Presage Flower: Safir'S Sorrow

Presage Flower: Safir'S Sorrow
Stewarts


__ADS_3

Akhirnya, Judith Stewart ada di dekatnya dan menunggu untuk dihakimi olehnya. Langit lalu keluar dari kamarnya dan mendapati Petra sudah ganti baju, sudah menghapus kosmetiknya, dan mengurai rambutnya, namun dia masih mengenakan mahkota di kepalanya.


"Samudra, Oakrose sedang kemari."


"Oakro-aah, dia, lalu kak Petra?"


"Kita buat pingsan, cepat."


Langit mengambil pemukul bisbol sementara Samudra mengambil tali yang tadi dilepasnya dari ikatan Petra.


"Wah, terimakasih, aku mencintaim-eegghh."


Baru saja Petra akan mengatakan cinta, Langit sudah memukulnya duluan dan menginjak-injak perutnya berkali kali, sementara Samudra melilitkan tali di leher Petra dan mencekiknya agar tidak bisa bernafas.


Setelah itu Langit memukuli badan Petra mulai dari menendang dadanya, menghantam bahunya, memukul pahanya, rasa sakit yang luar biasa itu membuat Petra semakin menginginkan lebih dan lebih, jika bisa, dia ingin diestrum saat ini dengan lilitan kabel listrik di sekujur tubuhnya, hanya saja Langit tidak sempat, tidak sampai dua menit, Petra pingsan.


"Rebus air, masukkan tepung terigu dan beri pewarna merah dan hitam." Kata Langit kepada adiknya yang tanggap dan segera melaksanakan perintah kakaknya.


Setelah merebus air dan memasukkan tepung terigu yang disaring, Samudra memasukkan pewarna merah gelap dan hitam, lalu mengaduknya.


Dengan ini, darah buatan selesai dibuat. Karena Samudra paham kegunaan darah palsu ini, dia menumpahkanya di tubuh Petra dan membuatnya terlihat seperti seorang korban.


Langit keluar dari kamarnya dengan estoc miliknya dan sudah siap di depan pintu.


Tok tok tok.


Pintu diketuk, tentu saja Langit tahu siapa di balik pintu itu, namun dia hanya ingin memastikan lagi bukan siapa-siapa selain Oakrose di balik pintu itu.


"Siapa?"


"Oakrose." Jawabnya dari balik pintu.


Langit membuka pintunya, dia mendapati 4 orang selain Oakrose sedang berdiri gemetaran, mereka tidak diikat, diborgol, atau ditahan dengan sesuatu, namun Oakrose menahan mereka untuk kabur dengan mengacungkan pistol dari balik jubahnya setiap waktu.


"Masuklah."


Semua orang masuk, termasuk Oakrose karena Langit belum melunasi pembayarannya.


Keempat orang itu kaget saat melihat seseorang sedang di lantai dan bersimbah darah, mereka meski tanpa mengeluarkan suara, sangat terlihat kalau mereka ketakutan dan ingin segera pergi dari situasi mencekam ini dan melupakan semuanya dengan tidur di kasur yang empuk.


"Duduklah." Kata Langit sambil meminta pistol milik Oakrose.


"Aku yakin kalian tahu siapa aku saat mendengar nama Safir Opal." Kata Langit, "Samudra, siapkan."


"K-kau, kau anak dari Opal?" Tanya seorang pria dengan gigi yang gemetaran, matanya menunjukkan rasa takut, begitu juga istrinya dan kedua anaknya yang masih remaja tanggung.


"Ya, aku putra pertama Opal, aku juga yakin kau tahu siapa dia." Kata Langit sambil menggoyangkan dagunya ke arah Samudra.


"Kau membunuh orang tuaku, dan orang penting bagi kami." Kata Langit menegaskan kasusnya.


"M-ma, maafkan kami."


"Kalau tidak salah, namamu Judith Stewart, kan? Siapa nama istrimu?"


"N-Na, Natalie Stewart."


"Lalu siapa dua anak remaja ini?"


"B-Baron, Baron Stewart, dan, Diene Stewart."


"Hei, Diene Stewart, bisa kamu maju selangkah?"


"A-apa, apa?"


