Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Parry this, you filthy casual!


__ADS_3


Samudra Safir casual house outfit (art by Samudra, follow twitter @thicc_ss to remove cencor)


 


"-saat ini, polisi masih menyelidiki kasus ini dan baru saja mengeluarkan dugaan sementara bahwa insiden kali ini adalah penculikan dan tidak berhubungan dengan kasus si perawan. Saya Hanin Dyena, melaporkan."


Reporter wanita itu akhirnya selesai dengan siaran darurat di saluran televisi nasional. Dia melaporkannya dari luar batas polisi bersama rekannya yang membawa kamera, dia mendatangi apartemen milik Langit dan melaporkan kejadian yang baru saja menimpanya.


"Kakak tidak apa-apa?" Tanya Samudra yang duduk di sebelah Langit.


Mereka berdua berada di pintu masuk gedung apartemen, duduk berdua di anak tangga sambil melihat orang-orang dari pihak berwajib berjalan kesana-kemari menyelidiki barang-barang.


Tadi Langit juga sempat melihat beberapa orang diangkut ke mobil ambulan, sepertinya mereka pelaku yang berhasil digagalkan Langit.


Mungkin juga bisa disebut sebagai korban bela diri Langit.


Dua orang pria menghampiri kakak beradik itu, satunya mengenakan jaket dan satunya hanya mengenakan kemeja.


"Bagaimana keadaanmu, nak?" Tanya polisi berjaket.


"Tanyakan itu pada adikku, aku lebih cemas padanya."


Kedua orang itu menoleh kepada Samudra dengan tatapan meminta jawaban.


"Aku baik-baik saja, pak. Tapi kakakku yang bertarung, jadi kupikir dia mengalami cedera."


"Haaah." Kedua polisi itu menghela nafas nyaris bersamaan.


"Bagaimana kalau kau ikut kami ke tempat yang hangat?" Tanya polisi satunya, "Akan kupesankan ramen dan sekaleng hangat kopi."


Langit mengangguk, adiknya menurut. Mereka berempat pun berjalan keluar dari garis polisi untuk masuk ke dalam mobil polisi.


"Ah, itu dia!" Reporter tadi merespons cepat dengan keluarnya Langit dan Samudra dari dalam garis polisi.


"Boleh kami mewawancarai anda sebentar?" Tanya reporter wanita itu beserta rekannya yang sudah merekam dari tadi.


Langit mengangguk, kedua polisi tersebut menyingkir sedikit.


"Kami saat ini sedang bersama dengan tuan-"


"Langit Safir." Jawab Langit setelah mengetahui reporter itu memang berhenti secara sengaja agar dia bisa memberitahu namanya sendiri.


"Baik, tuan Safir. Bagaimana anda bisa diserang?"


"Tidak tahu."


"Apakah anda terluka?"


"Tidak."


"Apakah ada korban?"


"Ada 6."


"Menurut polisi, anda mengalahkan 5 orang, bagaimana anda mengalahkan mereka?"


"Replika pedang kait."


Reporter agak kesal karena jawaban membosankan dan datar dari Langit.


"Lalu, pelaku penculikan yang tewas ini dikatakan berjumlah 5 orang, apakah anda salah hitung dengan menyebut 6 orang?"


"Hei!" Polisi yang mengenakan kemeja meneriaki reporter itu karena menurutnya pertanyaannya tidak pantas dilontarkan kepada korban yang mengalami shock.


"Tidak apa-apa, pak. Saya tidak salah hitung."


"Lalu pelaku keenam?"


"Saya membunuh kemanusiaan saya sendiri."


Langit berpaling dari wartawan itu, adiknya mengikuti dari belakang sementara dua orang polisi yang bersama mereka hanya bisa menghela nafas.


Dia berjalan bersama adiknya mengikuti kedua polisi menuju ke sebuah ruangan, letaknya tidak jauh dari apartemen.


"Duduklah." Kata polisi berjaket, "Nama saya Daji Nugraha, bapak ini namanya Koral Biru."


Koral mengangguk.


"Saya Langit Safir, ini adikku Samudra."


"Hm." Daji mengangguk, "Kalian lapar? Aku akan pesankan ramen dan susu coklat."


"Terimakasih." Samudra terlihat masih dalam keadaan shock, namun kakaknya tetap terlihat tenang.


Daji mengeluarkan ponselnya, dia menelpon seseorang dan memesankan Langit dan Samudra ramen bersama dengan susu coklatnya.


