
Langit terbangun dari tidurnya dengan Samudra menggoyang-goyangkan tubuhnya. Dengan mata yang masih berkunang-kunang, Langit berusaha bangun dari tidurnya yang tidak terlalu nyenyak karena hanya beralaskan selimut.
"Kak? Sudah bangun?" Tanya Samudra.
"Sudah jam 13, peralatan dari profesor Rizaki sudah datang, dan semua anggota siap siaga di markas." Kata Putri yang berada di ruangan yang sama dengan Langit.
"Oke, tunggu aku di depan." Kata Langit sambil mendudukkan badannya.
Keduanya keluar dari ruangan dan menuju ke ruang depan, tempat mereka biasa menyusun rencana dan melaksanakan misi operasi. Biasanya, Langit hanya menyuruh mereka melakukan sesuatu daripada membahas sesuatu.
Langit menghampiri mereka di ruang operasi ini, tim runduk sudah siap dengan seragam mereka, begitu juga dengan tim assault. Harpy terlihat agak kikuk karena ini misi terakhir, setidaknya menurut Langit.
"Oke, kita bahas bagaimana cara memotong kepala si perawan kali ini." Kata Langit sambil menyalakan navigasi peta di meja proyeksi, "Kalian sudah memakai baju hitam full-kevlar seperti yang kuharapkan, kerja bagus."
"Ini peralatan dari lab." Kata Yuri sambil meletakkan beberapa kotak kardus, lalu meletakkan sebuah perisai dibantu oleh Kepler.
"Bagus, ini semua peralatan yang akan kita perlukan. Aku perlu kalian semua menggunakan kacamata ini, dia akan mencegah kalian buta. Lalu Miru, kau bawa perisai ini." Kata Langit sambil melirik perisai yang diletakkan di sebelahnya.
"Pakai ini." Kata Langit sambil melemparkan masing-masing kacamata yang dirancangnya semalam.
Setelah semua memakai kacamata dari Langit, dia mengangkat perisai itu, sangat ringan dan sangat kuat, setidaknya itulah yang dirasakan Langit saat mengangkatnya. Setelah itu dia menyalakan tombol yang terpasang di belakang perisai itu dan menyalakan lampu yang terpasang di depannya.
"Aah!"
"Ah, wow."
Beberapa anggota menjerit sedikit karena shock, namun mereka segera sadar kalau mereka tidak terkena imbas dari intensitas cahaya yang begitu kuat sekuat 100.000 lux. Cahaya ini bisa membuat orang buta jika menatapnya secara langsung, karena ketika manusia melihatnya, sama saja seperti melihat matahari di siang bolong.
"Tugasmu sudah jelas, Miru." Kata Putri mengingatkan.
"Siap."
Langit lalu mengeluarkan detektor elektriknya, dia menunjukkannya kepada Panda dan Ela, mereka terlihat bingung untuk apa alat ini.
"Ini detektor listrik, jika ada listrik yang terlihat seperti susunan yang mencurigakan, bisa jadi itu jebakan atau sumber daya listrik, alat ini akan berguna untuk mengurangi kekuatan, tugas kalian berada di sayap dan melakukan pindaian."
"Siap." Jawab Ela.
"Siap." Jawab Panda.
"Ranger, candela ini kamu yang bawa, aku percayakan mereka padamu."
"Ok."
Langit menunjukkan proyeksi gedung kuil di kota Sarejo, Margo Raya.
"Kita akan menembus mereka dengan gaya lama, namun seperti di Kyuto, aku curiga akan ada lantai besi. Kita akan bawa 3 peledak termit, dan 3 peledak biasa. Dan juga kita perlu membawa jammer."
"Archer, kalau kita bawa jammer, bukannya peralatan kita juga akan kena imbasnya?" Tanya Naga.
"Kita menggunakan jaringan laser, tidak akan ada masalah." Jawab Langit, "Abominator sepertinya pilihan bagus, mengingat pemakaiannya di Kyuto hanya sekali, kita akan menggunakannya lagi, dan Harpy, kau yang bertanggung jawab dengan Abominator."
"Dimengerti." Jawab Harpy.
"Aku sebenarnya ingin membawa beberapa pasukan tambahan, bagaimana menurutmu?" Tanya Langit pada Putri.
"Aku bisa mengaturnya, pasukan seperti apa yang kamu inginkan?"
"Umpan, mereka yang siap mati untuk membukakan jalan." Jawab Langit datar.
"Archer, itu tidak kuijinkan."
Langit menghela nafas, "Sepertinya hanya kita saja yang akan maju."
Semuanya terlihat seperti tidak ada masalah, jadi Langit akan melanjutkan penjelasan keputusannya.
"Kita akan turun dari helikopter, karena jalan darat akan sulit dilewati dan aku terlalu malas, kita akan berangkat jam 15, kita akan sampai di daerah Hemar di kota Sarejo, Margo Raya jam 5 lebih sedikit, jika kita naik Porhachet, mungkin kita akan sampai jam 5 kurang."
"Akan kuberitahu hangar untuk menyiapkan Porhachet." Kata Putri.
"Bagus. Yuri, kau di langit. Kepler, kau bawa senapan."
"Aku? Oke." Jawab Kepler setelah mendengar keputusan Langit.
"Kita akan butuh sonar, bawa 4 sonar, kita akan butuh mereka semua. Jangan lupa halo kalian. Bersiap dalam 20 menit, bubar!"
"Siap!" Jawab semuanya serentak.
Langit langsung berlalu ke dalam gudang senjata, dia segera melepaskan seragam sekolahnya yang dia pakai dari kemarin, bahkan saat dia tidur. Saat ini dia penuh dengan keringat, tapi dia tidak peduli dengan bua badannya, dia hanya peduli tentang memotong kepala si perawan malam ini.
