
Yuri
Di dalam helikopter, Langit membaca buku demonologi yang dibawanya dari perpustakaan, entah apa yang dibacanya di dalam buku itu, tapi dia terlihat sangat serius.
"Archer, pesawat Rattle hanya tinggal menunggu perintah." Kata Putri melalui mic yang terpasang di headset, dia ada di helikopter satunya, sehingga perlu menggunakan radio.
"Stand By hingga jam 6 sore."
"Dimengerti."
"Kenapa dengan jam 6 sore?" Tanya Samudra.
"Ini dasar pengetahuan demonologi, senja adalah waktu krusial dimana setan dan iblis mulai berkeliaran di luar. Menurut salah satu kepercayaan lama, cahaya matahari senja adalah tanduk setan, dan menurut buku ini, cahaya senja adalah saat mereka paling kuat."
"Tapi semua kasus itu terjadi malam-malam, bahkan pagi buta." Katanya lagi.
"Malam adalah siang, siang adalah malam, senja dan fajar adalah momen perubahan. Setan melemah saat fajar, menguat saat senja, dan karena itulah, aku sangat yakin mereka melakukannya saat malam karena mereka lebih mudah berada di lingkungan luar." Kata Langit menjelaskannya panjang lebar.
Suara helikopter cukup keras, bahkan terdengar hingga dari dalam, makanya Langit menggunakan mic untuk berbicara dengan adiknya, dan pembicaraan itu didengar langsung oleh anggota tim lain.
"Bukannya kita dirugikan kalau menyerang saat senja?" Tanya Samudra lagi, "Rencananya kita serang mereka jam 6, 'kan?"
"Oztar pasal 73, ayat 246, tak akan abadi bagi mereka yang melengang, namun abadilah mereka yang terkenang, hancurlah kepalsuan bersama keaslian, hilanglah palsu, tinggallah asli, telah engkau lewati beribu jalan menuju jahanam, dengan nama engkau yang terjatuh dan termahsyur, Ybdona Vet Zurteim."
Langit membacakan salah satu ayat di kitab satanis yang di abaca di perpustakaan dan mengulanginya tanpa salah sedikitpun.
"Maksudnya?" Samudra agak kebingungan karena saat ditanya, kakaknya malah membacakan ayat dari kitab.
"Hilanglah palsu, tinggallah asli, maksudnya adalah, kita harus membunuh orang yang dirasuki secara langsung. Rohnya akan pergi bersama nyawanya, tapi tubuhnya juga ikut mati." Kata Langit menjelaskan panjang lebar, adiknya manggut-manggut, anggota lain saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh keheranan.
"Memangnya senapan ini bisa membunuh iblis?"
"Iblis mati dengan doa, sementara manusia mati dengan peluru."
"Ah, aku paham."
Helikopter yang ditumpangi Langit melewati lautan, itu karena Kyuto memang berada di wilayah luar Basuki Raya, jadi mereka harus menyebrangi laut sejauh 3412 mil. Setelah menghabiskan waktu 2 jam perjalanan, Langit dan timnya turun di hangar dan sudah ditunggu oleh pasukan militer di sana.
"Siapa kaptennya?" Tanya seseorang yang menghampiri tim Langit.
"Saya." Jawab Putri sambil memberikan hormat, "Prinses, dari batalion tempur Virgin Goddess."
"Stepan 'Maverick' Darson, komandan tempur pasukan darat, aku membawahi 4 peleton." Jawabnya sambil memberikan hormat, lalu menurunkan tangannya diikuti Putri.
"Itu sudah cukup, amankan lalu lintas dalam radius 2 mil dari gedung Mediport."
"Siap!" Pria itu lalu meninggalkan Putri yang baru saja turun dari helikopter.
"Kita juga harus bersiap, ini hampir jam 6." Kata Putri sambil menoleh ke belakang dan melihat semua anggotanya belum turun dari helikopter.
"Tim runduk, turun di titik terjun, jangan lupa parasut!" Kata Langit memerintah tim runduk yang ada di helikopter depan.
"Siap!"
"Prinses, perintahkan mereka mengisi bahan bakar helikopter ini, kita akan berada di langit agak lama." Kata Langit, "Dan juga, suruh Rattlesnake berangkat sekarang juga."