"Jadi, bagaimana menurutmu?" Koral memulai pembicaraan selagi Daji memesan ramen.


"Apanya?" Langit bingung.


"Well, kau tahu kan? Kau sudah membela dirimu dengan sangat baik."


"Terimakasih."


"Kakak, itu bukan pujian."


"Itu pujian kok." Koral terkejut dengan reaksi adiknya, dia sangat peka dengan komunikasi dan sosial seperti di dalam berkas catatannya.


"Langit, bisa kau ceritakan dari awal? Kami hanya dengar dari inspektur, kami juga butuh sudut pandangmu." Tanya Koral sambil menyalakan perekam suara di ponselnya dan meletakkannya di meja.


Langit menatap mereka berdua tajam, sejak tadi Daji sudah selesai menelpon dan saat ini dia juga menunggu jawaban dari Langit.


Dilihatnya Samudra yang menatap mereka berdua penuh dengan kecurigaan, matanya menyipit, hidungnya berdenyut kecil, reaksinya seperti baru saja mendengar sesuatu yang menjijikkan, dan sebagai kakaknya, Langit paham betul dengan reaksi adiknya yang seperti ini.


Samudra membalas tatapan kakaknya, dia memberikan tatapan peringatan kepada Langit agar berhati-hati dengan tindakannya.


Langit mengangguk.


"Aku masuk ke apartemen bersama adikku, lalu aku masuk kamarku dan mereka berlima mendobrak pintu, menangkap adikku, dan aku melawan mereka dengan replika pedang kait milikku."


Daji mengangguk, Koral menunggu kalimat selanjutnya.


"Lalu adikku membantuku dengan melemparkan estoc milikku, meski pedang dan estoc ini keduanya replika, tapi tetap saja ujungnya bisa dipakai untuk menusuk. Aku tidak punya kemampuan menembak, jadi semua tembakan pistolku meleset."


Langit mengangguk tanda dia sudah selesai berbicara.


"Hanya begitu saja? Bagaimana denganmu, dik Samudra?" Kata Daji sambil menatap Samudra.


"Aku disuruh kakakku berlari ke dalam kamar dan mengambilkan estoc untuknya setelah kuncian pada leherku melemah."


Cklek


"Permisi, tiga ramen kecap dan dua coklat panas."


"Taruh di sini saja pak."


Koral menoleh, "Kau memesan tiga?"


"Hehehe, aku lapar." Jawab Daji sambil terkekeh.


"Permisi, pak." Pria itu keluar ruangan tanpa menutup pintu.


Mereka memakan ramennya, Koral berdiri lalu berjalan menuju pintu dan menutupnya, kemudian dia kembali ke kursinya dan mencatat sesuatu di bukunya dan dia sepertinya masih punya beberapa pertanyaan yang ingin ditanyakan pada keduanya, tapi setelah makan.


"Aku sudah kenyang." Langit meletakkan ramennya yang belum habis setengah.


Samudra juga meletakkan mangkuknya yang sudah habis setengah.


"Yakin? Kalian masih dalam masa pertumbuhan, makanlah yang banyak." Daji sudah selesai menghabiskan ramennya dan meletakkan mangkuknya di meja.


"Aku akan menanyai kalian pertanyaan lagi, kalian keberatan?" Koral mengganti topiknya, Daji geleng-geleng melihat tingkah rekannya yang terlalu serius.


"Aku tidak keberatan." Jawab Samudra sambil menatap kakaknya dengan tatapan setuju.


"Sama."


"Baiklah, apa yang kalian perbuat hingga mereka menyergap masuk?"


"Tidak tahu." Jawab Langit.


"Sama." Jawab Samudra.


Sambil menulis dengan tangannya, Koral melanjutkan pertanyaannya.


"Dari mana kalian sebelum disergap?"


"Bermain di mall." Jawab Samudra.


"Kalian punya saksi?" Tanya Daji.


"Senimorangkir Januri dan Sri Sudarsih Kusumaning Putri." Jawab Langit.


Koral mencatat nama-nama itu dan Daji melanjutkan pertanyaannya.


"Apakah kalian terlibat masalah dengan seseorang?"


"Tidak." Jawab Samudra yakin, kakaknya mengangguk tanda memberikan jawaban yang sama.


