
Langit pergi ke perpustakaan, dia mencari beberapa koran untuknya mencari sesuatu. Dia pergi ke ruang arsip tempat semua majalah dan Koran yang disimpan dari berlangganan Koran harian berada. Sekolah ini berlangganan dengan Daily Petral, Planet Asia, dan Panjebar Semangat. Ketiga perusahaan Koran itu masih menjadi idola sejak tahun 2094 hingga sekarang, dan mereka cukup baik dalam memberikan informasi penting.
Panjebar Semangat? Mereka sudah eksis sejak 1990-an.
"Halo, ada yang bisa kubantu?"
Seorang gadis yang ditugasi sebagai pengurus perpustakaan menawarkan bantuan pada Langit.
"Aku mencari semua koran yang membahas si perawan."
"Oh, soal itu. Aku bisa mencarikan raknya di komputer, bisa tunggu sebentar?"
"Terimakasih."
Sebenarnya sekolah ini memiliki guru yang merangkap sebagai petugas perpustakaan, namun guru itu juga harus mengajar di kelas dan membutuhkan bantuan beberapa murid dengan imbalan tambahan nilai dan mengamankan nilai B- di mata pelajaran matematika.
Makanya, ada banyak murid yang ingin menjadi petugas perpustakaan demi nilai mereka, namun hanya Sakurada Hiyori yang memiliki kapasitas sebagai kurator dan pustakawan yang cocok di bidang ini, meskipun dia dibantu petugas lain yang selalu datang saat jam istirahat.
"Kau sudah menemukannya?" Langit berpindah dari ruang arsip menuju meja petugas perpustakaan.
"Oh, ada banyak, perlu bantuan?"
Langit mengangguk, keduanya lalu pergi ke ruang arsip dan mengambil Koran dari rak XFF 218 hingga XFF 245. Koran yang dikeluarkan cukup banyak, entah dari kapan Koran-koran itu bertumpuk seperti ini.
"Terimakasih, Sakurada."
"Sama-sama, umm."
"Langit Safir."
"Terimakasih kembali, Safir."
Dia membungkukkan badan sedikit, dibalas dengan bungkukan yang sama oleh Langit.
Dia paham kalau tradisi membungkukkan badan pada orang lebih tua, atau saat mengucapkan salam dan berkenalan masih dilakukan oleh beberapa orang keturunan Asia Timur seperti Sakurada Hiyori.
Langit membuka Koran satu-persatu, dibacanya perlahan tanpa melewatkan sedikitpun huruf.
"-tersangka si perawan tertangkap, HD, umur 12 tahun, tidak terbukti bersalah, bagaimana bisa?"
Langit berpikir kenapa ada anak berumur 12 tahun sampai terlibat, meskipun akhirnya tidak terbukti dan dibebaskan.
"-tulang rusuk terbuka, organ vital utuh. Ini jelas bukan si perawan. Dia tidak melukai tulang."
Langit membuka lembaran Koran yang lain, sambil membuka semua Koran yang ada, dia berusaha menyambungkan semuanya menjadi satu.
Penelitian jurnal seperti ini mungkin akan efektif, karena Langit tidak memiliki akses apapun kepada pelaku kejahatan, seperti bawahan yang bisa diintrogasi, atau barang bukti yang bisa memberikan petunjuk.
Meskipun dari peristiwa kemarin ada bawahan si perawan, namun mereka hanya memberikan informasi samar bahkan hingga akhir hayat mereka.
Langit hanya bisa mempelajari kerangka, pola, dan mengurai tali yang kusut hingga kembali lurus, inilah yang dilakukan peneliti jurnal.
"Semuanya mengambil organ, namun banyak dari mereka yang melukai fisik berlebihan."
Langit melihat Koran yang lain.
"Yang ini sampai memutilasi. Ini jelas bukan si perawan pelakunya. Lalu yang mana?"
Langit membuka kembali semua koran dan tidak menemukan petunjuk pelaku si perawan.
"Masa polisi sampai salah tuduhan kasus sih?"
Langit membuka koran terakhir, dia membaca judulnya.
"Si Perawan Kembali Beraksi! J.S. menjadi korban!" Mereka menulis judulnya seperti menulis iklan ponsel terbaru.
'Hmm, J.S., berumur 18 tahun, memiliki banyak prestasi, kaya, cantik, dan belum pernah berpacaran. Dia dibunuh dengan menyembelih lehernya hingga kejang-kejang dan kehabisan darah, sama seperti korban belakangan ini.' Pikir Langit.