"Oke." Jawab Putri sambil memanggil seseorang lalu dia pergi dan kembali dengan membawa mobil berisi bahan bakar untuk helikopter.
"Kita akan pergi setelah mengisi bensin, naiklah, Prinses."
"Iya."
Putri naik ke dalam helikopter dibantu oleh Naga, petugas yang ada di bawah mengisi bahan bakar helikopter yang masih saja memutar baling-balingnya. Setelah selesai, petugas itu mengangkat bendera biru dan mengibarkannya beberapa kali, itu adalah tanda bahwa dia selesai.
"Archer, kita selesai."
"Berangkat!"
Baling-baling helikopter itu berputar makin kencang dan kencang, lalu mengangkat badan helikopter dan pergi meninggalkan hangar.
"Estimasi Rattlesnake?" Tanya Langit.
"Sekitar 27 menit."
Langit mengangguk setelah mendengar jawaban dari Putri. Pesawat tempur Rattlesnake adalah pesawat tempur siluman yang canggih, cepat, dan kuat. Tidak heran kalau dia mampu melintasi 3000 mil hanya dalam waktu kurang dari satu jam.
"Di mana titik darat kita?" Tanya Kepler yang menerbangkan helikopter ini.
"Kita tidak mendarat, kita melayang di udara sampai waktunya." Jawab Langit, "Ranger, buka peta."
"Oke." Jawab Samudra sambil melepaskan tablet yang terpasang di dadanya, "Kau belum pakai holo."
"Ah, aku lupa."
Langit sangat jarang melupakan barang, jika dia lupa, dia akan diingatkan oleh adiknya yang selalu tahu yang dibutuhkan kakaknya.
"Aku sudah pakai, kalibrasikan denganmu."
"Sudah."
Langit memperhatikan peta di sekitar gedung Mediport, lokasi tiga orang runduk sudah tersambung dan terlihat sangat jelas.
"Kepler, naikkan ketinggian sampai Troposfer, melaju perlahan mengitari Mediport di jarak 3 mil."
"Dimengerti." Jawab Kepler sambil menarik tuas dan menambah ketinggian helikopter, "Sebaiknya tutup jendelanya."
Semua jendela sudah ditutup.
"Ranger, laporan evakuasi?"
"Hampir selesai."
"Prinses, suruh mereka lebih cepat." Perintah Langit sambil memperhatikan jam tangannya, "Sudah hampir waktunya."
"Oke." Jawab Putri sambil mengontak komandan di daratan, "Cepatlah, kita berburu dengan waktu."
"Aku berusaha, ini akan selesai sekitar 2 menit lagi."
Langit mengangguk saat mendengar informasi dari radio yang didekatkan ke mic agar dia bisa mendengarnya juga.
"Archer, pesawat ada di Stratosfer, sedang menunggu perintah, evakuasi sudah selesai."
"Sambungkan aku ke radio pilot itu."
"Oke."
Panda menyambungkan radio Langit dengan radio pilot di pesawat tempur Rattlesnake di atas langit sana.
"Ini Archer, apa kau yakin kau bisa hidup setelah terjun bebas?"
"Aku Iceman, mungkin aku akan sedikit mimisan, tapi tak masalah."
"Buat lubang di gedung itu sesuai aba-abaku."
"Diterima."
Langit melihat ke luar jendela, matahari sedang berusaha untuk terbenam, cahayanya mulai meredup dan manyisakan horizon berwarna jingga kemerahan berbentuk sabit dikarenakan bentuk bumi yang bulat, itulah mengapa langit senja disebut sebagai tanduk setan.
"Tanduk setan terlihat. Iceman, buat lubang di gedung itu."
"Dimengerti."
Langit memperhatikan holo miliknya dan melihat pesawat yang ditumpangi Iceman melesat secara vertikal dari Stratosfer.
"Kecepatan 500 knot, 20 mil."
"Kecepatan 800 knot, 12 mil ."
"Kecepatan 1200 knot, 8 mil."
Langit melihat sebuah pesawat meluncur benar-benar cepat secara vertikal, tepat sejauh 3 mil di depannya, anggotanya yang lain terkejut, begitu juga Putri dan Panda yang melihatnya.
