Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Let's Date


__ADS_3

Petra terbangun dengan cambukan ikat pinggang di pahanya, teriakannya terdengar sangat nyaring, namun Langit meneruskan cambukannya berkali-kali hingga paha Petra membiru.


"Cukup, pergilah mandi, kita berangkat sekolah 50 menit lagi."


"Haah-haaah, iya, te-terimakasih." Jawab Petra sambil bangun dari tempat tidur dan berjalan melewati Langit.


"Ahk!"


Petra jatuh tersungkur karena Langit menendang punggungnya saat dia berjalan.


"Merangkak."


"A-aku lupa." Jawabnya, lalu dia merangkak untuk pergi ke kamar mandi.


"Pagi kak Petra, bagaimana pagimu?" Sapa Samudra yang menyiapkan makanan di meja makan.


"Baik banget, aku mandi dulu." Jawabnya sambil berhenti lalu duduk dalam posisi berlutut, "Ahh! Aduh!"


Badannya terguling ke depan karena Langit menendangnya dari belakang, lalu dia menghampiri Petra yang masih tersungkur.


"Aku bilang mandi, Petra." Kata Langit.


"Aahhk! Ah! Uh! Uhk!"


Langit menginjak perut dan dada Petra berkali-kali, hingga urat leher Petra terlihat begitu jelas karena teriakannya begitu kencang dan intens.


"Pergi mandi."


"I-iya, hahh-haah, terimakasih." Jawabnya sambil bangun dari posisi tersungkur dan merangkak menuju kamar mandi.


"Aku taruh seragammu di sini, Petra. Pakai aksesorinya juga." Kata Langit meletakkan gantungan baju dan kotak hitam Petra di sofa lalu berjalan ke meja makan dan makan roti dan telurnya.


Selesai mandi, Petra mengenakan seragamnya dan aksesori yang ada di dalam kotak hitam.


Kalung yang ukurannya sama dengan lingkar lehernya, dan gelang di masing-masing tangannya, semua aksesori ini tentu saja untuk menutupi bekas luka yang dimiliki Petra, setelah itu dia mengeringkan rambut dan mengepangnya menjadi dua, lalu mengenakan kosmetik tipis.


"Kak Petra cantik."


"Terimakasih." Jawabnya sambil duduk di dekat kaki Langit dan menunggu makanannya ditaruh di lantai.


"Tidak perlu, makanlah di meja."


"Hah? Oh, iya." Jawab Petra sambil kebingungan.


Tidak biasanya Langit menyuruhnya makan di meja, karena biasanya kalau Langit tidak meletakkan piring berisi makanannya, dia akan menjatuhkan makanannya dan Petra harus menghabiskannya.


Bahkan jika harus menjilati lantai.


Setelah selesai makan, Langit membereskan semua peralatan makan dan menaruhnya di mesin pencuci piring. Setelah itu, mereka mengenakan sepatu dan berangkat bersama.


"Kalian, nggak bawa tas?"


"Aku punya semua buku di kepalaku." Jawab Langit.


"Ahaha, mata pelajaran hari ini banyak, bukuku ada di loker semua."


"Hm? Apa aja mapelmu hari ini?"


"Sintaksis, fonetik, kimia terapan, fisika terapan, dan matematika lanjutan."


"Wow, banyaknya, kalau Langit?"


"Aku di perpustakaan sampai mata pelajaran selesai."


"Hah?"


Mereka sampai di mobil, Langit menyalakan mesinnya dengan maksud memanaskan mesin, Samudra dan Petra sudah masuk.


"Kakakku mengerjakan tugas ujian akhir buat akhir semester, kak Petra. Dia juga lagi kerjakan karya tulis buat kenaikan kelas."


"Loh, dia kerjakan sekarang? Bukannya itu, anu, terlalu cepat?"


"Untuk kakakku, ya, gimana ya?" Samudra tersenyum sambil menatap kakaknya yang duduk di sampingnya.


"SMA terlalu mudah untuknya, menurutku dia harus ambil akselerasi dan lulus tahun ini lalu pergi kuliah."


"Akselerasi, ya?" Langit menanggapi sambil memasukkan gigi dan mulai menuju ke sekolah.


