
Langit keluar dari kelas, dia tanpa pikir panjang langsung berjalan ke ruang loker. Di sana, biasanya dia bertemu dengan adiknya yang sudah keluar kelas duluan.
"Hei." Seseorang menyapa Langit dari belakang.
"Oh, halo, Putri." Jawab Langit sambil menoleh. "Ada perlu?"
"Caramu ngomong resmi banget sih, hihihi." Jawab Putri tanpa menjawab apapun dari pertanyaan Langit. "Aku cuma mau nanya."
"Ya?" Langit berbalik badan karena dia merasa pertanyaan setelah komentar candaan adalah sesuatu yang penting.
"Bagaimana menurutmu? Soal berita pembunuhan berantai di tv?"
Langit tidak segera menjawab pertanyaan itu, malah dia sekarang berjalan menuju bangku di depan kelas tempat para murid biasanya nongkrong sambil makan bekal makan siang saat jam istirahat.
Bangkunya bundar, ada kursi cukup untuk 6 orang, dan memiliki payung agar para murid tidak kepanasan.
Tempat ini menjadi favorit semua orang saat jam istirahat, sepulang sekolah, rapat organisasi, rapat klub, atau hanya sekedar melakukan pendekatan dengan calon pasangan.
"Aku tidak punya pendapat. Karena tv di rumahku sedang diservis. Sepertinya ada beberapa kabel yang korslet."
"Oh, gitu. Terus? Kamu punya pendapat khusus tanpa harus nonton tv?" Putri mengganti pertanyaannya, berharap jawaban dari Langit akan berbeda.
"Oh, menurutku itu memang gawat. Guru-guru bahkan menghimbau kita sebelum dan setelah pelajaran dimulai."
"Lalu pembunuhan terakhir terjadi di kota Tanpel. Itu sangat dekat dengan kota Pertanjang." Kata Putri sambil mengeluarkan sekotak kopi siap minum.
"Kau tahu, semua korbannya adalah gadis muda berumur 13 sampai 19 tahun, dan mereka dibunuh atau diculik saat malam."
"Lalu?"
"Mereka ditemukan tidak memiliki organ dalam vital. Sepertinya dibunuh untuk uang."
"Lalu?"
Putri mengernyitkan dahi dan meminum kopinya sedikit.
"Kau tidak tertarik dengan topik ini?"
"Apalagi dengan gadis yang baru saja kutemui." Jawab Langit sambil berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Putri duduk sendirian di bangku depan kelas.
'Membahas berita yang bahkan aku tidak tahu apa-apa tentangnya? Jangan bercanda dong.' Pikir Langit.
Selagi Langit masih menggerutu soal kejadian barusan, Samudra dan Senja menghampirinya.
"Hai, sayang. Kamu kenapa?" Tanya Samudra sambil mengeluarkan botol air mineral dari tas kecilnya.
"Sayang?" Senja kaget, dia berpikir apakah sebenarnya mereka ini kakak beradik atau bukan.
"Aku baik-baik saja, terimakasih." Jawab Langit sambil menerima botol air dari adiknya itu.
"Kau mau pulang?" Tanya Langit sambil berjalan duluan ke tempat parkir sepeda angin.
Senja yang berjalan di sebelah Samudra diam saja ditanyai seperti itu, dia bingung apakah Langit bertanya padanya atau tidak.
"Hey, dia nanyain kamu." Kata Samudra memberitahu Senja.
"Eh? E-eh, kukira kau ngomong ke Samudra." Senja kaget, ternyata benar kalau Langit sedang bicara padanya.
"Aku pulang."
"Oke." Jawab Langit singkat.
Senja menatap Samudra dengan tatapan yang seakan mengatakan bahwa dia memerlukan seseorang berkata padanya bahwa semua yang dia lakukan tidak salah.
"Ayo pulang, kak."
Senja tersenyum pada adik Langit.
***
Mulai besok, akan menjadi hari-hari yang membosankan, setidaknya untuk Langit. Karena televisi yang kemarin korsleting listrik sudah selesai diperbaiki dan kini berada di ruang tengah.