"Menembakkan misil bor, menarik tuas."
"Sekarang! Terbang lurus ke atas gedung itu!" Kata Langit setelah dia mendapatkan laporan bahwa misil bor telah ditembakkan.
"Siap!"
"Di sini Iceman, hantaman dikonfirmasi, berhasil lolos dari maut, memasuki mode siluman penuh, meminta ijin ke hangar untuk merawat luka."
"Dikonfirmasi, Iceman, terimakasih. Kembalilah ke hangar terdekat dan rawat lukamu." Kata Putri.
"Semua bersiap untuk terjun! Cek kelengkapan peralatan!" Kata Langit sambil berteriak kepada semua anggota yang mengitari pintu keluar di tengah-tengah helikopter, dia berteriak karena headsetnya sudah dilepas.
"Tali lurus dan siap! Palka tidak ada cacat! Memulai prosedur katrol sumur!" Teriak Panda sambil mengecek peralatan satu per satu.
Prosedut katrol sumur adalah ketika seseorang mengaitkan badan mereka di sebuah tali lalu meluncur bebas secara vertikal dengan mengandalkan mesin di dalam helikopter, sehingga ini terlihat seperti seseorang sedang mengambil air di dalam sumur menggunakan ember dan katrol.
"Kita ada tepat di atas lubang!" Teriak Kepler dari kursi pilot.
"Buka palka!" Teriak Langit.
"Membuka palka!"
Palka terbuka, semua sudah siap dengan mengaitkan kait-kait di badan mereka dengan tali di yang terpasang di mesin penarik.
"Semoga beruntung!" Teriak Kepler.
"Ya!"
Langit terjun pertama, diikuti oleh Putri, Samudra, Panda, Harpy, Miru, dan Naga. Tali yang ada di mesin penarik terlihat sangat kuat dan solid, sehingga keamanan Langit dan anggota timnya terjamin.
"Lontar asap!"
__ADS_1
"Dimengerti!"
Miru, Harpy, dan Naga menembakkan granat asap dari pelontar yang mereka bawa, ini untuk membutakan musuh di setiap lantai. Setelah itu Harpy menembakkan granat asapnya di lantai dan menciptakan kabut asap yang sangat tebal.
Meskipun perintah evakuasi sudah turun, dan gedung ini dipastikan kosong, menembakkan granat asap adalah sebuah tindakan antisipasi yang dipikirkan Langit. Setelah mereka berhasil mendarat, Langit langsung memeriksa lantai.
"Naga, pasang peledak di sini, sini, dan sini." Kata Langit sambil menunjuk bagian-bagian lantai yang harus diledakkan.
"Kepler, tetap di sana."
"Dimengerti."
Naga memasang peledak di tiga tempat yang ditunjuk oleh Langit lalu membuka pengaman di remotnya, "Siap!"
"Lakukan!"
Duar!
Naga menekan tombol di tangannya, ledakan terjadi cukup besar dan menciptakan asap tebal, namun tidak menciptakan lubang.
"Ini besi. Ini lantai besi!" Kata Langit sambil menekan tombol di radionya, "Kepler, mendarat di atap gedung dan bersiaplah untuk kabur."
"Dimengerti, aku akan meninggalkan talinya agar kalian bisa cepat kabur."
Langit mengeluarkan sesuatu dari tasnya, lalu meletakkannya di lantai besi.
"Ranger, sinkronkan ke tabletmu."
"A-ah, oke."
Samudra mengatur sinkronisasi tabletnya dengan alat itu yang ternyata merupakan sebuah sonar portabel, alat ini sangat lumrah dan sering digunakan di dunia militer.
"Bagaimana bentuk dalamnya?"
"Kita ada di lantai teratas, kalau kita meledakkan lantai ini, kita bisa patah tulang karena jatuh dari ketinggian 60 kaki."
"Ketebalan lantainya?"
"Cukup tebal karena lapisan semen, sisanya hanya besi setebal 25 inci."
"Kepler, kau dengar?"
"Aku di sini."
"Kami akan turun sedikit ke bawah, tolong atur mesin penarik agar kami bisa turun."