Busur silang yang selalu dia gunakan sejak pertama kali mengejar para kriminal, dia menatap busurnya lekat. Sebenarnya akurasi tembakannya sangat buruk, sehingga jika dia menggunakan pistol, tidak akan ada peluru yang akan menembus daging musuhnya. Namun berbeda dengan busur, anak panahnya memiliki sistem blow-impact yang akan memungkinkan anak panah itu mengeluarkan materi yang ada di dalam anak panah tepat saat dia menghantam permukaan apapun, dalam kasus Langit, gas beracun dan gas asap biasa. Asal dia mengarahkannya dengan baik, semua sasarannya akan menerima dampak dalam jarak tertentu.
Dan gas beracun akan sangat merugikan lawan yang berada di dalam ruangan tertutup.
"Hanya kaus oblong lagi? Dasar kakakku." Kata Samudra mengomentari seragam yang dipakai Langit.
Bukan seragam, lebih tepatnya hanya kaus oblong yang dibalut rompi anti peluru dan pelindung siku serta lutut.
"Ada masalah?"
"Lenganmu bisa kena tahu, apalagi kaki bagian atasmu."
"Aku merasa baik, tidak ada yang kurang.." Jawab Langit sambil membawa sebuah palu yang kemudian disematkan di pinggangnya.
"Archer, sudah?" Tanya Panda dengan senapan di pundaknya.
"Sudah, ini masih 14 menit, kalian sudah selesai?" Tanya Langit sambil memasukkan amunisi berukuran 5.56 milimeter yang digunakan semua anggotanya, amunisi ini hanya cadangan, mereka mungkin kurang amunisi, jadi dia membawa lebih.
"Sudah semua, Yuri dan Kepler sedang menunggu di depan."
"Kita berangkat sekarang."
Di dalam restoran, Vianji sangat sibuk, dia memainkan 2 peran sekaligus. Seorang pemilik restoran sekaligus supervisi restoran. Yang dia lakukan saat ini, dia sedang mengawasi jalannya proses memasak di dapur. Kepala koki yang bekerja di sana sangat hebat, dorongan moral yang dia berikan membuat koki lain mampu melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
"Di mana kau taruh sausnya?" Tanya koki yang sedang mencari saus yang tidak ada di stasiunnya.
"Ini." Jawab rekannya sambil memberikan mangkuk berisi saus.
"Aku pinjam garammu." Kata salah satu orang yang ada di stasiun panggangan sambil mengambil garam di stasiun sebelahnya.
"Kembalikan lagi nanti." Jawabnya.
Suasanya dapur ini amat sangat sibuk, baik lantai satu hingga lantai 4, semuanya penuh hingga beberapa pengunjung harus mengantri di luar. Vianji memberlakukan nomor urut kepada pelanggannya agar tidak terjadi kekacauan lebih lanjut.
"Obadiah, panaskan lagi ini, kulitnya kurang matang." Kata Vianji sambil menusuk-nusuk ringan daging steak yang dipanggang oleh Obadiah di stasiun pemanggangan.
"Oke, tahan dulu kalau begitu." Kata Freder yang mengambil lagi dagingnya dan mengantarnya ke Obadiah.
Di samping mengawasi kualitas masakan yang dibuat oleh para koki di dapur, Vianji sebagai pemilik restoran juga harus menyapa pengunjung yang terlihat ingin disapa sebagai upaya agar personal brandingnya memiliki kesan yang dalam di hati pengunjung.
Tentu saja agar mereka kembali lagi ke restoran ini.
"Hai, selamat siang. Bagaimana menunya?" Tanya Vianji di sebuah meja yang berisi sebuah keluarga yang sedang asik makan menu rekomendasi.
"Oh, hai. Kau manajer di sini? Menunya hebat, anak-anak suka." Jawab si ayah.
"Hahaha, terimakasih. Buat dirimu seperti di rumah." Kata Vianji sambil menepuk si ayah dan si ibu yang tersenyum dengan mulutnya terisi penuh dengan ikan bakar.
Vianji menyapa pelanggan yang lainnya juga, ada yang tidak dia sapa karena atmosfernya tidak memungkinkan untuk diganggu, entahlah, mungkin pasangan yang sedang bertengkar atau sedang ada konflik rumah tangga yang sedang berlangsung di meja makan yang seharusnya tidak terjadi.
"Bagaimana? Menunya sesuai ekspektasimu, nyonya?" Tanya Vianji sambil membungkukkan badannya dan tersenyum ramah.
"Hm-m, enak, aku suka, Pressure-Fried Vinegar Trout buatan kalian nomor satu di Pertanjang." Kata si nyonya memuji masakan koki di restoran miliknya.
"Kalian masih restoran bintang 3 kan? Harusnya Sierre's Parliour mendapatkan bintang 5." Komentar si tuan dengan mulut penuh dengan daging perut ****.
"Ahahaha, anda terlalu berlebihan, tuan, kami masih belum memiliki sertifikasi bintang 5, tapi akan saya segerakan." Kata Vianji sambil mengundurkan diri dari meja yang ditempati suami istri itu.
Setelah selesai menyapa pengunjung di setiap lantai, Vianji langsung naik ke lantai 5 untuk membersihkan diri di dalam bathtub dengan air dingin. Tidak seperti orang lain yang lebih suka menggunakan air hangat, Vianji lebih suka menggunakan air dingin ketika suhu tubuhnya sedang tinggi.
Dahulu saat dia masih seorang anak SMA yang kurus dan sering sakit, dia pernah pulang kehujanan tanpa membawa payung, lalu saat dia sedang terkena demam, ayahnya berinisiatif melemparnya ke dalam bak mandi yang terbuat dari kayu, lalu mengisinya dengan air keran, setelah itu dia menambahkan sedikit es batu di dalamnya.