Menonton televisi adalah kegiatan duduk diam tanpa melakukan apapun sementara televisi memberikan informasi yang seakan mendikte seseorang untuk melakukan sesuatu seperti contohnya kalimat, "Belilah barang ini!".
Kalau sudah begini, adiknya yang sangat menyukai film-film celestial pasti akan bertekuk lutut tanpa perlawanan dan tidak mau mengerjakan PR nya.
Apalagi hujan deras seperti ini, membuat orang semakin menjadi malas melakukan apapun.
"Hei, kau tidak tidur?" Tanya Langit saat sedang mengetik tugas di laptopnya.
"Hm? Nggak, aku lagi nontonin berita di tv." Jawab Samudra sambil menyilangkan kakinya.
"Berita? Tumben." Langit menekan tombol untuk menyimpan pekerjaannya dan menutup laptopnya lalu pergi ke ruang tengah tempat adiknya berada.
Biasanya, adiknya selalu menonton acara tentang artis yang sama sekali tidak dipahami Langit. Atau produk-produk baru yang dijual di mall namun diiklankan lewat televisi.
"Tentang apa?" Tanya Langit sambil berdiri di belakang kursi.
"Soal pembunuh berantai. Duduklah, kak. Nih, ada susu." Samudra menyuruh kakaknya yang baru datang untuk duduk. Dia sangat hafal kebiasaan kakaknya kalau tidak dipersilahkan, dia tidak akan duduk, atau memakan jamuan tuan rumah.
"Terimakasih." Jawab Langit sambil kemudian duduk di samping Samudra.
"Pembunuhan kembali terjadi. Korban yang berinisial N.S. ditemukan tewas pada pukul 2 dini hari GMT +8. Menurut polisi, hal ini berhubungan dengan kejadian tempo hari di mana seorang gadis berinisial H.G. ditemukan tewas di kota Tanpel." Presenter di televisi membacakan berita terbaru.
"Saat ini, reporter kami sedang berada di TKP untuk melaporkan lebih lanjut. Juanita, dipersilakan."
"Terimakasih, Shania. Saat ini saya berada di depan rumah korban di Jalan Patanggung 3 nomor 12, kota Pertanjang. Saat ini korban telah dimasukkan ke dalam kantong mayat dan dibawa oleh ambulan untuk diotopsi." Kata reporter Juanita sambil menunjukkan kantung mayat berwarna oranye yang diangkat menuju ambulan.
"Dan saat ini saya bersama dengan pak Anom Sipanja, kepala Polrestabes kota Pertanjang. Bapak, bisakah memberikan sedikit detail mengenai peristiwa ini?"
Langit dan Samudra menonton televisi tanpa berbicara apapun, keduanya sangat fokus menonton berita ini.
"Kami yakin ini ada hubungannya dengan pembunuhan berantai bernama si perawan. Karena seperti korban-korban si perawan lainnya, N.S. pun kehilangan beberapa organ vital. Kami himbau kepada masyarakat untuk berhati-hati saat berjalan di malam hari."
'Si perawan? Bapak bercanda?' Pikir Langit memprotes selera penamaan dari kepolisian.
"Saya Juanita, dari kota Pertanjang, melaporkan."
"Terimakasih, Juanita. Berita terbaru lainnya datang dari penangkaran panda yang sangat menggemaskan. Saat akhir minggu-"
Langit mematikan televisinya, sementara Samudra terdiam. Langit menatap Samudra dengan tatapan cemas.
Tidak terdengar suara apapun kecuali suara hujan, suara tetangga yang entah kenapa berteriak, mungkin karena dia lupa membayar tagihan apartemen seperti biasa.
Langit sangat paham tentang kepribadian adiknya yang sangat mempedulikan sesamanya, apalagi berita barusan menyangkut manusia dengan gender yang sama sepertinya.
Dan tentu saja, Samudra terpukul melihat berita barusan.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Langit.
"Hmm." Jawab Samudra sambil tersenyum tipis.
Samudra menyandarkan kepalanya ke bahu Langit, dia bersandar pada kakaknya. Langit paham apa yang sedang terjadi pada adiknya, dia sedang bersedih, namun tanpa menggunakan air matanya.