"Dimengerti."
"Miru, letakkan peledak biasa seperti tadi, kali ini di sana, sana, sana, di sini, sini, dan di sini."
"Dimengerti."
Miru meletakkan peledak biasa di titik yang ditunjuk oleh Langit dan menata semuanya membentuk sebuah lingkaran.
"Lakukan."
Duar!
Lapisan semen yang cukup tebal akhirnya kini menghilang membentuk lingkaran, dan kini saatnya untuk menggunakan peledak termit.
"Miru dan Naga, letakkan peledak termit di sini, sini, sini, di sana, dan di sana." Kata Langit, "Atur ledakkannya ke manual."
"Siap."
Miru melakukan yang diperintah Langit sambil dibantu oleh Naga, karena peledak termit yang mereka bawa cukup terbatas, dan kini hanya tersisa 4 peledak.
"Sudah kamu atur ke manual?"
"Sudah."
Langit mengangkat tangannya seperti sedang hormat, lalu menurunkannya secepat mungkin, itu adalah isyarat untuk Miru memulai proses pencairan.
"Pantau ketebalan besi."
"60%, 73%, 84%, 91%." Kata Samudra yang terus menerus mengabari Langit tentang ketebalan besi yang sedang dihancurkan melalui tablet yang terhubung dengan sonar portabel.
"Ledakkan."
Duar!"
Langit sukses menghancurkan lantai besi dan membuat lubang yang cukup besar untuk dilewati banyak orang sekaligus.
"Pasang kait dan bersiap untuk terjun ke bawah, pakai kacamata malam adaptif kalian, dan Prinses, jangan mati."
"Heh, kamu yang jangan mati."
Langit memperhatikan sonarnya yang terhubung di holo miliknya, ada yang tidak beres menurut firasatnya.
"Ranger, tampilan termal."
"Oke."
"Bingo."
Langit mengeluarkan busurnya dan menembakkan anak panah dengan gas beracun beberapa kali. Gas ini sama seperti gas yang dia pakai di Jembrana, sehingga mudah netral dengan udara.
"Kita masuk." Kata Langit sambil mengambil pelontar granat asap dari tangan Panda lalu masuk ke dalam.
"Oke."
Semua anggotanya mengikuti Langit untuk turun, tali yang menahan mereka membuat mereka turun perlahan.
"Granat asap." Perintah Langit sambil menembakkan miliknya ke beberapa sisi.
"Baik." Kata Miru dan Naga hampir bebarengan.
Kabut asap menghalangi pandangan mereka, meskipun di sini gelap, mereka tetap terhalangi oleh kabut asap.
Langit mengeluarkan pistolnya dan segera bergerak menuju ujung koridor, melalui sonar yang masih terpasang di atas sana, Langit mampu menentukan lokasi musuh di kedalaman 60 kaki ini.
"4 musuh di depan, Miru!"
"Siap!"
Miru maju ke depan dan menembaki mereka menggunakan senapan yang dibawanya, semuanya sudah dibunuhnya dan mereka lanjut berlari.
Saat Langit sampai di sebuah pintu yang besar, dia melihat ada banyak orang di dalam sedang diam. Kelihatannya mereka sedang menunggu agar Langit masuk lalu menyergap pasukan Langit.
"Harpy, Abominator."
"Dimengerti."
Harpy mengarahkan senapannya yang disebut Abominator sementara yang lain menyingkir sedikit. Saat dia menarik slide dan mengisi peluru di selongsongnya, lalu menariknya begitu siap, saat itu pula Langit, Samudra, dan anggota tim lain mengetahui betapa kuat proyektil yang ditembakkan senapan berat Abominator.
Peluru yang menembus pintu langsung menancap di dinding sebelah, lalu bagian belakangnya terbuka dan meluncurkan proyektil lain yang lebih kecil, proyektil yang berjatuhan itu lalu meledak dan membunuh sebagian besar orang di ruangan sebelah, banyak yang selamat terluka berat, sisanya mampu berdiri dan mengalami terror yang sangat dalam, mereka sadar tidak bisa menang dari peluru yang kerjanya mirip kembang api yang meledak di angkasa.
