Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Fried Chick


__ADS_3


Langit and Samudra Safir in their siblings' love affair (art by Samudra)


Langit masuk ke dalam markas dan berjalan menuju meja dengan peta lokasi penyanderaan beserta situasi kerumunan yang sedang terjadi. Hal ini bisa membantu untuk mempertimbangkan untuk menggunakan senapan atau tidak. Jika iya, maka peluru akan berisiko tinggi mengenai orang-orang tidak bersalah, jika tidak, maka mereka harus memilih opsi lain.


"Archer, lama sekali."


"Kau pikir motormu bagus?" Jawab Langit sekenanya pada Putri yang mendecih, "Lalu?"


"Ini situasi secara langsung di TKP, menurutmu, apa yang harus dilakukan?" Tanya Putri lagi.


Langit memegangi dagunya, seperti orang berpikir kebanyakan, Panda, Miru, dan Naga juga berharap banyak pada Langit, karena mereka menghabiskan waktu untuk melatih otot, bukan otak.


"Aku punya busur gas racun, ini neurotoksin yang bisa membunuh mereka secara langsung, dalam radius 6 meter di area terbuka."


"Kalau kau pakai itu, Senimorangkir juga akan terbunuh. Lagipula, dia itu putri satu-satunya petinggi militer Januri." Jawab Panda menimpali.


"Kalau begitu aku butuh 2 gas racun."


Brak! Panda memukul meja dengan kedua tangannya, dia amat sangat kesal.


"Sudah kubilang, Archer, dia itu bisa ma-"


"Sebentar, Panda. Mari kita dengarkan alasannya dulu, dia berpikir cukup unik, menurutku." Kata Miru mencoba menenangkan Panda, "Aku pernah dikomando olehnya saat operasi Stephaniel, menurutku dia ada alasan sendiri, ya 'kan?"


Langit menghela nafas, "Ternyata kau lebih paham tentangku daripada intel resmi di tim ini."


Panda yang mendengarnya merasa amat sakit, karena selain bermulut tajam dan dingin, raut wajah dan caranya menatap orang lain itu seperti menatap kotoran sapi.


"Well, sandera dalam posisi terduduk, itu berarti hidungnya berada di ketinggian setengah dari manusia yang berdiri tegap, si *******."


Langit berjalan menuju box yang dia bicarakan sebelumnya, dia mendapatkannya dari Putri atas persetujuannya, isinya beberapa alat aneh yang Putri pikir, tidak diperlukan.


"Ini adalah mixer, atau alat pencampur. Jika aku mencampurkan diethyl-methylphosphonothioate, dengan Helium, maka yang akan terjadi adalah, gas ini akan melayang ke atas, bukan ke bawah."


Putri melirik Panda, dia tidak paham dan menunggu penjelasan lebih lanjut dari Panda, tapi sepertinya yang diharapkan untuk menjelaskan juga tidak mengerti arah pembicaraannya.


"Intinya, sandera yang tiarap, tidak akan menghirup gas beracun, dan orang yang berdiri tegak akan keracunan. Paling tidak, membutakan mata mereka."


"Okay, aku paham. Lalu inisiasinya?" Tanya Naga, "Gak mungkin kamu terjang ke depan, 'kan, Archer?"


"Tentu saja."


Semua menghela nafas lega.


"Tentu saja, aku akan menerjang."


"Hei!" Teriak mereka bersamaan.


"Kau pikir mereka pakai senjata mainan?!"


"Banyak orang risiko peluru nyasar!"


"Kau bahkan gak ada pengalaman menembak!"


Mereka semua tidak menyetujui rencana Archer yang menerjang secara langsung menuju tempat Senja disandera.


"Kalian lupa? Aku pemimpin operasi ini, Prinses adalah komandan."


"Meski begitu, kau-"


"Aku akan selamat, membawa Sandera dan kembali utuh." Kata Langit memotong kalimat Putri.


"Aku setuju dengan Langit."


Mereka semua menoleh ke arah pintu masuk, seseorang baru saja datang dan langsung memberi pendapat, membuat semuanya keheranan.


"Lagipula, bukan Archer kalau gak nekat, iya, 'kan?"


"Harpy?" Langit tidak begitu kaget, hanya merasa aneh, karena Harpy sebenarnya diharuskan pergi ke mabes, bukan ke markas ini, "Apa yang terjadi?"


"Petinggi Januri memerintahkanku pergi kemari dan menuntaskan operasi hingga pagi." Jawab Harpy sambil berjalan masuk, "Dia mengandalkanmu."


"Well, ada pekerjaan untukmu, Archer." Kata Putri, "Semoga beruntung."


"Kau ada uang?" Tanya Langit pada Panda, "Ayo kita bertaruh."


"Taruhan apa?" Jawab Panda kesal.


"Kalau aku berhasil tanpa ada korban luka, beri aku asuransi kesehatan dan asuransi jaminan hidup pokok lainnya. Berlaku untuk adikku juga."


"Cih." Panda terlihat amat sangat kesal pada wajah Langit yang menantangnya dengan wajah tersenyum sambil menunjukkan giginya yang rapi.


"Aku setuju, kalau kau gagal, kau potong lidahmu."


"Hei, Pand-"


Langit memotong kalimat Naga dengan mengangkat tangannya, mengisyaratkan 'stop berbicara' pada Naga.