"Majulah selangkah."


"B-baik."


Setelah Langit menyuruhnya maju selangkah, remaja perempuan bernama Diene itu mengangkat lututnya dan melangkah satu langkah ke depan.


"Bisa kau agak menunduk?" Pinta Langit sambil melirik Samudra yang berdiri di samping Natalie dengan pemukul bisbolnya.


"B-baik." Jawab Diene yang lalu menundukkan kepalanya sedikit demi sedikit.


"Kalian tahu, para Stewart? Merenggut kebahagiaan seseorang itu mudah."


Duak!


Samudra memukulkan pemukul bisbol tepat di kepala Diene bagian belakang, menyebabkan wajahnya menabrak lantai dengan keras.


"Aaaahhh-aghk!"


"Diene!"


"Tidak! Diene!"


"Anakku!"


Langit mengokang pistolnya, lalu mengeluarkan amunisi pistol di tangannya, sehingga hanya ada satu peluru tersisa di selongsong dan tidak akan bisa menembak lagi hingga diisi yang baru.


"Salah satunya adalah menghancurkan yang terkasih." Kata Langit sambil berdiri dan meletakkan pistolnya di depan Diene.


"Mari buat kesepakatan, Diene." Kata Langit sementara Diene menangis, orang tuanya juga menangis, kakaknya tidak bisa berhenti mengerang, "Bagaimana kalau kamu tembak salah satu keluargamu dan aku mengampuni sisanya?"


Langit menjulurkan tangannya ke belakang, Oakrose paham dan memberikannya sebuah pisau.


Sleb!


"Aaahhk!" Langit menusuk tangannya dengan pisau yang diberikan Oakrose.


"Kalau kamu menolak, pisau ini menancap di kepalamu."


Langit berjalan mundur, begitu pula adiknya dan Oakrose.


"Tembak aku, Diene! Selamatkan ayah dan ibu!"


"Diene! Jangan turuti kakakmu! Tembak saja ayah! Ini salah ayah!"


"Dengarkan ibu Diene! Tembak ibu saja! Ayah dan kakak akan melindungi kalian!"


"Diene! Tembak saja aku!"


"Jangan Diene! Arahkan pistol ke ayah!"


"Diene!"


"Diene, apa yang kau lakukan, Diene!" Ayahnya berteriak saat Diene mengarahkan pistolnya ke kepalanya sendiri, "Jangan Diene!"


"Diene! Buang pistol itu, Diene!"


Dor!


"Diene! Diene!"


"Tidak! Anakku! Diene!"


"Safir ********! Terkutuk kau!"


Langit menyaksikannya sendiri, betapa mudah hati manusia dikelabui, hanya membutuhkan kondiri yang tepat hingga mereka menuruti kemauannya bahkan jika harus masuk ke dalam bara api yang sangat panas.


"Menggelikan, padahal aku orang yang sangat menepati janji." Kata Langit sebelum masuk ke kamar, saat dia masuk ke kamar, orang tua Diene menangis dan merutuki nasib mereka.


"Maafkan aku, Safir! Ini memang salahku! Hukum saja aku! Jangan libatkan keluargaku!" Katanya sambil menangis.


"Hei, lihat ini." Kata Langit sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya dan mengangkat tubuh Diene hingga lututnya mampu menopang tubuhnya.


"Apa yang-jangan, jangan lakukan itu pada mayat anakku!" Teriak Natalie.


Langit menebas kepala Diene dari tubuhnya dan kepalanya menggelinding ke ayahnya, mata Diene membelalak, lehernya masih mengeluarkan darah, hidungnya mimisan, ayahnya menangis.


"Baik, pertunjukan sudah selesai. Oakrose, bunuh anak satunya."


"Hah?!" Judith kaget, matanya membelalak.


"Baik." Jawabnya sambil membidik kepala anak itu dengan pistolnya.


Dor!


Judith dan Natalie belum sempat mengatakan sesuatu, dan potongan timah baru saja menembus kepala anaknya dan membuatnya kehilangan nyawa.


"Tidaaak! Safir ********! Sialan! Akan kuseret kau ke neraka, Safir!"


"Huu! Huuu! Huu!"