"Kalian boleh pulang, kami sewaktu-waktu akan menemui kalian jika kami butuh sesuatu." Kata Koral sambil mematikan perekam suara di ponselnya.


"Ya, karena kami akan melakukan penyelidikan untuk ini. Semua warga Republik harus dilindungi, 'kan?"


Langit berdiri, begitu juga adiknya.


"Tentu saja." Kata Langit.


Cklek


Langit keluar, adiknya masih berada di ambang pintu, dia berbalik ke arah Daji dan Koral yang mulai merokok.


"Anu, terimakasih."


Samudra membungkuk lalu pergi keluar.


***


Di kamarnya, Senja ditanyai dengan proses introgasi yang sangat tidak adil. Karena dia sangat gugup, kalimatnya terbata-bata, kedua inspektur tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.


"Ayolah, hanya cukup katakan dimana kamu berada sebelum tetanggamu disergap." Kata salah satu inspektur.


"T-ta tapi aku, aku tidak melakukan, tidak satupun kulakukan." Senja hampir mengompol.


Kedua inspektur itu menghela nafas, mereka benci pekerjaan ini. Tampang mereka sangat mirip dengan preman di sekitar jalan tikus wilayah Fanmir, badan mereka juga besar, siapapun pasti takut.


Apalagi Senja yang mendengar suara super berat mereka.


Cklek


"Loh, kakak beneran belum tidur ternyata."


Samudra terlihat tidak terkejut dengan kedua inspektur di tengah ruangan mencoba menanyai Senja dengan pertanyaan ringan dan bahasa yang mudah dimengerti, namun dibarengi dengan suara berat dan tampang menyeramkan.


Langit yang berada di belakang Samudra geleng-geleng.


"A-ah kalian, kalian anu, kok-"


"Lampu kakak gak dimatikan, kan biasanya dimatiin sebelum tidur."


"Inspektur, dia bersama kami kemarin mulai dari pulang sekolah hingga bermain di mall." Kata Langit sambil masuk dan berdiri di sebelah Senja.


"Nah, begitu dong dari tadi." Kata salah satu inspektur sambil berdiri.


"Dah ah males, pulang yuk."


"Hayu."


Keduanya keluar pintu sambil melambai kepada Langit, dan dibalas hanya dengan anggukan saja.


"Kakak diapain?"


"A-aku, aku gapapa kok."


"Aku tidur di sini ya, kak. Gapapa kan?"


"E-eh? Gapapa, anu aku, maksudku kamu, tidur di kamar sebelahku."

__ADS_1


"Dia itu cowok, kamu jangan lupa." Langit mengingatkan adiknya.


"Oh iya, hehe." Samudra menepuk jidatnya, dia lalu keluar dari kamar Senja.


"Senja, aku juga akan tidur di sini, memastikan saja."


"I-iya, tidak apa-apa. Aku, maksudku kamu, ti-tidur-"


"Tidur di sofa."


"E-eehh? Gak di-anu di kamar?" Senja berdiri, dia merasa tidak enak.


"Aku tidak tidur, kubilang, aku hanya memastikan."


"A-ah, anu." Dia kebingungan.


"Kak, maksudnya, dia mau berjaga di kamar ini, begitu. Soalnya kamar sebelah masih ditempati para penyidik untuk selidikan lebih lanjut." Kata Samudra yang sudah kembali dari luar dengan baju tidur yang dia ambil dari kamarnya.


"O-oh, maksudnya itu."


"Tenanglah, kak. Kakakku ini lebih kuat dari siapapun."


Langit menatap adiknya kesal, Samudra menatap kakaknya sambil mengejek dengan menjulurkan lidah.


"Tidurlah kalian."


Malam harinya, Langit sangat waspada,dia duduk di dekat pintu masuk dan sudah siap dengan estoc di tangannya. Meskipun replika estoc miliknya terbuat dari logam yang dibungkus dengan Styrofoam, tetap saja pukulannya akan sakit dan ujungnya bisa digunakan menembus daging manusia, kecuali rompi anti peluru atau Kevlar.


Selain estoc, Langit juga mengandalkan tangan kosongnya. Daripada memukul dengan kepalan tangan, dia lebih memilih menampar lawannya dengan keras.


Adiknya sangat senang dengan kamampuan kakaknya yang bermanfaat, seperti saat ada pria nakal yang menggodanya.


"Cewek, mau kemana?"