'Kota Pertanjang, lalu Tanpel, Petanggung, Katseban, Petalang, lalu kembali ke Pertanjang.'
Langit melotot, dia menemukan polanya. Segera dia mengirimkan pesan singkat melalui ponselnya menuju Putri yang berada di kelas. Dia juga meminta kehadiran Panda secara online.
Sambil menunggu, Langit membereskan semua korannya dan menumpuknya menjadi satu lagi, kecuali yang dia pegang saat ini, dengan korban bernama J.S.
Cklek
"Permisi." Putri masuk.
"Iya, apakah ada kelas di Perpustakaan? Jika tidak, silakan kembali ke kelas." Kata Sakurada Hiyori yang melakukan tugasnya sebagai pustakawan.
"Oh, kelasku baru selesai mengerjakan kuis, karena tidak nyaman di Kafetaria, maka aku ke Perpustakaan."
"Kelas apa?"
"Sekelas dengan Langit yang duduk di sana."
"Baiklah, silakan masuk."
Pustakawan Sakurada menulis nama dan kelas Putri di buku tamu.
Karena nama setiap siswa ada di papan nama yang wajib mereka pakai, maka para guru dan petugas lain tidak akan kerepotan memanggil nama mereka.
"Hei, tuan. Memanggilku?" Sapa Putri sambil duduk di kursi.
Langit melirik Putri yang belum dipersilakan duduk, "Ya, silakan duduk."
Putri yang sudah duduk lalu dipersilakan duduk lagi merasa tersinggung.
"Aku pergi nih."
"Silakan, kalau tidak mau mendengar informasi terbaru si perawan."
Putri geram, Langit memiliki tingkat ke-satir-an dan sindiran yang tinggi, juga punya alasan kuat untuk membuat orang menurut padanya.
Keputusan mengancam akan pergi hanya akan membuat Putri terlihat bodoh dan kekanak-kanakan, dan sialnya, hal itu terjadi barusan.
"Okay, katakan."
"Mana Panda?"
"Dia off, aku akan kirimkan log pembicaraan kita padanya untuk diolah."
"Okay. Si Perawan memiliki pola tempat mereka melakukan pembunuhan."
"Maksudmu? Mereka beroperasi di kota tertentu?"
"Ya, dan ada urutannya."
Putri memegangi kepalanya, dia kesulitan memproses yang dikatakan Langit. Langit yang paham kondisi Putri menegaskan sekali lagi, "Ini seperti urutan jam operasi mereka."
"Oh! Begitu?"
Ting!
Pustakawan Sakurada membunyikan lonceng di pinggirnya dan memandang Putri dengan tatapan mengancam, Putri yang baru sadar kalau dia bersuara terlalu keras membungkuk sedikit sebagai permohonan maaf.
"Tenanglah, otakmu memang lambat untuk urusan seperti ini. Akan kujelaskan dengan penjelasan yang bisa dimengerti dengan mudah bahkan oleh anak SD."
Putri agak kesal, "Lalu?"
"Begini, kemarin kita menangkap pelaku di keluarga Stephaniel di kota Pertanjang. Sebelumnya kita mendapat laporan kalau ada korban penculikan di kota Petalang."
Langit berdiri, dia mengambil koran yang dibacanya tadi dan menunjukkannya kepada Putri.
"Korban J.S. ditemukan di kota Katseban."
"Ya, dan kalau melihat di laporan kepolisian, sebelumnya juga ada korban di kota Petanggung."
Langit mengangkat tangannya sambil menoleh ke pustakawan Sakurada Hiyori, yang dilihat oleh Langit pun paham dan menyuruh temannya yang baru datang untuk menghampiri Langit.
"Ada yang bisa kubantu?"
"Uh, kukira Sakurada yang akan membantuku. Siapa namamu?"
"Namaku Loseva Tanya Chenga."
"Okay, Chenga. Bisa ambilkan aku peta kota Pertanjang? Yang ada jalur keretanya."
"Tentu."
Langit duduk, dia melihat Putri yang sedang berpikir keras.
Cklek
"Permisi."
"Silakan, siapa namamu dan apa keperluanmu?" Tanya Sakurada Hiyori.
"Aku Samudra, kelasku harus pakai buku Aufklarung, aku hanya meminjamnya selama jam pelajaran."
"Baiklah."
