
Langit Safir asking Stewarts about their sin (art by Samudra)
Petra berjalan dari satu toko farmasi menuju toko lain, mereka tidak menjual alkaloid- batrachotoxin karena stoknya kosong, beberapa dari mereka bilang kalau stok akan datang esok hari, namun dia berusaha mendapatkannya sebelum disuruh pulang atau dijemput Langit untuk pulang, dia tidak ingin mengecewakan sosok yang dicintainya dan membuatnya menderita karena tidak mendapatkan perlakuan cinta dan kasih seperti tempo waktu.
"Permisi, aku ingin membeli alkaloid- batrachotoxin, apa kalian punya?"
"A-ah, untuk itu, saya cek sebentar." Jawab seorang karyawan perempuan di toko farmasi tersebut.
"Kak, stoknya baru akan datang besok lusa, kami minta maaf."
"Ah, begitu." Petra terlihat sangat kecewa, "Saya akan coba ke toko lain, terimakasih."
Setelah menundukkan kepala, Petra pergi dari toko farmasi itu.
"Gila, dia mau beli racun begitu buat apa coba?"
"Paling nggak kasih tau nama sama tanda pengenal, lah. Biar kita tahu dia anggota militer atau bukan." Jawab temannya.
"Untung saja dia pergi."
"Iya."
Sementara itu, selama Petra pergi ke toko lain, Oakrose menemukan kejanggalan. Dari teleskop yang terpasang di senapannya, dia melihat mobil sedan Cariv, mobil itu sudah berhenti di tempat yang sama seperti Petra tanpa keluar sekalipun.
"Di sini Oakrose, mobil sedan Cariv abu-abu plat HG 3376 JU berhenti di tempat umpan sebanyak 3 kali."
"Diterima, Oakrose. Lakukan persiapan untuk yang terburuk." Jawab Samudra melalui in-ear.
Di sisi lain, Garuda melaporkan hal yang sama kepada Langit, dan perintah yang diberikan Langit juga sama seperti Samudra kepada Oakrose.
Langit memperhatikan jam tangannya, sudah pukul 11 tepat.
"Assault, Runduk, bersiap kemungkinan terburuk."
"Dimengerti, Archer."
"Diterima, Archer."
"Kak Oakrose, sedan berhenti mengikuti umpan. Mereka ada di Hughol 3."
"Hughol 3 itu kan gang kecil." Oakrose berhenti sebentar, "Mereka bersiap menculik! Aku meluncur ke Hughol 3!"
"Oakrose, keselamatanmu!"
Oakrose tidak terdengar di in-ear, sementara tim Assault sudah tersebar di beberapa poin.
"Archer, di sini Garuda, aku melihat orang di atap gedung Jural dengan senapan!"
"Hah?!" Langit kaget, "Itu bala bantuan si perawan! Tembak semua orang bersenjata!"
"Diterim-krrrsscht-"
"Garuda?! Garuda?! Jawab, Garuda!"
Garuda gugur, dia dibunuh terlebih dahulu oleh orang yang menurut Langit adalah bala bantuan si perawan.
"Di sini Loki! Aku dalam baku tembak dengan orang bersenjata di gedung Harun! Sial!"
"Loki! Terjun dari gedung dan gunakan parasut!"
"Diterima, melakukan penerjunan!"
"Kak Oakrose! Jangan gegabah!" Samudra sedang panik karena Oakrose bertindak seenaknya tanpa komando.
"Archer! Tim assault sedang dalam baku tembak di jalan Vermon 64! Di mana Garuda dan Loki?"
"Garuda gugur! Loki dalam pelarian! Di mana Karin?!"
"Karin gugur, mayatnya jatuh dari menara sinyal!"
"Sial! Sialan!" Langit memukuli dasbor karena kesal, "Lakukan rencana B!"
"Dimengerti!" Jawab semua anggota tim bersamaan.
Rencana B adalah rencana untuk mengurung Petra dalam mobil dan membawanya untuk dijadikan umpan, sementara mobil melaju, akan ada beberapa orang mencegat mereka dan menghancurkan semuanya.