"Aku setuju." Kata Langit sambil mengangguk.


"Prinses, status operasi besar?" Tanya Langit sambil mempersiapkan tasnya yang harus diisi beberapa peralatan lagi, dia mengganti beberapa hal dan meminimalisir jumlah penggunaan.


"Semua kota sudah aman, korban tidak selamat 14 keluarga, unit gugur 117 orang."


"Harpy, ganti baju polisi, aku butuh kau."


"Sekarang? Kau mau melihatku telanjang?"


Langit mengambil pistol dari pinggangnya dan menembakkan ke pergelangan kaki Harpy, untungnya, meleset.


"1 inci dari pergelangan kakimu yang berharga. Selanjutnya di kepalamu." Kata Langit yang membuat semuanya tegang, "Aku tidak akan meleset."


Langit mengangkat dagunya, Harpy yang paham langsung berjalan menuju ruang ganti, sementara yang lain menghela nafas lega. Di antara semua anggota tim, akurasi tembakan Langit adalah yang terburuk, untung saja dia tidak seakurat itu untuk menembak lutut Harpy tadi.


Langit membuka box peralatan dari Putri, dia mengambil mixer dan mencampurkan diethyl-methylphosphonothioate dengan Helium, setelah cairannya tercampur, dia memasukannya ke dalam tabung di ujung busur silang miliknya.


"Oh ya, Harpy."


Harpy yang disebutkan namanya berhenti melangkah menuju ruang ganti, dia melihat Langit dengan tatapan yang berkata seolah dia jijik, sekaligus takut.


"Ada apa?"


"Aku tidak tertarik pada tubuh gadismu."


Harpy benar-benar terpukul dengan kalimat itu, mengejek tubuh seseorang atau yang dikenal sebagai body-shaming adalah sesuatu yang sangat dibencinya, karena bisa menyebabkan error pada pikiran manusia yang mengalaminya.


"Kau yang terburuk, Archer."


"Katakan itu pada pacarmu yang meninggalkanmu, dan pada Panda yang bodoh."


"Hei!"


Langit menghiraukan teriakan Panda yang mendengar kalimat itu keluar dari mulut Langit, dia tak habis pikir kenapa Langit mengeluarkan kalimat seperti itu pada teman timnya.


"Archer, tenanglah." Kata Putri, "Bersikaplah profesional."


Langit berdiri, dia berjalan menuju pintu keluar diikuti Harpy yang sudah selesai mengganti baju dengan baju standar kepolisian.


"Kalimat itu keluar dari mulut orang yang gagal menyelamatkan orang tuanya, sayang sekali, nona profesional."


Langit menyalakan motornya, lalu menaikinya diikuti dengan Harpy. Sementara Putri menahan diri dari ucapan Langit tadi, dia tahu kalau kegagalannya menyelamatkan orang tuanya adalah kegagalan yang terburuk yang pernah dialaminya sebagai seorang putri tunggal keluarga Kusuma. Karena itulah, dia bergabung korps kepolisian dan dimasukkan ke dalam tim khusus hanya dalam waktu singkat berkat jasanya yang besar.


"Semoga beruntung, Archer." Putri memberikan hormat dari pintu masuk, Langit mengangguk lalu pergi meninggalkan markas.


"Sialan! Sialan! Brengsek!" Putri memukul angin, dia melampiaskan sesuatu dengan tanpa melukai siapapun, "Archer! Terbuat dari apa mulutmu?"


"Sudahlah, Prinses, ayo masuk ke dalam." Kata Naga sambil menggenggam tangan Putri.


Langit mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, suara sirine yang keras membuat orang-orang menepi dari jalanan dan memberikan jalan kepada Langit. Tujuan saat ini adalah, pergi ke hangar dan mengendarai helikopter menuju alun-alun kota Jembrana. Hanya dengan cara itu, dia bisa sampai dalam waktu 15 menit.


"Archer, kau pakai in-ear?"


"Kau akan turun di atap gedung, kau akan gunakan smart-ammo untuk membunuh sasaran yang kutandai, sisanya aku yang urus."


Langit paham kenapa Harpy menanyakan in-ear miliknya, ini bertujuan untuk menanyakan tugasnya saat sudah sampai di alun-alun kota Jembrana.


"Aku mengerti."


Langit berkelok ke kanan, dia hanya perlu melaju lurus di jalan ini hingga sampai ke hangar. Sesampainya mereka di pintu masuk hangar, mereka menunjukkan tanda pengenal polisi dan melakukan konfirmasi pada atasan mereka, setelah diijinkan, mereka masuk dan memarkir motor sekenanya.


Di tengah landasan, ada sebuah helikopter Phalank tipe 88, ini adalah keluaran terbaru dari industri kemiliteran yang dapat terbang dengan kecepatan penuh secepat 300 knot atau 345 mil per jam. Dan dinobatkan sebagai helikopter tercepat di dunia, mengalahkan seri Dervan yang mentok 268 knot, atau 308 mil per jam.


Dan helikopter yang sudah menyala, siap digunakan ini, akan ditumpangi Langit bersama Harpy untuk pergi ke kota Jembrana yang harusnya ditempuh dalam 5 jam perjalanan kereta bawah tanah, bisa ditempuh hanya dalam 20 menit.