Langit mendekati mereka dan berjongkok, "Kalian tidak akan mati hari ini, karena aku akan mengurung kalian di kamar sebelah."


"Hah?"


"Oakrose, bantu Samudra untuk mengikat mereka dan mengurung mereka di kamar sebelah."


"Baik." Jawab Oakrose.

__ADS_1


"Oke."


Langit duduk, tidak menyangka dirinya akan merenggut dua nyawa lagi hari ini, mungkin mengotori tangannya dengan darah bukanlah pilihan yang bagus, tapi dengan ini hatinya merasa lega, dendamnya terbalaskan, dan dia bisa hidup dengan tenang tanpa dibayangi masa lalu dan beban pikiran yang selama ini menyelimuti mimpi buruknya tiap malam.


"Haha, apa salahnya balas dendam? Ini pengobatan untuk semua penyesalanku, sial." Kata Langit berbicara sendiri.


"Ibu, ayah, membusuklah di surga tanpa menyaksikan pembunuh kalian tersiksa."


Esok paginya, Langit terbangun dari tidurnya yang sangat nyenyak, tidak ada lagi rasa sakit setiap kali terbangun dari tidur dan menyadari bahwa saat ini dia harus merawat adiknya hingga malam datang.


Setelah merapikan kasurnya, dia keluar dan melihat adiknya duduk satu meja dengan Oakrose, Petra dan Senja.


"Langit, aku mendengar suara teriakan semalam, ada apa?" Tanya Senja sambil berdiri dan mendekati Langit.


"Ada hal yang harus orang lain hindari, Senja, untukmu, hal itu adalah keingintahuan tentang semalam." Jawab Langit sambil berlalu dari Senja dan menghampiri adiknya dan mengelus kepalanya.


"Selamat pagi." Sapa Langit.


"Pagi, hehe." Jawabnya ceria, sepertinya beban di pundaknya juga terangkat setelah kejadian semalam.


"Oakrose, aku mengirimkan sisanya." Kata Langit sambil membuka ponselnya dan mengirimkan sisa uang tagihan setelah menyewa Oakrose semalam.


"Bonusnya, kau bisa ambil paket untuk kau sendiri, terserah mau kau apakan."


"Benar?"


Langit mengangguk, "Iya, terserahmu."


Dengan Langit memberikan Judith Stewart dan Natalie Stewart kepada Oakrose, itu berarti dia bisa menjual organ dalam mereka, memotong kedua tangan dan kaki mereka lalu menjualnya sebagai budak, atau hal lain yang bisa mendatangkan uang dalam jumlah banyak, dan jika ditotal, jumlah minimalnya saja bisa mencapai 49 juta dolar, tentu saja Oakrose tidak menolak.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Kata Oakrose sambil beranjak dari kursi dan keluar dari apartemen Langit.


"Langit, siapa dia?" Tanya Senja yang masih belum berpindah dari tempatnya berdiri, "Dia itu-"


"Seorang kenalan." Kata Langit, "Kembalilah ke kamarmu, aku akan mulai merenovasi gedung ini dan gedung lainnya."


"Baiklah."


Senja keluar dari apartemen Langit dengan wajah kecewa, dia sangat tahu kepribadian Langit sejak dia menyiksa para penculik di depan matanya, dia sangat tahu apa yang terjadi semalam, namun Langit dan adiknya menutupi fakta dan menyingkirkannya dari kenyataan yang ada.


Kejadian semalam diketahui oleh Senja, itu karena dia berada di kamar sebelah, dia mendengar semua yang dikatakan Judith Stewart dan keluarganya, dia juga mendengar suara pistol dan beberapa pukulan.


Meskipun terlihat feminis, bodoh dan tidak bisa diandalkan, Senja memiliki indera pendengaran yang sangat tajam, karena itulah terkadang dia menyumpal telinganya dengan penyumbat telinga.


"Darah semalam kamu yang bersihkan?" Tanya Langit kepada adiknya.


"Iya, aku terbangun subuh tadi karena kak Petra mengerang, apa itu terlalu sakit?"


"Ah, nggak, aku suka kok." Jawabnya.