Mereka mengikuti Samudra yang berjalan sendirian, sementara itu tidak berdiam diri, dia menelpon kakaknya dan memberitahukan lokasi dia berjalan berikutnya.


Sesampai mereka di pertigaan, Langit sudah menunggu di gang sempit. Adiknya tahu kalau kakaknya berada di sela-sela gang itu menunggu saat yang tepat.


"Cewek, ayolah, kami ini baik-baik kok, ayo main."


"Ho'oh, ayo ke arcade."


"Jangan, kita ke love-love hotel aja."


Plak plak plak


Tiga tamparan, tiga wajah, ketiganya tersungkur.


Yah, setidaknya itu yang dia lakukan pada orang-orang brengsek yang mengganggu adiknya.


Beda cerita dengan kemarin, mereka semua bersenjata, memakai baju pelindung, punya peralatan memadai. Hanya are sekitar leher, dan wajah saja yang tidak terlindungi, dan Langit berhasil melakukannya dengan senjata imitasi.


Ketika Langit nyaris terlelap, matanya terkantuk-kantuk, dia mendengar langkah kaki yang perlahan.


Duk duk duk


Langit mendengar suara langkah kaki, dan sudah saatnya dia beraksi. Setelah kejadian menegangkan dengan orang-orang tidak dikenal yang ingin menculik adiknya, lalu setelah kejadian itu dia mendengar suara-suara langkah kaki dari luar pintu.


Karena dia sangat dekat dengan pintu ini, dia juga bisa mendengar percakapan dua orang sekaligus.


Langit sudah menduga hal ini, ketika ada pertempuran terjadi di suatu tempat, dan polisi sudah selesai dengan penyelidikan, begitu juga ambulan dengan korban, kondisi di lokasi kejadian pasti akan sangat rentan untuk gelombang kedua.


"Bisa kau buka?"


"Kucoba dulu."


Krek krek krek


Gawat, pikir Langit. Dia hanya punya estoc imitasi dan melihat mereka sampai membawa alat pembobol kunci, itu berarti mereka juga sudah dipersenjatai, tapi apa yang mereka cari dari apartemen Senja?


"Hei, ruangan sebelah sudah kita lihat tidak ada siapa-siapa, kenapa kau bisa tahu mereka di sini?"


"Mereka ini tetangga, ruang sebelah sana kosong, dan hanya di sini yang ada penghuninya. Pikirmu setelah kejadian itu, mereka pergi kemana?"


"Ke ruangan ini?"


"Tentu saja."


Krek


"Oh, sudah bisa?"


"Sepertinya. Ayo masuk."


Mereka berdua masuk, setelah menutup pintu, mereka lalu memasang kacamata dengan infra merah dengan kepekaan cahaya tinggi.


Mereka berjalan menyusuri apartemen Senja, mencari apapun yang mencurigakan sebelum memasuki kamar.


Satunya memberi isyarat kalau tidak ada apapun disini.


Lalu satunya memberi isyarat 'ok' setelah itu menunjuk pada kedua pintu kamar di mana Senja dan Samudra tidur.


Krek krek krek


Mereka mencoba membuka kamar Senja.


Langit yang sedari tadi berada di dalam kamar mandi tidak melakukan apapun, dia sudah siap dengan kemungkinan yang ada dengan estoc dan pisau kecil dari kotak P3K di kamar mandi.


Dia hanya menunggu saat yang tepat.


Krieeet


Pintu sudah dibuka, Langit menyadari hal ini lalu segera keluar dari kamar mandi secara perlahan tanpa mengeluarkan suara. Dia melihat keduanya sudah masuk ke kamar Senja tanpa memeriksa arah jam 6, Langit pikir ini kesempatan bagus.


Dengan mengendap-endap, Langit memasuki kamar Senja dan melihat kedua orang itu sedang mencoba mengenali senja sambil berdiri berdampingan.


Langit melihat mereka membawa pisau di kedua pinggang mereka dan sudah siap untuk ditarik. Meskipun kamar Senja gelap gulita, namun jendela yang kainnya tidak menutup membantu pencahayaan pada mata Langit.


Salah satu dari mereka menoleh, Langit bersembunyi.


'Apa yang mereka pakai? Semacam alat bantu penglihatan malam? Night Vision?' Langit berpikir keras.


Ah, kalau mereka benar menggunakannya, aku hanya perlu melakukan itu.


Langit menoleh ke dalam kamar Senja, mereka memulai mengangkut Senja.