"Aku akan menidurkanmu, ayo ke kamarmu." Kata Langit sambil menggendong Samudra seperti tuan putri, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Samudra mengerti kakaknya tidak punya cukup tangan untuk menggendong sekaligus membuka pintu, jadi dia membukakan pintu selagi masih digendong kakaknya.
Kamar Samudra sangat rapi, dia menata buku-buku tebal berisi cerita perang dunia pertama, kedua dan ketiga.
Juga sejarah bagaimana mereka manghapuskan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan membuatnya menjadi satu dengan negara-negara lain sehingga terbentuk negara Republik Asia Serikat.
Benda-benda lain juga ada di kamar ini, seperti komputer, laptop, tablet, meja belajar, meja rias, dan tentu saja kasur besar yang empuk.
Langit merebahkan adiknya di kasurnya yang berwarna putih, lalu pergi ke kamarnya yang ada di sebelah. Setelah itu, dia kembali bersama dengan buku cerita setebal buku telpon.
"Kau suka ini? Kisah pemburu dan kelinci."
"Hmm." Samudra masuk ke dalam selimut dan menunggu kakaknya membacakan buku itu.
Langit menggeser kursi di dekat meja rias, lalu duduk di dekat adiknya. Setelah itu, dia membuka buku dan membacakan cerita.
"Pemburu adalah orang yang kerjanya memasang perangkap, menembakkan peluru, melesatkan anak panah, melacak dan mengeksekusi target, dan untuk itu semua, dia haruslah memiliki keterampilan dan kecakapan yang cukup." Langit menceritakan cerita di buku dongeng itu, Samudra mendengarkannya sambil memandangi kakaknya.
"Tapi keterampilan pemburu manapun tidak akan mampu menandingi adikku Samudra Safir." Lanjut Langit sambil mengelus dahi adiknya, Samudra yang diperlakukan seperti itu tertawa kecil.
Langit terus membacakan adiknya cerita dengan kondisi aman dan nyaman di apartemen yang ditinggalkan orang tua mereka, hal ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dengan Putri.
Dia berlarian di bawah hujan yang deras di pinggiran kota Pertanjang. Apa yang dia kejar adalah seorang yang menimbulkan masalah di kota ini. Beberapa hal remeh seperti genangan air, hujan deras, lalu lintas, semuanya tidak menjadi masalah bagi orang yang sedang berlari kencang ini.
"Aku butuh bantuan, target menuju blok pertokoan jalan Flamboyan, tolong cegat dia di sepanjang jalan Thamrin dan jalan Yani." Kata Putri sambil terus berlari menyebrangi jalan besar. Beberapa kali dia hampir ditabrak namun bukan masalah.
"Aku melihat target terjebak dalam kecelakaan lalu lintas." Kata seseorang di radio yang tersambung di telinga Putri.
"Bagus, Panda. Ringkus dan bawa dia ke van, kita bertemu di bawah jembatan."
"Dimengerti."
Putri mengganti mode radionya menjadi push to talk dengan menekan tombol yang terpasang di lehernya, lalu dia melihat ke jalan raya, tempat dimana dia nyaris mati tertabrak.
Namun, hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari Putri, sehingga dia sudah terbiasa.
"Disini Panda, kami berhasil meringkus target, segera menuju lokasi sesuai arahan."
Putri tersenyum, dia merasa tugas yang diberikan padanya hanya tinggal mengorek informasi dan setelah itu, berendam dalam air hangat sambil makan ramen kesukaannya sudah menunggu.
Selagi Putri sedang melihat jam tangannya yang menunjukkan waktu 22:00 GMT+8, seseorang dengan motor standar balapan datang menghampiri Putri.
"Prinses." Katanya sambil membuka kaca gelap di helmnya.
"Oke." Jawab Putri segera naik motor yang dikendarainya.
Mereka berdua pergi dari gang sempit tempat Putri tadi berdiri menuju jembatan yang dimaksud. Setelah melewati beberapa blok dan beberapa lampu lalu lintas yang timer-nya sangat lama, mereka berdua sampai di jembatan tempat Panda berada.
Putri menghampiri mobil van yang berada di bawah jembatan.