Ekstrim memang, tapi demamnya turun hanya dalam waktu dua jam.
Karena hal itu, dan sejak saat itu pula, Vianji begitu menyukai air dingin dengan seluruh tubuhnya berada di dalam air.
"Huaah, nyaman banget." Kata Vianji sambil membuka botol parfum, lalu memasukkannya ke dalam bathtub.
"Wangi Cartus, aku sangat suka. Tapi Langit lebih suka wangi Citrus yang biasa dipakai Samudra daripada Cartus-ku." Katanya bicara sendiri.
"Aku penasaran bagaimana dia dia sekarang. Kemarin dia bersama kawan-kawannya, mungkin dia sudah berada di Margo Raya?"
Bicara sendiri adalah salah satu kebiasaan Vianji yang tidak bisa dihentikan sejak dia kecil, Langit dan Samudra masih belum tahu soal ini karena dia malu untuk memberitahunya.
"Berita? Ahaha, gak mungkin ada orang bodoh menyiarkan operasi misi secara langsung di tv." Kata Vianji sambil memainkan bebek karetnya.
"Aku benar-benar penasaran apa yang dilakukannya sekarang, kamu juga penasaran pemilikmu sedang apa, tuan bebek?"
Jika Vianji masih bertanya-tanya apa yang dilakukan Langit sambil berendam air dengan wangi bunga Cartus, Langit sedang berada di medan tempur dengan bermandikan keringat bau sangit.
Helikopternya sudah ada di atas kuil yang dimaksud Langit, lalu Panda turun duluan untuk memastikan keadaan sekitar dengan menggunakan detektor listrik.
"Tidak ada ancaman apapun di titik ini, kalian bisa turun di suar yang kunyalakan." Kata Panda sambil menyalakan suar dan melemparnya di titik yang aman.
Suar itu bersinar merah terang, membuat siapapun tahu kalau itu adalah suar khusus untuk meminta bala bantuan dengan cara melemparnya ke langit, tapi bisa jadi alat penunjuk bagi Badger untuk memberikan bantuan bombardier angkatan udara, atau hanya sekadar penunjuk arah.
"Diterima, Panda. Kami turun sekarang." Kata Langit melalui in-ear miliknya.
Setelah semuanya turun, Langit langsung memberikan gestur tangan untuk melaksanakan misi. Yang lainnya mengangguk.
Miru berada di paling depan, dia membawa perisai yang bisa menyalakan lampu untuk membutakan lawan, sementara Panda, Langit dan, Ela berada tepat di belakangnya untuk memberikan arah ke mana mereka berjalan.
Snap
Langit menjentikkan jarinya sambil menunjuk arah, Miru yang paham segera menuju arah yang dijentikkan jari oleh Langit.
"Stop." Kata Langit sambil memberikan isyarat dengan genggaman tangannya setinggi pundak.
Langit menghentakkan kakinya, mencoba untuk mendengarkan resonansi suaranya.
Dung dung.
"Letakkan peledak biasa, di sini, sini, dan sini." Kata Langit sambil menunjuk tiga titik di lantai.
"Siap." Jawab Naga.
Naga memasang peledak menggunakan kabel penghubung, ketiganya sudah terpasang rapi membentuk lingkaran yang kira-kira akan muat untuk dimasuki satu orang secara leluasa.
"Siap."
"Nyalakan."
Duar!
Peledak biasa itu meledak dengan bagus, mereka langsung menggali lapisan semen dan tanah liat, menunjukkan lantai metal di baliknya.
"Peledak termit, posisi sama."
"Siap." Jawab Naga dengan tanggap sambil menyusun peledak termit di titik yang sama seperti tadi.
"Siap!"
"Nyalakan."
Suara lelehan besi dari reaksi logam yang dibakar dan menghasilkan reaksi termit terdengar seperti mesin las, atau mesin kikir, atau mungkin keduanya. Setelah lelehannya dirasa cukup, Naga memencet tombol satunya lagi dan peledaknya meledak.
Setelah ledakan itu, sebuah lubang yang agak lebar terbuka, cocok untuk dimasuki 3 orang sekaligus.
"Panda, cek peralatan elektronik. Belyn, pasang sonar di sini, kalian hubungkan holo kalian dengan sonar."
"Siap." Jawab semua anggota secara serentak.
Panda yang melakukan pemindaian listrik menggunakan detektor tidak menemukan keanehan apapun, hanya ada beberapa sambungkan kabel yang lurus masuk ke dalam sana.
"Sonar siap, holo sinkron." Lapor Belyn setelah selesai menyelesaikan perintah Langit.
"Miru." Panggil Langit sambil menyiapkan sebuah Candela, Miru hanya menoleh kepada Langit menunggu kalimat selanjutnya.
"Masuk." Perintah Langit sambil melemparkan Candela ke dalam lubang.
Candela adalah alat yang dirancang Langit kemarin, profesor Rizaki benar-benar membuatnya sebelum sore. Alat ini melontarkan granat kilat atau flashbang ke beberapa arah, ketika bola Candela terpisah menjadi dua, saat itu pula para musuh akan mengalami kebutaan temporer atau permanen.
Miru tanpa menjawab lebih lanjut langsung masuk ke dalam lubang dengan perisainya. Ketika Miru masuk, tidak ada banyak yang ditemukan di lorong ini kecuali lantai logam kosong, seperti lorong di gereja setan di Kyuto.
Langit bersama semua anggotanya masuk ke dalam lubang, di dalam koridor ini mereka sangat waspada. Karena adanya sonar yang diterima dari atas, mereka otomatis tahu dimana posisi musuh saat ini, dan sekarang, masih belum terlihat.