"Di sini Oakrose, semua tersangka di gang Hughol sudah mati, aku akan kembali ke atap gedung."
Samudra bernafas lega, sementara kakaknya menyalakan mobil dan segera meluncur ke titik yang sudah ditentukan saat rapat, beberapa orang membunyikan klakson lantaran Langit mengebut hingga hampir menabrak banyak orang.
Beberapa helikopter dari stasiun tv mulai meliput kejadian ini secara langsung, siaran langsung ditayangkan di banyak perangkat, seperti layar di pusat perbelanjaan.
"Kak Oakrose, bunuh semua yang ada di atap gedung!" Kata Samudra.
"Aku sedang berusaha!"
Oakrose berlarian di atap gedung, lalu berhenti mendadak. Sebuah proyektil melesat di dekat telinganya, mendesing, menyebabkan takut pada orang awam, namun Oakrose adalah pemburu profesional, dia bekerja seperti ini nyaris setiap dikontrak.
"Bodoh!"
Dia melompat, badannya yang berputar menciptakan momentum untuknya mendarat sambil berguling ke belakang, penembak runduk pihak musuh mengira Oakrose akan berguling ke depan, sehingga tembakannya meleset.
Masih berlari, Oakrose tiba-tiba melompat ke belakang, menghindari peluru yang dia prediksi akan melesat ke depan. Masih di udara, Oakrose mengarahkan senapannya ke arah penembak runduk tersebut.
Otak Oakrose bekerja sangat cepat, butuh waktu sepersekian detik agar lawannya selesai mengokang slide dan menembakkan pelurunya lagi, namun Oakrose dengan cemerlang, melumpuhkan lawannya dengan menembak kakinya.
'Sialan, aku meleset!' Pikir Oakrose sambil mengokang senapannya lalu kembali membidik.
Duar! Pelurunya tepat mengenai jantung lawan, membunuhnya seketika.
"Disini Oakrose, satu tumbang, berapa musuh yang ada di gedung?"
"Lebih dari 4, berhati-hatilah." Jawab Samudra yang mengamati kamera yang terpasang di setiap gedung, dia mendapatkan akses untuk mengintip kamera gedung berkat bantuan Panda.
"Aku akan selesaikan ini secepat mungkin."
Oakrose menggunakan penglihatan termal, membuatnya sangat peka dengan tanda kehidupan, dan kini, dia hanya perlu membidik lawan yang lain.
Sementara itu, mobil van yang dikendarai Yuri mengalami kejar-kejaran dengan si perawan yang menaiki motor hasil rampasan rakyat sipil. Dia berusaha menghindari kecelakaan dengan melaju lurus dan tetap menyalakan sirine, orang-orang akan menyingkir dengan sendirinya, apalagi berita di tv yang menayangkan siaran secara langsung bisa membuat mereka paham dengan situasi dan memilih masuk ke dalam gedung manapun agar aman.
"Sialan!" Harpy keluar dari jendela dan menembaki lawan, semua tembakannya meleset, "Sial! Siaal!"
"Harpy! Tenanglah!" Kata Naga, "Kita sedang menggiring mereka!"
Mereka hanya berjarak satu kilometer dari lokasi Langit yang sudah bersiap di titik temu.
Dor!
"Minggir! Kosongkan jalan! Masuk ke gedung!" Kata Langit sambil melepaskan tembakan peringatan, sementara Samudra memasang kabel tungsten setebal 20 milimeter menggunakan pilar yang sudah dibor ke dalam aspal.
Semua orang menyingkir sambil berlarian, mereka panik karena mengira Langit adalah seorang *******, namun Langit tidak peduli dan membantu memasang kabel tungsten di sisi lain jalanan.
"Disini Archer! Persiapan sudah selesai! Perkirakan jarak kalian dengan musuh!"
"Diterima, Archer! Perkiraan jarak dari musuh sekitar 40 meter! Menuju ke titik pertemuan dalam 2 menit!"