Lampu menyala, mereka kaget, Langit memutar alat pengatur cahaya dan meninggikan tingkat pencahayannya sehingga semakin silau.


"Aaahh!"


"Aaah! Mataku!"


Kedua orang itu buta, mereka mencoba melepaskan kacamata malam mereka yang membuat mereka kesilauan dan melihat siapa yang ada di depan mereka.


Duk


Langit menendang keduanya, mereka jatuh tersungkur.


"Samudra! Senja! Ambilkan senter!"


"Kakak!" Suara Samudra terdengar dari ruangan sebelah.


"Hah!" Senja kaget dan baru saja terbangun.


"Apa ya-"


Langit memukuli mereka yang masih belum sempat melepaskan kacamata malam mereka.


"Kakak! Senter!"


Samudra melemparkan ponselnya yang menyalakan flash kamera sehingga tampak seperti senter.


"Kau juga! Berikan!"


Langit menindih salah satunya sementara satunya lagi kamacatanya sedang disenteri sehingga keduanya meraung-raung minta dilepaskan.


Samudra menindih pria yang disenteri kakaknya, lalu Langit menyenteri yang dia tindihi.


"Lupakan senter! Ambilkan tali!"


Senja tidak bisa berkata apa-apa, dia shock dan sangat panik.


"Aaahhh!" Langit mengerang, "Samudra!"


"Iya!"


Samudra mengambil alih senter kakaknya sementara kakaknya menusukkan pisau ke kaki-kaki mereka dengan tusukan yang sangat banyak.


Langit melemparkan pisaunya kepada adiknya, menukarnya dengan senter.


Samudra menangkap pisau dari kakaknya, dia menusuk bahu lawannya berkali-kali.


"Aaahh! Aaahhh!"


Keduanya berteriak kesakitan.


Langit berdiri menjauh, dia sudah yakin semua tusukan itu akan melumpuhkan mereka.


"Tolong jaga mereka, aku akan segera kembali."


Langit keluar, dia mengambil dua kursi dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Dudukkan mereka di sini."


Saat diangkat, mereka berdua kesakitan, Senja yang melihat mereka menangis tidak tega.


Langit melepakan kacamata malam mereka, saat dilihat, kedua mata mereka sangat berair dan berwarna merah.


"Samudra, ambilkan benang jahit dan jarum."


Adiknya patuh dan segera pergi menuju kotak peralatan yang pernah ditunjukkan Senja padanya.


"Ini kak."


Langit mengambil jarum jahit dan menahan kepala pria itu.


"Diamlah, aku tidak berpengalaman dan kau bisa-bisa buta karena kecerobohanku."


Akhirnya dia diam, Langit menusukkan jarum ke kelopak matanya dan menarik benangnya.


"Aaaahhh! Aaaaahhh!"


Tentu saja sakit, dan dia harus menunggu hingga matanya yang satu lagi dijahit lagi ke dahinya.


Menjahit kelopak mata dan menjahit benangnya di jidat akan membuat mereka tidak akan mau berkedip.


"Sudah selesai semuanya, sekarang matikan lampunya."


Samudra mematikan lampunya, sekarang kamar menjadi gelap.


Langit memasang kacamata malam milik mereka.


"Siapa kalian dan apa tujuan kalian?" Tanya Langit.


Mereka diam, sepertinya memang tidak akan menjawab pertanyaan Langit.


"AAAAHHHHH!!!! AAHH AARRGGHH AAAHHH!"


Tentu saja kesakitan, kacamata mereka disinari oleh flash kamera dari ponsel.


Samudra merinding, Senja tetap menangis.


"ARRGGHH!!"


"Samudra, nyalakan lampunya, buat jadi silau."


Ctek


"AAAAHHHHHH!"


Mereka tetap teguh dan tidak menjawab pertanyaan Langit sama sekali.


"Samudra, keluarlah lalu kembali dengan air garam, dan juga ambilkan alkohol di kotak P3K di toilet."


Samudra mengangguk, dia keluar dan pergi mengambil semuanya, saat dia kembali, pria yang sedang diintrogasi kakaknya sudah mulai mengeluarkan darah dari matanya.


"Kak, ini."

__ADS_1


"Terimakasih, matikan lampunya."


Ctek


Lampunya sudah mati, Langit mematikan flash di ponselnya.


"Aku akan bertanya sekali lagi, siapa dan apa tujuan kalian?"