Aturan perpustakaan di SMA ini cukup ketat, sebenarnya tidak hanya perpustakaan, namun hampir seluruh fasilitas sekolah memiliki aturan yang ketat.
Beberapa siswa bisa saja memalsukan keperluan dan membolos kelas di UKS atau perpustakaan, makanya mereka harus memiliki alasan yang jelas agar bisa mengakses fasilitas tanpa larangan.
Kecuali kalau mereka bilang ingin membolos, dengan senang hati pengurus fasilitas akan mengijinkan mereka.
Dengan konsekuensi, mereka akan sulit mendapatkan nilai C di mata pelajaran yang diujikan.
"Sayang?"
Langit menoleh, "Oh, kau ada apa kemari?"
"Aku mau cari buku Aufklarung, tadi pagi lupa bawa."
Langit melirik susunan rak buku, Samudra paham apa maksudnya.
"Terimakasih, sayang."
Samudra pergi ke rak buku yang dilirik oleh Langit, dia menemukan buku Aufklarung di barisan tengah deretan sejarah.
"Kalian ini unik ya?" Kata Putri.
"Hm?"
__ADS_1
"Maksudku, kau bahkan tidak bicara banyak padanya sebanyak dia yang padamu lakukan."
"Bahasamu kacau." Langit mengomentari susunan kalimat Putri yang terbalik.
"Oh maaf."
Langit menghiraukan Putri, dia menunggu peta yang saat ini sedang diantarkan padanya.
Selagi menunggu, dia juga memperhatikan Samudra yang melambaikan tangannya dari meja petugas perpustakaan seakan-akan bilang, 'Aku pergi dulu' pada Langit.
"Ini dia." Katanya sambil meletakkan gulungan peta di meja.
"Terimakasih, Chenga."
"Sama-sama, um."
"Langit Safir."
"Terimakasih kembali, Safir."
Chenga kembali ke tempat di mana Sakurada berada.
"Lihat ini, kota Pertanjang, Tanpel, Petanggung, Katseban, dan Petalang berada di jalur kereta."
Langit menunjuk ke kota-kota yang dimaksud menggunakan spidol hitam.
"Kita ada di sini, mari kita tarik garis ke kota Petanggung."
Putri memerhatikan garis lurus yang ditarik Langit.
"Lalu Petalang, Tanpel, Katseban, dan kembali lagi ke Pertanjang."
Putri membelalakkan matanya saat dia menyadari garis yang ditarik oleh Langit membentuk simbol bintang lima sudut meskipun garisnya tidak sama panjang dan terkesan berantakan.
"Ini-?"
"Yap, mereka benar-benar okultis."
Putri menghela nafas dengan berat, dia tidak mengerti langkah selanjutnya.
"Lalu, apa kamu punya rencana?" Tanya Putri dengan penuh harap.
"Aku punya rencana." Jawab Langit yang lalu mengeluarkan tabletnya.
"Mari kita asumsikan kalau mereka muak."
"Muak?"
"Dengar, kita sudah dua kali menggagalkan rencana mereka. Mereka harus mendapatkan jumlah tumbal yang cukup dalam waktu dekat seperti yang kukatakan sebelumnya." Jawab Langit sambil membuka daftar pencatatan sipil.
"Mereka akan menyerang secara serentak di setiap kota."
Putri mengernyitkan dahi, dia keheranan bagaimana Langit mampu menyimpulkan sesuatu seyakin dan secepat itu tanpa didasari dasar yang kuat.
"Kamu yakin?"
"Firasatku mengatakan demikian."
"Lagi?" Putri menghela nafas panjang seperti orang kewalahan karena mengasuh anak kecil, "Dengar, Langit. Sudah berapa kali aku harus mempercayai firasatmu yang bahkan gak ada dasarnya. Aku gak bisa terus-terusan percaya ke firasatmu."
"Firasatku sudah menggagalkan rencana mereka dua kali, coba kau hiraukan fakta itu." Jawab Langit tenang sambil menggeser dan mengetuk layar tabletnya.
Putri terdiam, dia tahu kalau Langit memiliki intuisi yang ketepatannya tidak masuk akal.
Dia tahu Langit punya IQ sebanyak 200, namun EQ sebanyak 73. Namun tetap saja, Putri tidak bisa terus mempercayakan nyawanya dan nyawa anggotanya kepada intuisi dan firasat Langit yang tidak berdasar.