"Diterima, Prinses!" Langit meletakkan jari jempolnya di tombol yang terpasang pada pilar yang tertanam di aspal, "Ranger! Sesuai hitunganku!"
"Baik!"
Suara sirine terdengar dari jauh, van yang dikendarai Yuri melaju dengan sangat cepat, Naga dan Miru menembaki sisi jalanan agar semua yang ada di belakang menyingkir dari trotoar dan berkumpul di tengah. Hingga mobil van itu melesat melewati Langit dan Samudra.
"Sekarang!"
Langit menekan tombolnya, begitu juga Samudra dengan hal yang sama, kabel tungsten setebal 20 milimeter menegang dan menciptakan garis pembatas yang amat lurus dan kencang setinggi 50 inchi.
"Arrrhh!"
"Arrgh!"
Rencana Langit berhasil, kabel tungsten amat sulit untuk dipotong bahkan dengan las termit, apabila sebuah motor yang melaju secepat 50 mil per jam dan menabrak kabel ini, dapat dipastikan pengendaranya akan terpental jauh karena motornya berhenti tiba-tiba.
Dan sekarang, Langit berlari menghampiri mereka yang terlempar. Dia mengeluarkan busur dan anak panah dengan racun ethanol-tetraethylazanium yang akan langsung melumpuhkan syaraf manusia dan membuatnya pingsan, lalu Langit menembakkannya ke arah lawan yang sedang berusaha untuk berdiri, lalu mereka langsung pingsan.
"Gunakan ini untuk menawar racun." Kata Langit kepada Prinses yang baru turun dari van.
"Oke."
"Ranger, berikan in-ear." Kata Langit sambil mengambil in-ear milik Samudra.
"Oakrose?!"
"Diamlah! Aku kerepotan di sini." Jawab Oakrose yang sedang bertarung dengan penembak runduk terakhir, "Dia bukan amatiran!"
"Dimana dia?!"
"Gedung Gerund!" Jawabnya sambil melompat dan langsung berubah posisi menjadi tiarap untuk menghindari peluru lawan.
"Aku akan segera ke sana! Bertahanlah sedikit lagi!"
'Bertahan sedikit lagi? Haha, dasar polisi.' Pikir Oakrose sambil mengisi ulang pelurunya sementara beberapa peluru melesat di hadapannya saat dia terbaring sambil mengiri peluru satu-persatu.
__ADS_1
"Aku dan Samudra akan pergi ke gedung Gerund, tim Assault kawal umpan sampai ke mabes, panggilkan medis untuk mengambil mayat Garuda, Loki dan Karin."
"Dimengerti." Jawab Prinses, "Kalian dengar dia! Bawa mereka ke mabes dan amankan umpan!"
"Siap!"
Langit masuk ke mobil bersama Samudra, dia langsung melaju dengan sangat cepat menuju gedung Gerund yang berjarak 1 blok dari tempat mereka semula.
"Kak Oakrose, statusmu?"
"Sedang bertempur!"
Langit berhenti di depan gedung Gerund, dia bersama adiknya langsung berlari ke dalam lift khusus karyawan.
"Maaf, ini lift untuk karyawan, silakan pakai li-"
Langit mengarahkan pistolnya ke kepala pegawai tersebut dan menunjukkan wajahnya yang sanggup membunuh siapapun.
"Maaf, kak, situasi darurat dari kepolisian Republik, mohon kerjasamanya." Kata Samudra sambil menunjukkan tanda pengenalnya.
"Maafkan aku."
"Kosongkan lift hingga lantai teratas, aku tidak mau lift ini berhenti di tengah-tengah." Kata Langit sambil menurunkan pistolnya.
"Baik, semoga beruntung."
Lift karyawan dipakai khusus oleh karyawan, dan lift ini dirancang khusus untuk bekerja lebih cepat agar pelayanan dari pihak perusahaan bisa lebih cepat dan mendapatkan citra baik dari pelanggan.
Di dalam lift, Langit melepaskan rompi anti peluru dan semua pelindung siku serta lutut.