__ADS_1
"Tempel peledak di sini." Perintah Langit sambil menunjuk sebuah dinding.
Naga mengangguk, setelah menempel peledaknya, dia hanya tinggal menunggu aba-aba dari Langit.
"Nyalakan."
Duar! Ratatatatatata-tatata-tatata!
Tembakan beruntun datang, dari balik dinding ini. Miru yang kaget jelas tidak siap dengan keadaan barusan, sehingga badannya tertembus peluru berkali-kali.
Langit geram, senjata yang dipakai lawannya adalah senapan mesin berat, dengan peluru berukuran 45 kaliber. Wajar saja apabila rompi anti peluru yang mereka gunakan bisa tertembus dengan mudah.
"Ambil perisainya sesuai aba-abaku!" Perintah Langit kepada Judas, yang diperintah hanya mengangguk pasrah.
Langit menyiapkan Candelanya, tapi tidak ada kesempatan untuk melemparkan Candelanya ke lawan. Situasi ini sangat sulit, mereka seperti tidak pernah kehabisan peluru, dan tentu saja jika mereka melakukan surpress yang sangat menekan seperti ini, para infanteri akan datang untuk melakukan kombat jarak dekat yang jelas-jelas merugikan.
'Mereka kan sindikat sekte sesat! Kenapa mereka punya senapan mesin?!' Pikir Langit sambil melirik Harpy.
Menyadari sesuatu, Langit lalu mengeluarkan busur silangnya dan mengganti anak panahnya dengan anak panah asap hitam pekat biasa. Asap ini akan mengurangi visibilitas lawan dan akan sulit untuk menentukan sasaran.
Langit menembakkan anak panah itu di pembatas dinding, asap yang dikeluarkan berhasil mengurangi visibilitas mereka secara signifikan.
"Harpy! Siapkan Abominator!"
"Ya!" Jawab Harpy sambil menyingkirkan senapannya dan berganti ke Abominator.
Langit melompat ke tengah, dia berhasil mendapatkan perisai yang dijatuhkan Miru.
"Siap kombat jarak dekat!" Perintah Langit kepada semuanya, "Harpy!"
"Siap!"
Harpy berlindung di belakang Langit yang membawa perisai, dia mengangkat Abominatornya setinggi kepala Langit, dia menunggu saat yang tepat untuk menembakkan proyektil Abominator ini.
Sementara Langit sibuk menahan peluru yang datang kepadanya bertubi-tubi, infanteri yang diperkirakan Langit benar-benar datang dan menyergap mereka dari samping lubang dinding.
"Close quarter! Lindungi sayap!" Perintah Langit kepada semua orang kecuali Harpy.
Tanpa menjawab apapun, mereka langsung siap siaga di belakang dinding dengan pisau dan pistol di kedua tangan, sisanya membidik dengan senapan untuk membunuh bala bantuan lainnya.
Putri dengan tangkas langsung menusuk leher infanteri lawan yang berusaha melewati dinding, dia menarik lawannya untuk dihabisi dengan pistol sementara Panda menembaki infanteri lain yang datang namun tidak sempat dikalahkan Putri.
Hal yang sama terjadi dengan Ela di sisi dinding satunya, mengetahui keadaan sudah mulai bisa dikontrol, Harpy meninggikan level tubuhnya dan menembakkan Abominator melewati kepala Langit. Suara tembakannya sangat kencang, jika Langit tidak menggunakan helm, mungkin dia sudah mengalami tuli permanen.
Duar!
Suara ledakkan terjadi di balik dinding, tembakan beruntun dari senapan mesin juga sudah berhenti. Sudah saatnya Langit maju karena tidak sisa pasukan mereka berlarian ke balik ruangan lain, dia mengetahuinya melalui sonar yang terhubung di holo miliknya.
"Ambilkan senapan milik Miru, dan bawa kalungnya." Perintah Putri kepada Judas.
"Baik." Jawab Judas.
"Kita Lanjut. Isi ulang amunisi kalian, jangan angkuh." Kata Langit sambil mengambil alih peran Miru sebagai tameng.
Langit menendang pintu tempat mereka kabur, dia langsung menerjang masuk sambil menyalakan lampu yang sangat terang. Anggota timnya mengikuti dari belakang sambil menembaki lawan yang dipukul jatuh oleh Langit atau hanya membantunya membukakan jalan.
Mayat-mayat berjatuhan, dan tentu saja semua mayat itu kali ini bukan mayat anggota timnya sendiri.
Tembakan beruntun dari senapan yang digunakan lawan membuat tangan Langit terasa nyeri. Meskipun menggunakan perisai yang super kuat rancangan adiknya ini, tetap saja dampak yang dia terima masih terasa. Lampu depannya dia nyalakan lagi, lawannya yang tidak siap kembali buta karenanya, yang sudah siap hanya memejamkan matanya, lalu anggota tim membuat mereka memejamkan mata untuk selamanya.
Langit merasa aneh, dia merasa lawannya terlalu mudah untuk diatasi. Selain karena kesalahan Miru yang tidak siap siaga, sisanya hanya serpihan roti bagi Langit. Anggota lain mungkin tidak merasakan hal yang sama sepertinya, tapi dia yakin Samudra tahu sesuatu.
"Kak, ini terlalu mudah, ya gak sih?" Tanya Samudra pada Panda.
"Jangan angkuh, ikuti perintah Archer." Jawabnya sambil mengecek jumlah amunisi di dalam magasinnya.
'Bahkan adikku menyadarinya.' Pikir Langit sambil mengecek pemetaan di holo miliknya, tapi sepertinya sinyal sonar tidak sampai sini, jadi pemetaannya hanya sebatas sampai di sini saja.
"Berapa sonar yang kita punya?" Tanya Langit.
"Satu, aku lupa bawa satunya lagi." Jawab Belyn.