"Mungkin hari ini aku akan akselerasi ke kelas 3, ujian kenaikan tinggal sebulan lagi."


"Hah?!" Petra kaget, dia memutuskan untuk akselerasi semudah itu, padahal setiap sekolah yang mengijinkan akselerasi memiliki soal kenaikan yang lebih sulit.


"Diam atau kubuang kamu di tong sampah."


"A-ah, maaf."


Wajah Petra terlihat sedih, Samudra yang peka dengan situasi meletakkan tangannya di kepala Petra dan menepuknya.


"Kakak nggak sekejam itu kok, percaya dirilah."


"Hmm." Petra hanya bisa mengangguk karena perintah dari Langit.


Sesampainya mereka di sekolah, Langit memarkir mobilnya di parkiran guru. Sebenarnya murid tidak boleh membawa mobil, namun petugas di depan diam saja ketika melihat mobil memasuki area sekolah karena mengira mobil itu milik salah satu guru.


"Loh? Langit Safir?!" Pak Darmaji yang merupakan guru olahraga memergoki Langit saat dia keluar dari mobilnya, "Kamu ngapain bawa mobil ke sekolah? Hah?"


"Kenapa, pak?"


"Jelas gak bo-"


Langit meremas kepalan tangannya dan membunyikan tulangnya hingga menghasilkan suara yang jelas terdengar hingga masuk ke telinga pak Darmaji.


Tahun lalu, sebagai seorang guru olahraga yang percaya diri, pak Darmaji mengadakan latihan tanding sebagai ganti materi di hari pertama, semua murid yang menghadapinya kewalahan dengan kemampuan bela diri pak Darmaji.


Namun Langit dengan ketangkasannya mampu menjatuhkan badan kekar pak Darmaji dan membuat satu gigi serinya tanggal, meski terjatuh dan pukulan terakhir sudah dilancarkan, Langit tetap memukuli pak Darmaji hingga wajahnya lebam dan rusuknya retak, wasit yang melihat aksi kekerasan itu mencoba menghentikan Langit, namun seperti mengamuk, dia membuat dua wasit babak belur dan dirawat di rumah sakit selama 3 hari.


Hari ini, pak Darmaji yang sudah membeli gigi baru, masih trauma dengan kejadian tahun lalu.


"Se-sebaiknya kau bicarakan dengan kepala sekolah dulu."


Langit berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Maaf, pak." Kata Samudra sambil membungkuk lalu mengikuti kakaknya bersama dengan Petra.


"Aku pergi ke ruang kesenian, sampai nanti, kalian." Kata Petra lalu berjalan menuju ruang kesenian.


"Aku pergi ke kelas dulu, sampai nanti." Kata Samudra sambil meraih wajah kakaknya lalu mencium bibirnya singkat.


Langit berjalan menuju ruang guru dengan tatapan sinis dari orang sekitarnya, dia amat terganggu dengan semua tatapan iri itu dan ingin menghajar mereka masing-masing, tapi ini masih pagi dan dia terlalu malas untuk itu.


"Hei, kepala sekolah." Kata Langit sambil masuk begitu saja.


"Ketuk dulu, Langit, kamu tidak diajari orang tuamu?"


"Hei." Langit menjawab dengan sedikit marah.


"Ah, maaf, aku lupa." Kata kepala sekolah yang baru ingat kalau Langit tidak punya orang tua, "Ada apa?"


"Aku ingin akselerasi ke kelas 3."


"Kamu yakin?"


"Berikan saja suratnya, dan oh, aku membawa mobil ke sekolahan, kuharap kau tak apa."


"Haah." Kepala sekolah memegangi dahinya, dia seperti mendapat masalah besar.


"Ini surat akselerasi untukmu, berikan pada pak Derin, soal mobilmu, sebaiknya jangan terlalu sering, kita belum punya regulasi soal parkiran mobil untuk murid."


Langit mengambil surat akselerasi dari meja kepala sekolah lalu pergi dari ruangan dan segera menuju ruang guru. Sekarang sudah jam 6 lebih 55 menit, para guru sudah diharuskan meninggalkan ruang guru dan pergi ke setiap kelas untuk mengajar.