"Kita masuk!" Kata Langit sambil melemparkan granat kilat setinggi mungkin.
"Siap!" Jawab semuanya serentak tanpa melirik ke atas sedikitpun, karena jika mereka melihat granat kilat yang meledak secara langsung, dapat dipastikan mereka mengalami kebutaan permanen.
Dor dor dor!
Ratatatatatata!
"Bunuh semuanya! Jangan ada yang tersisa!" Kata Langit sambil mengeluarkan granat asap dan melemparkannya ke pintu masuk yang tadi dilewati mereka.
"Ikuti aku!"
"Siap!"
Langit berlari ke lorong yang ada di balik pintu, sonarnya menangkap beberapa gerombolan lain di depan, dan sepertinya mereka siap untuk menembak.
"Serahkan ini padaku!" Kata Samudra sambil melemparkan granat kilat, membutakan musuh, lalu menembaki mereka menggunakan pistol.
"Mati kalian!"
"Sial! Itu polisi!"
"Bagaimana mereka bisa masuk?!"
Samudra membunuh satu yang paling depan, selagi granat kilatnya masih bersinar, dia mengambil seorang mayat yang terlihat ringan, lalu menjadikannya tameng sambil terus maju.
"Siap!" Teriak Langit memberikan aba-aba pada anggotanya yang langsung sigap membidik lawan di depan Samudra, "Tembak!"
Dor dor dor!
"Tembak!"
Dor dor dor!
"Selesai! Bantu dia!" Kata Langit sambil berlari ke arah adiknya, "Ranger! Kau tak apa?"
"Baik di sini." Jawabnya sambil mengosongkan magazin pistol dan mengisinya dengan yang baru.
Panda memperhatikan orang-orang yang dia bunuh, dia menarik baju mereka yang terlihat seperti pastur sebuah gereja, namun kalung yang mereka kenakan bukan kalung salib biasa, itu adalah salib yang terbalik.
"Mereka benar-benar okultis." Kata Panda sambil merogoh saku mereka dan mendapati sebuah gelang tasbih dengan ukiran-ukiran aneh dan salib yang terbalik menggantung di ujungnya.
"Jangan sentuh itu, Panda. Kita tidak tahu dampaknya." Kata Putri memperingatkan.
"Ini aneh." Kata Langit, "Aku melihat beberapa orang di ruangan ini, tapi, di ruangan ini tidak ada siapa-siapa."
"Kakak yakin itu bukan lantai bawah?"
"Bukan, ini tepat di samping kita, tapi kau lihat sendiri, di balik pintu, tak ada siapapun." Kata Langit sambil memperhatikan ruangan di sampingnya ini yang mengindikasikan kehidupan, tapi tidak ada orangnya sama sekali.
__ADS_1
"Jangan-jangan?!"
"Ada apa, Archer?" Tanya Panda.
"Mereka pakai Hamon?!"
Hamon adalah arwah dari makhluk yang seharusnya sedang diadili di neraka, mereka menyeretnya ke dunia untuk diperlakukan seperti budak, namun mereka membutuhkan harga yang pantas, dan untuk kasus ini, adalah energi kehidupan manusia. Keberadaan mereka bisa dipertahankan dengan menghisap energi kehidupan inangnya hingga inangnya mati. Kalau benar mereka Hamon, seharusnya ada lokakarya yang menyuplai energi kehidupan untuk mereka.
Mengetahui kemungkinan ini, Langit langsung mundur.
"Mundur! Buat lingkaran, dan lindungi aku!"
"Siap!"
Selagi mereka melindungi Langit dari kemungkinan kedatangan musuh, dia mengeluarkan buku dan selembar kertas yang disiapkannya di dalam tas. Setelah mencelupkan jarinya ke darah dari mayat yang ada di sampingnya, dia menarik garis lurus di kertas itu dan mulai komat-kamit merapal sesuatu.
"Inzus asmhi hij ung vaulkrarung, wahai engkau entitas yang menguasai kematian dan pengadilan, sadarkah engkau dengan seekor marmot yang mencari jalan keluar dari keras dan padatnya bebatuan tanah, sementara engkau menertawakan kekuatan yang menyaingi engkau, dan tidakkah engkau merasa sedikit keraguan atas apa yang menghakimi mereka oleh palu dan gadamu, heist hij ung pornyalung, haufsz tin ung hij izjsthar, verbun gehen!"