"Hnngghh!"


"Okay."


Langit menyalakan flash di ponselnya, mematikannya lagi setelah beberapa saat dan menyalakannya lagi sekejap setelah dimatikan.


Retina mata manusia adalah alat yang berfungsi mengendalikan masuknya cahaya pada mata, dan apabila alat tersebut membuka-tutup terlalu cepat, maka mata akan lebih cepat cacat.


Apalagi dengan...


"AAAAAARRRHHHH!!!"


...ditetesi alkohol bersamaan dengan air garam.


"Masih tidak mau bicara? Samudra, pegang ponsel ini dan lakukan sepertiku."


"Oke."


Samudra menyala-matikan ponsel persis seperti kakaknya, sementara Langit mengangkat kaki pria itu.


Crack


"AAARRRGGHHH!!"


Lututnya diinjak dengan sangat keras oleh Langit, membuatnya patah tulang dan tentu saja kesakitan.


"Akan kukatakan! Tolong bunuh aku cepaat!"


Langit menggeser tubuh Samudra, dia mendengarkan secara seksama yang dikatakan oleh pria tersebut.


***


"Sepertinya aku memang harus menengok mereka, ya kan? Lagipula dia itu teman setim kita." Kata Putri.


"Calon anggota tim." Jawab Panda membenarkan.


Putri berjalan di lorong bersama dengan Panda dan semua bawahan mereka.


"Arrhh"


"Apa itu?" Panda merespon sesuatu.


"Apanya apa?" Putri bingung.


"Aku mendengar teriakan seseorang!"


"Hah?!"


Duk duk duk duk duk


"Langit!" Putri sedikit kencang mengatakannya.


Brak


"Loh, kok kosong?"


Putri keheranan, Panda menepuk jidatnya.


"Di ruangan sebelah, Prinses." Kata Panda.


"Hah?!" Putri menoleh, teman-temannya yang lain geleng-geleng dengan kelakuan ketua tim mereka, "Oh iya!"


Brak


"Langit! Tuan Safir!"


Putri masuk ke dalam apartemen Senja yang gelap dan langsung berlari menuju kamar yang terang di sudut ruangan.


Di setiap keadaan gelap, tempat yang terang adalah yang pertama kali dituju, setidaknya itulah yang dipikirkan Putri saat masuk ke apartemen Senja.


"Langit?"


"Hm?"


Langit sedang duduk di kasur bersama dengan adiknya dan Senja yang sesenggukkan sehabis menangis.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Panda.


Putri melihatnya, Naga, Harpy dan Miru juga melihatnya. Kedua mayat yang matanya dicongkel dengan tubuh bersimbah darah.


Panda menurunkan tubuhnya dan mengecek kedua mayat itu.


"Jari-jari terpotong, mata tercongkel, lutut tertusuk dan dagingnya mencuat, lidahnya juga tidak ada." Katanya sambil membuka mulut pria yang menyisakan jejak darah.


"Aku penasaran." Panda membuka celana pria itu dan memastikan keberadaan suatu hal.


"Oh masih ada. Sepertinya kau tidak terlalu jauh, ya kan, Prinses?"


"Ya." Jawab Putri singkat.


"Apa yang kita lakukan? Kriminal ada di depan kita, tidak mungkin kita membiarkannya." Kata Naga.


"Jangan menuduh mereka kriminal, kita tidak tahu apa yang terjadi." Bantah Miru, "Prinses?"


"Kenapa kalian melakukannya?" Tanya Putri sambil mengisyaratkan dengan tangannya untuk membungkus mayat-mayat itu.


"Mereka masuk apartemen Senja dan mencoba menculik Senja, bukan adikku."


Putri mengangguk, "Panda, identifikasi sidik jadi keduanya dan identifikasi wajah mereka."


"Siap, Prinses." Jawab Panda sambil menghormat.


Panda segera mengeluarkan tablet di dalam ranselnya dan menyalakan kamera.


Tablet miliknya ini memiliki hak khusus untuk memeriksa data di dinas kependudukan, sehingga wajah dan sidik jari seseorang bisa mudah ditemukan asalkan orang itu berasal dari Republik Asia Serikat.


Ckrek Ckrek


Panda memulai prosedur identifikasi, sementara itu Putri masih menanyai Langit.


"Apa yang kau dapat dari mereka?"