Tentu saja, Langit tidak mempedulikan prosedur seperti itu dan mendudukkan pak Derin dengan mendorong bahunya.


"Apa ini, Langit?!" Tanya pak Derin dengan amarah meluap.


"Ini adalah surat akselerasi." Jawabnya tanpa merasa bersalah.


Guru lain sepertinya mengacuhkan apa yang dilakukan Langit karena mereka berusaha menghindari masalah.


"Haah, cobalah untuk lebih sopan." Kata pak Derin sambil mengambil kumpulan soal ujian kenaikan kelas untuk akselerasi.


"Kerjakan ini dan kumpulkan di meja saya, akan saya cek saat jam pertama selesai, oh, pak Jurnaid, tolong awasi anak ini."


"Baik, pak."


Pak Jurnaid adalah guru untuk mata pelajaran sosial humaniora, namun dia sedang piket harian dan tidak mengajar hingga jam istirahat pertama selesai, dia akan mengawasi ujian kenaikan akselerasi Langit di ruang guru.


"Duduklah di sini, kamu mau teh?"


"Hmm." Langit mengangguk sambil mengeluarkan pena dari sakunya, "Tolong jangan mengganggu."


"Oke, oke."


Langit mengerjakan 200 soal di lembar ujian itu dengan mudah, soal bahasa Ingles bukan apa-apa baginya, sama halnya dengan matematika, dan pelajaran lain, tidak perlu kalkulasi manual di kertas atau kalkulator, dan hanya memerlukan waktu 28 menit.


"Selesai." Kata Langit sambil melempar soalnya ke meja.


"Kamu selesai? Cepat banget."


"Aku akan kemari lagi saat jam istirahat pertama."


"Hmm." Katanya mengangguk, "Kembali ke kelas, ya?"

__ADS_1


Langit keluar dari ruang guru dan menuju lokernya untuk mengambil laptop. Langit punya dua laptop yang terhubung di server komputer rumahnya, sehingga data yang ada di laptopnya ini sama seperti yang ada di kamarnya atau komputernya di rumah.


Setelah itu dia pergi ke perpustakaan dan mengerjakan karya tulisnya.


Ponsel Langit berdering, panggilan masuk dari Putri.


"Halo?"


"Interogasi Videl Warren dijadwalkan jam 11 siang, apa kamu mau ikut?"


"Aku akan ajukan pertanyaan lewat pesan singkat, nanti kirimkan aku datanya."


"Oke, Archer. Dimana kamu sekarang?"


"Masuk ke perpustakaan." Jawab Langit sambil membuka pintu perpustakaan dan menundukkan kepala sebagai salam kepada Sakurada Hiyori, petugas perpustakaan.


"Aku ada di kelas biologi, bukannya kita sekelas? Kamu membolos?"


"Kau sendiri menelpon saat pelajaran?"


"Aku sedang ada di luar kelas, baru saja dapat kabar dari Panda."


"Lalu kau tidak masuk kelas lagi?" Langit duduk di meja dan menyalakan laptopnya.


"Aku ingin, aku gak begitu paham kelas biologi, oh ya, Langit, kamu dapat lencana."


"Lencana?"


"Iya, seharusnya ini lencana untuk pasukan militer resmi, karena kamu cuma anggota militer independen, kamu bisa dapat surat penghargaan sipil dan medali sayap perak, kalau kamu jadi anggota resmi, kamu bisa klaim semua lencanamu termasuk Frieden et Natina."


"Mungkin nanti saja." Jawabnya sambil mengambil buku dari rak dan meletakkannya di meja.


"Kalau begitu aku masuk kelas dulu, pastikan kamu mengirimkan pertanyaan itu ke Panda sebelum jam 11."


"Hmm."


Langit menutup panggilannya dan mulai mengetik di laptopnya, karya tulis yang dikerjakannya ini lebih mirip jurnal yang sering dibicarakan para guru di situs Corpus.


Situs ini adalah tempat semua jurnal yang diakui para profesor di dunia dan dipercaya sebagai sumber yang kredibel dan pantas untuk dijadikan dasar penelitian. Langit tidak memiliki maksud untuk dimasukkan ke dalam Corpus itu, dia hanya ingin menyelesaikan SMA dan segera kuliah di Arte Ver Institat lalu mengambil jurusan kimia, dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 3 tahun.