"Kakak?! Kenapa dilepas?!"
"Bagian dari rencana, aku masih punya satu kamera lagi yang belum terpasang, aku akan memasangnya di atap nanti."
"Untuk apa?"
"Untukmu mengamati."
Setelah sampai di lantai teratas, Langit dan Samudra harus menggunakan tangga untuk pergi ke atap.
Dor! Dor! Brak!
Langit menembak engsel pintu dan menendangnya secara paksa dan berhasil mencapai atap, dia tidak melihat siapapun di atap, maka dari itu dia berlari keluar dari pintu untuk mencari penembak runduk di atap, sementara Samudra masih berada di balik pintu untuk melakukan kontak dengan Oakrose.
"Lihat siapa ini." Kata seseorang sambil mengarahkan ujung pistolnya di kepala Langit, "Menyelamatkan temanmu?"
Jarak ujung pistol itu sangat dekat dengan kepala langit, mungkin sekitar 2 inchi.
"Dengan nama yang kedua dan genap lainnya."
"Maka apabila dia menampakkan taringnya yang tak terhingga." Sambung pria itu sambil menurunkan pistolnya.
"Maka sayap yang jatuh akan bangkit kembali dan menduduki kursi emas, berlumur darah." Kata Langit melanjutkan kalimatnya.
"Wah, aku tidak mengira ada satanis yang akan datang di saat ini, bagaimana kamu tahu lokasiku?" Katanya sambil mengeluarkan senapan dan membidik ke arah Oakrose sambil duduk bersila.
"Aku menggunakan dua lingkaran untuk petunjuk." Kata Langit sambil meletakkan kamera di lantai lalu duduk di samping orang itu.
"Itu sangat berisiko, kalau kamu gagal, kamu harus membayar dua kali lipat."
"Tapi itu lebih ampuh daripada lingkaran terlemah."
"Hahaha." Dia tertawa, sambil tetap membidik Oakrose, "Siapa namamu? Aku Videl Warren. Oh ya, darimana kau mendapat pistol itu?"
"Ini bukan punyaku, aku merampasnya dari petugas saat mereka berusaha menangkapku."
"Hahahaha! Kerja bagus!" Dia tertawa dengan sangat keras, "Namamu?"
"Langit Safir." Jawabnya sambil berdiri lalu mengarahkan pistol ke kepalanya, "Anggota kepolisian republik."
Pria itu kaget, tangan kirinya mencoba untuk mencapai pistol di pinggangnya, namun Langit berhasil menembak kedua lengannya, dia tidak akan meleset dalam jarak sedekat ini.
"Oakrose, bidik dia." Kata Samudra yang mengamati tayangan video dari kamera yang dipasang Langit di lantai.
"Dimengerti." Jawab Oakrose yang bangun dari posisi tiarapnya dan membidik sasaran di gedung Gerund, dia melihat Langit sedang mengarahkan pistolnya ke lawan yang dia lawan sejak tadi.
"Kepolisian?! Kau gila! Gak ada orang dari kepolisian tahu kode satanis kami!"
"Aku ini orang terpelajar." Jawab Langit sambil memberi isyarat pada Oakrose untuk menembak kakinya.
Duar!
"Aaarrgh!" Dia berteriak kesakitan karena dua lututnya hancur bersamaan oleh Oakrose dari gedung sebrang.
"Tunjukkan lengannya." Jawab Oakrose dari gedung sebrang, lalu Langit meregangkan lengan Videl Warren dan Oakrose menembaknya hingga terpisah dari tubuhnya.
"Aaaaaaahhh!"
"Jadi, tuan Warren, kau akan ditahan untuk dikorek informasinya." Kata Langit sambil mengeluarkan pisau dan menancapkannya di lengan kanan Videl Warren.
"Oakrose, turun dari gedung dan masuk ke mobilku di depan gedung Gerund. Ranger, panggil bala bantuan untuk membereskan mayat di atap gedung, dan suruh Prinses untuk meletakkan umpan di apartemenku."