"Oh, kalau kau bingung kenapa aku berpikir mereka akan menyerang secara serentak."
Putri tersadar dari lamunannya dan memperhatikan Langit yang mengirimkan data personal ke ponsel Putri.
"Itu karena jika aku menjadi si perawan, aku juga akan melakukan hal yang sama."
Putri kaget, dia pernah mendengar kalimat, 'Penjahat yang tak tertangkap adalah penjahat jenius, kau harus menjadi penjahat jenius yang sama untuk menangkapnya' namun tidak pernah mengalaminya secara langsung.
Baru kali ini, Putri melihat Langit sebagai seorang penjahat jenius, bukan sebagai rekan tim atau teman sekelas.
"Langit, aku akan mempercayakan nyawaku dan nyawa rekan timku padamu. Bisa kau bertanggung jawab dengan kebenaran semua informasi darimu?"
Langit melihat wajah Putri yang menampakkan kekhawatiran akut.
"Diamlah dan suruh tim berkumpul di markas setelah pulang sekolah."
Putri mengangguk, dia beranjak pergi dari kursinya namun tertahan oleh tangan Langit.
"Sebelum kau keluar, aku akan melakukan penelitian lebih lanjut. Bisa kau urus surat ijin agar aku tetap berada di sini?"
"Tentu, Langit."
Putri kemudian berjalan menuju ruang guru dan menemui bu Aurum, semua murid di kelasnya memanggilnya Marigold karena rambutnya pirang dan namanya adalah Aurum Marisa.
Aurum sendiri adalah nama ilmiah yang ada di tabel periodik untuk menyebutkan emas, itu sebabnya kode unsur dari emas adalah Au, yang berarti Aurum.
"Permisi." Kata Putri dengan sopan setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali, setelah itu dia langsung pergi ke meja bu Aurum.
"Maam?"
"Ya? Ada apa, dear?"
"Oh, bisa. Ini suratnya dan berikan saja pada pustakawan di sana." Kata bu Aurum tanpa memberikan syarat apapun.
"Maam, tidak ada syarat atau prosedur tertentu?"
"Hm?" Bu Aurum melihat wajah Putri dengan lebih teliti, "Kamu pindahan ya?"
"Iya, maam." Jawab Putri sambil mengangguk.
"Langit itu, dia kebanggaan dan kepercayaan semua guru. Semua nilainya sempurna sejak kelas 1, dan kalau kamu pernah ke ruang tengah di kamarnya, akan ada sangat banyak piala, minimal juara 2."
"Oh, wow. Sehebat itukah dia?" Sebenarnya pertanyaan ini hanya basa-basi karena Putri sudah tahu jelas semua hal tentang Langit Safir, soal piala, Putri pernah melihatnya saat insiden penculikan di kediaman Langit.
"Iya, makanya semua guru percaya sama dia kalau dia itu belajar. Bahkan dia kadang suka keluar kelas lalu pindah ke kelas lain."
"Heeh, ada ya yang begitu."
"Langit tuh buktinya, hahaha."
"Hihihihi."
"Wah, keasikan ngobrol sama kamu, maam jadi lupa waktu. Sana ke kelas, 2 menit lagi bel loh."
"Iya, terimakasih, maam."
Setelah Putri keluar dari ruang guru, dia bergegas berjalan ke perpustakaan dan menyerahkan surat ijin itu pada pustakawan di sana.
"Tolong ya." Kata Putri sambil menundukkan kepala.
"Ahahaha, santai aja."
Sementara Langit berada di perpustakaan, Putri yang tidak berpartisipasi dalam 'penelitian' pun pergi dari perpustakaan dan saat ini sedang duduk di kursi yang tidak ditempati Langit, karena dia sedang berada di perpustakaan hingga akhir jam pelajaran, sepertinya.
Dan selama itu, Putri bekerja keras mendengarkan guru dan mencatatnya di kertas kosong untuk diberikan pada Langit.
Teman-temannya memperhatikan Putri yang duduk di kursi Langit dengan tatapan sinis, beberapa kali Putri mendengar mereka mengatakan sesuatu seperti, 'dia kira dia siapanya Langit?' dari beberapa siswi.
"Sepopuler itukah Langit?" Pikir Putri.
"-dari distribusi phoneme ini ada yang ingin ditanyakan?" Tanya pak guru kepada murid-muridnya yang tidak menanyakan apapun padanya.