Setelah mengetik, berhenti, membaca buku dan kembali mengetik lagi, Langit baru ingat kalau dia belum membuat daftar pertanyaan untuk Videl Warren, padahal ini sudah pukul 10 lebih 43 menit.


"Panda, suruh dia membacakan doa untuk memanggil raja iblis, dan suruh dia menggambarkan lingkaran pemanggil."


'Mungkin ini sudah cukup.' Pikirnya sambil mengirimnya ke Panda.


Bunyi notifikasi masuk dari laptop Langit, ada balasan dari Panda.


"Kamu yakin, Archer? Begini saja cukup?"


"Ini lebih dari cukup." Jawabnya.


Bel istirahat jam pertama berbunyi, Langit menyimpan data yang sudah dia tulis lalu menutup laptopnya, setelah itu dia keluar dari perpustakaan setelah memberi salam pada petugas perpustakaan.


Langit berjalan menuju ruang guru untuk mengklaim kenaikan kelasnya ke kelas 3, hal ini berarti pengaturan ulang mata pelajarannya selama satu semester. Setelah Langit masuk ke ruang guru, dia langsung duduk di kursi untuk murid di meja pak Derin.


"Oh, Langit." Katanya sambil mengambilkan kumpulan soal yang dikerjakannya tadi, "Saya tadi sudah koreksi hasil pekerjaanmu, dan kamu naik ke kelas 3."


"Oke, lalu?"


"200 soal dan 3 jawaban salah, kamu yakin kamu anak SMA?"


"Persetan." Jawab Langit.


"Haah, perbaiki sikapmu Langit, bapak mencoba memujimu tadi, seharusnya kamu bilang terimakasih." Katanya, Langit hanya mendengus, "Ini surat kenaikanmu, temui bu Asabi untuk pengaturan rencana studimu."


"Hey, bu Asabi." Kata Langit memanggil bu Asabi yang sedang mengambil segelas the di pojokan ruang guru, dia menoleh ke arah Langit, sementara dia berjalan menuju bu Asabi.


"Aku naik kelas, atur rencana studi untukku."


"A-ah, begitu ya? Baiklah." Jawabnya sambil berjalan ke mejanya.


"Bisa lihat surat kenaikanmu, Langit?"


Langit memberikan suratnya.


"Hm hm, wah, nilai A semua ya, kalau begitu kamu bisa ambil 24 kuota mapel."


"Ambilkan saja yang wajib."


"Hm? Saya yang tentukan?"


"Pilihan bu Asabi biasanya bagus untuk para murid, aku mengandalkan bu Asabi." Jawab Langit.


"Hehe, jadi, penulisan karya tulis tingkat lanjut, kimia lanjutan, fisika lanjutan, Advanced Ingles, sejarah lanjutan, soshum lanjutan, dan biologi lanjutan."


"Terimakasih, bu Vianji."


"E-eh? Ibu jarang dipanggil dengan nama ibu di sekolah ini, hahaha."


"Hm? Ada apa?"


"Aku sepertinya akan lulus kurang dari sebulan dari SMA ini, bagaimana kalau pernikahan?"


"Ah!"


Bu Asabi tersentak, tubuhnya refleks berdiri dari posisi duduk, karena semuanya terjadi secara tiba-tiba, tubuhnya tidak mendapatkan keseimbangan yang cukup, sehingga dia jatuh dari kursinya.


"A-a-a-a-a-apa?!"


"Ini nomorku, akan kujemput jam 8 malam."


Langit menuliskan nomornya di sebuah kertas dan meletakkannya di meja, sementara bu Asabi masih terduduk dan dibantu untuk berdiri oleh guru lain.


"Langit, kamu apakan bu Asabi?"


"Tidak ada, aku pergi dulu."


'P-p-p-p-per-pernikahan?!' Bu Asabi masih memikirkannya dengan wajah yang merah padam.


Langit keluar dari ruang guru menuju kelas adiknya, dia akan mengajak adiknya untuk pergi jalan-jalan.


"Samudra?" Panggil Langit.