Semua jembatan yang ada di kota Pertanjang atau mungkin di seluruh kota di Republik Asia Tenggara, dibangun dengan dua tipe tangga.
__ADS_1
Yaitu tangga untuk orang dengan kedua kaki yang berfungsi dengan baik, dan juga tangga untuk orang-orang dengan penyangga kaki, kaki palsu, dan kursi roda.
Hal ini juga diterapkan di setiap sekolah, stasiun, dan seluruh fasilitas umum.
"Prinses, kau agak lama."
"Lalu lintas sedang dalam keadaan yang aku gak suka." Jawab Putri.
"Tinggal bilang macet aja bisa padahal." Kata Panda.
"Sekarang sedang jam pulang kerja, Panda. Jadi agak sedikit macet." Kata pria yang baru saja turun dari motor dan melepas helmnya.
"Lalu di dalam van itu?"
"Oh, mereka tangkapan kita kali ini. Mau coba introgasi? Anggota lain di dalam van tidak bisa mengorek apapun darinya." Kata Panda sambil membukakan pintu van.
"Boleh juga, kalian keluarlah." Kata Putri menyuruh kedua pria di dalam van keluar. Dia bisa melihat pengedar ini babak belur dihajar oleh kedua orang tadi.
"Kameranya menyala? Micnya?"
"Sudah menyala dari tadi." Jawab salah satu pria yang baru turun.
Putri menutup pintunya dan menguncinya, mobil van ini dirancang untuk tidak membocorkan suara sehingga teriakan meminta pertolongan tidak akan mempan disini.
Putri bertaruh si tersangka sudah mencobanya tadi.
"Apapun yang kau mau, aku tidak akan katakan padamu."
"Oh, benarkah?" Putri disambut dengan kalimat klise seorang kriminal. Tentu saja, hal ini akan sangat mudah baginya.
"Norman Pangabudi, 23 tahun, berhenti kuliah, bekerja menjadi pengedar sejak tahun lalu, yatim piatu, dan memiliki seorang adik perempuan bernama Laura Pangabudi. Apakah informasi ini benar?" Putri membacakan informasi yang didapatkannya dari Panda.
Tidak ada jawaban dari Norman si tersangka.
"Disini Prinses, kalian sudah tuntas melakukan tugas tambahan?" Tanya Putri menggunakan radio.
"Disini Anjing, kami sudah mendapatkannya. Lokasi kami di dalam van di bawah jembatan daerah Sukarmadi."
"Kalian cukup dekat, pergilah ke bawah jembatan daerah Thamrin."
"Dimengerti."
"Kau tahu, Norman. Sebenarnya kami dilarang merokok saat bertugas." Kata Putri sambil mengeluarkan rokok dari dalam sakunya. "Tapi atasan bilang kalau kami boleh lakukan apapun saat bertugas demi kesuksesan misi."
"Kau mau satu?" Tanya Putri sambil memasukkan rokok ke bibir Norman tanpa menunggu persetujuannya, lalu Putri menyalakan rokoknya kemudian rokok Norman.
Cklek
"Prinses, mereka datang."
"Terimakasih, Burung."
Putri tidak turun dari van, namun hanya memberi isyarat tangan untuk menyuruh mereka membawakan sesuatu padanya. Yang disuruh sudah paham apa yang dimaksud Putri, lalu segera membawakannya.
Bruk
"Terimakasih, Koi."
"Cepatlah, kita disuruh kembali saat tengah malam."
Putri mengangguk, Koi keluar dan meninggalkan mereka bertiga di dalam van.
Cklek
"Hei, Norman. Bisa kau tebak siapa ini?" Tanya Putri sambil membuka penutup kepala orang yang baru datang itu.
Norman langsung kaget, dia berteriak menjadi-jadi, karena tentu saja, yang dilihatnya kini adalah adiknya.
"Laura! Kenapa Laura disini?! Laura gak ada hubungannya! Lepas dia! Sialaan!"
"Hei, sadarlah!" Kata Putri sambil menepuk-nepuk pipi Laura.
"Lihat siapa di kursi."
"Hah? Kak? Kakak?"
Laura mulai sadar, dia melihat kakaknya duduk di kursi sambil berteriak-teriak histeris.