"Dimengerti."
"Oke."
Sirine ambulan dan mobil polisi berbunyi bersahutan saat mereka keluar dari dalam lift, Langit sudah menggunakan maskernya untuk menutupi identitasnya, bisa bahaya kalau pemerintah dan masyarakat tahu kalau anak SMA sudah memegang pistol dan terlibat dalam perburuan si perawan. Sambil berjalan, dia menyeret Videl Warren yang nyaris kehabisan darah, Langit hanya mengikat kedua kakinya saja tanpa tahu pendarahannya berhenti atau tidak, yang jelas, lantai di lift penuh dengan darah dan jejaknya terseret hingga pintu depan.
"Hei, urus pria ini, jangan sampai dia mati. Kalau dia sadar, segera lapor ke kepolisian militer."
"Eh, baiklah." Jawab petugas medis yang ada di sana.
"Permisi, bisa jelaskan siapa dan apa yang sedang dihadapi kota Pertanjang malam ini?" Tanya seorang wartawati.
"Bisa beritahu bagaimana kondisi dia bisa sampai seperti itu?" Tanya wartawan lain menimpali.
"Permisi, bisa tolong jawab mengapa-" Tanya orang lain memotong pertanyaan wartawan lain.
"Dia ini salah satu pelaku si perawan, mereka gagal, kami berhasil. Sekarang menyingkir, aku mau istirahat." Kata Langit sambil mendorong para wartawan dan berjalan menuju mobil van tempat Putri berada.
"Hei, kerja bagus." Kata Putri, "Kemana uang 8 juta itu?"
"Aku menggunakannya untuk membeli senjata, sudah kugunakan tadi."
"Benar?"
"Kau tahu aku, Prinses." Jawab Langit sambil berjalan menuju mobil, Samudra di belakang mengikutinya.
"Kita lanjut kerja." Kata Putri pada seluruh bawahannya yang berduka atas gugurnya Garuda, Karin dan Loki di atas sana.
"Dia bahkan bersikap biasa." Kata Miru berkomentar.
"Sudahlah, besok adalah pemakaman mereka, kita lanjutkan pekerjaan kita dulu." Kata Putri
Langit di dalam mobil bersama dengan adiknya dan Oakrose, mereka tidak berbicara sekalipun hingga sampai di apartemen Langit. Tidak nyaman dengan kondisi ini, Oakrose membuka percakapan.
"Hei, aku tidak tahu kamu sehebat itu, Langit."
"Benarkah?" Tanya Langit sembari berjalan masuk apartemen, di halaman depan, dia melihat penghuni kamar entah nomor berapa sedang berbicara dengan agen perpindahan rumah.
"Iya, kamu langsung meregangkan tangannya, dan menyuruhku menembak, seakan kamu tahu yang akan terjadi."
"Tentu saja, apa yang langit tak tahu tentang bumi?" Jawab Langit santai sambil menekan tombol di lift.
"Hahaha, bisa aja kamu. Lalu, soal yang di gang Hughol iu gimana?"
"Timku pasti mengetahui soal itu dan segera membereskannya."
Langit berjalan menuju apartemennya diikuti oleh adiknya dan Oakrose.
"Oh ya, Oakrose, apa namamu hanya Oakrose?"
"Aku Eve Oakrose, tapi nama Eve gak cocok denganku, dia ibu manusia, sedang aku membunuhi manusia, ibu apa yang membunuhi anak-anaknya sendiri?"
Langit diam, dia masuk ke apartemennya dan mendapati Petra sedang duduk di lantai dekat sofa.
"Langit? Kamu selamat?" Petra bergegas melangkah menuju Langit, wajahnya lembab, matanya sembab, dia terlihat seperti orang yang sedang berusaha menyembunyikan bahwa dia sudah menangis sepanjang waktu.
"Ambil kotak hitam itu." Kata Langit sambil melepaskan tangan Petra yang melingkari pinggangnya.
"Iya." Jawab Petra sambil mengambil kotak hitam yang dimaksud Langit dan memberikannya.