"Sayang? Ada apa?" Jawabnya sambil menutup buku dan berjalan menuju kakaknya.


"Ayo keluar."


"Oke, aku ke lokerku dulu, naik mobil?"


"Hmm." Jawabnya sambil mengangguk.


Langit mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Putri.


"Ya?"


"Kita ke markas, tunggu aku di gerbang depan."


"Ada apa ini tiba-tiba?"


"Perubahan rencana."


"Oke, baiklah, Archer, kamu bosnya."


Samudra menghampiri kakaknya dengan membawa beberapa buku dan sebuah tablet, "Ayo, sayang."


"Kamu di depan."


Langit berjalan mengikuti adiknya dari belakang menuju lokernya, setelah meletakkan buku, Samudra bersama kakaknya berjalan menuju tempat parkir dengan Samudra membawa tabletnya.


"Udah naik kelas?"


"Iya, sisanya cuma ujian akhir."


"Wow, apa aku juga akselerasi aja ya?"


"Langsung kelas 3 saja, kita lulus bareng."


"Hehe, mau kuliah?"


"Hm." Langit hanya mengangguk sambil membuka pintu mobil untuk adiknya.


"Terimakasih." Kata Samudra, lalu Langit masuk ke dalam.


"Kita mau ke mana?"


"Ke markas sebentar, lalu jalan-jalan."


Langit memutar mobilnya, lalu pergi ke gerbang depan, di sana Putri sudah menunggu kedatangan Langit.


"Hei, masuklah." Kata Langit.


"Kamu bawa mobil ke sekolah?" Tanya Putri sambil masuk ke kursi belakang.


"Ada masalah?"


"Seharusnya ada, tapi sepertinya nggak."


Sesampainya di markas, Langit memarkir mobil di pinggir jalan dan masuk ke dalam, sudah ada Panda dan beberapa anggota lain di dalam.


"Archer, ada apa ini?" Tanya Panda.

__ADS_1


"Aku ingin lihat data interogasinya, ini sudah hampir jam 12, seharusnya kau sudah selesai."


"Oh, ternyata itu. Oh ya, pemakaman Garuda, Loki dan Karin berlangsung nanti sore jam 4."


"Cari anggota runduk lain, kita benar-benar memerlukan posisi ini terisi."


"Benar juga, Prinses, bisa kamu atur?" Tanya Panda, "Oh, Archer, datanya ada di komputerku, buka sesukamu."


Langit masuk dan duduk di kursi komputer Panda, dia melihat hasil interogasi yang dimaksudnya.


"Tim runduk ya, oh, Ranger, mau coba menembak beberapa kali?"


"Hm? Aku?" Samudra bingung, "Akurasiku jelek banget, kak."


"Iya juga, aku akan cari di pasukan S, mungkin beberapa dari mereka bisa direkrut."


"Baiklah." Kata Panda yang lalu duduk di sofa dan membaca laporan dari laboratorium forensik.


Pasukan S yang dimaksud oleh Panda adalah pasukan spesial yang didirikan sejak tahun 2000-an, saat itu, Indonesia, Jepang, dan negara asia lain masih belum bergabung dengan Republik, masing-masing dari mereka memiliki pasukan S-nya sendiri, seperti Komando Pasukan Katak dari Indonesia dan SAT dari Jepang.


Setelah bergabung dengan Republik Asia Serikat pada tahun 2075, pasukan militer berkembang dengan pesat dan pasukan S adalah pasukan dengan tingkat tertinggi dari semua detasemen yang ada.


Hanya saja, karena ujiannya sangat ketat dan sulit, hanya ada 10 orang setiap tahun dari setiap komando pasukan yang lulus menjadi S, sehingga total personil yang aktif hanya sekitar 100 sampai 160 orang saja.


Samudra duduk di sebelah Panda, dia melihat ada kertas lain yang tidak dibaca oleh Panda di meja, lalu dia mengambil dan membacanya.


"Laporan kematian Sulthana Ayu Sekar alias Garuda." Katanya membaca judul laporan tersebut.


Panda melirik dan tidak mempedulikan anak gadis di sebelahnya ini, menurutnya, Samudra masih terlalu hijau untuk terjun di dunia seperti ini.