"Ayo ke sekolah, Samudra katanya ingin akselerasi ke kelas 3." Kata Langit sambil berdiri dan berjalan ke kamar mandi.


"Aku sudah mandi, aku tunggu kakak di sini saja."


"Sama."


Tidak memerlukan waktu lama bagi Langit untuk mandi, dia hanya keramas dan sikat gigi, lalu menggunakan air sabun dan air bersih untuk membilas tubuhnya.


"Loh, sudah mandi? Cepet banget." Komentar Petra.


"Sudahlah." Kata Langit sambil keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang pun.


"L-Langit." Petra kaget saat Langit keluar dari kamar mandi, dia menutupi matanya karena malu.


"Kakak, tutupi bagian bawahmu, ada anak gadis di sini."


"Celana dalamku di kamar, aku lupa bawa."


"Dasar."


Sesampainya mereka di sekolah, Langit mengantar adiknya ke ruang guru untuk akselerasi, sementara Petra pergi ke kelasnya.


Dalam perjalanan ke ruang guru, Langit melihat Vianji sedang mengajar di kelas bahasa, karena hawa keberadaan Langit begitu besar, Vianji langsung menyadari begitu ada rasa merinding di tengkuknya, dan ternyata Langit sedang memperhatikannya dari luar jendela kelas.


"Karena itulah, era Renaisans selalu dianggap sebagai era puisi, teater dan roman." Kata Vianji menjelaskan sisa materinya di kelas.


"Sekarang, buat makalah tentang bagaimana pengaruh sastra era Renaisans di teater jaman sekarang, dikumpulkan minggu depan di meja saya. Saya akan keluar sebentar."


Vianji keluar dari kelas berisi anak-anak yang menghela nafas mereka karena mendapat tugas yang lumayan bikin pusing kepala, dia menghampiri Langit di luar kelas.


"Selamat pagi." Sapa Langit.


"Selamat pagi." Jawab Vianji, "Langit ada perlu?"


"Cincinnya kau pakai?"


"I-ini, ini kan pemberianmu, dan, panggil aku bu Vianji di sekolah."


"Bawa bekal?" Tanya Langit.


"Aku tidak bawa, tadi saja aku hampir terlambat." Jawabnya.


"Nanti akan kutemui di kantor saat jam istirahat, aku pergi dulu."


"Iya."


Langit dan Samudra berjalan ke ruang guru, mereka menemui pak Derin di mejanya, dan mendapati dia sedang menulis sesuatu di buku dengan nama-nama muridnya.


"Hei, adikku akan akselerasi, bisa kau bantu dia?"


"A-ah, kukira siapa, ternyata kamu." Kata pak Derin yang sudah terbiasa dengan Langit.


"Ini soalnya, eh, tunggu sebentar. Kepala sekolah sudah memberimu suratnya?"


"Beri saja dia soalnya, aku akan ke kantornya." Kata Langit sambil meninggalkan Samudra di ruang guru bersama dengan pak Derin.


Sementara dia pergi ke ruang kepala sekolah.


"Kepala sekolah, adikku ingin akselerasi, bisa berikan suratnya?"


"Ayolah Langit, kamu tahu ini ruang kepsek dan aku sedang ada tamu di sini." Jawab kepala sekolah yang ternyata sedang kedatangan tamu.


"Mereka ini komite pendidikan, jaga sikapmu."


"Sudahlah, kemarikan suratnya lalu aku pergi." Kata Langit sambil berjalan masuk dan menghiraukan kedua pria dari komite pendidikan itu.


"Jadi dia?" Tanya seorang pria dengan dari merah.


"Y-ya, dia yang kubicarakan kemarin." Jawab kepala sekolah sambil mengambilkan surat untuk akselerasi dan menandatanganinya.


"Langit Safir?" Tanya salah satunya.


"Hm? Siapa kau?"


"Martin Tyler, anggota komite pendidikan, ini rekanku, Carson Lalin." Katanya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


"Langit Safir, apa maumu?" Jawab Langit sambil menyambut tangan Martin.


"Ah, kudengar dari kepala sekolahmu, kamu adalah satu-satunya murid paling jenius di sekolah ini."


"Ada dua, aku dan adikku."