Laura masih belum sepenuhnya sadar jika dia berada dalam keadaan normal, namun saat ini dia berada dalam keadaan darurat di mana kakaknya sedang disekap bersama dengannya.
"Kakak! Kakak Norman! Kenapa kakak di sini?!" Laura seketika bangun dan berada dalam posisi bertumpu pada kedua lutut.
"Harusnya kakak pulang dan tidur!"
Plok plok
"Oke-oke, dramanya sudah selesai sampai di sini." Kata Putri memotong pembicaraan mereka. "Sekarang saatnya kita bermain permainan."
"Kau tahu, Norman. Menangkap penjahat sepertimu sebenarnya adalah hal mudah, namun mencari penjahat sepertimu sangat sulit." Lanjut Putri sambil mendudukkan Laura dalam posisi bersila.
"Peraturannya cukup mudah, Norman." Kata Putri sambil mengambil sebuah pistol revolver dengan kapasitas enam peluru.
Setelah mengisi pistol revolver tersebut dengan sebuah peluru, Putri memutar isi barelnya sampai ke titik terjauh, sehingga pelatuknya perlu ditarik 5 kali, baru tembakan keenam akan mengeluarkan peluru asli.
"Setiap pertanyaan yang tidak bisa dijawab, atau tidak mau dijawab, akan kutarik pelatuknya sekali ke kepala adikmu."
"Haaaaahhh! Haah! Aaaaah! Graaaahhh!" Norman histeris, dia meraung-raung dengan keras, namun raungannya tidak berguna karena dia diikat dengan kencang.
"Kakak, kakak hanya perlu menjawab pertanyaannya, lalu kita bebas." Kata Laura sambil mengeluarkan darah dari hidungnya, dia mimisan karena adrenalin.
"Nah, adikmu tahu caranya bermain, Norman. Kenapa kau tidak tahu?"
Sementara itu di luar, Panda sedang mengamati yang dilakukan oleh Putri di dalam van.
"Hei, kalian, lihat ini." Kata Panda sambil mengeluarkan tabnya.
"Dia selalu melakukan ini dan menurutku dia menyukainya."
"Mengintrogasi dengan memanfaatkan orang yang penting baginya ya. Apakah hal ini diperbolehkan?" Tanya seorang pria yang tadi mengangkut Laura ke dalam van.
"Sebenarnya tidak apa-apa. Tidak ada peraturan yang melarang introgasi semacam ini." Jawab Panda. "Tapi..."
"Tapi siapa yang mau melakukannya, ya?" Potong seorang wanita yang keluar dari dalam van.
"Menurutku hanya orang-orang gila saja yang melakukannya, seperti Prinses."
Putri memegang pistol yang sudah ditarik empat kali dan Laura mulai menangis karena kesakitan, sementara Norman kelelahan berteriak.
Jika dilihat lagi, mungkin besok atau lusa Laura sudah akan kehilangan akal sehatnya lalu sembuh beberapa bulan kemudian, atau mungkin dia tidak akan bisa kembali normal seperti dulu karena ada kemungkinan besar dia akan mengidap trauma seperti PTSD setelah kejadian ini.
"Ayolah, Norman. Kau hanya perlu menyebutkan semua nama yang kuinginkan. Siapa pelanggan kalian? Siapa pengedar lainnya? Dari siapa kau dapat sekilo ekstasi dan beberapa ons heroin?" Tanya Putri sambil mengetuk kursi besi Norman dengan pistol.
"Ah, aku tahu. Bagaimana kalau selanjutnya kupotong kaki adikmu, menggiling dagingnya lalu memasak burger untuk makan malammu, hm?"
"Jangan." Norman menjawab dengan pelan, terdengar giginya menggeletuk karena menggigil ketakutan.
"Aku akan berikan nama-nama yang kau inginkan."
"Nah gitu dong dari tadi, atau kau memang suka melihat adikmu trauma seperti itu?" Tanya Putri sambil menarik pelatuknya ke kepalanya sendiri.
"Atau kau menikmati adikmu disiksa?"
"Fffhhh, hahhh, fhhh, hahhh." Norman terengah-engah, nafas dan detak jantungnya meningkat drastis.