"Ayo bertanya, saya sudah berulang kali katakan ini, kalau kalian punya nilai bagus, tidak masalah tidak bertanya karena memang paham. Yang jadi masalah kalau kalian tidak paham tapi diam saja."
Putri mengangkat tangannya.
"Ya?"
"Pak, semisal kita sudah menemukan complementary distribution dan sudah menentukan data yang dimaksud, selanjutnya kan kita melakukan penyajian data, nah itu cara menulisnya bagaimana?"
Pak guru berdiri dan mengeluarkan spidol.
"Apabila sudah ditemukan simillar pair, maka tidak perlu dicari complementary distribution-nya. Tapi kalau yang ketemu malah complementary cistribution, maka ditulis seperti ini."
Pak guru menuliskan bagaimana dia menjawab distribusi phoneme berdasarkan data yang dipakai.
"Jelas?"
"Jelas, pak. Terimakasih." Jawab Putri sambil mengeluarkan ponsel dan memotret papan tulis.
"Ada pertanyaan lain? Mumpung saat ini kita sedang fokus mempelajari phonetic and phonology, kita akan membahas habis tentang distribusi phoneme dari satu allophone."
Kriiing kriiing kriiing
"Yak, waktunya sudah habis. Silakan dicek di e-learning kalian untuk melihat tugas yang harus dikumpulkan minggu depan. Selamat siang." Kata pak guru sambil meninggalkan kelas.
"Selamat siang." Jawab para murid serentak.
Semuanya gaduh, ada yang protes karena tiba-tiba diberi tugas, ada yang bahkan tidak mendengarkan sama sekali.
"Duh, tadi aku lupa gimana caranya bedain vowel. Pinjem catatanmu bentar dong, mau lihat." Kata seorang murid laki-laki.
"Hah? Aku aja gak catet kok! Aku gak tahu apa-apa." Jawab temannya.
Putri menghela nafas, dia merasakan yang dirasakan oleh Langit. Pasti berat berada di kelas berisi orang-orang yang kurang mampu berpikir.
Tok tok
"Permisi, kak."
Samudra datang memasuki kelas.
"Iya? Mau cari Langit, dek? Dia di perpus."
"Iya, kak. Ini aku cuma mau beresin tasnya kok."
Samudra pergi ke meja kakaknya, dia melihat Putri sedang membereskan kekacauan yang dibuatnya di meja Langit.
"Kakak ngapain di meja sayangku?"
"Iseng aja." Putri membereskan buku-bukunya dan memasukannya ke dalam tas, "Oh ya, ini catatan biar disalin Langit. Bisa kau berikan padanya?"
__ADS_1
"Wah, makasih, kak." Samudra tersenyum lebar.
Samudra memasukkan catatan dari Putri ke dalam tas kakaknya lalu membereskan sisanya.
"Oh ya, Putri." Seorang siswi menghampiri Putri ditemani dengan dua gadis lain.
"Ya?" Jawab Putri singkat sambil memakai tasnya bersiap untuk pulang.
"Bisa kau ikut kami?"
Tanpa persetujuan Putri, satu di antara mereka merangkul Putri dan menyeretnya keluar kelas.
"Lagi?" Kata seorang siswi di kelas, "Dasar kelakuan, kurang kerjaan banget sih."
"Emang kenapa, kak?" Tanya Samudra yang sudah siap pergi dari kelas.
"Adek lihat yang pergi sama Putri tadi?" Tanyanya.
"Hm-hm." Jawab Samudra mengangguk.
"Itu gengnya Dawain, mereka tuh, duh, pokoknya masalah banget deh." Jawabnya samar, "Dia tuh tergila-gila banget sama Langit. Karena Putri duduk di kursinya, dia merasa Putri tuh cari perhatian banget gitu."
"Ah? Emang ada yang begitu? Kok aku gak pernah?"
Samudra menurunkan tasnya dan duduk di kursi.
"Dia pernah cerita dengan keras di kelas tentang kamu, kalimatnya kalau gak salah tuh begini, 'Samudra? Adek kelas yang suka panggil Langit pake panggilan 'sayang'? lihat tuh si Langit, dia aja gak peduli sama Samudra.' gitu." Jawabnya menjelaskan panjang lebar.
"Hm, seru nih kayaknya. Kira-kira mereka dibawa kemana, kak?"
"Kalau Desi bulan kemarin dibawa ke belakang toilet sekolah. Di sana gak ada CCTV." Jawabnya sambil melihat Desi yang mendengarkan pembicaraan mereka, Desi menunjukkan raut wajah sedih.