"Tapi adikmu itu selalu peringkat 50 dari 800." Kata kepala sekolah menyangkal perkataan Langit.


"Dia tidak mau menonjol." Jawabnya, "Lalu, ada apa dengan itu? Aku sedang ditunggu di ruang guru."


"Umm, begini, kami bermaksud menemui murid berprestasi untuk diberi penghargaan dari presiden, lalu diikutsertakan penelitian bersama INRA."


"Aku ambil penghargaannya, tapi aku tidak ikut penelitian INRA." Jawab Langit sambil mengambil surat dari meja kepala sekolah lalu pergi dari ruang kepala sekolah tanpa bicara apapun.


Sesampainya di ruang guru, Samudra sudah hampir menyelesaikan ujiannya, Langit menghampiri adiknya dan mengelus kepalanya sebentar, adiknya tersenyum, lalu kembali mengerjakan soal sementara Langit meletakkan surat itu di meja pak Derin.


"Aku akan ke perpustakaan sebentar." Kata Langit sementara adiknya menjawab dengan anggukan singkat.


Sebelum pergi ke perpustakaan, seperti biasanya, Langit mengambil laptopnya di loker lalu lanjut pergi ke perpustakaan.


"Selamat siang, Sakurada."


"Kamu juga, rajin sekali, menargetkan sesuatu?"


"Begitulah." Jawab Langit singkat sambil duduk di meja biasanya dia duduk, lalu mulai bekerja.


Kali ini, Langit tidak menggarap karya tulisnya, dia meneliti arti, kaitan dari semua simbol yang dia pelajari di perpustakaan kota.


Perpustakaan sekolahnya sebenarnya cukup lengkap, namun tidak memiliki buku yang memuat demonologi yang bisa dipelajarinya.


Satu demi satu Langit mengartikan simbol itu, dan semakin dia memahami mereka, semakin terang jalan yang ada.


Simbol yang dia pelajari memuat lokasi dimana mereka akan memulai ritual, waktu saat mereka melakukannya, namun tidak diketahui siapa pemimpinnya.


Mengetahui hal itu, Langit langsung menghubungi Putri dan Panda melalui pesan teks di laptopnya.

__ADS_1


Langit: "Aku mengetahui lokasi si perawan akan lakukan ritual."


Belum ada jawaban dari keduanya, mungkin masih sibuk. Sambil menunggu, Langit meninggalkan mejanya dan berkeliling mencari buku lain, tidak banyak buku lain yang menarik bagi Langit, karena dia membaca buku karena memang butuh, bukan karena menyukainya.


Tapi adiknya sangat menyukai buku cerita, apalagi buku cerita yang dibacakan kakaknya sebelum tidur.


Langit sadar, akhir-akhir ini dia jarang menidurkan adiknya dengan buku cerita.


Ping!


Suara notifikasi laptop Langit tidak terlalu keras, agar tidak mengganggu orang lain di perpustakaan, tapi cukup keras untuk memecahkan kesunyian dan terdengar di telinganya, lalu dia kembali ke mejanya tanpa membawa apapun dari rak buku.


"Bagaimana?" Tanya Panda melalui pesan teks dengan Langit dan Putri di dalamnya.


"Simbol yang ada di dalam lingkaran pemanggil yang dibuat Videl tempo waktu itu adalah keseluruhan dari semua petunjuk yang kita cari, mereka akan melakukannya di kota Catri, daerah Lorda. Tapi lokasi tepatnya masih abstrak." Jawab Langit dengan ketikan di laptopnya.


"Masih abstrak?" Tanya Putri.


"Dewi perapian yang jatuh, dewi yang tersingkirkan, dan ayah yang acuh. Ini mungkin berarti dewi Bafif menurut legenda Ukrish, dia dewi perapian yang sederhana, setiap anak yang lahir didekatkan ke perapian dan dimintakan doa padanya, tapi dia disingkirkan oleh saudaranya, dewa Nokk, setelah dia jatuh, bahkan ayahnya, dewa Zahef tidak peduli dengannya. Ada ide?"


"Aku tidak mengerti." Jawab Putri.