"Simpel, mereka adalah organisasi. Senja berumur 17 tahun, mereka berniat menculiknya, mereka memakai tato bintang daud di lengan kiri mereka, kau tahu maksudku."


"Maksudmu, mereka?"


"Dua orang anggota si perawan." Langit berdiri, dia menepuk pundak Putri, "Kau tidak perlu berterimakasih."


Putri tidak berkata apa-apa karena terlalu shock dengan informasi barusan.


"Prinses."


Putri menoleh, "Sudah?"


Panda mengangguk.


"Kalian bertiga boleh lanjut." Kata Panda kepada Naga, Harpy dan Miru yang mulai mengemas mereka ke dalam kantong mayat yang selalu mereka bawa sebanyak 6 buah saat sedang menjalankan misi.


"Salah satunya Marco Nico Eden, dia seorang pengangguran yang tinggal di wilayah Kyeshai. Satunya lagi orang asing, dia bukan orang Republik, jadi aku sarankan identifikasi lebih lanjut di lab."


Putri mengangguk, "Kerja bagus, Panda."


Panda menjejakkan kakinya dan menurunkan tabletnya serta menegapkan badannya, dia melakukannya sebagai bentuk penghormatan atas terimakasih dari pimpinan dengan cara standar militer Republik.


"Jadi, Langit. Kau juga sudah mengerti kalau kau calon bagian dari kami?"


Langit kembali duduk di kasur, dia berpikir sangat keras.


'Si perawan keparat, akan kupotong-potong setiap dari mereka yang berani menyentuh adikku, bahkan setan sekalipun.' Pikir Langit dengan badan yang gemetaran.


"Tentu saja." Jawab Langit pelan.


"Sayang, maksudnya calon bagian dari kami itu apa?"


"Samudra, kakak akan melakukan hal yang sangat berbahaya." Kata Langit sambil menoleh pada adiknya.


"Maukah ka-"


"Tidak pergi?" Samudra memotong kalimat kakaknya.


Samudra menggeleng, dia mendekatkan posisi duduknya mendekati Langit.


"Aku tahu kakak punya alasan, berhati-hatilah."


Langit tersenyum.


"Hm." Samudra mengangguk dengan senyum penuh kekhawatiran.


"Lalu Langit, mulai sekarang namamu adalah Archer, aku akan membimbingmu."


Putri berkacak pinggang, Panda berada di sebelah kanannya, Naga, Harpy dan Miru berada di belakang mereka.


"Aku kapten Tim Khusus Batalion Tempur 092. Aku Prinses, dia Panda, dia Naga, Harpy, dan Miru." Katanya sambil menunjuk rekan tim satu persatu.


"Batalion?"


"Kekuatan kami setara satu batalion." Jawab Panda.


Langit berdiri, dia merapikan kerah bajunya.


"Apa jabatanku?"


"Anggota cadangan." Jawab Panda.


"Bukan cadangan, orang asing." Jawab Langit sambil melirik Panda dalam, "Tapi letnan satu."


"Hei, letnan satu itu aku yang meng-."


Kalimat Panda terhenti karena dihentikan oleh Putri dengan tangannya.


"Lettu Archer dan Letda Panda." Kata Putri.


"Cih, kalau itu keputusanmu."


Putri tersenyum, "Omong-omong, bisa kau pindahkan Senja ke kamar sebelah? Dia sudah tertidur dari tadi."


"Kau saja, Letda." Kata Langit sambil berdiri.


Panda semakin kesal dengan Langit yang seenaknya sendiri.


Langit keluar bersama dengan adiknya, mereka keluar dari apartemen Senja dan tidak lagi terlihat.


"Mereka pergi sambil memberi perintah padamu, lho." Kata Miru.


"Hm? Sepertinya tadi dia berbicara padamu, Miru." Jawab Panda.


"A-ah, oke."


Miru pasrah, dia memindahkan Senja ke kamar sebelah.


"Naga, Harpy, bawa keluar mayat-mayat ini dan pergilah ke lab."


"Siap, Prinses." Jawab keduanya bersamaan.


"Dan bawa Miru bersama kalian."


"Ya." Keduanya pergi dari kamar Senja.


Setelah semuanya pergi, Panda angkat bicara.


"Bagaimana menurutmu?"


"Tentang apa?"


"Archer."


Panda melirik Panda dengan tatapan sinis.


"Memuakkan."

__ADS_1


__ADS_2