"Hei! Kau Archer dan Harpy?!" Tanya seseorang yang sepertinya menjadi pilot mereka.


"Ya!" Jawab Harpy, sementara Langit hanya mengangguk.


"Naiklah! Kita segera berangkat!"


Mereka masuk ke helikopter menggunakan tangga, karena akan merepotkan jika harus mengeluarkan tangga bawaan helikopter dari dalam.


"Pakai ini!" Si pilot memberikan dua headphone lalu kembali fokus pada penerbangan.


"Phalank?"


"Oh, kau punya mata yang tajam, tuan. Ini heli tercepat di dunia, kau akan sampai di sana dalam 20 menit."


"Kau punya parasut?"


"Ada di bawah kursi, untuk apa?" Tanya pilot yang mulai lepas landas dan pergi menuju kota Jembrana.


"Untuk perubahan rencana."


Langit menekan tombol di lehernya, dia menggunakan in-ear dalam mode press-to-talk agar suara bising tidak mengganggu pekerjaan Putri.


"Prinses, siapkan motor di jalan Basil, sebelah utara alun-alun. Jika dia melihat helikopter, nyalakan sinyal lampu."


"Diterima, Archer. Akan segera diatur."


"Archer, kau tahu persis susunan kota Jembrana? Bag-"


"Aku mempelajari petanya di markas sebelum pergi."


Harpy agak takut dengannya, dia bahkan bisa menjawab pertanyaan yang belum selesai. Kemampuan Langit memang bagus, tapi ini terlalu bagus hingga menimbulkan kekhawatiran.


Samudra menelpon kakaknya, yang ditelpon segera menjawab menggunakan holo.


"Kakak?"


"Ya?"


"Kakak sudah selesai?" Suara Samudra terdengar seperti ibu yang mengkhawatirkan anaknya.


"Ini sudah hampir fajar, kenapa kamu belum tidur?"


"Ini karena kakak membuatku cemas."


"Haah." Langit menghela nafas, baginya, adiknya itu lebih dari apapun. Jadi, ketika dia membuat Samudra khawatir, maka dialah yang bersalah.


"Maafkan aku, aku akan menyelesaikannya dalam waktu singkat."


"Aku melihat siaran langsungnya di tv."


"Begitu ya? Apa aku terlihat tampan?"


"Kakak bahkan belum muncul."


"Mungkin sekitar 20 menit lagi?"


"Itu terlalu laaaammaaa-" Jawab Samudra dengan suaranya yang terdengar merajuk seperti anak kecil, "Cepatlah muncul di tv-"


"Iya, iya. Besok kamu sekolah kan? Bagaimana kalau bolos?"


"Bolos ngapain?"


"Tidur denganku seharian."


"Hei, tuan. Meski terlihat polos, ternyata kau main begituan ya? Wahahaha." Kata pilot berkomentar, yang dikomentari pun melihat pilot dengan wajah penuh ancaman, si pilot itu pun kembali fokus terbang setelah berdeham.


Harpy hanya tersenyum saat melihat Langit sedang berbincang dengan seseorang di holo-nya, dia menganggap siapapun itu yang membuat Langit mampu bersikap seperti ini, adalah orang yang sempurna untuk menekan emosi Langit.


"Tuan dan nona sekalian, kita sudah sampai di kota Jembrana. Akan mendarat di-"


"Akan mendarat di sisi utara di jalan Basil." Kata Langit memotong, "Samudra, aku tutup dulu telponnya."


"Semoga beruntung."


"Baik." Jawab pilot sambil mengarah ke sisi utara alun-alun kota Jembrana, "Tuan, di sini hanya ada jalan raya, kita tidak bisa-"


Langit membuka palka helikopter lalu terjun bebas.


"Hei! Kau tidak boleh! Ahh! Dia sudah terjun! Dasar bodoh!" Pilot yang tadi bersikap sopan pun mengumpat kasar karena Langit membuka palka seenaknya sendiri.


"Pilot, bawa aku ke gedung tinggi, aku turun pakai tali."


"Iya, iya!"

__ADS_1


Setelah terjun bebas dari ketinggian, Langit membuka parasut dan menuju arah orang yang memberi sinyal dengan kedua tangannya dengan menggerakkannya dari atas ke samping, seperti orang minta tolong.


"Hei, lihat! Ada parasut!"


"Di tengah kota?! Wah gila!"


"Rekam! Rekam!"


"Pasti heboh nih!"


Orang-orang yang ada di bawah sangat heboh saat melihat Langit dengan parasutnya, dia seperti seseorang yang melanggar peraturan negara hanya untuk olahraga adrenalin.


"Motornya?" Tanya Langit setelah mendarat dengan sukses di jalan, parasutnya menutupi beberapa motor dan para pemilik motor pun marah-marah pada Langit.


"Ini motornya, sesuai dengan perintah."


Langit melepaskan tas parasut dari tubuhnya, lalu tas punggung yang dipakainya di dada dilepas dan diletakkan di bawah kaki.


"Bagus, sekarang bereskan parasut itu." Kata Langit sambil menunjuk parasut yang membuat ribut orang-orang di sana.


"Siap!" Jawab orang itu sambil memberikan hormat, "Semoga beruntung!"