Langit menyentuh pintu yang ada di ujung koridor, dia tidak memarahi kesalahan Belyn yang tidak membawa sonar tambahan. Dia mengetuk pintu ini beberapa kali sambil mendekatkan telinganya di pintu.
"Tembakkan Abominator dari sudut ini." Kata Langit sambil menunjukkan sudut yang dia maksud.
"Archer, aku hanya mengingatkan. Pelurunya akan menancap di tanah."
"Ya, memang itu tujuannya."
Harpy mengangguk, dia lalu membidik sesuai arahan Langit, lalu bersiap untuk menarik pelatuknya.
Blam!
Tiba-tiba langit-langit lorong ini terjatuh, membuat mereka terkurung di dalam lorong tanpa ada jalan keluar.
"Apa ini?!" Teriak Ela kebingungan.
"Kita terkurung?!" Tanya Panda, "Archer!"
"Aku tak tahu soal in-" Langit melihat ada celah udara di atas dan di bawah, kalau memang sesuai perkiraannya maka, "Tarik nafas dalam! Tutup hidung dan jangan bernafas! Prinses! Panggil bala bantuan!"
"Haaah-ffp."
Csshhhhhh~
Gas berwarna kuning keluar dari celah udara yang dilihat oleh Langit. Manusia memiliki batas waktu hingga 1 menit hinga jantung berhenti beroperasi karena tidak bernafas dan memompa darah.
Langit membuang perisainya, dia menepuk Naga dan memukul-mukul dinding besi yang tadi jatuh dari langit-langit itu. Dia memukul 3 titik dan Naga paham maksudnya.
Naga menempelkan peledak termit dan langsung memulai proses pelelehannya sebelum Langit memberikan aba-aba untuk itu, dia sudah mulai tidak tahan hidup tanpa oksigen.
Bruk
"Belyn! Heehhk!" Ela meneriakkan nama Belyn ketika dia terjatuh karena gas beracun, namun dia juga menghirupnya sehingga dia tercekik oleh racun dan mati seketika.
'Sialan! Miru saja tak cukupkah?!' Batin Langit sambil menunggu logamnya meleleh.
Duar!
Boooom!
Langit tidak menyangka, langit-langit akan jatuh dan mengurung mereka di area yang sangat kecil.
Langit tidak menyangka, gas beracun akan meracuni dua anggota timnya dan membunuh keduanya seketika.
Langit tidak menyangka, gas beracun yang keluar dari celah udara itu ternyata eksplosif dan meledak ketika peledak termitnya meledak.
"-darlah, hei, sad-arlah, messiah, sadarlah."
"-ngan paksa, dia, tunggu seb-entar."
Pria dengan baju serba hitam itu memegangi sesuatu seperti sebuah botol, atau tabung, setelah itu dia memasukkan sesuatu melalui leher Langit, ternyata tadi adalah sebuah alat injeksi, atau suntikan.
Perlahan-lahan Langit terbangun sepenuhnya, dia menerima penawar racun dari orang-orang berbaju hitam ini.
"Hei, beri anak gadis itu juga, kita kurang satu gadis lagi." Kata salah seorang pria.
"Hei, mau apa kau?"
"Mau apa aku?" Tanya pria itu, "Tentu saja mencari tumbal, Langit."
'Dia tahu namaku?' Batin Langit terkejut.
"Tentu saja aku tahu namamu, bahkan tahu isi hatimu." Katanya lagi membuat Langit terbelalak, dia terkejut bukan main karena pikirannya dibaca oleh orang ini.
Tentu saja orang ini bukan sembarang orang, Langit yakin dia dalang dari semua ini.
"Oh ya, namaku Tiran Kitum, aku master dalam ilmu psikologi, dan ilmu demonologi membantuku mendalami ilmu psikologi lebih lanjut." Katanya.
"Kakak!"
"Hah?!"
Langit melihat adiknya telanjang bulat dengan ikatan kencang di tangan dan kakinya, dia sepertinya akan ditumbalkan.
"Kau tahu Langit, ini semua sesuai dengan rencana kami."
"Rencana apa?"
"Oh ayolah, kau ikut kepolisian militer, membasmi kami 'si perawan'." Katanya sambil memainkan dua jarinya sebagai bentuk tanda kutip, "Lalu kau perlahan-lahan mencapai titik ini, semua sudah sesuai rencana kami, Langit!"
"Rencana apa?!" Tanyanya dengan suara keras lantang.
"Keratos, Langit. Dewa kami setelah Ifrit. Dia adalah penyelamat dunia kami, dia akan membuat dunia ini menjadi surga untuk orang-orang kami, dan umat kami." Katanya menjelaskan tujuannya.
"Dan tentu saja, kami butuh messiah."
"Messiah?"
Kitum berdiri, sambil berjalan mengitari Langit dia berkata, "Ya! Messiah! Kami butuh wadah! Dan wadah yang paling ideal adalah kau, Langit."
"Hmph."
"Ayolah, kau tidak akan bisa lepas dari kursi itu, sabuk kulit yang mengikatmu itu cukup kuat."
"Lalu?"
"Lalu apa? Oh! Kau ingin tahu kenapa kau adalah seorang messiah?! Wahahahaha! Tentu! Tentu saja!"
"Kakak!"
Duag!
"Hei! Jangan sentuh adikku!" Teriak Langit ketika adiknya dipukul.
"Tck, tck, tck." Kitum membuat gestur 'no' dengan jari telunjuknya sambil geleng-geleng kepala, "Tidak, tidak, bukan seperti itu."
"Langit, kau pernah berpikir kenapa kau dilahirkan jenius? Peka, kuat, dan tidak memiliki rasa takut?" Tanya Kitum sambil mengelus pipi Langit, tangannya yang putih pucat seperti tembok kapur membuat Langit sedikit ragu.