Asap hitam mulai bermunculan dari dalam ruangan itu, anggota tim Langit melihat mereka sebagai gumpalan asap hitam yang tidak mengancam, namun Langit melihat jiwa-jiwa yang sedang dihakimi kembali ke neraka untuk kembali diadili.
"Sialan! Jangan tarik aku!"
"Biarkan aku di sini!"
"Jangan bawa aku!"
Arwah-arwah itu sepertinya menolak untuk tetap tinggal di neraka, namun, itulah bayaran untuk mereka yang berdosa.
Langit berdiri, dia terlihat begitu lelah, hidungnya mengeluarkan darah selagi nafasnya memburu kencang.
"Kakak, hidungmu mimisan."
"Ah, mungkin ini efek sampingnya." Jawab Langit.
'Gila, dia udah mirip dukun.' Pikir Putri yang melirik anggota lain, sepertinya mereka semua memiliki pemikiran yang sama soal Langit yang mirip dukun.
"Kita masuk." Kata Langit.
"Siap."
Ruangan itu penuh dengan darah dan mayat korban dari peluru Abominator yang digunakan Harpy, ada beberapa banyak benda aneh di sini selain mayat yang banyak. Seperti kursi yang berjejeran, salib terbalik berukuran besar di satu sisi, dan seekor kambing yang sedang duduk bersila membawa tongkat yang dilingkari ular, dan ukiran bintang daud di langit-langitnya.
Tempat ini adalah gereja setan.
"Kak, ini." Samudra memberikan air gula dari dalam tasnya, "Air gula."
"Terimakasih, bisa gawat kalau aku mati kekurangan darah di sini."
Langit tidak melihat adanya tanda kehidupan di sini, mungkin karena sonarnya sudah di luar jangkauan, atau karena memang 2 pintu di depannya ini sudah ditinggalkan.
Brak!
Langit secara langsung menendang pintu itu dan mengancurkannya karena memang engselnya sudah berkarat. Tidak ada orang di dalam sini, dan ruangan itu terlihat berantakan.
"Tempat ini sudah ditinggalkan, kita terlambat selangkah." Kata Panda.
"Tidak." Jawab Langit menyangkal Panda, "Runduk, dengar aku?"
"Ela di sini, jelas sekali."
"Judas mendengarmu, Archer."
"Belyn di sini."
"Tembak kaki semua orang yang keluar dari gedung."
"Siap."
"Dimengerti."
"Siap."
"Kita sudah mengamankan jalur keluar, Naga dan Panda, bereskan ruangan ini, ambil semua catatan dan buku."
"Dimengerti." Jawab keduanya serentak.
"Sisanya ikut aku." Kata Langit sambil berjalan ke ruangan sebelah yang masih terkunci.
Samudra mengeluarkan pistolnya dan menembak dua engsel pintu dan menembak kunci di dekat gagang pintu, sehingga Langit lebih mudah menghancurkan pintu ini, namun ternyata dia hanya mendorongnya dan tidak ada apa-apa di sini.
Di dalam ruangan itu tampak seperti sebuah kantor biasa, ada satu meja, dua kursi di dua sisi meja, beberapa rak buku, dan sebuah lukisan besar.
"Panggil bala bantuan ke sini, kita butuh bantuan untuk mengangkut ini, lalu kalian, bereskan catatan di sini." Kata Langit.
"Siap!"
Langit keluar dari ruangan itu dan berkeliling di gereja yang lumayan besar ini, semuanya gelap, nyaris tidak ada pencahayaan kecuali dari lampu-lampu yang belum pecah terkena proyektil tadi.
[{Jangan kemari}]
"Kakak, ini seperti baru." Kata Samudra sambil menunjuk ke bagian bawah salib yang terbalik.
"Baru?"
"Baru digeser."
"Hoo." Langit menghampiri adiknya, sementara anggota lainnya sedang membereskan kedua ruangan itu.