Langit mengangguk, lalu mengeluarkan segala peralatan dari dalam tasnya, dua pistol dengan peredam, satu busur silang dengan anak panahnya, dua masker gas, dan jubah kamuflase. Setelah memakai masker gas, mengokang pistol dan mengunci pelatuknya, Langit langsung menuju alun-alun kota.


Di atas gedung pencakar langit yang berada dekat dengan alun-alun, Harpy membuka palka helikopter dan melemparkan tali untuknya mendarat di gedung pencakar langit.


"Kepada helikopter asing di landasan helikopter gedung Havidson, jelaskan tujuan kalian atau kami akan melapor pada pihak berwajib."


"Kami ini pihak berwajibnya, bodoh! Kau pikir situasinya seremeh apa sampai kau larang kami mendarat di sini, hah?!"


"Mohon tunjukkan ta-"


"Persetan! Nona! Kau turun saja! Jelaskan pada mereka!" Kata pilot tersebut sambil menoleh ke palka yang terbuka, namun tidak ada orang di sana, "Nona?"


Harpy telah sampai di landasan tanpa disuruh terlebih dahulu oleh pilot di helikopter itu, beberapa petugas dan karyawan yang bekerja di gedung pencakar langit itu sampai dibuat geger.


"Nona, tolong tunjukkan identitas anda jika anda memang benar anggo-"


Harpy melemparkan tanda pengenalnya ke salah satu karyawan.


"Jangan ganggu aku, situasinya gawat."


Helikopter yang ditumpangi Harpy sudah mendarat walau belum mendapat persetujuan dari petugas landasan helikopter di gedung ini.


"Ini semua surat perintah yang kau mau!" Kata si pilot sambil marah-marah.


Harpy mengeluarkan senapan Baracold miliknya supaya bisa cepat menembak tanpa harus mengokang terlebih dahulu, dan kali ini, dia menggunakan magasin tipe extended yang bisa memuat lebih dari 20 amunisi.


"Disini Harpy, sudah siap di posisi." Katanya sambil mengokang slide, mengisinya dengan sebuah peluru, lalu memasang magasin. Cara ini akan menambahkan jumlah total amunisi menjadi 21 buah peluru.


"Bagus, tunggu perintah selanjutnya."


"Okay."


Harpy menoleh pada si pilot yang sedang duduk santai menunggu misi selesai.


"Pilot! Nyalakan helikopternya! Bersiap ledakan!"


"Siap!"


Harpy memasangkan muzzle-breaking silenced flash hider, yang berfungsi untuk menahan daya eksplosif dari ujung laras dan membuatnya lebih stabil, juga menghilangkan suara dan api yang keluar dari ujung laras. Sehingga, orang lain tidak akan tahu darimana peluru datang ke kepala mereka.


Setelah memasang tambahan lain seperti bipod, kamera jarak jauh, kabel, dan tablet, dan baling-baling helikopter sudah berputar, sisanya tinggal menunggu


Sementara itu di alun-alun kota Jembrana, banyak polisi sudah bersiaga di sana. Banyak polisi sudah memegang pistol dan mengarahkannya pada para ******* yang kemungkinan adalah bawahan si perawan.


"Kami hanya menginginkan manusia tak terlihat agar menunjukkan dirinya! Kami tidak memerlukan uang atau apapun! Kami hanya inginkan dia seorang!"


Pihak kepolisian kebingungan dengan kalimat yang diucapkan pemimpin mereka, mana ada manusia yang tak terlihat di dunia ini?


Di sisi lain, Langit yang sudah sampai di kerumunan pun berdiam diri di tempat, dia sedang mengamati situasi di lapangan, sambil memegangi alat penanda laser. Di saat para polisi sedang bernegosiasi dengan ******* itu, Langit mencoba menemukan siapa yang terlibat dengan ******* di dalam kerumunan.


Dan kecurigaannya benar-benar terjadi, ada sekitar 4 orang yang berada di kerumunan yang ikut andil dalam aksi terorisme seperti mereka yang menyandera Senja.


"Harpy, kau lihat orang yang kutandai?"


"Kau yakin? Bagaimana kau bisa tahu?"


"Mereka mengamati keadaan, tidak ada orang yang berkerumun sambil membawa pistol di balik jaket mereka."


"Sudah kau pastikan semuanya?"


Langit berjalan menuju barisan terdepan di kerumunan, dia dihalangi oleh beberapa orang yang tidak ingin berpindah.


"Hei, kembali saja! Aku sedang menonton pertunjukan menarik di sini." Kata orang itu yang didukung oleh orang lainnya.


Langit menunjukkan tanda pengenal kepolisiannya, lalu orang-orang itu memberikan jalan.


"Dengar, aku tidak ingin kalian berpindah tempat. Aku ingin kalian berada di sini selama beberapa saat. Bisa?"


"Eh? O-oh, bisa, bisa kok."


"Setelah kuberikan aba-aba, kau dan kau akan bergeser ke kanan dan berikan aku jalan muat untuk satu orang, kalau perlu kau tendang kawanmu di sebelah kanan. Paham?"


"Pa-paham." Jawab kedua orang itu sambil kebingungan.


"Kau, dan kau, akan bergeser ke kiri, situasi setelah aba-aba. Paham?"


"I-iya, aku paham." Jawab salah satu di antaranya, satunya lagi hanya mengangguk.