Meskipun dia tidak sedang berlari atau melakukan aktifitas tertentu, mengalami hal yang mengerikan seperti teror akan memberikan adrenalin dalam jumlah besar.
"Sebut nama-nama itu sekarang." Perintah Putri sambil mengarahkan pistol ke kepala Norman.
"Katakan!"
"Uhhh, huuuhh, haaahh, huuuhh." Norman mencoba tenang dan menyebutkan nama-nama yang bersangkutan dengannya, dan Putri sedikit jadi sabar dengan menunggunya.
Kursi introgasi ini dirancang oleh tim Prinses memang untuk kursi siksaan, dia membuatnya dari logam yang bisa mengalirkan listrik, memiliki lubang di bagian bawah kursi dan punggung kursi untuk menancapkan sesuatu, dan tentu saja microphone untuk merekam suara si tersangka.
Maka dari itu, Putri hanya perlu membuatnya berbicara.
"Huuhh, Sekar Nining Siyanti, ugh, Huang Jian." Kata Norman sambil berusaha menahan rasa sakitnya, sementara Putri sedang merokok di sudut ruangan.
"Hana Ichisa, Yordania Fusaha, Lukas Cane, Klaudia Ananta."
"Itu saja, itu yang kuhatu."
"Maksudmu, kutahu? Sepertinya aku memukulmu terlalu keras." Kata Putri sambil mematikan rokoknya yang tinggal sedikit.
"Kau akan segera mendapatkan penanganan khusus bersama dengan adikmu."
Cklek
"Hei kalian, waktunya bersih-bersih." Kata Putri sambil turun dari van dan duduk di sebelah Panda.
"Hari yang berat, bukan begitu, Prinses?" Tanya Panda sambil mengirimkan laporan ke mabes.
"Ya, tentu saja."
"Bagaimana soal kasus si perawan?" Tanya Panda.
"Oh, atasan sebenarnya tertarik dengan teman sekelasku."
"Apakah dia dicurigai?"
"Tidak, Panda. Tidak."
"Lalu?"
"Mereka, dan aku menyukai isi kepalanya."
"Maksudmu, dia pintar?" Tanya Panda lagi.
__ADS_1
"Tidak, dia jenius."
Keesokan harinya, saat Langit, Samudra dan Senja sudah sampai di sekolah, Putri secara sengaja datang bersamaan dengan mereka berdua dan bertemu di depan gerbang sekolah.
"Oh, kebetulan. Selamat pagi, tuan Safir." Sapa Putri sambil turun dari sepeda dan mulai menuntunnya.
"Pagi juga, umm." Samudra mewakili kakaknya menjawab salam Putri.
"Putri, Sri Sudarsih Kusumaning Putri." Kata Putri memperkenalkan diri pada Samudra.
"Uh, anu?" Senja berusaha terlibat namun suaranya terlalu kecil.
"Ah, namaku Samudra. Apa kau sudah bertemu sayangku sebelumnya?" Tanya Samudra dengan akrab.
"Aku sekelas dengan tuan Safir, nona. Jadi aku sudah mengenalnya. Iya, kan?"
Langit menoleh dan melihat Putri dengan seksama.
"Berhati-hatilah lain kali, kau tidak mau pekerjaanmu jadi kacau karena kau membawa beberapa hal ke sekolah."
Putri kaget, dia tidak menyangka kalau penyamarannya akan terbongkar secepat ini.
Karena kebocoran penyamarannya masih belum dipastikan, tangannya sudah berada di dalam tas dan menyentuh pistol dengan peluru 45 ACP.
"Kalau mau memasak, lebih baik jangan gunakan pisau. Pakai saja parutan, atau rebus bulat-bulat."
"Sayang, ikan akan hancur kalau diparut, dan memasak ayam bulat-bulat melanggar hukum kekerasan pada binatang." Kata Samudra memprotes kakaknya.
Putri salah sangka, dia kira penyamarannya terbongkar, ternyata hanya soal plester di tangan kirinya.
Selagi mereka memasuki area parkir dan mencari tempat parkir yang tersisa, Langit melanjutkan pembicaraan soal parutan tadi.