"Hm? Pelindung yang dipakai kak Garuda seharusnya gak bisa ditembus proyektil 7.62 x 54 milimeter secepat 820 kaki per detik, tapi dia gugur."


Panda meletakkan laporan yang dibacanya, "Itu karena peluru yang digunakan mereka adalah peluru tipe Armor Piercing Composite Rigid, atau APCR."


"Bukannya itu illegal?"


"Tentu saja illegal, makanya kamu nyari tahu darimana mereka dapat peluru kayak begitu."


"Tapi, aku lihat peluru APCR yang ini agak aneh, kak."


"APCR ya APCR, mananya yang aneh, sih?" Jawab Panda ketus.


"Maksudku, ini sepertinya logo pabrik." Jawab Samudra sambil menunjuk gambar selongsong peluru di laporan yang dia baca.


"Hah?" Panda merebut laporan itu dan melihatnya dengan seksama, warnanya nyaris sama dengan selongsong pelurunya, hampir tidak terlihat sama sekali.


Logo yang terlihat di gambar itu terlihat seperti mahkota dan sebuah segitiga, namun bekas ledakan mesiu membuat bentuk lain menjadi tidak jelas.


"Iya, kan?" Kata Samudra.


"Kau benar." Kata Panda, "Aku akan lapor ke lab dulu."


Panda meraih ponsel dan menghubungi profesor Rizaki, sementara Samudra berjalan menghampiri kakaknya yang menonton video saat Videl Warren diinterogasi.


"Gimana, kak? Ada temuan?" Tanya Samudra sambil mengalungkan kedua tangannya di pundak kakaknya.


"Dia membuat lingkaran pemanggil seperti yang kuminta, dan mereka memotretnya." Jawab Langit sambil menunjukkan foto lingkaran pemanggil di monitor, "Lihat ini? Ada bintang dengan 5 ujung, dan 6 lingkaran, salah satunya di tengah-tengah lingkaran, semuanya berisi simbol relik suci, aku belum belajar soal ini."


"Well, yang ini terlihat seperti orang yang angkat dua tangannya." Kata Samudra sambil menunjuk simbol yang ada di tengah.


"Memang mirip, tapi sisanya masih samar. Ini saat dia berdoa." Katanya sambil menunjukkan video Videl Warren sedang berdoa.


"Malaikat agung, penjaga dua dunia suci, lepaskan hatiku dari kegelapan dengan memberi pencerahan. Dengan dia yang pengasih, satu yang terbelah, lima yang terisi, namun dihancurkan oleh darinya. Atas nama guru besar Schweinorg, takdirku berada di telapak tandukmu, dan kehadiran engkau berada di jurang hatiku, dan jika engkau mengikuti jejak berliku menuju singgasana, maka terbentuklah wujudmu, wahai sang agung penakluk dua dunia."


Videl menangis saat berdoa seperti itu, Langit menghentikan videonya dan terlihat sedang berpikir.


"Pengasih, dua yang terbelah, lima yang terisi, lalu dihancurkan?" Tanya Samudra mencoba memancing otak kakaknya, "Siapa guru besar Schweinorg?"


"Mungkin maksudnya Kydict Fersinel Schweinorg, dia penyihir hitam paling sakti saat jaman kekaisaran Britania Raya, tapi dia dibakar hidup-hidup sebelum muridnya, Jeanne D'Arc juga dibakar di London."


"Apa itu berarti sesuatu?"


"Aku harus ke perpustakaan, tapi sebelum itu, kita akan pergi ke mall." Jawab langit sambil menyalin data yang ada di komputer ke dalam penyimpanan ponselnya.


"Ngapain ke mall?"


"Menurutmu, apa aku bisa menikahi wanita usia 29 tahun?"


"Hahahaha." Samudra tertawa nyaring, "Kakak suka yang seperti itu? Bagaimana kak Petra?"


"Petra hanya umpan si perawan, dia masih akan berguna nanti."


"Hee, hmm." Samudra mendekatkan bibirnya dengan bibir kakaknya, dia mencium kakaknya dengan lembut dan singkat, lalu melepasnya, "Sayang sekali kita saudara kandung."


"Iya, sayang sekali." Jawab Langit sambil berdiri.