"Harpy, tunggu aba-abaku."


"Okay."


Pihak kepolisian mulai kewalahan karena mereka tidak dapat diajak bernegosiasi, dan para ******* itu mulai menghajar Senja hingga dia terjatuh dalam posisi tengkurap.


Langit tidak menyiakan kesempatan ini, dia menembakkan busur silang yang mengeluarkan gas beracun yang sesuai teorinya, terbang tinggi ke atas.


"Sekarang!" Teriak Langit.


Kedua orang yang sudah diperintah langsung bergeser dan memberikan jalan bagi Langit yang sudah memakai masker gas untuk berlari kencang sejauh 50 meter menuju Senja yang tengkurap dan belum menghirup gas beracun.


Harpy menembakkan smart-ammo dan mengenai 4 orang yang sudah ditandai tanpa membunuh warga sipil, setelah itu dia langsung berlari menuju helikopter dan masuk ke dalamnya.


Langit mengeluarkan flashbang dari tangannya, berfungsi untuk mengeluarkan cahaya dengan intensitas yang bisa membutakan siapapun yang melihatnya secara langsung, namun yang digunakan Langit hanya seperempat dari total yang harusnya digunakan. Ini hanya untuk pengalihan.


"Senja!"


Langit meraih wajah Senja dan memasangkan masker gas kepadanya, semua ******* yang menghirup asap beracun itu sudah tidak sadarkan diri, kemungkinan mereka mati karena dosis diethyl-methylphosphonothioate yang sangat pekat. Namun karena tercampur helium, maka gas beracun ini terbang lebih cepat dan menghambur dengan udara di sekitarnya, sehingga lebih cepat dinetralisir secara alami.


Setelah memasangkan masker gas, Langit segera mengangkat kedua kaki Senja dan memegangi kedua kaki Senja di pundaknya, sehingga Senja digendong secara terbalik. Namun, cara ini sangat efektif untuk penyelamatan kilat oleh Langit.


"Senja, Senja, hei, bangun." Langit menggeser masker gasnya ke atas kepala dan menepuk pipi Senja mencoba membuatnya sadar.


"Sadarlah, hei."


"Langit? Langit!" Senja menyadari bahwa suara ini adalah suara Langit, meskipun matanya setengah terbuka, suara Langit tetap bisa dikenali olehnya dengan jelas.


"Senja, kau aman, sangat aman."


"Langit, hu-huhu-"


Senja menangis, dia ingat kejadian traumatis yang menimpanya dan telah diselamatkan oleh Langit.


"Archer! Aku datang! Tutupi wajahmu!"


Langit yang sadar dengan suara Harpy segera memasang masker gasnya kembali. Helikopter yang lepas landas begitu 4 tembakan dari Harpy dilepaskan saat ini berada tepat di atas kepala Langit.


"Raih talinya!"


Harpy melemparkan tali dengan pijakan kaki, Langit yang tanggap segera berpijak dan tali itu langsung ditarik menggunakan alat penarik, saat sudah masuk, Langit melemparkan banyak selebaran dari dalam tasnya, seperti sedang menyebarkan propaganda saat perang.


"Tutup palkanya!" Kata pilot yang langsung pergi lurus menuju kota Pertanjang, tempat di mana hadiah asuransi Langit menunggu.


"Selebaran apa ini?" Tanya seseorang yang mengambil salah satu lembaran kertas dari Langit.


"Wahaha! Ada ya polisi kayak gini?"


"Gila, man!"


"Wah ini sih bakal bikin heboh! Wahahaha!"


"Tulisannya apa sih?"


"Baca nih!"


"Keadilan untuk semua, kecuali si perawan."


Langit dan Harpy berada di helikopter yang sama, Harpy sedang merapikan komponen senapannya dan suasana sangat canggung untuk beberapa saat karena kejadian barusan, namun Harpy mencoba membuka percakapan.


"Hey, Langit. Kenapa kamu mengajakku?"


Langit menoleh, dia seperti meminta penjelasan dari pertanyaan Harpy.


"Yah, kau tahu, di tim kita, aku itu tim Assault, untuk penyerangan. Sedangkan runduk ada Loki, Garuda dan Karin."


Langit tersenyum, menunjukkan giginya yang bersih.


"Runduk tidak ahli dalam penyerangan, dan penyerangan bisa melakukan runduk dengan baik."


"Tapi aku kan-"


"Meskipun tidak seahli runduk asli."


Harpy menunduk, dia merasa percuma dengan semua yang telah dilakukannya, si pilot pun menghela nafas sebagai bentuk kasihan pada Harpy.


"But you did so well, amazingly well. Great job, Harpy." Kata Langit dalam bahasa Ingles sambil mengelus kepala Harpy yang melepaskan komponen Baracold miliknya agar dapat dimasukkan koper.


"Ah, oh, thanks, didn't see that coming from you." Jawab Harpy dengan bahasa yang sama.


Telpon masuk di holo milik Langit, lalu dia menerimanya.


"Kakak!"


"Hai?"


"Jangan 'hai' padaku kalau belum minta maaf sudah membuatku khawatir!"


"Aku minta maaf sudah membuatmu khawatir." Kata Langit yang segera mengakhiri drama dari adiknya ini, Harpy tersenyum kecil sambil mengunci kopernya.