Langit membuka kotak hitam itu, dia mengambil rantai yang tersembunyi di bawahnya, lalu memasang rantai sepanjang 2 meter itu di kalung anjing yang dipakai Petra, lalu menguncinya.
"Rantai?"
"Hadiah karena sudah jadi anak baik." Jawab Langit sambil menarik rantai hingga Petra terjatuh, "Diamlah di sini sebentar, aku ada urusan dengan gadis ini."
"Ah-baik."
"Oakrose, kemarilah."
Oakrose yang tersadar setelah melihat adegan yang menurutnya cukup ekstrim tadi menyahut, "A-ah? Oh, iya."
__ADS_1
Setelah itu, dia mengikuti Langit masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Samudra.
"Kemarilah, Oakrose."
"Ya?"
Langit duduk di kursi dekat komputernya, Oakrose duduk di kursi yang diambilkan Samudra, sementara Samudra duduk di kasur.
"Oakrose, aku tahu kau ada di kota Pertanjang pada tanggal 27 Maret tahun 2119, kau menjalankan misi untuk membunuh Safir Opal, dan kau meledakkan mobilnya di jalan tol Pangabe – Harphia."
"Eh, ya? Lalu?"
"Ledakan mobil itu menyebabkan kecelakaan beruntun, ada lebih dari 32 orang meninggal karena kecelakaan, dan beberapa mobil jatuh ke jurang setelah menabrak pembatas."
Langit berhenti sebentar sambil mengambil nafas.
"Orang tuaku adalah targetmu hari itu."
Oakrose kaget, dia refleks berdiri namun kedua kakinya kehilangan keseimbangan dan akhirnya dia terjatuh di lantai, "A-aku tidak tahu, aku hanya menuruti permintaan kontraktor, a-aku bahkan masih belum punya senapan waktu itu."
"Tidak apa, itu kejadian 13 tahun lalu, dan kau hanya dikontrak seseorang." Kata Langit sambil mengangguk kepada Samudra yang lalu mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke kepala Oakrose.
"Aku bertanya, Oakrose." Kata Langit sambil mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke kepala Oakrose sama seperti adiknya.
"Siapa yang mengontrakmu di hari itu?"
Oakrose gemetaran, dia bukanlah seorang amatir yang akan gugup saat sedang menghadapi kematian ataupun kondisi gawat, namun di depannya adalah seorang anak penuh dendam atas kematian orang tuanya dan dia memiliki kapasitas yang cukup untuk meledakkan kepala seseorang, dan Oakrose baru pertama kalinya melihat wajah yang serius ingin membunuhnya.
Itu akan terjadi apabila dia berbohong.
Di sisi lain, Langit sudah lama menghilangkan sisi kemanusiaan dari dalam hatinya, sejak kejadian itu menimpa adiknya dan membuatnya harus menyiksa mereka untuk mengorek informasi yang cukup. Tubuh Oakrose gemetaran, wajahnya berkata seolah dia tidak ingin mati di tangan Langit, itu tertulis jelas seperti sebuah buku cerita anak-anak yang dibacakannya ketika Samudra sulit tidur.
Langit tidak akan ragu untuk membunuh Oakrose dan benar-benar membasahi tangannya dengan darah.
"A-aku, aku, waktu i-itu, Ju-Judith St-Stewart." Jawab Oakrose terbata-bata, matanya mengalirkan air sedikit demi sedikit.
"P-Paling tidak, tembak aku dari belakang."
Langit menurunkan pistolnya begitu juga dengan adiknya, dia berdiri dari tempat duduknya dan mengangkat Oakrose hingga berdiri.
"E-em, Langit?"
Langit memeluk Oakrose dengan sangat erat, Samudra juga memeluknya dari belakang, suara sesenggukan terdengar dari rongga suara Oakrose, dia membalas pelukan Langit dengan sangat erat, tidak lagi menahan tangisnya, lalu melepaskannya di pundak Langit yang terasa nyaman.
"Huuu, huuuu, huuu."
