahkan tubuhnya secara perlahan di samping Langit.
Pukulan, siksaan, kesakitan, rasa malu dan semua hinaan yang didapat oleh Petra dalam dua jam terakhir tentu saja berakibat pada otaknya, dan efek yang pertama kali terasa olehnya adalah tidak merasakan apapun, dengan kata lain, dia pingsan.
Paginya, saat Langit sudah siap dengan seragamnya, dan Samudra yang masih memakan sarapan, Petra terbangun dengan sebuah sentuhan lembut dari tangan yang nyaris tidak memiliki guratan kasar.
"Lang-Langi-t?" Petra memastikan penglihatannya tidak salah dengan suara yang pelan, lirih.
"Bangun, mandi dan sarapan." Kata Langit sambil berjalan keluar kamar.
"Iya."
Petra bergegas bangun dari kasur, dia tidak ingin mengecewakan Langit dengan membuatnya menunggu lebih lama untuknya keluar dari kamar dan mengancam untuk meninggalkan dirinya seperti semalam.
"Kak Petra, selamat pagi." Samudra menyapa dengan potongan telur yang berantakan di piringnya, "Mandi dulu atau langsung sarapan?"
Langit di meja yang sama, bersebrangan dengan Samudra. Petra yang masih mengenakan bra dan celana dalam agak kikuk ingin membalas sapaan Samudra.
"Pa-gi, Samudra." Petra berjalan menuju kamar mandi, "Aku mandi dulu."
Samudra menatap kakaknya, "Apa kakak, setega itu?"
"Maksudmu?" Tanya Langit sambil menyendok gandum dan mengunyahnya.
"Kita bicarakan ini semalam."
"Lalu?"
"Bukannya itu, terlalu, hmm." Samudra terlihat sedang berpikir, untuk menyusun kalimat yang tepat mendeskripsikan yang ada di pikirannya, "Tidak manusiawi?"
"Bicara tentang manusiawi." Kata Langit lalu berhenti sebentar untuk menelan gandumnya, "Katakan itu pada si perawan."
Samudra menunduk, dia sangat paham betul dengan perkataan kakaknya tentang si perawan yang pernah menargetkan dirinya di kamar ini.
"Atau." Langit menyambung kalimatnya sambil mengambil telur gulung, "Katakan itu pada orang yang membunuh ayah dan ibu."
Samudra diam, dia tidak pernah melihat kakaknya sangat hebat, bahkan hingga keterlaluan saat mengatakan yang ada di pikirannya. Berulang kali dia mendapatkan masalah karena omongannya yang penuh dengan sarkasme, sindiran, satir dan seolah-olah, dia bisa mengetahui pikiran orang lain.
Padahal dirinya tahu, sangat tahu, kalau kakaknya memang peka dengan hal seperti itu dan selalu mendukung kakaknya walau dia kadang sakit hati dan selalu menutupinya.
"Maaf."
__ADS_1
"Jangan pikirkan itu."