"Hmm, Kupikir aku bisa memarut ayam sama dengan memarut keju."
"Yaampun, biarkan saja aku yang memasak untuk kita, ya?" Samudra geleng-geleng.
"Aku mengandalkanmu."
Mereka berempat menemukan tempat parkir lalu kemudian memarkir sepeda masing-masing.
"Sebenarnya aku bisa memasak, namun hanya beberapa hal dasar saja." Kata Langit sambil berjalan menuju gedung kelas.
"Benarkah, tuan Safir?" Tanya Putri antusias, "Mungkin hanya merebus air atau merebus sayur bulat-bulat."
"Wow, bagaimana kau tahu?" Tanya Langit dengan nada datar.
"Kamu tahu, sayang? Kau ga perlu memaksakan diri untuk kaget."
Mereka semua tertawa kecuali Langit.
"Oh aku sampai lupa, kakak ini namanya Senja." Kata Samudra yang benar-benar lupa kehadiran sosok Senja di sekitarnya.
"Uh, halo. Aku tahun kedua." Kata Senja memaksakan diri.
"Oh wow, kau benar-benar menghilang sejak tadi." Kata Langit sambil terus berjalan.
"Ayolah, sayang. Jangan sakiti perasaannya."
"Kenalkan, nona. Aku Sri Sudarsih Kusumaning Putri, kamu bisa panggil aku Putri."
Senja tersenyum, diikuti senyuman dari Putri dan Samudra. Langit yang dari tadi pura-pura tidak peduli sebenarnya memperhatikan mereka melalui sudut matanya.
"Kita berpisah, sampai nanti." Kata Langit kepada Samudra sebelum masuk kelas.
"Sampai nanti." Samudra meraih pipi kakaknya dengan kedua tangannya dan memberi kecupan.
Putri dan Senja yang melihatnya kaget, mereka berpikir bahwa Langit dan Samudra memiliki hubungan khusus.
"A-aku, aku pergi dulu." Senja kembali lagi dengan penuturan katanya yang sedikit gagap.
Langit kemudian masuk kelas bersama dengan Putri, dan sepertinya Putri memiliki ide menarik.
"Wow, aku gak sangka tuan Safir tinggal dengan seorang cewek dan bahkan barusan dia memberimu ciuman selamat pagi."
Langit menoleh, Klaudia menoleh, semua anak di kelas menoleh, dan Putri menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil berkata, "Ups, aku terlalu keras?"
"Tuan Safir! Sepertinya aku ada perlu denganmu."
Ah, ketua kelas yang sejak awal semester berusaha menjadi ketua kelas yang baik datang menghampiri Langit yang berjalan santai menuju tempat duduknya.
Selagi teman-temannya berbisik dan menggosipkan sesuatu soal Langit yang tinggal bersama anak di bawah umur, ketua kelas datang ke bangku Langit sambil menenteng buku.
"Tuan Safir, harus berapa kali kubilang kalau tinggal berdua dengan anak di bawah umur itu ilegal. Bahkan berciuman di depan kelas saat pagi hari? Kepalamu kena hantam palu ya?"
"Oh, ada ketua Bozak rupanya."
Merasa dirinya diremehkan, ketua Bozak membanting buku berisi peraturan dan tata tertib di sekolah.
"Kau lihat ini? Ini adalah buku tata tertib yang tiap siswa harus taat!"
"Oh, kita punya yang seperti ini?"
Putri berdeham menahan tawa, lalu membungkuk tanda meminta maaf apabila mengganggu.
"Ya! Dan tugasku, Sophfia Bozak adalah untuk membuatmu ingat dengan tata tertib ini dan patuh pada semua yang ditulis disini."
"Oh, sangat membantu."
Ketua Bozak marah, dia menunjuk kepala Langit.
"Aku tidak peduli sepintar apa kau."
Jari ketua Bozak mendorong dahi Langit ke belakang, membuat pandangan Langit terangkat dan terpaksa melihat langit-langit kelas.
"Tapi kalau kau ti-"
Kalimat itu tidak pernah selesai, bukan karena bel masuk atau diganggu orang lain, melainkan Langit menghentikannya dengan mencekik leher ketua Bozak.