Langit melepaskan pelukannya, dia menarik kerah baju Oakrose dan menggunakannya untuk menyeka air matanya.
"Terimakasih, sekarang pergilah ke ruang makan, adikku akan membuatkan makan malam sebelum kau pergi."
"Sniff, sniff, ba-ik." Jawab Oakrose yang dituntun oleh Samudra ke meja makan, sebelum menutup pintunya, Samudra tersenyum kepada kakaknya.
Langit membalas senyum Samudra.
Setelah pintu ditutup, Langit duduk di kursinya, dia melihat video saat Oakrose menekan tombol dan meledakkan mobil yang dikendarai orang tuanya, Langit menyesal, bukan karena dia tidak membunuh pembunuh orang tuanya, melainkan karena tidak mengetahui hal ini lebih awal, atau mencari pembunuh bayaran yang melakukannya.
Jika dia tahu lebih awal, dan saat itu dia belum bisa mengontrol emosinya, mungkin dia sudah membunuh Eve Oakrose sambil menangis.
"Ini, makanlah." Kata Samudra sambil meletakkan piring berisi kentang tumbuk, buncis, tomat, dan daging ikan kukus tanpa tulang.
"Terimakasih." Jawab Oakrose yang sudah kembali tenang, "Anu?"
"Ya? Ah, kakak acuhkan saja."
Petra yang sedang tengkurap tentu saja menatap wanita paruh baya yang sedang makan dari piring milik Langit di depannya ini sebagai ancaman, mungkin dia akan dibuang dan diganti dengan wanita yang lebih tua darinya. Rantai yang dikenakannya bergemerincing beberapa kali dan alisnya mengerut.
"Dia siapa?" Tanya Petra sambil berdiri.
"Kak Petra, kakakku tadi bilang apa?" Kata Samudra yang sedang mengambilkan segelas air putih untuk Oakrose.
"Ah, iya, maaf." Jawab Petra sambil kembali tengkurap seperti anjing sedang tidur di rumah kecilnya di taman.
"Aku tidak tahu kalau dia ayahmu, aku, ak-"
"Sudahlah, yang lalu biar lalu, kak Oakrose juga waktu itu gak tahu dia punya anak manis sepertiku." Jawab Samudra sambil meletakkan gelas berisi air putih di dekat Oakrose.
"Kalian tegar sekali."
"Aku tumbuh tanpa orang tua, kakakku mendidikku seperti ini." Jawab Samudra yang duduk di depan Oakrose.
"Dia itu arogan, egois, mau menang sendiri, tapi dia juga sangat baik, peduli dengan temannya." Kata Samudra, "Dia bahkan membacakanku buku cerita yang sama sebelum tidur, kisah tentang Pemburu dan Kelinci. Dia kakak yang baik yang selalu melindungiku saat aku dalam bahaya, meski dia jarang bilang kalau dia peduli dan hanya makian yang keluar darinya, dia adalah orang terbaik di hidupku."
Samudra menitikkan air mata tanpa menangis, dia berusaha menutupi fakta bahwa dia menitikkan air mata dengan pergi ke wastafel dan membasuh wajahnya.
"Aku harap dia segera lepas dari rantainya."
Langit keluar dari kamarnya, sambil berwajah kaku, dan lebih menyeramkan dari biasanya, dia menghampiri adiknya di meja makan. Petra yang menunggu Langit keluar dari kamar menghampiri Langit sambil merangkak dan mencium kakinya beberapa kali, Langit yang risih menarik kakinya dan menginjak wajah Petra sambil tetap duduk di kursi.
"Hmm." Petra hanya bisa mendesah dengan wajahnya yang memerah.
"Judith Stewart, aku menemukannya barusan." Katanya sambil mengeluarkan ponsel dan menunjukkan saldo di akun crypto-currency miliknya, "Aku akan membayar 15 battcoin untuk menculik Judith Stewart, Ethan Stewart, dan kelima anaknya padaku."
"Ini jumlah yang tidak sedikit, Oakrose. Dengan uang sebanyak ini, kau bisa pensiun, menikah, memiliki hidup normal."