"Aku juga, lagipula, siapa belajar legenda Ukrish? Itu kan peradaban timur laut, kita ini Asia tenggara." Kata Panda.


"Carikan aku rumah dengan perapian di sana, atau restoran, atau gedung apapun ayng memiliki perapian. Carikan aku apapun yang mencurigakan di setiap kamera jalanan, satelit, apapun. Kita cari jejak si perawan dan memburunya."


"Aku akan pergi ke divisi detektif sektor A, semoga beruntung." Jawab Putri yang lalu meninggalkan group chat.


"Aku akan mencari tahu kamera di sana, ada sedikit bantuan untuk memperkecil area, Archer?" Tanya Panda.


"Cari sepanjang perbatasan, fokus ke pusat kota, dan ambilkan rekaman kamera jalanan selama sebulan terakhir."


"Your call. Bye, Archer." Kata Panda sambil meninggalkan group chat.


Langit menutup laptopnya, mengangkatnya lalu membawanya pergi dari perpustakaan.


Setelah itu, dia masuk ke dalam kelas di mana dia tidak pernah menampakkan dirinya sama sekali, saat dia masuk, semua orang menatapnya aneh, karena dia sangat asing di kelas 3, dan semua murid di kelas 3 belum tahu bahwa Langit sudah akselerasi.


"Ah ya, silakan masuk." Kata guru yang memaafkan keterlambatan Langit, lalu melanjutkan materi yang ditinggalkannya sebentar.


Langit tanpa mengucapkan apapun langsung duduk di kursi belakang dekat pintu keluar, membuka laptopnya, dan mendengarkan yang diucapkan oleh guru, seperti murid normal lainnya.


Setelah selesai dengan kelasnya, Langit langsung keluar dari kelas, dia bermaksud mencari adiknya yang mengikuti ujian akselerasi.


"Um, anu, kamu." Kata seseorang memanggil Langit dari belakang, dia menoleh dan mendapati seorang anak cowok sedang memegang buku di tangan kirinya.


"Ini punyamu?" Tanyanya.


"Bukan."


"Ah, begitu. Ya sudah." Jawabnya, "Kamu baru di kelas ini, siapa namamu?"


"Langit Safir."


"Ah, kamu tidak pakai papan namamu, jadi aku sulit menanyakannya."


Langit pergi dari hadapannya sebelum dia menyebutkan namanya, lalu masuk ke ruang guru setelah mengacuhkan beberapa anak yang sedang berebut kertas catatan di lorong.


"Bagaimana?" Tanya Langit pada adiknya.


"Lancar, nilai minimal dari kelas 1 untuk ke kelas 3 adalah B+, aku dapat A-." Jawabnya.


"Kerja bagus, aku mau ke kantin, mau ikut?"


"Ayo."


Langit menghampiri meja Vianji, dan mendapati si pemilik meja sedang memainkan ponselnya.


"A-ah!" Vianji terkejut dan nyaris menjatuhkan ponselnya, "Langit? Jangan mengejutkanku."


"Ayo ke kantin, aku traktir." Ajaknya.


"Baiklah, tunggu sebentar." Jawab Vianji sambil merapikan mejanya, "Yuk."


Mereka bertiga pergi ke kantin, ada beberapa murid yang menggoda Vianji, dia meresponnya dengan akrab.


Sesampainya mereka di kantin, Langit langsung memesan makanan dan mengantarnya ke meja yang ditempati adiknya dan Vianji.


"Samudra, apa kamu mau pesan sesautu?" Tanya Vianji.


"Kakakku yang menentukan, bukan aku." Jawab Samudra sambil tersenyum, "Lagipula aku suka semua makanan."


"Hmm, aku penasaran dia akan memesankan aku apa."


"Mungkin Ferti Bonga? Itu makanan lumrah di sini, porsinya sedang, rasanya enak, harganya murah, cocok untuk murid-murid di sekolah ini yang sedang berhemat." Jawab Samudra panjang lebar, Vianji yang melihat sisi lain dari Samudra tersenyum, dia sangat canggung dengannya sejak awal bertemu, tapi dia sekarang bisa mulai akrab dengan Samudra.