"Terkejut adalah ekspresi, dan ekspresi itu eksplisit. Yang menyebabkanmu menjadi ular tanpa bisa seperti ini, adalah adikmu."
"Maksudmu?"
"Lihat gigi adikmu? Taringnya sangat cantik. Kau pikir kenapa dia punya taring sepanjang dan seindah itu? Lalu kenapa dia begitu atraktif, aktif, dan ceria daripada kau? Pernah berpikir kenapa dia menuangkan cintanya hanya padamu?" Tanya Kitum bertubi-tubi pada Langit.
"Tidak, dia adikku."
"Wahahahaha! Cinta! Cinta!" Katanya dengan suara keras memekakkan telinga, "Cinta keluarga yang mengharukan! Sialan! Mau sampai kapan kau terlena, messiah?!"
"Ahhk!" Pria yang menahan Samudra menyeretnya ke dekat altar, orang lain yang berada di ruangan itu membawakan ember dan pisau belati.
Langit tahu apa yang akan terjadi berikutnya, adiknya akan disembelih hingga darahnya habis, lalu dijadikan tumbal dengan semua organ dalamnya dicabut.
"Benar, Langit. Adikmu ini, adalah pembawa pesan."
'Pembawa pesan?!' Pikir Langit terkejut, dia sangat tahu soal pembawa pesan yang dimaksud Kitum, ada banyak jenis pembawa pesan seperti pekerjaan tukang pos yang normal, tapi dalam ajaran sekte Keratos, pembawa pesan berarti pembawa petaka bagi manusia.
"Kita akan mempersembahkannya untuk kebangkitan yang mulia Keratos! Lalu dia akan mengubah tatanan dunia seperti surga! Surga yang kami impikan! Dambakan! Huaaaaa!"
Langit merasa aneh sendiri saat Kitum menangis sambil berteriak seperti anak kecil. Tapi setelah itu dia tiba-tiba berhenti menangis, lalu menjentikkan jarinya.
"Lakukan."
"Ahh- nggak, gak, nggak mau, jangan, jangaaan!"
"Jauhkan tanganmu, brengsek!" Langit berteriak sangat kencang hingga urat-uratnya terlihat, kursinya berpindah beberapa inci karena kekuatannya.
Pria itu memegangi rambut Samudra yang masih memberontak, wajah Samudra sudah penuh dengan keringat dan air mata, namun dia tidak menangis dengan terisak-isak, dia hanya mengeluarkan air mata sebagai simbol ketidakterimaannya atas realita bahwa dia akan segera disembelih untuk dijadikan sesembahan malaikat jatuh Keratos.
"Oh, kepala pendeta ingin melakukannya?" Tanya pria yang sudah siap dengan pisau.
Seseorang muncul dari balik bayangan, dia mengenakan pakaian seperti layaknya pendeta lain, namun dia menggunakan kalung dengan salib terbalik.
Ketika dia keluar sepenuhnya dari bayangan yang terlalu gelap di ruangan ini disebabkan oleh minimnya penerangan, wajahnya terlihat, terekspos dengan lengkap.
Senimorangkir Januri.
"Senja! Sedang apa kau di sini?!"
"K-kak, kak Senj-a?"
"Hai kalian semua, hihihi, tidak menyangka diriku adalah kepala dari hewan yang kamu buru, hm?" Katanya sambil tersenyum licik.
"Terkutuk kau, Senja! Tak akan bisa kau menutup matamu! Bahkan hingga kau mati!" Teriak Langit dengan matanya melotot tajam.
"Ayolah, Langit. Semua orang punya topeng, tak pernah kau sadari kah?" Tanya Senja sambil menarik rambut Samudra dan meletakkan pisaunya di leher Samudra.
"K-kak, kak Senja."
__ADS_1
"Terkutuk kau, Senja! Kuseret kau ke neraka!"
"Hihihi, sampai jumpa."
Dor!
Suara tembakan terdengar dari ujung ruangan, tempat di mana Langit diseret oleh orang-orang kesetanan ini. Rentetan tembakan mengenai banyak orang yang ada di ruangan ini. Mereka tidak siap dengan tembakan yang datang, dan akhirnya membunuh mereka karena ketidaksiagaan mereka sendiri.
"Siapa di sana?!" Teriak Kitum dari kejauhan.
Bayangan yang menutupi wajah orang itu kini sirna ketika dia berjalan maju hingga cahaya menerangi wajahnya.
"Yuri!" Teriak Langit.
"Bunuh dia!"
Yuri dengan sigap langsung berbalik dan merendahkan tubuhnya. Dia memasang perisai yang dirancang Langit di punggungnya, setelah itu dia menunggu, menunggu momen yang tepat, di antara rentetan peluru ini, kapankah saat paling tepat untuk melawan balik adalah pertanyaan penting yang harus dijawab bukan oleh teori dasar di kamp pelatihan, namun dengan pengalaman bertahun-tahun sebagai seorang tentara militer.
Momen krusial dari rentetan peluru ini adalah, saat dimana peluru itu habis, dan harus diisi ulang. Saat itulah, Yuri berbalik dan menembaki mereka satu per satu.
Dor! Dor!
30 peluru yang terbuang, 28 kepala yang hancur. Akurasi Yuri saat menembak termasuk akurasi terbaik di angkatannya, penempatannya sebagai seorang supir transportasi adalah karena dia tidak lagi berada di garis depan.
Itu karena dia mengorbankan teman satu timnya untuk menyelamatkan diri.
"Apa yang kalian lakukan! Serang dia! Bunuh dia!"
Yuri melepaskan perisai yang ada di punggungnya, lalu dengan pistol di tangan kanannya, dia menerjang musuh yang buta karena intensitas cahayanya setara dengan sinar matahari.