"Makasih ya, kak. Aku pulang duluan. Kakak gak pulang?"
Samudra berdiri lalu memakai tasnya.
"Oh, kakak masih ada bimbingan sama bu Asabi, beliau selesai rapat kira-kira sebentar lagi."
"Kalau gitu aku duluan, bye, kak." Jawab Samudra sambil melambaikan tangan.
SMA Negeri Pertanjang terkenal karena independensinya di kegiatan ajar-mengajar. Meskipun sekolah negeri, mereka tidak mengikuti kurikulum SMA yang seharusnya dari menteri pendidikan, justru SMA Negeri Pertanjang banyak dipuji karena sukses meluluskan murid yang sangat hebat di bidangnya, meski beberapa ada yang gagal lulus dan menjadi pengangguran, namun angkanya sangat kecil.
Sekolah ini menggunakan sistem yang sama seperti kampus pada umumnya, setiap semester para murid akan dihadapkan dengan pilihan mata pelajaran wajib dan pilihan.
Yang wajib adalah matematika terapan, intermediate English, Kesenian tingkat menengah, dan Bahasa Republik tingkat menengah.
Sedangkan mata pelajaran pilihan adalah kimia, fisika, biologi, ekonomi, sejarah, dan sosial.
Sebelum memilih kelas, para murid akan mengikuti ujian di hari pertama untuk menentukan kelas mereka dan menentukan porsi pelajaran yang akan diberikan.
Cara ini terbukti efektif dan hanya SMA Negeri Pertanjang juga SMA Negeri Prasetya Mulya yang mampu melakukannya.
Meskipun ada banyak prestasi yang dihasilkan SMA Negeri Pertanjang, ada juga sisi negatif yang selalu ada hampir setiap tahun.
"Hei, kau kenal aku kan?" Tanyanya pada Putri yang dipojokkan ketiga gadis.
"Irene Dawain?"
"Benar sekali, hahaha." Mulutnya terbuka lebar sekali saat dia tertawa, Putri bisa menebak apa yang akan dikatakan Irene selanjutnya."
"Aku ini akan menjadi pengantinnya Langit, kau tahu?"
Putri menghela nafas, dia sudah menduga akan seperti ini. Langit memiliki penggemar fanatik dan itu sangat mengganggu.
"Oh, kalau begitu nyonya Safir, bisa kamu biarkan aku sebentar? Aku punya masalah penglihatan."
Irene tersenyum lebar sekaligus menakutkan saat Putri memanggilnya dengan nama marga Safir. Putri lalu memakai kacamata dari dalam tas selempangnya dan bersiap mendengarkan perkataan bodoh dari Irene.
"Lalu kedua orang itu?"
"Oh, mereka Stancy dan Luseat."
"Oh, mereka lahir di Barat Daya?"
"Kau tahu banyak ya." Jawab Luseat sambil mengembuskan asap rokok dari tabung rokok elekrtik miliknya.
"Tentu saja." Jawab Putri singkat.
"Apa kau tahu Irene anak siapa?"
"Tentu saja." Jawabnya lagi.
"Apa kau bisa menjawab lain selain 'tentu saja'?" Tanya Stancy bergantian.
Putri terdiam sejenak, lalu menjawab, "Tentu saja."
"Oh aku muak dengan anak ini!" Stancy mengangkat tangannya tinggi hendak menampar wajah Putri.
Putri sudah melewati hal ini ratusan kali selama dia bekerja di kepolisian, solusi terbaik adalah menangkap tangannya dan menendang kakinya hingga terjatuh, namun Putri berpikiran lain.
"Hek!" Putri mencekik leher Luseat dan menariknya.
Plak! Tamparan keras mendarat di wajah Luseat.
"Beraninya kau!"
Irene mengangkat tangannya ingin menampar Putri.
"Ah, ini ngapain sih? Gak ada cara lain selain menampar, kah?" Pikir Putri yang mengepalkan tangannya lalu merendahkan badan.
Irene meleset, Putri berdiri lagi dari posisi rendah dengan cepat dan mendaratkan upper cut di dagu Irene.
"Irene!"
"Wah gawat, dia pingsan." Pikir Putri.
Luseat dan Stancy mengerahkan kekuatan mereka untuk menghajar Putri dengan pukulan asal-asalan. Putri yang menangkis semua pukulan mereka merasa bosan karena dia melawan amatiran yang bahkan tidak membuka mata saat memukul.