Langit berdiri, dia masih tetap mencekik leher ketua Bozak, teman-temannya yang lain tidak berani ikut campur karena mereka tahu, kekuatan satu kelas tidak akan bisa meruntuhkan Langit yang sangat kuat.
Langit memperkuat cekikannya, ketua Bozak sudah nyaris kehilangan nafas setelahnya.
"Kau tahu, ketua? Kepala adalah bagian penting manusia, di atas kepala dipasang mahkota raja negara monarki. Di dalam kepala berisi otak dengan segala kemampuannya. Dan di kepala juga, kehormatan seseorang terletak."
"Langit, ini mulai kelewatan." Kata Putri mencoba menenangkannya.
"Kau memiliki keberanian untuk menyentuh, dan mendorong mahkotaku. Aku tidak peduli siapa kau, entah pejabat, kepala sekolah, menteri, atau presiden sekalipun." Katanya sambil melepaskan cekikan di leher ketua Bozak sekaligus menuruti perkataan Putri.
"Dan dia itu adikku, sialan."
Langit mendongakkan kepala sambil melirik ke bawah di mana ketua Bozak sedang berusaha bernafas, menandakan bahwa dia tidak lagi menghormati Sophfia Bozak dan menganggapnya ketua.
"Kalau kau berani mendorong kepalaku, selanjutnya aku akan mencekikmu dan mengambil hak mu untuk bernafas dengan bebas."
"Mengerti?"
Sophfia kini bergetar, dia menggigil ketakutan, dia bersumpah dalam hati tidak lagi berurusan macam-macam dengan Langit.
"Kalau sudah mengerti, enyahlah."
"Selamat pagi, kak. Sayangku ada?"
Samudra masuk ke kelas dan mencari kakaknya, namun sepertinya dia masuk dalam situasi yang tidak tepat.
Semua murid yang ada di kelas Langit pun demikian, mereka menatap Samudra dengan tatapan yang seakan berkata, "Kamu seharusnya tidak berada di sini saat ini."
"Uh, anu?" Samudra mundur sedikit.
Sophfia Bozak berdiri dan memberikan tatapan penuh kebencian kepada Langit, dia yang ditatap kembali duduk dan tidak melihat sosok Sophfia Bozak lagi.
Sophfia yang merasa dirinya tidak lagi berharga bahkan untuk sekedar dilihat pun menjadi geram, namun saat ini dia tidak bisa melakukan apapun selain berbalik badan dan meninggalkan Langit di tempatnya.
"Oh, selamat pagi, dik. Kamu lagi cari siapa?" Tanya Sophfia pada Samudra yang masih merasa situasinya salah.
"Oh." Samudra sadar kalau dia harus menjawab pertanyaan ini.
"Aku lagi nyari sayangku."
"Masuk aja, tuh dia di dalam."
Samudra mengangguk, dia langsung masuk begitu dipersilahkan sambil menenteng sesuatu di tangan kanannya.
Dia melihat Langit sedang memejamkan matanya sambil menyilangkan kedua tangannya di paha, Samudra sangatlah paham kalau dia sudah sampai seperti itu, tandanya dia tidak boleh disentuh bahkan olehnya sendiri.
"Sayang, aku taruh di mejamu." Kata Samudra meletakkan beberapa lembar kertas yang sepertinya sangat penting untuk kakaknya.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
Samudra memandangi kakaknya yang masih diam, bahkan dia tidak mengucapkan 'iya' atau sekedar terimakasih padanya.
"Terimakasih kak, aku pergi dulu."
"Iya, hati-hati."
Sophfia melambaikan tangannya dari kejauhan, sementara dia masih di bangkunya sendiri bersama teman-teman perempuannya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya salah satu dari mereka.
"Aku gak apa-apa." Jawab Sophfia.
Sementara itu, Putri malah menghampiri Langit yang masih diam tanpa melakukan apapun selain bernafas.
"Aku ada perlu denganmu, tuan Safir. Ada yang harus kita bicarakan sepulang sekolah nanti."
Langit masih diam, Putri menyerah.
"Sampai nanti."
__ADS_1