"Hm! Bagus bagus. Aku melihatmu di tv."


"Benarkah?"


"Hm! Beneran!" Langit bisa membayangkan wajah adiknya yang menangguk kencang.


"Bagaimana?"


"Gila, nekat! Mana ada penyelamatan orang pake lari lurus ke pelaku?!"


"Ahaha, mereka gak akan bisa menghirup diethyl-methylphosphonothioate dalam kepekatan seperti itu."


"Itu juga gila tau! Gasnya bisa tersebar dan membuat semua orang mati!"


"Sudah dicampur helium dan feriminoloxtosodiodathyl, jadi netralisirnya cepat."


"Hm, bagus, bagus, memang kakakku seharusnya penuh kewaspadaan."


Selagi Langit dan adiknya saling bertukar suara melalui telpon, Harpy membuka tabletnya dan membaca berita terkini pukul 5 pagi GMT +8.


"-nyelamatan sandera di alun-alun kota Jembrana berujung heroik, dramatis, dan menegangkan. Pasalnya, ada seorang polisi yang teridentifikasi sebagai satuan khusus bernama Archer yang menerjang lurus menuju para ******* dan menyelamatkan sandera bernama Senimorangkir Januri. Selanjutnya kita akan menanyai kawan kita yang ada di lapangan, Velia Marthaqie, dipersilakan."


"Hei, Archer, kau masuk berita loh."


Langit mengangguk, dia sepertinya sudah menutup telpon dengan adiknya dan sedang mencoba untuk tidur sebentar.


"-dang bersama kapten Derik Juanson. Kapten Juanson, bisa dijelaskan bagaimana kejadian penyelamatan berlangsung?"


"Ya, itu terjadi sangat cepat. Si pria itu, siapa namanya?"


"Archer."


"Ya, ya. Dia melakukannya dengan cepat, dia punya kawan penembak jitu di atas gedung dan menetralisir 4 terduga ******* yang ternyata membawa pistol Ciger di pinggang mereka. Aku tidak tahu gas apa yang digunakannya, mungkin racun, dan membuat semua ******* kecuali sandera, mati seketika."


"Lalu, pak, bagaimana kondisi sandera saat ini?"


"Dia mengalami trauma ringan dan menangis beberapa kali, wahahaha. Tapi dia sudah tidur dan diantar ke rumah sakit terdekat untuk beberapa cek."


"Lalu pak, bisa dijelaskan juga soal selebaran propaganda ini, pak?"


"Wah, kalau ini sih, saya setuju soal keadilan itu milik semua, tapi dia tidak memberikannya pada si perawan yang memiliki arti ganda dan ini menjadi humor untuk masyarakat, wahahaha."


"Setelah ini, tim forensik akan mengidentifikasi beberapa hal, jadi wartawan akan dapat informasinya dalam waktu dekat."


"Ya, begitulah kondisi di lapangan, saya berikan lagi pada Naomi Kobayashi di studio."


"Terimakasih, Velia Marthaqie, selanjutnya masih tentang-"


Putri mematikan siaran tv di tabletnya, dia tidak menyangka cara gila Langit berujung pada kesuksesan.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu, Prinses?"


"Ah, hahaha, tanyakan hal itu padamu sendiri yang biayai asuransinya."


"Yah, aku ini sportif, dan aku akan melakukannya."


"Omong-omong, Panda. Aku lapar."


"Aku juga sama, kau mau makan apa?"


"Kayaknya ayam goreng, atau spaghetti."


Panda mendengus kesal, dia tidak menyangka kaptennya yang sangat tegas dan sadis itu berkata demikian.


"Aku juga mau tiduur~"


'Oh, ngantuk ternyata.' Pikir Panda.


"Baiklah, karena ini spesial, akan kupesankan ayam goreng untukmu."


Langit dan Harpy masuk ke dalam ruangan, mereka kembali dengan utuh dan wajah pucat.


"Oh, hey, Archer. Hey, Harpieeehhh-ooaamm" Sapa Putri yang meneruskan nama Harpy dengan menguap lebar.


Langit meletakkan sebuah bungkus kertas dan mengeluarkan isinya, sebelum kemari, dia membeli paket ayam goreng dengan nasi dan kola.


"Wah! Ayam goreng! Aku mau!"


Langit mengambil sebuah paha, dia menunjukannya pada Putri.


'Pasti dimakan sendiri.' Pikir Panda dan Harpy.


Langit memakan ayam goreng itu segigit, lalu memasukkannya lagi ke dalam.


'Ternyata benar.' Pikir keduanya sambil menghela nafas.


"Heeeii! Aku juga maaauuu~!"


Langit menunjukkan potongan daging di giginya yang belum dia kunyah.


Dia memperlihatkan kekuasaannya pada sebuah gigitan ayam goreng.


"Ah-ah! Aaahh!" Putri nyaris menangis, "Berikan padaku!"


Putri memegang kedua pipi Langit, lalu dia memakan potongan ayam goreng itu dari mulut Langit.


Dan secara langsung mereka berciuman tanpa ada intensi untuk melakukan hal tersebut.


"Hei! Ok Prinses! Waktunya tidur!"


"Aaahh, ayam goreng, enaak, mau lagi." Panda menggendong Putri dan membawanya ke sofa di belakang gudang senjata.