Dor!
Yuri menembak ikatan tangan yang menahan Samudra, dia akhirnya bisa melepaskan diri dengan menggunakan pisau yang tidak jadi digunakan oleh Senja. Samudra yang tanggap lalu mengambil obat yang sama dengan yang disuntikkan padanya tadi, lalu menyuntikkannya ke Putri yang masih bernafas di dekatnya.
"Mati kau!" Teriak Kitum sambil mengeluarkan pisaunya dan menerjang Yuri.
'Menerjang sambil berteriak? Dia kira ini era primitif?' Pikir Yuri sambil menyalakan lampunya dan membutakannya.
"Matilah." Kata Yuri sambil menarik pelatuknya.
Kitum mati di bawah kaki Yuri dan Langit yang sedang terduduk sambil menggigil.
"Archer, kau mengigil? Tenanglah, akan kulep-"
"Pergi dari sini! Jangan dekati aku!" Teriak Langit sambil mengeluarkan darah dari mata kanannya.
"Kakak! Jangan meno-"
"Bawa Ranger dan Prinses! Pergi dari sini! Kalian akan mati!" Teriaknya lagi.
"Hey! Tenanglah! Aku di sini membantumu!"
"-vergon sieht enst mein iztum, Kuratos berliehengen mensu ein ist varto!" Teriak seorang pendeta yang ternyata masih hidup, Yuri tidak menembak kepalanya, dan dia hanya cedera, ketika cedera, dia pura-pura mati sambil merapal doa untuk memanggil Keratos ke dunia ini melalui Langit sebagai wadahnya.
Langit berteriak-teriak histeris, warna matanya menghitam legam, retina matanya yang kuning makin kuning dan terlihat seperti mata monster, dari mulutnya keluar asap, dari telinga, hidung dan matanya keluar darah yang amat sangat banyak.
Kejadian ini mirip seperti di Kyuto, namun lebih parah karena kulit Langit juga terbakar, membuat ikatannya perlahan-lahan terlepas.
"Archer! Ada apa dengannya?!" Tanya Putri yang baru sadar dari pingsannya, tubuhnya masih mati rasa, dia tak bisa bergerak dengan maksimal.
"Kakak! Lawan! Jangan mau!" Teriak Samudra dari kejauhan.
"Archer! Akan kulepaskan kau!"
Langit menendang Yuri hingga dia terpental jauh dan mencapai tempat Samudra dan Putri berada.
"Aaahh! Haaahhh! Haaahguull! Haahguuul! Huuaaahh!" Suara Langit perlahan lahan berubah, dia seperti sudah bukan Langit yang dikenal Yuri, Samudra, dan Putri selama ini.
Tulang belakangnya mencuat keluar, dari dalamnya keluar sayap, hanya satu sayap tanpa satunya lagi, warnanya hitam karena terbakar api neraka, tidak memiliki sayap lainnya karena sudah terpotong, dan tanduk yang kini muncul di dahi Langit menandakan bahwa dia kini sukses menjadi wadah malaikat jatuh Keratos.
"Hahaha, jadi ini tubuh manusia? Sehat dan kuat! Aku bisa menghancurkan dan membuat apapun dengan tubuh ini." Katanya sambil menyemburkan api setiap kali dia bernafas.
Putri masih teringat dengan perkataan Langit di Kyuto, 'Jika aku bernafas api, tembak kepalaku.'
"Siapa ini? Ketiga pengikutku? Kenapa kalian tidak berlutut dan memohon ampunanku sekarang juga?" Tanyanya sambil berjalan mendekati mereka bertiga.
Karena shock, dan terror yang amat sangat terasa, ketiganya tidak bisa berkutik di depan Keratos. Namun Yuri, dengan mengalihkan semua rasa takutnya, dia mengangkat perisai dan menyalakan lampunya, lalu dia menembaki Keratos dengan pistol.
"Aaaahh! Aaaahh! Matii!"
Tidak sampai di situ, ketika dia tahu pistolnya tidak mempan, dia melempar pistolnya ke belakang dan menukar senjata dengan senapan dan memberikan rentetan peluru ke tubuh keratos. Namun percuma, suhu Keratos amat sangat panas, jejak kakinya bahkan meninggalkan lahar, begitu pula peluru yang ditembakkan, semuanya meleleh tanpa melukai Keratos sedikitpun.
Yuri putus asa, dia tidak bisa mengalahkan Keratos dengan peralatan seadanya.
"Kak Yuri!" Samudra berlari menuju Yuri untuk membantunya berdiri.
"Hahaha..." Yuri terkekeh dengan seluruh rasa takut terpancar dari wajahnya.
"...bukan, Samudra. Namaku bukan Yuri, namaku adalah-"
Duar.
Kalimat itu tak pernah selesai, Keratos baru saja menghantam Yuri, membuat kepalanya meleleh dan lehernya terpanggang.
Dia bahkan tidak diketahui nama aslinya oleh Samudra dan Langit yang sehari-hari memanggilnya dengan nama kode.
"Hahaha, kau harus tahu kalau aku ini absolut, hei manusia." Kata Keratos sambil menoleh ke Samudra dan berjalan ke arahnya.
"Hiiii!" Samudra ketakutan hingga dia jatuh tersungkur ke belakang, dia merangkak ke belakang untuk menjauhi kakaknya yang sudah menjadi malaikat jatuh.
"Heeeiiyyaat!" Putri berlari ke depan menerjangnya, dia memberikan tendangan tinggi berputar dengan kaki kirinya.
Hasilnya? Kini dia buntung tanpa kaki.
"Aaaaaahhh! Kakiku!"
"Hahaha, jadi kau adik dari manusia ini, hm?" Tanya Keratos pada Samudra.