[{Tidak, jangan sentuh itu}]
Langit mencoba menggeser bagian bawah salib terbalik itu, dan ternyata memang tuas untuk membuka sesuatu. Saat dia menarik tuasnya, dinding tipis di sebelah salib terbalik itu terbuka, dan terlihat sebuah lift.
"Ke mana lift ini? Masih punya sonar?"
"Uh-huh, satu-satunya sonar sudah dipakai tadi." Jawab Samudra.
"Kita masuk melalui atap dari sini, wajar saja kalau ada lift untuk naik ke atas, ini lift normal." Kata Panda sambil keluar dari ruangan yang sudah selesai dia bereskan.
"Menurutmu begitu?" Tanya Langit sambil memperhatikan lift di depannya dengan seksama, "Mari kita tes."
[{U-untuk apa kamu keluarkan buku itu? Jangan-jangan?!}]
Langit mengeluarkan buku kitabnya dan membacakan sebuah ayat.
"Forte diun inshct, ung iz mein aiz, tunjukkanlah kebenaran padaku, wahai penunjuk arah, corplei ung aistruch iz aiz."
Tidak terjadi sesuatu bahkan setelah Langit yakin membacakan bukunya dengan benar.
[{Ah, dia salah membacanya, harusnya itu iz ain, bukan iz aiz}]
"Kakak belum bisa bahasa Ukrish kuno?"
"Diamlah, aku masih pemula."
[{Kamu pemula? Hihihihi}]
"Kalau begitu, ini memang lift biasa." Kata Harpy yang sudah selesai membereskan ruangan pertama.
"Archer? Di sini Belyn, ada 4 orang tersangka keluar dari dalam gedung, kaki mereka sudah kuhancurkan."
"Bagus. Prinses, bala bantuan?"
"Mereka mulai turun dari titik terjun kita."
"Bagus, berita bagus, kita pergi dari sini." Kata Langit sambil menekan tombol lift.
[{O-oh, aku harus pergi}]
"Angkut semuanya ke sini." Kata Langit sambil memencet tombol untuk menahan pintu.
"Sudah semua?"
"Sudah."
Langit memencet tombol ke lantai 1, tapi tidak ada tombol untuk pergi ke lantai bawah, mungkin ada kombinasinya, tapi Langit tidak memikirkan hal itu sekarang.
"Jangan beritakan Mediport dan si perawan, orang-orang akan merasa damai, tapi kita masih belum bisa mencengkram leher si perawan." Kata Langit menjelaskan ke Putri.
"Baiklah, sesuai keinginanmu."
Anggota tim Langit keluar dari dalam lift, beberapa petugas mengarahkan senapan pada mereka, tapi setelah tahu mereka satu pasukan, mereka menurunkan senjatanya.
"Kapiten Prinses! Selamat!" Sambut seorang pria yang menemuinya tadi di hangar dengan hormat, "Kau sukses melakukan misi."
"Ya." Jawab Putri sambil membalas hormat komandan Stepan, "Tapi aku ini masih kapten, jangan turunkan derajatmu."
"Tentu saja, ini timmu?" Tanya komandan Stepan sambil mengamati mereka satu per satu.
"Ooh, ini Archer yang sedang dibicarakan itu ya?" Tanya komandan Stepan sambil menepuk pundak Langit.
Klek.
Samudra mengarahkan senapannya ke komandan Stepan.
"Apa-apaan ini? Hmm?" Tanya komandan Stepan begitu sadar ada seorang gadis sedang menodong kepalanya dari belakang.
"Menjauh darinya." Kata Samudra, sementara kakaknya dan anggota lain diam sama sekali.
"Sepertinya aku melakukan sesuatu yang salah?" Tanyanya sambil melirik Putri yang menggeleng, lalu pandangannya kembali ke Langit yang menatapnya sinis dari sudut matanya.
"Kita ke hangar, tahanan itu milik kita, semua barang jarahannya juga." Kata Langit sambil berjalan keluar dari gedung ini, adiknya yang cepat tanggap langsung mengambil sonar dan segera membereskannya.
"Jangan katakan apapun ke wartawan. Yuri, jemput para runduk. Kepler, angkut kami dari pintu keluar."
"Siap."
__ADS_1
"Siap."