Oakrose meletakkan alat makannya, piringnya telah bersih dari makanan, hanya tersisa segelas penuh dengan air di sebelah piringnya.
"Itu impianku, Langit, tapi, beritahu aku apa yang akan kamu lakukan pada mereka saat aku selesai menculik mereka?"
"Ini berbeda urusan dengan perasaanmu, Oakrose, ini adalah pekerjaan." Kata Langit sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku, "Kukira kau profesional."
Panggilan masuk di ponsel Langit, nomor resepsionis terlihat di layar, lalu Langit menjawab panggilan itu.
"Ya?"
"Pak Safir, penghuni apartemen 7 sudah pergi dari apartemen ini, itu berarti hanya tersisa nona Senimorangkir."
"Aku akan berikan uang saku untukmu, carilah pekerjaan baru, ini malam terakhir kau bekerja di sini."
"Baik, terimakasih, pak."
Langit menutup ponselnya, dia menatap Oakrose.
"Bagaimana? Kau ambil pekerjaan ini atau tidak?"
Dia tampak berpikir, Samudra diam dan mengamati kakaknya, Petra sudah hampir pingsan karena jantungnya berdegup begitu kencang.
"Baiklah, aku ambil."
Langit mengangguk, dia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan 7 battcoin ke akun Oakrose.
"Sisanya akan kukirim setelah pekerjaanmu selesai, sekarang pergilah."
Langit berdiri, kakinya masih menginjak wajah Petra yang merasa makin berat, setelah itu dia mengambil rantai Petra dan menariknya kencang.
"Ahh!" Teriak Petra karena lehernya sesak.
"Aku akan pergi ke kamar sebelah, Oakrose segeralah pergi dan bawa mereka padaku paling lama 48 jam."
"Baik." Oakrose berdiri sementara Langit menarik rantainya dan menuntun Petra yang merangkak menuju kamar sebelah.
"Aku tidak tahu kakakmu punya hobi seperti itu."
"Oh, itu sebenarnya untuk kak Petra, kakakku sepertinya tidak menyukainya."
"Haha, aku pergi dulu."
"Hati-hatilah."
Oakrose mengambil tasnya dan keluar dari apartemen, sementara Samudra kembali ke kamarnya dan membuka buku sintaksis bahasa Kanton. Akhir-akhir ini, dia merasa kalau kakaknya seperti lebih dekat ke sesuatu, namun hal apa itu lebih jelasnya tidak diketahui oleh Samudra. Setelah selesai dengan sintaksis bahasa Kanton, dia membuka laptopnya dan menonton film dokumenter tentang penjajahan 8 negara di Indonesia sebelum aliansi sekutu, namun berfokus tentang bagaimana orang-orang eropa menculik dan memperlakukan perempuan Indonesia sebagai barang sekali pakai, dan beberapa testimoni korban yang masih hidup hingga sekarang.
"Ini bisa jadi alasan bagus buat perang dunia keempat." Kata Samudra berbicara sendiri.
"Perang dunia keempat?" Tanya Langit sambil masuk ke kamar Samudra.
"A-ah!" Samudra kaget dan segera menutup laptopnya, "Ketuk dulu-u!"
"Adikku tidak sedang merencanakan sesuatu yang jahat, kan?"
"Haha, nggak kok."
"Tidurlah." Jawabnya singkat sambil pergi dari kamar adiknya, Petra diseret dengan keras hingga rantainya berbunyi nyaring.
Sesampainya di kamar, Langit melepaskan kalung Petra bersama dengan semua pakaiannya hingga telanjang. Bekas luka yang disebabkan oleh Langit nampak makin parah, lebamnya bertambah dan muncul ruam berwarna merah di lehernya.
"Tidurlah di kasur."
"Iya."
Petra naik ke atas kasur, lalu menutupi dada dan kelaminnya karena malu dilihat oleh Langit, sementara dia sama sekali tidak peduli dan langsung tidur.
__ADS_1