"Hiks, hiks, kakak, jangan, jangan bunuh aku, kakak, hiks."
"Hahaha, percuma saja, kakakmu sudah tidak ada lagi."
"Hiks, kakak."
Keratos mengangkat tangannya, dia akan memukul Samudra dengan lembut dan perlahan, seperti mengelus bayi dan menggendongnya hingga dia bisa berjalan dengan kakinya sendiri, namun ketika tangannya nyaris menyentuh kaki Samudra yang sudah perlahan melepuh hanya karena berada di dekat tangan Keratos sejauh 12 inci, Keratos merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya.
"Hugh, huuah, ugh, aaah, haaah, haaah!"
Teriakan Keratos sungguh memekakkan telinga, apinya menyembur ke atas dan nyaris melelehkan langit-langit.
"S-sh, sh, Sa-mudra, Samudra, ini aku."
"Kakak! Kakak kembali!"
Langit mengarahkan telunjuknya ke kepalanya dari samping, dia mengetuk kepalanya dua kali dengan jari telunjuknya.
"Bunuh kakak."
Samudra terkejut bukan main, di saat seperti ini, saat dia akan menikah, saat dia akan memiliki seorang ibu di samping kakaknya, saat dia memandikannya, membacakan cerita untuknya, bahkan membelikannya mahkota untuk makan malam.
Bagaimana dia akan melakukannya, jika semua kenangan itu melintas begitu saja di kepala Samudra dan membuatnya sangat berat untuk mengangkat pistol yang ada di sebelahnya, kepunyaan Yuri yang dilemparkannya tadi.
"Cepatlah! Iblis ini akan mati dengan wadahnya!" Teriak Langit sambil sambil menahan tubuhnya sendiri agar tidak bergerak sedikitpun, karena jika dia bergerak, dia akan kehilangan kesadarannya lagi karena dia menggunakan energinya bukan untuk menahan kesadarannya, tapi untuk bergerak.
"A-aku, aku gak bisa."
"Tarik pelatuknya, Samudra!"
"Aku gak mau! Aku ingin kakak! Aku sayang kakak!"
"Angkat dan tarik pelatuknya, Samudra! Jangan buat aku menyesal di neraka!"
"Kakak!"
"Angkat! Tarik pelatukn-"
Dor!
Proyektil yang dikeluarkan oleh selongsong 7.56 milimeter menembus kepala Langit dengan sangat sempurna.
Apalagi jika ditembakkan dari jarak 0 yard, dampak yang dihasilkan sudah jelas.
Tubuh Langit terdorong ke belakang, matanya perlahan menutup, lubang di kepalanya seketika mengucurkan darah saat tubuhnya menghantam lantai.
Pelaku pembunuhan ini tentu saja, Samudra, dan dia merasa sangat berdosa.
Samudra menghampiri kakaknya dengan merangkak, air mata keluar dari sudut matanya.
Langit adalah sumber kebahagiaan Samudra selama ini, dia adalah cinta dari Samudra, dan tak akan pernah terganti oleh siapapun.
Samudra meraih tangan kakaknya yang melepuh, sisa darah kering membuat bau gosong semakin menyengat, namun dia tidak peduli.
"Kakak, cintaku."
Dia menangis, air matanya dengan deras keluar, raungannya menggema di seluruh ruangan.
Dia tidak bisa menanggung beban yang terlalu besar ini, tidak sekarang, dia berlumuran dosa dengan kakaknya yang kini tidak bernyawa di kolam darahnya sendiri.
Keputusan Samudra dengan ini sudah bulat, dia mengangkat pistol yang dia gunakan untuk membunuh kakaknya...
...lalu memasukkannya ke mulut...
...dengan air mata yang tidak bisa berhenti, dia menarik pelatuknya...
...namun...
...gagal.
"YURI KEPARAATTT! KENAPA KAU HABISKAN SEMUANYA DAN HANYA SISAKAN SATU?! KEPARAT JAHANAM! TERKUTUK KAU, YURI!"
Langit's Death, and Crying Samudra
Samudra membuang pistolnya.
Putri perlahan-lahan merangkak menuju Samudra, di saat dia mencari cara untuk bunuh diri selain dengan pistol.
Srak
Samudra menarik belati dari pinggangnya, dia sudah siap menggorok lehernya sendiri.
Grep
"Prinses? Sedang apa kau, hm?" Samudra, berusaha tegar, sedang menanyakan kenapa Putri memegangi tangannya.
"Jangan, Ranger. Jangan buat Archer, sedih." Dengan susah payah Putri mengatakannya sambil menahan rasa sakit di kakinya yang buntung.
"Tapi, aku..." Samudra menempelkan ujung belatinya di leher.
"...aku tidak bisa hidup tanpanya."
Darah keluar dari ujung belatinya, lukanya masih kecil, tidak dalam, hanya memotong urat kepiler.
Grep
Putri merebut belati Samudra, menarik lengan tangannya dan menggunakan bobot tubuhnya sendiri untuk membanting Samudra.
"Ahk!"
Putri memutar ujung belati dengan gagangnya, dia memukul kepala Samudra dari belakang berkali-kali.
Hingga dia pingsan.
Putri mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, namun ponselnya ternyata rusak. Dia kebingungan, bagaimana caranya agar mereka bisa pulang.
"Krrsscht, -ngar, ka-kssrrht-lian –ngar?"
Radio milik Samudra masih berfungsi, walau sinyalnya agak kacau karena penggunaan jammer di permukaan.
Putri mengambil radio tersebut.
"Ya, ini Prinses, tolong jemput kami, kami di Margo Raya."
__ADS_1
Putri meletakkan radio tersebut yang sudah tidak lagi mengeluarkan suara.
"Langit, kamu berhutang satu padaku untuk ini."