"Hah, apa boleh buat."
Putri melayangkan beberapa gerakan 'lembut' pada mereka. Seperti mengunci kepala Luseat dengan mengapitnya di pergelangan tangan lalu dihantam dengan lutut, dan menendang kaki Stancy hingga terjatuh dan teriak kesakitan.
Putri pun berjalan pergi dari belakang toilet sekolah menuju tempat parkir.
"Hei, mau pulang bareng?" Tanya Putri.
Samudra kaget, kenapa dia bisa tahu kalau dia berada di dalam toilet selama ini.
"Ah, iya."
"Bagaimana?" Tanya Putri.
"Oh, kedengarannya bagus, aku gak lihat semuanya sih." Jawab Samudra tanpa merasa bersalah, "Tapi kakak hebat deh, bisa ngelawan mereka. Aku aja harus dibantu sayangku."
"Memangnya mereka sangat merepotkan?" Tanya Putri yang membuka kunci pengaman sepedanya.
"Kak Irene itu putri pertama keluarga Dawain. Dia kan pejabat wakil ketua DPMD." Jawab Samudra sambil mengambil sepedanya.
"Wah, pasti agak merepotkan ya."
"Makanya, kak. Aku khawatir kakak kena masalah."
Putri mengelus kepala Samudra, "Aku akan baik-baik saja."
Sementara mereka pulang, Langit baru saja keluar dari perpustakaan.
Sebenarnya dia ingin membantu membereskan pekerjaannya yang sudah selesai, namun dia disuruh pulang karena sudah menjadi tugas pustakawan untuk membereskan buku yang selesai dipakai.
"Sudah, pulanglah, Safir. Biar aku dan pustakawan lain yang membereskan ini."
Begitulah katanya. Langit pun berjalan keluar perpustakaan sambil mengeluarkan ponselnya. Lalu melakukan rutinitas memainkan catur online di tabletnya.
Biasanya, dia melawan orang yang cukup kuat saat mengantri di custom match, makanya Langit selalu online saat jam pulang sekolah karena lawannya juga menarik perhatiannya.
Saat dia memainkan catur, dia menelpon Panda.
"Panda, halo?"
"Halo, ada apa, Lang?"
Panda sedang sibuk mengetik sesuatu di komputernya. Komputer di ruangan Panda mirip sekali dengan yang ada di kamar Langit. Punya 3 monitor terpisah dengan satu papan ketik dan satu mouse.
"Ada rencana operasi penangkapan si perawan."
Klik
Setelah menggerakkan bentengnya, Panda kembali fokus ke pembicaraan Langit.
"Bagaimana?"
"Kau ada di depan komputermu kan? Buka peta kota Pertanjang."
Panda membuka peta yang dimaksud, lawannya yang melawannya secara online sudah menggerakkan ratu, Panda pun menggerakkan menterinya.
"Kita akan melakukan operasi besar-besaran untuk menangkap si perawan."
"Jelaskan." Jawab Panda sambil menggerakkan pion sebanyak dua langkah.
"Pola si perawan berdasarkan waktu sudah ditemukan tempo waktu, namun aku baru sadar kalau TKP juga memiliki pola."
Panda mendengarkan menggunakan headset sambil memperhatikan papan catur di monitornya, dia baru saja kehilangan benteng karena ratu.
"Polanya adalah Pertanjang, lalu Tanpel, lalu Petanggung, Katseban, dan Petalang-haah" Terdengar Langit menghela nafas di telepon, lalu dia melanjutkannya lagi, "Mungkin agak berat, namun kita akan menyergap seluruh kota."
Panda mendengarkan dengan perasaan sebal, dia terjebak dalam situasi sulit.
"Aku menyarankan pembentukan 40 tim dari pasukan khusus, dan seluruh anggota kepolisian. Pemimpin operasinya aku sendiri, dan komandannya Putri."
"Okay, aku akan mengatakannya pada Prinses." Jawab Panda sambil membunuh menteri menggunakan kuda, "Tapi kau yakin?"
"Aku pernah salah?"
Panda tersenyum, dia melihat lawannya menggerakkan ratunya dan menjebaknya dalam situasi skakmat.
Untuk kesekian lainya dikalahkan oleh lawan dengan ID pemain SapphireSky06.
"Mungkin tidak."
__ADS_1