"Ini, aku ambilkan Ferti Bonga untukmu." Kata Langit sambil meletakkan piring di depan Vianji, "Dan Cerina Asper."


Ferti Bonga terbuat dari bunga tumbuhan Dervant, sebuah tanaman jenis baru hasil perkawinan silang antara bunga tulip dengan asparagus, semua bagiannya beracun kecuali bunganya yang bisa dimasak dengan akar Yeong, rasanya manis dan gurih, jika dimakan dengan ubi akan membuat bunganya semakin harum.


Sementara Cerina Asper terbuat dari asparagus rebus dengan saus yang dibuat dari buah ceri, dan disajikan bersama batang Hasel, rasanya sangat gurih dan sedikit pedas.


"Wah, Cerina Asper." Kata Vianji.


"Ini hari selasa, kamu lupa?" Tanya Langit menggunakan kata 'kamu' kepada Vianji.


"Panggil aku 'bu' di sekolah, Langit." Jawabnya, "Oh ya, aku membawa sesuatu untukmu."


"Apa?"


Vianji mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan menunjukkannya pada Langit.


"Sudah wajar jika pihak perempuan juga memberikan cincin untuk prianya, ini untukmu." Katanya tanpa membuka kotak tersebut.


"Oh, sebenarnya aku sudah beli untukku, modelnya sama dan terbuat dari perak." Kata Langit sambil menerima kotak cincin dari Vianji dan membukanya.


"Wow, pasti butuh usaha keras untuk ini."


"Jangan meledek, keluargaku hanya mampu membelikan yang seperti itu." Jawab Vianji ketus, dia menggigit bibir bawahnya.


"Terimakasih, Vi. Akan kupakai." Kata Langit sambil memegang tangan kiri Vianji, dia yang tangannya dipegang merasa malu dan menarik tangannya, sementara Samudra tidak melakukan apapun dan membiarkan kakaknya.


"Jangan di sekolah, Langit."


Langit melepaskan genggaman tangannya dan mulai makan Ferti Bonga miliknya yang sama seperti milik Samudra.


Wajah Vianji masih merah, dia tidak menyangka Langit akan sangat agresif padanya di sekolah.


Kriiing kriiing.


Bel berbunyi, mereka bertiga juga sudah selesai makan.


"Aku kembali ke kelas, kamu?"


"Aku ikut kakak ke kelas, kita di mata pelajaran yang sama."


Vianji tidak menyebutkan tujuannya, dia masih belum terbiasa dengan tingkah laku Langit dan adiknya.


"Vianji, mau ke kelas?"


"Iya, aku ke kelas, dan panggil aku 'bu' di sekolah." Jawabnya sambil berlalu menuju ruang guru.


"Aku ke ruang loker dulu, mau ambil laptop." Kata Langit, adiknya tanpa menjawab mengikutinya di belakangnya.


"Hei, Langit." Panggil seseorang sambil memegang pundak Langit, karena refleks, Langit langsung menangkap tangan itu dan membanting seseorang ke lantai yang ternyata seorang murid.


"Ahk!"


"Oh, kukira siapa." Kata Langit sambil melepaskan kedua tangannya.


"Hei! Ada apa ini?!" Teriak salah seorang guru sambil menuju tempat Langit berdiri.


"Hanya salah paham, kembali ke kantor sana." Jawab Langit sambil menggenggam kepalan tangannya dan membunyikan tulang jarinya.


"A-ah, kukira siapa. Jangan bikin keributan, Safir." Katanya sambil pergi dengan wajah penuh keringat.


"Lihat, bahkan guru tidak berani menyentuhnya."


"Si brengsek itu selalu bertingkah."


Langit melihat sekelilingnya dan orang-orang mulai membisikkan sesuatu yang buruk, hingga dia lupa untuk membantu orang yang dia jatuhkan untuk berdiri.


"Kau tak apa?" Tanya Langit setelah membantunya berdiri.


"Kau mau membunuhku, hah?"


"Salah sendiri memegang pundak kakakku, hahaha."


"Sudahlah, aku pergi saja, aku cuma ingin menyapamu." Katanya sambil berjalan pergi dari Langit.


"Yuk?"

__ADS_1


"Yuk."


__ADS_2