"Aku tidak salah lihat?" Tanya Putri yang duduk di sofa.


"Kak Prinses salah lihat, ya kan, kak?"


"Matamu mulai rusak, Prinses."


Langit dan Samudra keluar dari markas lalu pergi ke mall, sudah jam 12 lebih sedikit, dan saat ini sepertinya sudah masuk jam istirahat kedua. Ponsel Langit berdering, ada sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.


"Langit, ini saya, Vianji Basa, soal tadi, apa kamu tidak keberatan dengan wanita umur 29 tahun?"


Langit tidak bisa membalas pesan itu karena sedang menyetir, dan menggunakan ponsel saat menyetir bisa dikenai sanksi pelanggaran nomor 37B tentang keselamatan pengendara, namun tidak apa-apa jika menggunakan in-ear yang tersambung dengan ponsel, namun sayangnya, Langit tidak membawa in-ear.


Karena itulah, dia menyimpan ponselnya dalam kantong dan melanjutkan perjalanan lagi.


Sesampainya di gedung parkir khusus pengunjung mall Verdict, dia langsung menghubungi bu Asabi.


"Ha-halo."


"Vianji?"


"Bu Vianji, Langit."


"Ya bu Vianji?"


"Ah, soal yang tadi, bagaimana menurutmu?"


Langit berjalan dengan adiknya menuju gedung mall dengan menggunakan eskalator dari gedung parkir, setelah eskalator ini, dia akan sampai ke lantai satu gedung mall Verdict.


"Aku tidak masalah dengan wanita umur 29."


"T-tapi, Langit, kita ini guru dan murid."


"Bulan depan ujian kelulusan, aku sudah kelas 3 sejak tadi pagi."


"A-ah, benar juga. Bagaimana orang-oh, maafkan aku."


"Tidak apa, aku terbiasa." Jawab Langit saat bu Asabi ingin menanyakan orang tuanya.


"Orang tuaku tahu tentang kabar ini."


"Lalu?"


"E-em, m-mereka sangat senang."


"Berita bagus, katakan pada orang tuamu untuk pergi ke The Alice pukul 6 malam ini, berdandanlah yang rapi untuk membuat adikku terkesan."


"E-eh?! Malam ini?!"


"Bu Vianji keberatan?" Tanya Langit sambil mengikuti adiknya ke sebuah toko baju.


"E-em, itu, itu terlalu mendadak, tapi saya kabari lagi nanti."


"Baguslah."


"Kamu dimana, Langit?"


"Jalan-jalan dengan adikku." Jawabnya simpel sambil mengacungkan jempol saat adiknya menempelkan sebuah gaun di badannya untuk melihat cocok atau tidak.


"Kamu membolos?"


"Tidak ada aturan yang melarang murid untuk membolos asalkan bisa lulus mata pelajaran."


"I-iya sih, tapi, kamu yakin? Materi kelas 3 itu susah banget loh."


"Iya, terimakasih, tapi aku sudah selesai pelajari materi kelas 3, hanya tinggal melanjutkan karya tulisku untuk ujian akhir."


"O-oh, di sini sudah bel masuk, aku tutup, ya?"


"Heiren schvi ni aust, Vianji." Jawab Langit dengan bahasa Feden yang berarti 'aku mencintaimu'.


"I-iya, kututup dulu!" Jawab bu Asabi di sebrang panggilan dengan malu-malu, sepertinya dia paham dengan maksud ucapan Langit barusan.


"Hehehe, bu Asabi sepertinya menyukai kakak." Kata Samudra berkomentar, "Dia mau dijadikan apa?"


"Mungkin umpan lagi, kalau tidak jadi umpan, mungkin dia akan tetap jadi iparmu."


"Oh, wow. Mungkin juga sudah waktunya untukku menikah, kak?"


"Senyamanmu, asal tidak melanggar undang-undang negara."


"Kalau begitu..."


Samudra berlutut dengan satu lututnya dan memegang tangan kanan kakaknya.


"...menikahlah denganku, Langit Safir."

__ADS_1


"Kita ini bersaudara." Jawab Langit.


"Kau mematahkan hatiku, Langit Safir."


__ADS_2