"Dia memang begitu kalau mengantuk?" Tanya Harpy.


"Tentu saja, kau lihat sendiri barusan. Dan bahkan dia mencium anak ini demi ayam goreng."


Langit diam saja, dia seperti menunggu seseorang untuk mengatakan sesuatu dengan memberikan tatapan sinis dan tajam pada Panda.


"Hah, kenapa kau melihatku se-ooh, aku mengerti."


Langit tersenyum, taringnya terlihat sangat jelas ketika dia tersenyum seperti ini.


"Kau ingat taruhannya? Selesaikan semua dokumen dan berkasnya dan berikan padaku besok."


"Oke."


Langit berjalan menuju gudang senjata, dia meletakkan tasnya di sebuah meja bersama dengan semua peralatan yang terpasang di badannya. Langit tak bisa membersihkan pistol karena dia tidak tahu caranya, jadi dia letakkan semua senjatanya di sebuah kotak yang nanti akan diurus oleh petugas. Setelah itu, dia melepaskan semua baju dan menggantungnya di gantungan baju, nama Archer terpampang jelas di atas gantungan baju itu, lalu dia mandi.


Sementara Langit mandi di kamar mandi sebelah pojok, Panda membereskan semua kertas dokumen yang terpakai pada misi kali ini, Harpy membantunya setelah meletakkan koper berisi senapannya di gudang senjata.


"Bagaimana misimu bersama Archer?" Tanya Panda membuka percakapan.


"Ahaha, cukup menegangkan. Aku belum terbiasa sama strategi nekatnya, tapi paling tidak aku bisa ikuti alurnya."


"Alur?"


"Iya." Harpy duduk di sofa, beberapa orang berlalu-lalang di belakangnya untuk membereskan segala yang ada, "Waktu dia berhasil bawa lari si sandera, aku sudah naik heli dan lempar tali ke Archer, dia cukup tanggap, aku berharap banyak padanya."


"Berharap banyak dalam hal apa?" Tanya Panda yang akhirnya duduk di sofa dan mengirimkan laporan pada komandan Januri melalui tabletnya.


"Kemiliteran, misalnya."


"Oh, wow. Dia tidak sejauh itu, soalnya dia bahkan belum berpengalaman sama sekali."


"Tapi dia berlaku kayak dia udah pengalaman banget." Jawab Harpy sambil menggoyangkan tangannya.


"Kamu tahu nggak, kenapa kok dia selalu pakai busurnya? Nggak pernah pakai pistol?"


"Hm, kenapa?"


Panda meletakkan tabletnya, dia menghela nafas seperti merasa lega.


"Waktu menembak pistol, semua tembakannya meleset." Kata Panda sambil mengangguk, "Itu sebabnya dia mengajakmu, salah satu tim Assault dengan kemampuan runduk yang setara Garuda."


"Eh? Tapi kan dia-"


"Kalau kombat jarak dekat, kuakui dia memang bagus, dia punya dasar perkelahian jalanan, dan tae kwon-do."


"Uh, Panda tahu darimana?"


"Aku ini intel, Harpy. Mencari informasi melalui pencatatan sipil itu mudah."


"Panda gak selidiki dia karena dia tampan dan pintar?"


"Uhuk!" Panda tersedak ludahnya sendiri, dia kaget dengan kalimat barusan, "Maksudmu?"


"Kau kan sudah umur 30, dan belum menikah."


"Mana mungkin aku dengannya?! Gila apa? Yang ada berantem terus tiap hari."


"Ahahaha~" Harpy tertawa lepas.


"Pfft, hahaha~" Panda ikut tertawa dengannya.


Langit muncul dengan baju tidur yang dia bawa dari rumah, lengkap dengan topi Santa Klaus berwarna merah, seperti siap untuk tidur.


"Hei, aku mau pulang. Ada tumpangan?"


"Aku akan antar kamu." Kata Harpy sambil berdiri dan mengambil kunci mobilnya.


"Terimakasih." Jawab Langit sambil memakai tasnya.


"Archer." Suara Panda terdengar di telinga Langit, membuatnya berhenti dan menoleh pada sumber suara.


"Hm?"


"Apa tipe perempuanmu?"


Harpy tersenyum, Langit keheranan, dia menatap Panda dengan wajah penuh dengan rasa jijik.


"Haah." Langit menghela nafas, dia menyerah dan akan menjawab pertanyaan Panda.


"Lebih tua, cerdas, logis, dan perasa."


Panda tersenyum saat mendengar jawaban itu keluar dari mulut Langit yang berjalan ke pintu keluar.


"Oh, dan tidak lebih tua dari 24 tahun." Kata Langit dari pintu keluar.


"Hih?" Panda mendesah kecil, dia terkejut dengan kalimat Langit yang seakan menolak dirinya yang berumur 30 tahun.


Harpy menyalakan mobilnya, suaranya sangat halus, seperti yang diharapkan dari polisi berpangkat khusus dengan penghasilan luar biasa, menggunakan Matsumotor Lancer adalah hal yang pantas baginya.


"Oh, mobil yang bagus. Kau dapat dari mana?" Komentar Langit saat duduk di kursi depan.


"Ini mobil dinas, kau tidak lihat plat nomornya berwarna merah?"


"Oh."


Harpy melaju dengan kecepatan sedang menuju apartemen Langit, saat di perjalanan, banyak sekali layar di gedung besar yang menampilkan berita semalam, banyak dari mereka yang membahas kesuksesan pihak berwajib dalam menumpas si perawan dengan operasi besar-besaran, dan beberapa lainnya membahas sosok misterius yang menyelamatkan sandera di alun-alun kota Jembrana.


"Hei, Archer."


"Hm?"


"Aku penasaran siapa nama lengkapmu."


Langit tampak berpikir sejenak, karena yang tahu nama aslinya hanya Putri dan Panda, itu pun karena otoritas mereka sebagai petinggi di tim khusus. Namun, sepertinya tidak masalah kalau dia beritahu Harpy.


"Langit Safir."


Harpy tersenyum, dia tahu bahwa Langit tak akan berbohong meskipun kejujuran yang keluar dari mulutnya selalu bercampur dengan sarkasme dan tidak pernah bersih dari celaan dan cemoohan. Hal ini yang membuat Panda sangat kesal padanya.


"Namaku Valentine Doe Concord, lain dengan Panda, aku ini 21."


"Kau dari barat?" Tanya Langit, "21? Dengan tinggi 65 inci? Kau bercanda?"


Valentine agak kesal dengan kalimat barusan, alisnya berkedut namun dia mencoba untuk tetap tersenyum, "Well, panggil saja aku Tina."


"Hm."


"Senang berkenalan denganmu."


Langit diam saja dengan kalimat barusan, dan tetap dalam posisi yang terlihat aneh. Kedua tangannya berada di dalam saku piyamanya, sementara kakinya selonjoran lurus di bawah dasbor. Kursinya sudah diatur sedemikian rupa hingga dia berada dalam posisi 155˚, sepertinya dia merasa nyaman meski tidak enak dilihat.


"Kanan."


"Iya, terimakasih."


Valentine berbelok ke kanan, setelah tikungan ini, dia hanya perlu melaju lurus dan tidak akan melewatkan apartemen Langit. Saat sudah sampai, Langit langsung keluar dan mengetuk jendela Valentine.


"Hm? Ada apa?" Tanya Valentine saat dia membuka jendelanya.


Langit menyerahkan tangannya dengan maksud untuk bersalaman, Valentine akhirnya paham dan memberikan tangannya, namun Langit mencium punggung tangan Valentine dan yang diperlakukan demikian amat sangat kaget.


"Hah?! Kamu ngapain?!"


"Penghormatan kecil untuk orang lebih tua."


"O-oh, okay, kukira apa."


Langit masuk ke dalam dengan langkah yang agak panjang, sementara Valentine masih merona pipinya karena diperlakukan seperti itu oleh Langit.


"Tidak, Valentine, dia hanya menuruti tradisi Besuki Raya, bukan intensi terhadap lawan jenis." Katanya berbicara sendiri, mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dari Langit.


Setelah berjalan masuk ke dalam lift, Langit memencet lantai tempatnya tinggal. Ketika dia sampai, dia mengetuk pintunya dan masuk ke dalam.


"Kakak?"


"Hai."


Samudra sedang duduk di sofa dalam keadaan telanjang bulat dan belum tidur, terlihat dari wajahnya yang pucat dan matanya yang lebam dan menghitam di area bawah mata.


"Kamu belum tidur?" Langit meletakkan tasnya di sebelah sofa, lalu menggendong Samudra layaknya tuan putri.


"Aku nunggu kakak, aku cemas."


Langit diam saja sambil berjalan menuju kamar adiknya, Samudra yang paham langsung membuka pintu kamar untuk kakaknya berjalan masuk.


"Tidak seberbahaya itu, mereka hanya amatir."


"Hmm." Samudra menenggelamkan wajahnya di dada Langit, dia mengendus bau kakaknya yang baru selesai mandi dari markas.


"Lavender?"


"Aneh?"


"Hm-m." Samudra menggeleng sementara kakaknya meletakkan tubuhnya di atas kasur.


"Aku akan tidur denganmu pagi ini, abaikan dulu sekolah."


"Boleh?"


Langit mengambil selimut, membentangkannya ke seluruh permukaan kasur, setelah itu dia masuk ke dalamnya dan merebahkan diri di sebelah Samudra.


Langit menatap adiknya dalam, dia tahu persis bagaimana kehilangan keluarga terjadi padanya, karena sebab itu, Langit sebagai keluarga satu-satunya bagi Samudra mempunyai dosa besar dengan menerjunkan diri dalam dunia kemiliteran khusus yang terlibat dalam skema besar dengan si perawan.


Namun, alasan Langit menerjunkan diri sudah jelas terukir dalam hatinya dan dia sudah meneguhkan diri sejak sebelum Putri memperkenalkan diri di kelasnya.


"Tentu, biar aku yang urus besok." Kata Langit sambil mengelus kepala adiknya, lalu dia mencium kening adiknya.


"Hehe, kakak memang yang terbaik." Jawab Samudra sambil meraih wajah kakaknya dan mencium bibirnya.


Langit melepaskan bibirnya dari bibir Samudra.


"Sayang sekali, Samudra." Kata Langit.


"Iya, kita bersaudara."


 

__ADS_1


 


__ADS_2